
Jauh dari kota A tepatnya di kota M, sejak tadi bu Nadirah terus menemani Azzura di kamar.
"Ayah kalian mana sih?! Kok jam segini belum pulang-pulang juga," gerutu bu Nadirah sambil mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding.
Sedetik kemudian, ia menghampiri Fattah Faatih yang sedang bermain di samping ranjang.
"Mah," sebut Zu dengan suara lirih. "Jangan cemas begitu, mungkin Mas Genta ada urusan mendadak."
"Bagaimana mama nggak cemas, Nak jika kamu lagi sakit begini terus dia belum pulang," sahut bu Nadirah.
"Nggak apa-apa, Mah. Ini karena bawaan orok," balas Zu dengan seulas senyum.
Bu Nadirah lalu duduk di sampingnya kemudian mengelus kepala menantunya itu dengan sayang. Bersyukur sekaligus bahagia karena sebentar lagi ia akan memiliki cucu keempat.
Tak lama berselang, Ayya masuk ke kamar sembari membawa nampan.
"Bun, Ayya bawakan teh hangat dan makanan untuk Bunda," kata Ayya sembari menghampiri ibu sambungnya itu. "Ayya juga sudah membuat susu untuk dedek."
"MasyaAllah ... makasih ya, Sayang," ucap Zu merasa terharu.
"Sama-sama, Bunda," balas Ayya lalu mengajak Fattah Faatih naik ke atas ranjang sang bunda lalu memberikan botol susu pada adik-adiknya.
"Sayang, dedek Devan mana, Nak?" tanya Zu.
"Ada di bawah sama bi Titin, Bun. Lagi kerjain tugasnya. Bentar lagi mungkin udah selesai," jelas Ayya.
Azzura menatap menyelidik pada putri sulungnya itu dengan senyum tipis. Ia sudah bisa menebak jika Ayya pasti mengancam Devan lagi.
"Hmm ... biar bunda tebak," kata Zu lalu terkekeh.
"Pasti tadi Kakak mengancamnya lagi kan? Jika PR-nya belum selesai Kakak nggak bolehin ke kamar bunda. Benar nggak?"
Sambil tertawa Ayya mengangguk pelan sambil mengelus rambut adik kembarnya yang sedang mengedot susu.
Sifat tegas Ayya sangat mendominasi dari sifat yang dimiliki oleh Genta. Justru sikapnya itu membuat Azzura bangga pada putrinya karena tak mudah ditindas.
"Sayang, sebaiknya kamu makan dulu," cetus Bu Nadirah. "Mama ke bawah dulu, sekalian ingin menemani Devan."
Azzura hanya mengangguk pelan lalu memandangi anak-anaknya.
.
.
.
.
Karena ajakannya ditolak oleh Yoga, Syakila memilih jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan untuk menghibur dirinya.
Sambil melangkah pelan, sesekali ia melirik ke beberapa galeri pakaian yang terdapat di mall itu. Syakila terus mengayunkan langkah kakinya.
Hingga ia berhenti tepat di salah satu tempat makan yang ada di mall itu. Ia pun memilih memesan makanan sambil menunggu.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya makanan pesanannya di antar. Ia pun membawa nampan makanan pesanannya itu ke salah satu meja yang kosong.
Syakila mulai menyantap makanannya sendirian. Sesekali ia mengulas senyum saat mendapati beberapa pasang kekasih yang terlihat mesra.
"Haaah ... nyebelin banget! Kenapa harus melihat orang-orang ini bermesraan. Belum juga halal. Giliran ditinggal baru nangis kejer," gerutu Sya dalam hatinya lalu memutar bola matanya malas.
"Sya?!" Sapaan itu seketika membuat Keningnya mengerut. Ia pun menoleh ke belakang. Saat tahu itu adalah ex tunangannya ia kembali menghadap ke depan mejanya.
"Hadeeeh ... kenapa harus bertemu dengan si bule brengsek itu di sini? Apa dia menguntitku? Ignore it," batin Sya.
Tanpa persetujuan Sya, Bram langsung duduk di sampingnya lalu memandanginya. Sedangkan yang dipandang terlihat acuh sambil mengunyah makanannya.
"Sendiri saja?" tanya Bram.
