Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 8 : Perlakuan kasar ...


__ADS_3

Bukannya beristirahat dan menikmati liburnya, Close justru memilih ke kantor. Bayangan kebersamaan Azzura dan Yoga membuatnya sedikit naik pitam dan jengkel.


Tinggg ....


Pintu lift terbuka dan ia pun segera keluar dari kotak besi itu menuju ruang kerjanya.


Begitu ia mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, ia langsung menghubungi Yoga supaya ke ruang kerjanya


Setelah menunggu beberapa menit, tak lama kemudian Yoga tampak menghampirinya.


"Pak, ini file berkas dari klien kita tadi," kata Yoga lalu memberikan file tersebut pada Close.


"Hmm." Close meraih file tersebut lalu memeriksanya. "Bagus," gumamnya lalu kembali meletakan file itu di atas mejanya.


"Maaf Pak jika saya lancang," kata Yoga. "Seharusnya Anda beristirahat saja, apalagi Anda baru saja menikah," saran Yoga.


Close hanya bergeming seolah tidak peduli dengan saran dari asistennya itu.


Sedetik kemudian, Close memberi isyarat dengan tangan supaya Yoga meninggalkannya.


Yoga hanya menunduk takjim, namun alisnya saling bertaut. "Kok ... dia nggak memakai cincin pernikahannya?" tanyanya dalam hati seraya berlalu meninggalkan ruangan itu.


.


.


.


Beberapa jam berlalu di kediaman Close ...


Ketika Azzura membuka mata, ia meringis sambil memegang lengannya yang terasa nyeri akibat cengkeraman Close.


Ia pun membuka jilbabnya dan bajunya lalu melihat lengannya. Air matanya kembali luruh mendapati lengan putihnya memar. Belum hilang sakit benturan di kepalanya, kini ia kembali merasakan nyeri di lengannya.


Setelah itu, kembali mengenakan baju dan jilbabnya lalu menatap seluruh ruangan yang ia tempati. Kosong dan tidak ada apa-apa di ruangan itu, bahkan fasilitas kamar mandi pun tidak ada.


Azzura menghela nafasnya dengan kasar. Ia berdiri lalu memutar kunci kamar dan keluar untuk mengamati keadaan rumah.


Ia bernafas lega karena di dekat kamarnya bersebelahan dengan dapur dan terdapat toilet.


"Syukurlah, di dekat dapur ini ada toilet jadi aku nggak terlalu khawatir jika ingin mandi dan berwudhu," gumamnya.


Ia pun kembali ke kamarnya lalu mencatat beberapa perlengkapan yang ia butuhkan untuk mengisi kamarnya.


Karena belum sempat bertanya password pintu rumah, ia memilih berbelanja online dan langsung membayar lewat M-banking.


Sambil menunggu, ia terlebih dulu melaksanakan shalat zhuhur yang sudah terlambat.


Satu jam kemudian tepatnya pukul 15.15.


Pesanannya pun di antar langsung ke rumah itu. Setelah menerima barang belanjaannya, tak lupa ia berterima kasih pada kurir dan memberikan sedikit tips.


Ia kembali ke kamarnya dan mulai berkutat membersihkan, merapikan dan terakhir menata pakaian, beberapa pasang sepatu dan tasnya di rak serbaguna yang di pesannya tadi.


Setelah hampir satu jam berberes-beres, akhirnya ia bisa menghela nafas lega dan beristirahat sejenak.


"Alhamdulillah ... akhirnya selesai juga," gumamnya lalu menyalakan kipas angin.


Ia kembali bersiap-siap membersihkan dirinya karena sebentar lagi ia akan ke rumah sakit.


Beberapa menit kemudian ...

__ADS_1


Azzura bersiap-siap dan tampak sudah rapi dengan pakaian sederhananya. Setelah mengunci pintu kamarnya ia pun segera menuju ke arah motornya.


Hanya dengan membayangkan wajah ibunya, perasaan Azzura kembali bahagia dan melupakan kesedihannya sejenak.


Sebelum benar-benar tiba di rumah sakit, ia singgah sebentar di salah satu restoran untuk membeli makanan.


Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya hingga ia benar-benar tiba di tempat tujuannya.


Sambil membawa paper bag berisi box makanan, ia melangkah dengan penuh semangat menghampiri pintu kamar rawat ibunya.


"Ibu ... Suster ..." sapanya dengan seulas senyum.


"Nona Azzura," sahut suster.


"Zu saja, jangan panggil Nona," pintanya.


"Baik lah," jawab suster Tiara.


"Oh ya, aku bawa makanan. Kita makan bareng ya," cetusnya lalu mengeluarkan box makanan itu dari dalam paper bag.


Bu Isma hanya tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya itu sambil mengangguk.


"Terima kasih ya, Zu," ucap suster Tiara.


"Sama-sama. Maaf hanya nasi kotak. Insyaallah jika aku tidak sibuk, aku akan memasak sendiri makanannya," kata Zu.


"Tidak masalah, bagiku ini sudah lebih dari cukup," sahut suster Tiara.


Ketiganya pun melanjutkan makan mereka di selingi obrolan kecil. Setelah selesai menyantap makanan yang di bawa Azzura, suster Tiara kembali berpamitan dan akan digantikan dengan suster Naima.


"Zu, Ibu, aku pamit pulang ya. Sebentar lagi ada suster Naima yang akan menggantikan," izinnya.


"Iya, sebelumnya makasih ya. Hati-hati di jalan," ucap Zu.


