
Mohon dukungannya ya, readers terkasih. Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote n komen. Jika berkenaan berikan gift juga 😅🤭😃
Jangan lupa mampir ya 😊 Ini cuplikannya ...
SLMS
Saat senja baru saja akan mendaratkan bokongnya di sisi ranjang, suara hentakkan pintu seketika membuatnya terlonjak kaget.
Belum cukup sampai di situ, sebuah paper bag langsung melayang mengenai perut buncitnya.
“Kenakan gaun itu! Hari ini kamu harus menemaniku menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan Mama Papa!” tegas Bumi.
“Tapi Mas ...” Ucapan Senja seketika terputus saat Bumi langsung membentaknya.
“Apa kamu nggak mendengar apa yang barusan aku katakan, hah!”
“Maaf Mas, aku nggak bisa. Soalnya aku merasa kurang enak badan, kepalaku juga pusing.” Sambil tertunduk Senja berucap lirih sembari memegang perut buncitnya yang terasa sedikit kram.
Bumi menghampiri lalu mencengkram pipi Senja. Mendorongnya tanpa rasa bersalah sehingga membuat wanita hamil itu terjatuh.
“Akkhh!” pekik Senja sambil memegang perutnya yang terasa semakin kram, “sssstttt ... aduh! Sakit Mas.”
“Sakit? Jika bisa, biarkan dia lenyap detik ini juga! Aku bahkan nggak pernah mengharapkan kehadirannya dalam kehidupanku!" Ucapan keji tak berperikemanusiaan itu, lolos begitu saja dari dari bibir Bumi.
“Mas!” Senja langsung mendongak. “Dia juga nggak pernah berharap hadir dalam kehidupanmu! Jika bukan karena perbuatan bejatmu ma ...."
Plak ....!
Ucapan Senja terputus tak kalah sebuah tamparan keras mendarat di pipi.
Bumi berjongkok lalu mencengkram pipi Senja. Menatap tajam sepasang mata sendu yang kini sudah menganak sungai.
“Kamu tak ada bedanya dengan ladies di club' malam itu. Menjajakan tubuh kepada pria hidung belang! Kamu dan mereka sama saja. Sama-sama pela*cur, wanita murahan!”
Mendengar hinaan serta tuduhan yang terlontar dari bibir suaminya, Senja tersenyum miris.
“Aku memang bekerja di club' malam. Harus aku akui jika kehidupan di dunia malam itu sangat kotor. Aku juga nggak munafik jika tubuhku sering di sentuh oleh banyak pria. Karena itu sudah resikonya bekerja di tempat seperti itu. Akan tetapi, aku nggak pernah menjual diri. Para pria hidung belang juga tahu, mana PSK dan bukan. Sedangkan dirimu, malah lebih bejat daripada pria hidung belang itu.”
“Kamu!!” hardik Bumi dengan perasaan marah.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kamu sudah lupa betapa beringasnya dirimu menjamah tubuhku? Merenggut paksa kesucianku sekaligus menghancurkan hidupku!" Senja mengepalkan kedua tangan menatap benci pada suaminya.
Bumi langsung berdiri seolah tak merasa bersalah. Dengan santainya meminta Senja segera mempersiapkan diri untuk menemaninya ke perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya.
Sepeninggal Bumi, Senja terisak sambil mengelus perutnya. Seolah tahu jika sang ibu dalam keadaan sedih, calon bayinya pun tak banyak bergerak bahkan kram di perut perlahan mereda.
“Sayang, meski kehadiran kalian nggak pernah di harapkan olehnya, percayalah Momy akan selalu menjadi pelindung bagi kalian. Hanya tinggal dua bulan saja kita akan bertemu. Setelah itu, kita bisa pergi menjauh dari pria yang nggak pernah mengharapkan, menyayangi apalagi mencintai kita.”
Senja mengambil paper bag yang tergeletak lalu perlahan berdiri. Duduk di sisi ranjang kemudian menyeka air mata.
Ingatannya kembali berputar tujuh bulan yang lalu.
Saat itu, ia yang sedang bekerja sebagai manager di club' malam, mendapati Bumi sedang mabuk berat.
Niat hati ingin membantu dengan mengantarnya ke salah satu kamar yang ada di club' malam. Namun, naasnya ia malah diperkosa oleh Bumi.
Satu bulan berselang, Senja tak pernah menduga jika ia akan hamil hasil dari perbuatan bejat Bumi.
Akhirnya ia meminta pertanggungjawaban sekaligus mengancam akan melaporkan Bumi ke pihak berwajib jika ia enggan bertanggung jawab.
