Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 46 : Lebih tegar ...


__ADS_3

Setibanya di kediamannya, sebelum turun dari mobil, Azzura baru membuka suara.


"Ayo ... ikutlah denganku. Sebaiknya kamu bersihkan dulu tubuhmu," kata Zu dengan wajah datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya. "Maaf, kita harus berakting di depan momy," sambungnya.


"Zu ... ak ..."


"Aku mohon ... lakukanlah seperti apa yang aku perintahkan. Saat ini aku nggak ingin berdebat," pungkas Zu lalu membuka pintu mobil.


Close hanya tertunduk lesu, bahkan nada bicara istrinya juga sama dinginnya dengan sikapnya saat ini.


Ia pun ikut membuka pintu mobil lalu menyusul istrinya.


"Ayo, ikutlah denganku ke kamar," ajak Zu lalu melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya disusul kemudian oleh Close.


Tuan Kheil, momy, Gisel dan Nanda hanya memperhatikan keduanya.


Sedangkan pak Prasetya dan keluarganya sudah pulang lebih dulu, dan akan kembali lagi ba'da isya untuk mengikuti tahlilan.


"Close, ini handuknya. Kamu duluan saja, aku akan menyiapkan pakaian untukmu. Aku rasa baju almarhum ayahku cocok untukmu," kata Zu.


Setelah itu, ia pun meninggalkan kamarnya lalu kembali ke lantai satu dimana kamar orang tuanya berada.


Sesaat setelah berada di kamar itu, Azzura langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa tanah yang menempel di tubuhnya.


Dibawah guyuran air hangat, ia kembali terisak mengenang ibunya. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa berbuat banyak melainkan harus pasrah, ikhlas dan tegar merelakan kepergian sang ibunda daripada harus terus-menerus menahan sakit.


Beberapa menit kemudian ...


Kini ia sudah mengganti pakaiannya lalu memilih salah satu pakaian almarhum ayahnya untuk suaminya.


Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, ia memberanikan diri menghampiri Close yang hanya mengenakan handuk melilit pinggangnya.


"Close, ini ... pakailah pakaian almarhum ayahku. Maaf ... ini hanya pakaian sederhana. Kenakanlah sarung ini karena kita akan tahlilan ba'da isya," kata Zu sambil menunduk.


"Aku nggak bisa mengenakan sarung. Bagaimana caranya," keluh Close sambil mengenakan baju kaos dan celana pendek almarhum ayah Azzura.


Azzura hanya menghela nafas, walaupun tak rela membantunya namun terpaksa ia lakukan juga.


"Zu ..." desis Close sambil memegang sarung yang kini berada dalam tubuhnya.


"Mendekatlah," pinta Zu dengan nada datar dan Close hanya menurut.


Setelah itu Azzura perlahan membuat sarung itu melilit dengan rapi di pinggangnya. Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Close terus menatap wajah istrinya dengan lekat.

__ADS_1


Ingin rasanya ia memeluknya namun ia juga takut jika istrinya itu memberontak sekaligus mengamuk.


"Sudah ... ayo kita turun menemui momy, daddy, Gisel dan Nanda," ajak Zu lalu meninggalkannya.


Lagi-lagi Close hanya bisa menatap nanar punggung istrinya yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar.


Sedetik kemudian ia ikut menyusul.


Kini mereka berada di ruang tamu dan tampak sedang duduk di atas hamparan karpet yang terbentang.


"Nak ... sebentar lagi pegawai hotel akan mengantar nasi kotak untuk tahlilan," kata daddy membuka suara.


"Terima kasih, Dad. Maaf sudah merepotkan Daddy," lirih Zu.


"Nggak apa-apa, Nak. Hanya itu yang bisa daddy lakukan untukmu," sahut tuan Kheil.


Azzura melirik momy Lio. "Mom sebaiknya Momy istirahat saja di kamar," usul Zu kemudian melirik Nanda. "Nanda, tolong bikinkan momy teh hangat sekalian untuk Daddy, Gisel dan Close."


Nanda hanya mengangguk lalu beranjak dari karpet itu kemudian menuju dapur.


"Mom, ayo aku antar Momy ke kamar ibu. Momy istirahat saja di sana," kata Zu lalu mengajak mertuanya itu beranjak kemudian membawanya masuk ke kamar almarhum ibunya.


