
Keesokkan harinya ...
Subuh dini hari, Azzura bangun lebih awal. Setelah shalat subuh ia membuat teh hangat untuk ibunya lalu meletakkan di atas lemari nakas lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja.
"Mudah-mudahan momy sudah bangun," gumamnya lalu menghubungi nomor sang mertua.
Di deringan yang ketiga, barulah panggilannya di jawab.
"Hallo ... ada apa, Nak? Kok kamu sudah bangun sepagi ini?" tanya momy.
"Nggak apa-apa, Mom. Aku hanya ingin meminta izin pada Momy. Izinkan Nanda libur selama dua hari. Boleh ya, Mom," pintanya.
"Iya, Sayang. Boleh. Apa kamu masih di hotel bersama Close?" cecarnya.
"Nggak Mom, kemarin aku sudah izin padanya," jawab Zu.
"Ya sudah nggak apa-apa, Nak. Momy dan Daddy akan membesuk ibumu nanti," jelasnya.
"Iya, Mom, terima kasih," ucap Zu. Setelah itu ia pun memutuskan panggilan telfon.
.
.
.
Apartemen Laura ....
Saat Close membuka mata, ia langsung meraih ponselnya di meja nakas lalu menatap layar benda pipih itu.
"5.30?!" Ia melirik Laura yang tampak masih tertidur pulas di sampingnya. Perlahan-lahan ia menyibak selimutnya lalu ke kamar mandi membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaannya semalam.
Beberapa menit kemudian, ia ke walk in closet untuk mengenakan pakaian ganti. Setelah itu, ia pun meninggalkan kamar itu dan memilih kembali ke hotel.
Ketika berada dalam perjalanan, ia berpikir jika Azzura pasti sudah berada di kamar hotel. Ia pun menyeringai.
"Aku ingin lihat, sampai di mana batas kesabaranmu menghadapiku. Aku akan menyakitimu sepuas dan sebebas yang aku inginkan. Karena kamu sudah berani mengusik hubunganku dan Laura," geramnya.
Tak lama berselang ia tiba di hotel. Dengan tergesa-gesa ia melangkah cepat menuju lift untuk mengantarnya ke kamarnya.
Setelah menempelkan kartu akses, ia pun membuka pintu dan berharap Azzura ada di kamar itu. Namun ekspektasinya tak sesuai harapan.
Kamar itu sepi dan telah di rapikan. Bahkan paper bag Azzura masih berada di sofa kamar.
"Ke mana gadis barista itu?!" geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu dan melanjutkan tidurnya.
.
.
.
Jam 9.00 pagi ....
__ADS_1
Nyonya Liodra dan Tuan Kheil menyambangi rumah sakit kota J untuk membesuk sang besan.
Tok ... tok ... tok ...
Azzura yang baru saja merapikan kupluk ibunya mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Ia langsung mengulas senyum saat tahu siapa yang datang.
"Mom, Daddy, berdua saja?''
"Iya, Nak," sahut Momy lalu menghampiri Bu Isma. "Bu Isma maaf, kemarin kami nggak sempat ke sini menjengukmu," sesalnya.
"Nggak apa-apa, Bu," lirih Bu Isma.
"Bagaimana keadaannya Ibu sekarang?" tanya Tuan Kheil.
"Alhamdulillah, saya merasa jauh lebih baik," jawab Bu Isma dengan senyum tipis.
"Sayang, ambillah ini, gunakan untuk memenuhi semua kebutuhan perawatan ibumu," kata Momy seraya memberikan black cardnya.
"Mom," lirih Zu. Ia langsung memeluk mertuanya itu lalu menangis. "Aku nggak berani menggunakannya Mom. Cukup lah tiap bulan Momy membayar biaya perawatan Ibuku," ucap Zu dengan suara tercekat.
"Tapi Sayang ...." ucapannya terpotong karena Zu langsung menyela.
"Mom, terima kasih. Momy sudah berbaik hati menanggung semua biaya operasi ibuku. Aku nggak berharap lebih dari Momy, cukup tiap bulan Momy membayar biaya perawatan ibu," bisik Zu di pelukan mertuanya.
