
Sebelum benar-benar meninggalkan Clarissa, Yoga meninggalkan nomor ponselnya.
"Rissa ... jika ada apa-apa, hubungi aku ya," pesan Yoga dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Clarissa.
Setelah itu, Yoga kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu perlahan melangkah kecil meninggalkan gadis malang itu.
******
Dua jam berlalu sejak meninggalkan rumah sakit, Yoga yang saat ini masih mengudara bersama penumpang lain di pesawat itu tampak termenung.
Sejenak wajah sendu Clarissa kembali bermain di benaknya. Sambil merenung, ia seolah melihat sosok Azzura empat tahun yang lalu di dalam diri gadis itu dalam versi yang berbeda.
Matanya, tatapannya, nada bicaranya ... semuanya sama persis dengan Azzura.
Yoga memegang dadanya sambil mengusap pelan. Ada yang sulit ia artikan dengan hatinya kini.
Entah itu hanya perasaannya saja atau masih terbawa akan bayangan gadis yang pernah bertahta di hatinya. Ia menghela nafas pelan.
"Keduanya sama-sama mengalami masalah gangguan mental. Kasian banget. Semoga saja setelah ini, dia perlahan melupakan semua kejadian yang dia alami meski akan membutuhkan waktu."
Tak ingin berlarut-larut memikirkan gadis itu, Yoga merogoh saku celananya. Senyumnya kembali mengembang menatap wajah Devan, Ayya, Novia Nenra dan baby F.
"Rasanya sudah nggak sabar ingin bertemu dengan kalian," gumamnya.
.
.
.
.
"Bunda, Ayya dan dedek Devan pengen ke rumah Oma ... boleh ya, Bun?" izin Ayya.
"Boleh, Sayang tapi jangan buat oma capek ya," pesan Zu seraya mengelus kepalanya.
Ayya langsung tersenyum sembringah sambil memegang tangan sang adik lalu mengajaknya.
"Yuk, bunda antar sampai di depan," ajak Zu lalu mengantar keduanya hingga di depan jalan kompleks.
Setelah itu ia memastikan kedua anaknya itu melangkah menuju rumah oma dan kakeknya yang hanya beberapa jarak dari rumahnya.
Begitu keduanya sudah memasuki pagar, barulah Azzura masuk ke dalam rumah.
"Nak, Zu, bibi ke pasar sebentar ya," izin bi Titin.
"Iya, Bi, hati-hati. Kunci motor ada di atas bufet," balas Zu dengan seulas senyum.
Bi Titin mengangguk mengerti lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Azzura memilih naik ke lantai dua.
Ia pun mengarahkan langkahnya ke ruang kerja Genta. Sesaat setelah berada di ruangan itu, ia merapikan buku serta file penting lalu menyimpannya di rak khusus.
__ADS_1
Ia kembali merapikan beberapa lembaran kertas yang sedikit berantakan di atas meja kerja suaminya. Hingga ekor matanya tak sengaja terarah ke sebuah amplop dengan lambang khusus.
"Apa ini?" gumamnya lalu meraih surat itu kemudian mendaratkan bokongnya di kursi kerja suaminya.
Ia pun mengeluarkan isinya lalu membaca secara seksama isi yang terlampir dari surat itu. Seketika matanya langsung berkaca-kaca lalu meremas surat itu dengan begitu geramnya.
Emosinya seketika memuncak, bayangan akan perjuangan Nina yang mengabaikan penyakitnya kala itu, demi mempertahankan sang putra, membuat tangis Azzura langsung pecah di ruangan itu.
Selama tinggal bersama dengan ibu kandung dari Devan itu, tak pernah sekalipun Johan menyambanginya atau menghubunginya. Walau hanya untuk menanyakan kabar Devan yang kala itu masih berada dalam kandungannya.
Selama ini pun Azzura tak pernah tahu sosok Johan seperti apa. Hingga saat ia memergoki suaminya menghajarnya sekaligus mendengar pembicaraan keduanya.
Barulah ia tahu jika pria yang sempat membantunya di swalayan seminggu yang lalu adalah ayah kandung Devan.
Azzura menarik nafasnya dalam-dalam sambil menyeka air matanya yang terus mengalir di pipi.
"Kapan mas Genta menerima surat gugatan hak asuh ini? Kenapa dia nggak memberitahuku?" gumam Zu. "Bi, Titin pasti tahu kantor pria itu. Aku harus bertemu dengannya."
Azzura kemudian keluar dari ruangan itu lalu ke kamar baby F lalu menatap kedua bayinya. Seketika ia teringat saat Devan seusia baby F.
Air matanya kembali mengalir sambil memegang dadanya. Masih segar dalam ingatannya empat tahun yang lalu saat ia dan Genta menemani Nina di ruang operasi.
Flash back on ...
Sebelum dibawa ke ruang operasi, Azzura dan Genta terus menggenggam tangannya.
"Nina kamu harus kuat, bertahanlah demi putramu. Dia juga putraku dan mas Genta. Apapun itu kita akan selalu bersama serta merawatnya.