Pernikahan yang terkesan mendadak meski di tentang oleh Bu Cahaya, yang tak lain adalah Mama dari Bumi, membuat pria itu tak punya pilihan lain.
Pasca menikah, Senja sering mendapatkan perlakuan kasar dari Bumi. Mulai dari kata hinaan juga kekerasan fisik.
Beberapa kali Bumi mendesak Senja untuk mengugurkan kandungannya. Namun wanita itu berulang kali menolak.
*********
Satu jam berlalu.
Senja perlahan menuruni anak tangga menuju lantai satu.
“Nak Senja,” sapa Bik Riri seraya menghampiri sambil tersenyum. “Kamu cantik banget.”
“Makasih Bik,” ucap Senja. “Kami titip rumah sebentar ya, Bik.”
“Iya,” jawab Bik Riri seraya mengelus perut buncit Senja. “Bibik sudah nggak sabar ingin segera bertemu dengan si kembar ini. Sehat-sehat ya, sayang di dalam sana.”
“Kembar?” Alis Bumi seketika bertaut saat mengetahui jika bayi yang sedang di kandung Senja adalah kembar. Bahkan jenis kelaminnya saja dia tak tahu.
Selama istrinya itu hamil, sedikit pun ia tak pernah peduli atau bertanya. Jangankan mengelus perut Senja, ia bahkan tak pernah sekalipun mengantar apalagi menemani sang istri menemui dokter kandungan.
Selama ini yang sering menemani Senja hanyalah Bik Riri dan juga Langit. Sahabat yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Entah mengapa tiba-tiba saja Bumi seolah merasa bersalah. Ia kembali melanjutkan langkah menuruni anak tangga.
__ADS_1
“Bik, kami pergi dulu, ya,” izin Bumi sekaligus mengajak Senja.
“Baiklah, kalian hati-hati ya, Nak,” pesan Bik Riri.
********
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi tujuan, Senja hanya diam seribu bahasa. Wajahnya pun terus mengarah ke samping jendela kaca mobil.
Tangannya terus mengelus perut buncitnya seolah menenangkan sang calon bayi yang sesekali menendang pelan.
Sedangkan Bumi sesekali meliriknya. Ada keinginan untuk menyentuh perut buncit Senja. Namun, saat mengingat ucapannya, ia urungkan kembali niatnya.
“Aku nggak pernah membayangkan jika benihku akan menghasilkan bayi kembar. Tapi, apa jenis kelaminnya?” batinnya sambil menundukkan pandangan wajahnya ke bawah.
Keduanya terus bungkam sehingga mobil yang dikendarai oleh suami Bik Riri itu, berhenti tepat di depan gedung hotel.
“Makasih ya, Mang,” ucap Bumi dan Senja bergantian dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Mang Dul.
Keduanya langsung turun sesaat setelah pintu mobil dibuka oleh pegawai hotel.
Saat Bumi ingin merangkul pinggang Senja, ia langsung menolak dengan berkata, “Nggak perlu berpura-pura peduli. Berperilakulah apa adanya seperti hari-hari sebelumnya. Lagian aku sudah terbiasa terabaikan.”
Bumi langsung mengepalkan kedua tangan mendengar ucapan sarkasme dari sang istri. Marah namun ia tetap menahan emosi.
Ketika pintu lift akan tertutup, tiba-tiba saja ada tangan seseorang dengan cepat menahan benda itu.
“Mumpung masih sempat,” kata sang pemilik tangan yang tak lain adalah Langit.
“Mas Langit!” Senja dan Bumi menyebut nama itu serentak.
“Pasti mau ke ballroom, kan? Barengan saja,” cetus Langit dengan seulas senyum. “Senja, bagaimana dengan si kembar?”
“Mereka sehat, Mas. Semakin hari semakin kuat saja tendangannya,” jawab senja.
Langit langsung merangkul bahu Bumi lalu berkata, “Bumi, kamu gimana sih?! Sekali-kali temani dong Senja ke dokter kandungan. Jangan sibuk dengan pekerjaanmu saja. Sekalian biar tahu perkembangan putramu.”
Mendengar ucapan Langit, hati seorang Bumi langsung mencelos. Bagaimana mungkin? Selama ini ia begitu tak peduli dengan darah dagingnya sendiri.
“Putra dan mereka kembar? Apa selama ini Mas Langit yang sering menemani Senja?” tebaknya dalam hati seraya menatap kakak sepupunya itu.
Tak lama berselang, pintu lift terbuka.
“Senja, Bumi, aku duluan ya. Soalnya aku mau langsung ke dapur restoran dulu. Sekalian mengecek persiapan catering,” izin Langit lalu keluar dari benda itu.
Baik Senja maupun Bumi, keduanya hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
...----------------...