
Sesaat setelah sampai di parkiran, Rissa kembali berterima kasih pada Yoga. Setelah itu ia pun meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
Sepeninggal Rissa, Yoga kembali melanjutkan langkahnya menuju bangsal. Setibanya di ruangan kerjanya, ia langsung mendaratkan bokongnya di sofa lalu memijat keningnya.
Selang beberapa menit kemudian, ia membereskan meja kerjanya. Baru saja ia akan beranjak dari tempat duduknya, ponselnya kembali bergetar.
Dengan cepat, ia meraih ponselnya yang masih tergeletak di atas meja kerjanya. Kerutan tipis di kening seketika terbentuk.
"Bang Genta?" ucapnya lirih namun sekaligus senang. Ia pun langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum ... Bang Genta."
"Waa'laikumsalam, Yoga, lagi di mana?" tanya Genta.
"Masih di rumah sakit, Bang. Tapi ini barusan mau pulang. Ada apa Bang? Gimana kabarnya Abang dan keluarga? Sudah lama kita nggak bertemu. Rasanya kangen juga terutama sama anak-anak," kata Yoga.
Dari seberang telepon Genta terkekeh mendengar ucapan Yoga.
"Alhamdulillah, kabar kami baik-baik saja dan sehat walafiat. Mau ketemuan nggak?" tawar Genta.
Kening Yoga langsung mengerut tipis mendengar tawaran Genta barusan. Pikirnya suami dari Azzura itu pasti hanya bercanda. Sejenak ia bergeming sebelum akhirnya Genta memanggilnya lewat benda pilihnya.
"Ga ...? Yoga? Apa kamu masih di sana?" tegur Genta lalu terkekeh.
"Ah ... iya, Bang. Mau lah ... tapi Abang lagi di mana?" tanya Yoga sedikit penasaran.
"Lagi di kota A bareng Azzura dan si kembar. Tepatnya di hotel xxx," jelas Genta.
__ADS_1
"Hah!!! Beneran, Bang?!" pekiknya seolah tak percaya. Ada acara apa?"
"Beneran dong, masa aku bohong," kata Genta.
"Ya sudah, Abang dan Zu ke apartemenku saja di jalan xxx. Pokoknya aku tunggu," tegas Yoga dengan sembringah.
Setelah itu ia pun memutuskan panggilan telepon lalu cepat-cepat membereskan meja kerjanya. Sebelum pulang ia terlebih dulu berpamitan pada Daffa di ruang kerjanya.
Begitu mendapat izin, ia pun semakin mempercepat langkahnya menuju parkiran. Yang ada di benaknya kini adalah ingin segera tiba di apartemennya.
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam? Nggak nyangka banget dapat surprise begini. Kangen banget ama kedua bocah kembar itu," gumam Yoga.
Sementara di ruangan Daffa, Syakila yang sejak tadi berada di ruangan iparnya, tampak sedikit keheranan dengan sikap tak biasa pria itu.
"Sya ... ada apa? Sebaiknya kamu juga kembali ke rumah sakit," seru Daffa.
"Ya sudah, Kak. Aku kembali lagi ke rumah sakit," izin Sya.
.
.
.
Hotel xxx ...
"Mas ... gimana jika kita belanja dulu sebelum ke apartemen Yoga. Aku sekalian masak di sana nanti," usul Zu.
__ADS_1
"Boleh, selagi kamu merasa nggak repot," kata Genta."
"Nggak lah, Mas," timpal Zu lalu mengulas senyum.
"Fattah Faatih, ayo, Nak. Kita belanja dulu. Setelah itu kita ke apartemen paman Yoga," ajak Zu pada kedua anaknya itu.
"Yuk, sama ayah," kata Genta seraya mengulurkan tangannya pada Fattah Faatih.
Dengan patuh kedua bocah tampan itu menghampiri sang ayah.
Setelah Azzura selesai mengganti pakaiannya, mereka pun meninggalkan kamar hotel. Seperti keinginan Azzura mereka terlebih dulu ke salah satu swalayan.
Begitu selesai berbelanja mereka lanjut ke apartemen Yoga.
Sementara Yoga yang sejak tadi sudah tiba di apartemennya tampak terus tersenyum membayangkan kedatangan Genta dan keluarganya.
"Ada urusan apa ya, bang Genta ke kota A? Apa dia ada urusan yang bersangkutan dengan pekerjaannya ya?" tebak Yoga.
"Haaah setidaknya aku bisa melepas kangen dengan mereka," gumamnya.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu, tak lama berselang bel pintunya berbunyi.
"Itu pasti bang Genta dan Zu," bisiknya seraya menghampiri pintu lalu membukanya.
Dan tebakan ternyata benar
"Bang, Zu," sapanya lalu berjongkok memeluk Fattah Faatih. "Ayo masuk." ia langsung menggendong kedua bocah itu masuk ke dalam unitnya.
__ADS_1
Azzura dan Genta pun ikut menyusul masuk ke ruangan itu.
...----------------...