Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
113. Coba saja jika dia berani ...


__ADS_3

Merasa rumah itu sepi sepeninggal mama mertuanya, Azzura perlahan merubah posisinya menjadi duduk lalu bersandar di kaki sofa.


"Sayang ... ada apa? Kok bengong?" tegur Genta lalu ikut duduk melantai.


"Nggak apa-apa, Mas, hanya saja sepi banget. Anak-anak ke mana ya?"


"Sudah pada lari ikut bermain dengan anak-anak kompleks."


Genta kemudian berbaring menjadikan paha Azzura sebagai bantal. Memandangi wajah istrinya sambil mengelus perutnya.


"Mas ..."


"Hmm ..."


"Aku takut jika suatu saat Devan tiba-tiba diambil oleh ayah kandungnya." Tiba-tiba saja Azzura mengatakan hal yang seketika membuat Genta langsung merubah posisinya menjadi duduk.


Melihat mata indah itu mulai menganak sungai, ia pun memeluknya. Ia tahu benar jika hal itu terjadi bukan tidak mungkin akan membuat psikis istrinya kembali terganggu, pun begitu dengan Devan.


Genta mengetatkan rahangnya. Sungguh ia benar-benar sangat membenci ayah biologis dari putranya itu.


"Hal itu nggak akan pernah terjadi, Sayang. Jika pun ada niatannya ingin merebut Devan dari kita, dia harus menghadapi aku dulu!" tegas Genta.


Hening ...


Genta terus mengelus punggung istrinya. "Coba saja jika dia berani. Sepertinya dia harus menyiapkan mentalnya sebelum berhadapan denganku."


"Sudah ... sebaiknya kamu ke kamar, aku kedepan dulu sebentar," perintahnya.


Tak lama berselang suara kedua anaknya pun terdengar dari arah pintu utama.


"Ayah ... Bunda!!!" pekik keduanya sambil berlari menuju ke arah keduanya.


Setelah mendekat, Devan dan Ayya ikut duduk di lantai dengan nafas ngos-ngosan.


"Capek ya? Habis lari berada kilometer?" kelakar Zu. Ayya dan Devan saling berpandangan tak mengerti.


Lagi-lagi Azzura dan Genta terkekeh menatap wajah bingung anaknya. Setelah beberapa menit kemudian, ia pun mengajak anak-anaknya naik ke lantai dua lalu meminta mereka segera membersihkan diri.


Tiga puluh menit kemudian ...


Sembari menanti azan Maghrib, Azzura terlebih dulu mengajar anak-anaknya mengaji seperti hari-hari sebelumnya.


Berkat kerja kerasnya mengajar ilmu agama kepada kedua anaknya, baik Ayya maupun Devan sudah bisa membaca Al-Qur'an dan mampu menghafal seluruh Juz Amma.


Genta yang sedang duduk di samping istrinya, hanya bisa menatap kagum padanya. Suatu nikmat syukur yang ia rasakan. Merasa beruntung memiliki istri seperti Azzura.


Begitu azan magrib terdengar dikumandangkan, Azzura dan anak-anaknya menghentikan aktifitasnya hingga azan selesai.

__ADS_1


"Ayya ... Dev," sebut Genta satu persatu sembari merentangkan kedua tangannya ingin merangkul kedua anaknya.


Keduanya mendekat. "Kalian anak-anak yang baik, tetaplah seperti ini hingga kalian berdua dewasa kelak, anakku. Saling menyayangi dan saling melindungi," ucap Genta dengan suara lirih lalu mengecup keduanya bergantian.


Ia lalu melirik Azzura, mengelus wajahnya kemudian turun ke perutnya seraya berkata, "Sayang, terima kasih. Kehadiranmu membuatku banyak belajar tentang arti kebahagiaan, kebersamaan dan kasih sayang yang sesungguhnya."


Selang beberapa menit kemudian, Genta mengajak mereka berdiri lalu mulai memimpin shalat.


Keluarga kecil itu tampak khusyuk melaksanakan shalat berjamaah hingga selesai lalu dilanjut dengan berdoa.


Setelah selesai, Genta memandangi anak dan istrinya lalu tersenyum.


"Sayang, kita makan di luar saja ya. Sekalian bawa anak-anak main ke mall. Kita ajak Galuh juga biar ramai," usul Genta.


Mendengar mereka akan makan di luar sekalian ke mall, Ayya dan Devan langsung sembringah.


"Beneran, Yah?!!" pekik Ayya.


"Kapan ayah bohong?! balas Genta lalu mencubit hidung putrinya.


"Yeaahhh!!" Suara Ayya dan Devan kembali memenuhi ruangan itu.


Setelah membereskan perlengkapan shalat, Azzura terlebih dulu mengurus anak-anaknya lalu menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Sedangkan Genta, tampak sedang menghubungi sang adik sekaligus janjian untuk bertemu di salah satu restoran kota M. Tak lupa ia mengajak kedua orang tuanya.