Nina hanya mengangguk pelan disertai air mata yang mulai mengalir. Ia merasa terharu dengan ketulusan Azzura. Ia lalu menatap Genta yang masih berpakaian dinas.
"Genta," ucapnya dengan lirih. "Jika setelah operasi aku nggak akan membuka mataku lagi, aku titip putraku padamu dan Azzura. Berjanjilah padaku," ucapnya lagi seraya menatapnya dan Azzura bergantian.
"Nina ... yakinlah, kamu pasti akan baik-baik saja. Aku mohon bertahanlah demi putramu," bisik Genta dengan suara bergetar.
Beberapa menit kemudian team dokter yang akan melakukan operasi, memasuki kamar rawat Nina lalu meminta perawat mendorong bed pasien ke ruang operasi.
Azzura yang terlihat gelisah, khawatir serta cemas dikuatkan oleh Genta. Ia merangkul bahunya sembari menenangkannya.
"Zura, mari berdoa untuk kelancaran Nina. Jika kamu seperti ini aku juga ikut khawatir," bisik Genta.
Keduanya ikut menyusul ke ruang operasi itu setelah mengenakan baju khusus. Selama proses operasi caesar berlangsung, baik Azzura maupun Genta keduanya terus menggenggam jemari Nina.
Meski wanita malang itu tak sadarkan diri karena dibius total. Setelah hampir satu jam dalam ruangan operasi, tak lama berselang suara lengkingan tangisan Devan memenuhi ruangan itu.
Sambil menunggu dibersihkan, tak lama kemudian sang dokter langsung memberikan Devan pada Azzura.
Ia langsung menyambut bayi mungil itu dengan sukacita di sertai dengan linangan air mata merasa terharu lalu mengelus kepala Nina kemudian berbisik,
"Selamat ya, Nina, lihatlah putramu dia sehat dan tampan." Azzura mengecup Devan lalu memberinya nama.
"Devanka Mumtaz Darmawangsa," sebutnya lalu menatap Genta kemudian memberinya pada pria itu untuk diazankan.
__ADS_1
Genta langsung menyambut tubuh mungil Devan dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Ia pun mengazani bayi mungil itu.
Satu minggu pasca operasi, Azzura masih berharap jika suami Nina datang menjenguknya dan Devan. Namun sampai di penghujung nafas Nina, Johan sama sekali tak pernah muncul.
Flash back off ...
Puk!!!
Tepukan di bahu seketika membuatnya terkejut. Ia yang sejak tadi masih sesenggukan memutar badannya.
"Bi Titin," ucapnya lirih lalu memeluk wanita paruh baya itu sambil terisak.
Wanita yang begitu perhatian, setia, telaten dan sabar selama menemani Nina dan kini dirinya.
"Nak Zu, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya bi Titin sambil mengelus punggungnya.
"Aku jadi teringat Nina, bi?" bisiknya. "Aku masih mengingat saat pertama kali menggendong Devan ketika ia baru lahir."
Bi Nina ikut terenyuh mendengar ucapan lirihnya.
Setelah beberapa menit memeluk bi Titin perlahan ia mengurai dekapannya lalu menyeka air matanya.
Ia membawa bi Titin duduk di sisi ranjang lalu menatapnya lekat kemudian menggenggam kedua tangannya.
"Bi ... apa Bibi tahu di mana kantor ayah kandungnya Devan?" tanya Zu to the poin.
Mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Azzura, bi Titin langsung mengerutkan keningnya.
"Nak Zu, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan kantor pria brengsek itu?" Bi Titin balik bertanya dengan perasaan geram.
Bi Titin langsung membuang muka. Ia pun seakan membenci sosok ayah kandung Devan itu.
"Jangan menyebutnya dengan AYAH KANDUNG Devan, Nak. Dia nggak pantas disebut AYAH." Bi Titin menekan kalimatnya.
Air matanya langsung mengalir mengingat perbuatan tak bertanggung jawab pria blasteran itu pada Nina.
"Bi ... katakan di mana kantornya?!" desak Zu.
"Jika bibi memberitahumu, apa yang akan kamu lakukan?" selidik bi Titin.
Azzura menggeleng. "Katakan saja di mana kantornya, Bi?" desak Zu lagi.
Bi Titin bungkam seolah enggan memberitahunya. Ia merasa ada yang tak beres karena Azzura tiba-tiba saja menanyakan letak kantor Johan.
"Aku mohon, Bi ..." Azzura kembali mendesak dengan mata berkaca-kaca.
Meski enggan, akhirnya bi Titin terpaksa memberitahunya di mana letak kantor Johan.
Azzura mengangguk pelan lalu berterima kasih. Setelah itu, ia kembali ke kamar utama. Yang ada di benaknya saat ini adalah ia ingin bertemu langsung dengan Johan.
Sedangkan bi Titin yang masih berada di kamar baby F, merasa khawatir sekaligus cemas.
__ADS_1
"Apa maksudnya nak Zu menanyakan alamat kantor pria brengsek itu?!"
...----------------...