Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
107. Nanti juga kamu akan tahu ...


__ADS_3

Untuk beberapa menit, Yoga tetap membiarkan Syakila menangis hingga gadis itu merasa cukup tenang.


"Apa sekarang kamu merasa jauh lebih baik?" tanyanya.


"Hmm." Syakila mengangguk seraya mengarahkan pandangannya ke arah jendela mobil. "Makasih ya, Yoga."


"Sama-sama. Oh ya ... apa kamu tinggal di apartemen ini?"


Syakila menggelengkan kepalanya lalu kembali menyeka air matanya. Rasanya hatinya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.


Bagaimana tidak, barusan ia kembali memergoki tunangannya itu sedang melakukan hubungan intim dengan wanita yang sama.


Wanita yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Sungguh miris yang ia rasakan. Hati wanita mana yang tak sakit menyaksikan sahabatnya sendiri yang menjadi duri dalam hubungannya.


"Sebaiknya aku mengantarmu pulang," tawar Yoga.


Syakila hanya mengangguk pelan sekaligus memberitahu alamat rumahnya. Setelah itu, Yoga mulai menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan area parkir menuju tempat tujuan.


Di sepanjang perjalanan, Syakila hanya diam seribu bahasa dengan pandangan kosong kedepan.


Melihat keadaan gadis itu, entah mengapa Yoga merasa iba.


Geram ...


Marah ...


Jelas terlihat menjadi satu. Ia sangat membenci dengan pria yang suka bermain fisik sekaligus tukang selingkuh.


Rasanya ia ingin kembali menghajar pria tadi.


"Sya, maaf jika aku lancang. Apa pria tadi ...?"


"Dia tunanganku. Tapi barusan, aku baru saja memutuskan hubungan kami," sela Sya lalu kembali menyeka air matanya yang tiba-tiba saja meleleh.


"Maaf ..."


"Nggak apa-apa. Setidaknya aku bersyukur karena dia belum menjadi suamiku. Allah itu Maha Adil. Bukan nggak mungkin dia akan terus melakukan perselingkuhan di belakangku," jelas Sya dengan hela nafas.


"Haaah ... kenapa gadis ini senasib dengan Azzura. Namun dia masih bisa bernasib baik karena belum menikah dengan pria bajingan itu," batin Yoga.


Keheningan kembali tercipta hingga kendaraan yang di kendarai oleh Yoga berhenti tepat di depan pagar rumah gadis itu.


"Makasih ya, Yoga, aku masuk dulu. Jika berkenan mampirlah sebentar. Sepertinya kak Daffa ada di dalam," tawar Sya.


"Wah ... sekali-kali ganggu kak Daffa nggak apa-apa kali ya," gumam Yoga dalam hatinya lalu tersenyum tipis.


Ia pun membuka pintu mobil lalu menyusul gadis itu.


"Assalamu'alaikum," ucap keduanya sesaat setelah berada di ambang pintu.


"Waa'laikumsalam," jawab Daffa dan Kiya bergantian.

__ADS_1


"Yoga?! Kamu Yoga kan?!" tanya Kiya.


"Iya, Kak. Apa kabar kak Kiya, sudah lama nggak bertemu. Tahu-tahunya ternyata kak Kiya ada di kota ini juga," jawab Yoga lalu duduk di samping Daffa dengan senyum usil.


"Alhamdulillah, baik Yoga," balas Kiya lalu melirik ke arah Sya yang sudah naik ke lantai dua.


"Sya, kenapa ya? Sepertinya dia nggak baik-baik saja," batin Kiya.


"Mas Daffa, Yoga, sebentar ya, aku ke dapur dulu," pamit Kiya. Keduanya hanya mengangguk pelan.


Sepeninggal Kiya, Yoga menyenggol bahu Daffa.


"Wah Kak, sepertinya kakak lagi gencar mengejarnya," goda Yoga.


"Ya begitulah. Apa kamu tahu, ini sudah tahun keempat aku masih berusaha meluluhkan hatinya," aku Daffa.


Sejenak Yoga membisu, ia tahu benar seperti apa perjuangan sepupunya itu. Melihat Kiya, janda satu anak itu, sifatnya kurang lebih seperti Azzura.


"Oh ya, apa kamu dan Syakila janjian? Pulang bareng pula?" selidik Daffa.


"Nggak Kak. Tadi aku nggak sengaja memergokinya sedang bertengkar dengan tunangannya. Aku nggak tega saat ia mulai terdesak. Jadi aku membantunya sekaligus mengajaknya meninggalkan pria itu."


"Masalah apa ya?" gumam Daffa.


"Tunangannya itu ketahuan selingkuh. Seperti itulah yang aku dengar," pungkas Yoga lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


*******


"Maaas ... Maaas ..." panggilnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. "Mas!"