__ADS_1
Tak ada jawaban melainkan Sya terlihat acuh. Bahkan ia seakan jengah dengan pria blasteran itu.
"Sya?! Apa kita bisa bicara? Please jangan diemin aku seperti ini," sambung Bram.
Tetap sama. Syakila tetap diam seribu bahasa sambil menikmati makanannya tanpa memperdulikan ucapan Bram.
Melihat Syakila tetap diam dan enggan menjawabnya, Bram menggenggam jemarinya. Sontak saja ulahnya itu membuat Syakila menoleh ke arahnya dengan perasaan geram.
"Lepasin nggak?!!" kesalnya.
Mau tak mau Bram melepaskan genggaman tangannya dari Syakila.
"Sya ... please maafin aku. Beri aku kesempatan untuk berubah dan memperbaiki hubungan kita lagi. Aku berjanji nggak akan melakukannya lagi," kata Bram.
Mendengar kalimat yang lolos dari bibir Bram, Syakila tersenyum sinis seolah mengejek.
"Maaf ...? Kesempatan ...? Memperbaiki hubungan kita ...? Apa aku nggak salah dengar?!" ucap Sya sinis lalu memandanginya dengan tatapan tajam menghunus.
"Sya ..." sebut Bram lirih.
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu barusan? Satu tahun kita berada dalam ikatan pertunangan. Aku sudah cukup setia serta sangat mempercayaimu ... tapi balasan apa? kamu BERSELINGKUH," tekan Sya. "Bahkan memergokimu melakukan hubungan terlarang dengan wanita selingkuhanmu itu."
"Andai kamu berada di posisiku ... bagaimana perasaanmu?" tanya Sya dengan nada dingin.
Hening ...
Bram langsung tertunduk lesu tak bisa menjawab kata-kata Syakila. Ia sadar jika ia memang salah. Bram kembali mendongak seraya memandangi gadis berambut panjang itu.
Saat keduanya sama-sama terdiam, suara seseorang seketika mengalihkan pandangan Bram ke arah sumber suara.
"Close," desisnya.
Sementara Syakila tampak acuh tak acuh. Ia tetap melanjutkan makannya.
Sesaat setelah Close menghampiri Bram, ia pun duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Maaf, apa aku mengganggu kalian?" tanya Close dengan seulas senyum.
"Ya, sekaligus rekan bisnis," jawab Close lalu memandangi Bram yang sejak tadi hanya diam.
Beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan makannya, Syakila memilih berpamitan pada keduanya.
Sepeninggal Syakila, Close terkekeh menatap rekan bisnisnya itu yang tampak terus memperhatikan kepergian ex tunangannya itu.
"Ada apa? Kenapa memandangnya seperti itu?" selidik Close.
Bukannya menjawab, Bram balik bertanya padanya teman sekaligus rekan bisnisnya itu.
"By the way ... ada urusan apa kamu ke kota ini?"
"Aku dan keluargaku akan menghadiri resepsi pernikahan sepupuku besok. Sekalian aku ingin bertemu dengan salah satu temanku yang bekerja di rumah sakit jiwa di Kota ini," jelas Close.
"Gitu ya ...?"
Keduanya kembali melanjutkan obrolan santai di tempat itu.
.
.
.
Beberapa jam berlalu ketika Genta tiba di rumah, jam telah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
ketika ia membuka pintu, perasaan bersalah seketika menyelimuti dirinya. Bagaimana tidak Azzura sedang menunggunya di sofa ruang tamu sambil tertidur.
"Sayang ..." bisiknya sesaat setelah berada persis di depan istrinya. "Kenapa kamu tidur di sini sedangkan kamu lagi sakit," bisik Genta lagi lalu mengecup kening kemudian mengelus perut Azzura.
__ADS_1
Azzura mengerjab lalu perlahan mendudukkan dirinya. Memandangi wajah suaminya yang sedang berjongkok di depannya.
Memeluknya erat seraya berbisik, "Tumben Mas pulang larut begini? Apa ada urusan mendadak?"
Genta hanya mengangguk sekaligus merasa bersalah pada istrinya. "Maaf, mas sudah membuatmu khawatir begini," sesal Genta.
"G-Suit ini ...?" tanya Zu saat menyadari pakaian yang sedang dikenakan suaminya adalah seragam khusus pilot tempur.