"Ibu ... maaf, waktuku akan terbagi karena harus mengurus suamiku dan pekerjaan ku. Tapi aku janji akan selalu menyempatkan diri menjenguk ibu dan setiap malam minggu akan menginap di sini," janji Zu sambil menatap wajah ibunya.


"Nggak apa-apa, Nak. Ibu mengerti," lirih ibu. "Oh ya, Nak. Sesekali ajaklah suamimu ke sini," pinta ibu.


Azzura hanya mengangguk namum merasa miris.


"Sayang, sebentar lagi mau magrib, pulanglah Nak."


"Nanti saja Bu. Aku masih ingin di sini," tolaknya sambil menyandarkan kepalanya di sisi ranjang.


*******


Setelah merasa puas menghabiskan waktunya bersama ibunya. Ia kembali berpamitan pada suster Naima yang berjaga.


Azzura menghampiri ibunya yang sudah tertidur.


"Bu, aku pulang," bisiknya lalu mencium tangan ibunya kemudian meninggalkan kamar itu.


Saat melangkahkan kakinya, lagi-lagi tatapan matanya kosong, sesekali ia menghela nafasnya dengan kasar. Membayangkan rumahnya saja seketika membuatnya kembali bergidik.


"Entah apa lagi yang akan ia lakukan padaku jika pulang jam segini," gumamnya lalu menatap jam dilayar ponselnya. "Ini bahkan sudah jam 22.30."


Azzura terus melangkah kecil dan lagi-lagi tanpa sadar ia menubruk seseorang.


Brukk ...


"Ah! Maaf. Aku tidak sengaja," lirihnya lalu mendongak menatap orang itu. "Pak dokter," ucapnya lalu mengatupkan tangan sebagai permintaan maaf sambil membungkuk.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," kata pak dokter dengan seulas senyum. "Jangan suka melamun," tambahnya lagi.


Azzura hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya.


********


Setibanya ia di rumah, dengan susah payah Azzura menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang karena lagi-lagi Close pulang lebih dulu.


Sebelum mengetuk pintu, Azzura menghirup udara sebanyak yang ia bisa demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


Tok ... tok ... tok ...


Namun pintu belum dibuka. Azzura kembali mengetuk. Namun tetap sama, pintu masih belum di buka. Sampai di ketukan yang ketiga pun pintu itu masih belum di buka.


Jelas saja pintu rumah tak kunjung di buka karena pasangan kekasih yang ada di kamar itu lagi asik-asiknya bercinta menikmati surga dunia.


Suara desa*ha, lenguhan yang saling bersahutan dengan suara erangan penuh ghairah, menggema memenuhi kamar Close.


"Arrgghh ... Sayang kamu selalu bisa me*muaskan ku," bisik Close tepat di telinga Laura.


Tak lama berselang, terdengar pintu di ketuk beberapa kali.


"Sayang ... itu pasti si gadis barista," bisik Close lalu menyeringai.


"Biar aku saja yang membuka pintu," cetus Laura dengan senyum penuh arti. "Biar dia tahu posisinya ada di mana," katanya lalu melilitkan handuk ke tubuh polosnya.


Sedangkan Azzura, ia masih bersabar menunggu. Beberapa menit kemudian pintu pun di buka.


Azzura terkejut karena yang membuka pintu adalah Laura.


Di tambah lagi dengan rambutnya yang acak-acakan dan hanya mengenakan handuk. Dan jangan lupakan tanda jejak merah yang menghiasi leher dan dadanya.


Azzura tersenyum sinis dan merasa jijik menatapnya. Saat akan melangkah, Laura sengaja menjulurkan sebelah kakinya.


Sontak saja, ulahnya itu membuat Azzura tersandung lalu terjatuh. Dengan perasaan geram ia berdiri lalu menatap tajam gadis blasteran itu.


"Apa masalahmu padaku, hah!!" bentak Zu.


"Azzura!!!" Suara bentakkan Close dari lantai dua terdengar menggelegar di rumah itu. Ia pun menuruni tangga lalu menghampiri Zu.


"Berani-beraninya kamu membentak Laura, hah!!!" bentak Close lalu menampar Azzura kemudian menarik rambutnya yang tertutup hijab.


Azzura meringis sambil menahan hijabnya yang tertarik.


"Akhh ... sssttt ..." ringis Zu.


"Sayang, dia juga sengaja menabrak kakiku," bohong Laura sekaligus memprovokasi Close.


"Bohong!! Justru kamu yang sengaja menghalangi jalanku!" geram Zu.


"Sudah tahu salah masih menyangkal!! Dasar perempuan nggak tahu diri!!!" bentak Close lalu mendorong Azzura dengan keras hingga kepalanya membentur tembok.


"Aakhh ... ssssttt ..." ringis Azzura dan merasakan kepalanya langsung pusing. Tanpa banyak bicara ia melangkah pelan sambil berpegangan pada tembok menuju kamarnya.


Sedangkan Close dan Laura hanya menatapnya dengan senyum sinis. Laura merasa puas melihat Azzura di sakiti oleh suaminya sendiri bahkan di depan matanya.


"Sayang, ayo kita lanjut tidur saja," ajak Close seraya merangkul pinggang ramping Laura menuju kamarnya.


Sedangkan Azzura yang kini berada di dalam kamarnya hanya bisa meringis sambil menangis lalu berbaring di kasur lipatnya hingga ia merasa lelah dan akhirnya ia tertidur


...🌿----------------🌿...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2