Sepeninggal Azzura dan momy Lio, Close meneliti ruangan itu tanpa ada yang ia lewatkan, hingga ekor matanya terarah ke foto frame yang berjejer rapi di dinding ruang tamu itu.


"Ternyata dia seorang anggota TNI AL," desis Close sekaligus baru mengetahui jika almarhum ayah mertuanya itu juga ternyata seorang jenderal.


"Sebenarnya ada hubungan apa Azzura dengan pria paruh baya ini?" Close masih saja merasa penasaran. Apalagi foto itu memperlihatkan Azzura yang tampak memeluk pak Prasetya sambil tersenyum.


Sementara di kamar, Azzura tampak di semangati oleh momy Lio.


"Sayang, momy turut berdukacita. Maafkan momy," ucap momy sambil mengelus lengan menantunya.


"Nggak apa-apa, Mom. Semua sudah takdir," lirih Zu dan kini tampak lebih tegar.


Tak lama berselang terdengar azan magrib berkumandang. Azzura akhirnya pamit kembali ke kamarnya untuk melaksanakan shalat magrib.


Setelah selesai shalat, ia pun kembali mendoakan ibu dan ayahnya.


Beberapa jam kemudian ba'da isya ...


Rumahnya kembali didatangi tetangga dekat untuk mengikuti tahlilan. Ucapan belasungkawa dan doa terus mengalir untuk almarhum ibunya.


Tampak pak Prasetya, Yoga dan Farhan serta bunda Fahira berada di antara orang-orang yang akan mendoakan ibunya.

__ADS_1


"Zu," tegur pak Prasetya


"Paman," sahutnya.


"Apa kamu baik-baik saja," tanyanya.


"Insya Allah ... aku baik-baik saja," jawabnya.


"Setelah perasaanmu sudah jauh lebih tenang, kita harus bicara," kata pak Prasetya lalu mengelus kepalanya.


"Iya Paman," jawab Zu. "Ayo ... tahlilannya sudah mau dimulai. Sebaiknya kita juga siap-siap," ajak pak Prasetya.


Keduanya pun ikut bergabung dan mulai mengikuti tahlilan itu hingga selesai. Begitu tahlilannya selesai, Azzura dibantu oleh Nanda, Gisel dan bunda Fahira membagikan nasi kotak.


"Zu, kami juga pamit ya," kata Yoga dan Farhan. "Jika kamu butuh bantuan jangan sungkan langsung ngomong sama kami," lanjut Yoga lagi.


Azzura hanya mengangguk dengan senyum tipis.


"Zu, bunda dan paman juga pamit. Yang sabar ya, Nak," bisik bunda lalu memeluknya.


"Terima kasih Bunda," lirihnya.


Satu persatu tetangganya mulai meninggalkan rumah hingga yang tersisa hanya Azzura, Nanda kedua mertuanya, Gisel dan Close.


"Dad, Gisel, Mom, sebaiknya kalian pulang saja. Kasian Momy," cetus Zu.


"Apa kamu nggak apa-apa jika kami meninggalkanmu di sini?" tanya tuan Kheil.


"Nggak usah khawatir, Dad. Aku baik-baik saja," kata Zu dengan senyum tipis.


Awalnya momy Lio menolak dan tidak tega meninggalkan menantunya itu, namun setelah dibujuk akhirnya momy Lio hanya bisa pasrah.


Disusul kemudian Nanda dan pada akhirnya yang tersisa di rumah itu hanya Close dan Azzura.


Beberapa menit setelah kepergian mereka, Azzura pun menutup pintu lalu kembali duduk di atas karpet dengan pandangan mata yang kosong.


Baik Azzura maupun Close keduanya tak ada yang membuka suara melainkan keduanya hanya diam. Jika Azzura terlihat biasa-biasa saja, sebaliknya dengan Close.


Ia terlihat canggung dan tak tahu harus berbuat apa. Ingin menegur istrinya, ia pun tak berani. Akhirnya ia menghampiri jendela lalu berdiri di dekat benda itu.


Hujan yang tadinya sempat mereda kini turun semakin deras. Seketika membuat perasaan Close tiba-tiba merasakan kesedihan.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2