"Ya ... tadi, mas dan beberapa team sedang melakukan latihan manuver untuk acara HUT TNI nantinya," jelas Genta dengan seulas senyum. "Itulah mengapa mas pulang selarut ini karena ada beberapa hal penting yang kami diskusikan sebelum pulang."
Azzura semakin mengeratkan dekapannya lalu menangis. Membayangkan jika terjadi sesuatu pada suaminya.
"Sayang," bisik Genta menenangkan istrinya.
"Aku takut jika terjadi sesuatu pada Mas," balas Zu.
"Insyaallah ... nggak akan Sayang. Sudah ... ayo, kita ke kamar," ajak Genta lalu mengurai dekapannya.
Begitu keduanya berada di dalam kamar, Genta langsung ke ruang ganti. Sedangkan Azzura memilih duduk di sisi ranjang.
Sambil menunggu suaminya membersihkan diri, Azzura kembali ke lantai satu untuk membuatkan Genta kopi.
Selang beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar setelah menyeduh kopi lalu meletakkan di atas meja sofa.
Ia pun mendudukkan dirinya disofa kamar sambil menunggu Genta selesai mandi. Tak lama berselang Genta menghampirinya lalu ikut bergabung di sofa itu.
"Bagaimana dengan anak-anak hari ini? Dan pasti mama kesal banget pada mas tadi. Benak nggak?" tebak Genta dan dijawab dengan anggukan.
"Alhamdulillah ... anak-anak baik-baik saja , mereka malah akur. Si kembar juga nggak rewel. Hanya saja keduanya sempat mencari keberadaan Mas tadi," jelas Zu.
"Alhamdulillah syukurlah," bisik Genta lalu membawa Azzura masuk ke dalam pelukannya.
"Apa Mas sudah makan?" tanya Zu.
"Iya."
"Sudah shalat?" tanya Zu lagi.
"Sudah, bareng teman-teman tadi sebelum pulang," pungkas Genta lalu mengecup keningnya.
Keduanya terus mengobrol santai hingga akhirnya rasa kantuk mulai menyerang
Azzura.
"Sayang, tidurlah. Mas ingin melihat anak-anak dulu," seru Genta dan dijawab dengan anggukan oleh Azzura.
Setelah memastikan Azzura berbaring, Genta menghampiri pintu lalu membukanya. Ia pun mulai memasuki kamar anak-anaknya lalu memberi kecupan. Kebiasaan yang sering ia lakukan pada anak-anaknya.
Ketika ia berada di kamar Devan, ia menatap lekat wajah putranya itu yang tampak terlihat begitu tenang.
"Semoga kamu bisa memaafkan daddy Johan kelak putraku. Karena ayah dan bunda sama sekali nggak pernah menyimpan dendam padanya. Kami hanya kecewa karena dia menelantarkan kamu dan ibu kandungmu," ucap Genta dengan lirih.
Sebelumya, satu bulan setelah Azzura meluapkan emosinya pada Johan, pria itu langsung mendatanginya dan Genta.
Memohon maaf sambil bersimpuh di kaki Genta dan Azzura. Karena tak tega akhirnya Genta mulai melunak.
Meskipun hatinya masih sakit saat mengingat perbuatannya yang telah mengabaikan Nina saat mengandung, nalurinya sebagai ayah terpanggil untuk memaafkan.
Genta memberi kebebasan pada Johan untuk bertemu dengan Devan kapan pun ia mau. Namun Genta juga sering mengingatkannya jika ia sudah harus siap memberi jawaban yang tepat nantinya.
Setelah puas berada di kamar Devan, Genta kembali ke kamar lalu ikut berbaring di samping Azzura.
"Nyenyak banget tidurnya," bisik Genta lalu memberi kecupan di kening kemudian turun ke perut istrinya. "Sehat-sehat terus ya di dalam sana, Nak," bisik Genta lagi.
"Maafkan mas, jika seharian ini, sudah mengabaikan dirimu." Genta kembali mengelus wajah teduh istrinya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Maaaas," rengek Zu saat menyadari ia kini berada dalam rengkuhan suaminya.
__ADS_1
"Tidurlah, mas nggak akan macam-macam. Lagian mas juga capek banget," kata Genta dengan senyum tipis.
...----------------...