"Hmmm ... Sayang, ada apa?" bisik Genta masih setengah sadar.


"Maas ... aku pengen makan nasi goreng," rengek Zu sambil menatap suaminya yang masih berbaring.


"Nasi goreng?" Genta ikut mendudukkan dirinya sambil menyugar rambutnya. "Jam berapa ini, Sayang?"


Genta lalu mengarahkan matanya ke arah jam dinding. Matanya langsung membulat sempurna karena arah jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Maas ... aku pengennya nasi goreng yang di pinggir jalan."


Mata Genta kembali membulat sempurna. Rasa kantuknya langsung melayang mendengar permintaan nyeleneh istrinya.


"Sayang, ini sudah larut belum tentu mang penjual nasi goreng di pinggir jalan itu masih ada yang buka," protes Genta.


"Tapi aku pengen, Mas," rengek Zu lagi.


Genta menghela nafas sembari mengelus perut rata istrinya. Demi sang cabang bayi akhirnya mau tak mau ia beranjak dari ranjang.


Ia pun ke ruang ganti lalu mengenakan baju kaos lalu mengambil salah satu sweater istrinya.


Sesaat setelah kembali ke kamar, ia pun memakaikan sweater itu ke tubuh istrinya lalu mengajaknya turun ke lantai satu.

__ADS_1


"Terpaksa harus keliling dulu ini," gumam Genta sekaligus merasa lucu.


Baru saja Azzura akan membuka pintu utama, bu Nadirah menegur.


"Zura, Genta?! Mau ke mana larut malam begini?" tanya bu Nadirah seraya menghampiri keduanya.


"Mau cari nasi goreng di pinggir jalan, Mah," jawab Genta.


Sang mama langsung tertawa lalu mengelus lengan putra sulungnya itu. "Genta, wanita hamil itu keinginannya memang aneh. Maklumi saja, Nak, itu karena si dedek yang pengen," jelas bu Nadirah.


"Hmm." Genta mengangguk.


"Oh ya, jika mama nggak salah, di jalan xxx ada penjual nasi goreng begadang. Sepertinya di jam segini masih buka."


"Alhamdulillah ... ya sudah, aku dan Zu pergi dulu, Mah. Titip Ayya dan Devan ya," pamit Genta.


"Iya, kalian hati-hati ya."


Genta dan Azzura hanya mengangguk lalu segera menuju mobil. Lagi-lagi Azzura memprotes tak ingin naik mobil melainkan ingin naik motor.


Walau sudah dibujuk, Azzura tetap kekeuh ingin naik motor. Mau tak mau, lagi-lagi Genta mengalah dan terpaksa menuruti keinginan istrinya.


Di perjalanan, Azzura terus mengajak Genta mengobrol sambil memeluknya erat. Sesekali keduanya tertawa merasa lucu.


"Ternyata seru juga naik motor berdua saja dengan istri, serasa sedang pacaran saja," gumam Genta dalam hatinya sambil senyum-senyum merasakan hangatnya pelukan istrinya.


Tak butuh waktu yang lama akhirnya keduanya pun sampai di tempat nasi goreng begadang. Dan benar saja, di jam yang terbilang sudah larut, masih saja ada pelanggan yang makan di warung pinggir jalan itu.


"Mang, tolong buatkan nasi goreng spesial dua porsi ya. Minumnya teh anget saja," pesan Genta.


"Baik, Mas," jawab mamang.


"Sayang, dimakan ya nasi gorengnya," bisik Genta sambil menggenggam jemarinya. Azzura hanya mengangguk pelan.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan nasi goreng spesial dan teh hangat mereka pun di antar lalu di sajikan.


Seperti sebelumnya, Azzura hanya menatap nasi goreng itu tanpa menyentuh. Cukup hanya merasakan baunya saja ia sudah puas. Sedetik kemudian ia menggeser piring itu ke arah Genta lalu memintanya untuk menyantapnya.


"Sudah kuduga," batin Genta sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kamu gimana sih? Tadi dirumah merengek ingin makan nasi goreng dipinggir jalan. Giliran sudah di sini nasinya malah diliatin doang. Jika begini terus berat badan mas bisa naik drastis," kata Genta merasa gemas.


Sedetik kemudian ia terkekeh lalu berbisik, "Karena kamu sudah memaksa mas, maka kamu harus membayar."


"Bayar?" tanya Zu sedikit bingung. "Aku nggak bawa duit, Mas. Bukannya tadi, Mas yang bawa dompetnya?"


Lagi-lagi Genta merasa gemas karena Azzura tak mengerti maksudnya. "Bukan bayar pake duit tapi ..."


"Tapi apa, Mas?"


"Nanti juga kamu akan tahu dan nggak boleh menolak," balas Genta dengan senyum penuh arti. Setelah itu ia pun melanjutkan makannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2