Tujuannya mengajak mereka makan bersama di luar, karena ia ingin menyampaikan kabar bahagia jika ia naik pangkat.


Di restoran kota M, Genta memilih ruangan VIP khusus untuk keluarganya. Ia pun memesan makanan sesuai yang mereka inginkan.


Sambil menunggu kedatangan Galuh dan Nella juga ponakannya, sang ayah mencolek pinggangnya.


"Waah ... tumben kamu mengajak ayah dan mama makan diluar? Ada apa?" cecar pak Dirgantara.


"Bukan tumben, Yah, biasanya juga aku sering-sering mengajak Ayah dan Mama makan di luar. Itu dulu ... masih status duda. Sekarang beda lagi soalnya sudah punya istri. Maklum ... di dekat istri lebih nyaman, Yah. Biasa ..."


Genta tak melanjutkan kalimatnya namun memberi kode yang hanya bisa ia dan sang ayah pahami.


Pak Dirga langsung memukul pahanya hingga membuatnya meringis.


"Apaan sih, Yah," protesnya lalu tersenyum jahil kemudian kembali menggoda ayahnya. "Kenapa? Mending main aman saja, Yah. Nggak perlu khawatir atau buru-buru, lagian di rumah cuma ada kalian berdua," bisiknya.


Ucapan mesum sang putra seketika membuat pak Dirga berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala.


Tak lama berselang Galuh dan anak istrinya pun tiba lalu menyapa mereka. Nella langsung menghampiri Azzura lalu mengelus perutnya.


"Zu, sepertinya nggak lama lagi kamu akan lahiran ya?"

__ADS_1


"Iya, Kak Insyaallah sebulan lagi."


"Gemes banget, udah nggak sabar ingin bertemu si twins," gumam Nella.


Mereka pun melanjutkan acara makan malam bersama dengan penuh rasa syukur sekaligus bahagia. Suasana yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tua Genta karena mereka bisa berkumpul dengan anak cucunya.


Di sela-sela makan malam itu, Genta akhirnya menyertakan kabar gembira perihal kenaikan pangkatnya pada kedua orang tuanya dan adiknya.


"Sebenarnya ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan pada kalian," kata Genta.


"Kabar apa, Bang?" sahut Galuh cepat.


"Mah, Ayah, Galuh ... Alhamdulillah aku naik pangkat," lanjutnya dengan senyum sembringah.


"Alhamdulillah ... selamat ya, Nak. Kok kamu nggak bilang-bilang tadi di rumah sebelum berangkat?" tanya Bu Nadirah.


"Sengaja, Mah," jawabnya santai. "Ternyata ucapan Ayah waktu itu benar-benar jadi kenyataan."


Pak Dirgantara menepuk bahunya sekaligus bangga padanya. Ia pun merangkul bahu putra sulungnya itu seraya berucap, "Selamat ya, Nak."


"Terima kasih, Ayah. Ayah juga salah satu panutanku di kesatuan ini."


Setelah kurang lebih satu jam setengah berada di restoran, akhirnya mereka pun meninggalkan tempat itu.


Sesaat setelah berada di parkiran, pak Dirgantara dan bu Nadirah memutuskan pulang pulang lebih dulu.


"Mas, sebaiknya Mas antar ayah dan mama pulang dulu," usul Zu. "Kami akan menunggu Mas di mall tempat biasa anak-anak main."


"Baiklah," sahutnya lalu menoleh ke arah Galuh. "Galuh, Nella, aku titip Azzura dan anak-anak sebentar. Aku antar mama dan ayah pulang dulu setelah itu akau akan menyusul kalian."


"Siap! Pak Genta!" kata Galuh sambil memberi hormat. Ulahnya itu seketika membuat anak dan ponakannya cekikikan.


"Ck ... apaan sih?!" decak Genta. "Berangkat gih," suruhnya lalu mendorong Galuh ke arah mobilnya. "Sayang, kalian ikut paman dan mama Nella dulu ya, ayah akan menyusul setelah mengantar oma dan kakek pulang."


"Iya, Ayah," jawab Ayya dan Devan.


Setelah memastikan mobil Galuh menjauh, barulah ia menghampiri mobilnya. Sesaat setelah duduk di kursi kemudi, dadanya tiba-tiba saja sesak disertai debaran tak menentu.


Ia spontan memegang dadanya. "Kok perasaanku tiba-tiba nggak enak begini ya?" gumamnya dalam hati.


"Genta?! Ada apa, Nak?" tegur pak Dirgantara.


"Nggak apa-apa, Yah," sahutnya lalu menyalakan mesin mobilnya.


Di sepanjang perjalanan pulang, entah mengapa tiba-tiba saja ia teringat akan ucapan istrinya tadi sore.


"Johan ... pria brengsek itu. Jika sampai dia berani menyentuh putraku, maka aku nggak segan-segan akan menghajarnya tanpa ampun!"

__ADS_1


__ADS_2