Momy mengelus punggungnya lalu mengangguk.
"Zu ... jika kamu butuh bantuan dari Daddy, jangan sungkan mengatakannya," kata daddy.
"Terima kasih Dad," ucap Zu lalu mengurai pelukannya dari momy.
"Tapi Mom ..."
"Nggak apa-apa Sayang, Momy sudah menyewa dua perawat untuk mengurus ibumu di sini," jelas Momy.
Azzura menghampiri ibunya lalu menggenggam jemarinya. Ia merasa berat meninggalkan ibunya meskipun akan ada perawat yang akan mengurus ibunya.
Melihat keraguan di wajah putri semata wayangnya itu, Bu Isma menegurnya.
"Sayang, kembalilah ke hotel. Kasian suamimu. Dia pasti cemas menunggumu," kata ibu.
"Dia nggak akan mencemaskanku bu dan sama sekali nggak bakalan peduli," batin Zu.
"Baiklah Bu, Mom, Dad. Aku pulang sekarang," pamitnya.
Setelah itu, ia meraih paper bag-nya lalu meninggalkan kamar rawat ibunya.
Sambil berjalan, tatapan matanya tampak kosong. Entah mengapa ia bergidik saat mengingat Close.
"Entah apa yang akan terjadi padaku jika serumah dengan pria arogan itu. Aku harus kuat, harus bertahan demi ibu," gumamnya.
Ia terus melangkah hingga langkah kakinya terhenti di parkiran. Dengan malas ia memakai helmnya, menyalakan mesin motor lalu mulai memacunya ke arah hotel.
Dua puluh menit kemudian, ia tiba di hotel. Sesaat setelah berada di ambang pintu kamar dengan perasaan getir ia mengetuk benda itu.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
Close yang tampak sedang menyesap rokoknya langsung menghampiri pintu lalu membukanya.
"Dari mana saja kamu, hah!!!!" bentaknya lalu menarik rambut Azzura yang tertutup hijabnya.
"Kamu bilang, izin pulang ke rumahmu, tapi semalam aku dari sana dan kamu nggak ada di sana," geramnya lalu mendorong Azzura hingga kepalanya terbentur ke sisi ranjang.
"Ssssttt ..." ringisnya sembari mengusap jidatnya.
Merasa belum puas, Close kembali mencengkeram pipinya. "Katakan!!! Seharian kemarin kamu dari mana, hah!!!" bentaknya lagi sambil mengetatkan rahangnya.
"Le-lepasin," pinta Zu dengan terbata sambil memegang tangan Close.
Close menyeringai lalu melepas cengkeramannya di pipi Azzura lalu kembali mendorongnya.
"Bersiaplah. Kita akan tinggal di rumah yang sudah aku beli. Jangan pernah berharap apapun dariku, karena aku nggak akan pernah menganggap mu sebagai istri melainkan hanya orang asing. Ingat ... aku menikahimu bukan karena kemauanku melainkan karena keinginan Momy. Jangan khawatir, aku nggak akan pernah menyentuhmu bahkan tidak bernafsu dengan wanita kampungan seperti dirimu. Kita akan tidur di kamar yang berbeda," tegasnya dengan penuh keyakinan.
Azzura hanya mengulas senyum dengan sinis.
Miris ...
Itu lah yang ia rasakan. Bahkan ia pun tidak sudi satu kamar dengan pria arogan sepertinya. Azzura hanya mengangguk dalam diamnya dan perlahan berdiri lalu menghampiri sofa.
"Baguslah jika kita akan tidur di kamar yang berbeda," gumamnya dalam hati.
Close menatap heran pada Azzura yang tampak santai bahkan setetes pun air matanya tidak
jatuh.
"Cepat kemasi barang-barang mu!" ketusnya.
"Aku hanya bawa paper bag saja. Berikan saja alamat rumah itu. Aku akan ke sana menggunakan motorku. Aku sadar diri kok, aku nggak pantas satu mobil denganmu dan itu pasti akan membuatmu malu," ungkap Zu dengan menundukkan wajahnya.
Close terpekur dan tak berkutik mendengar kata-kata Azzura. Dengan perasaan jengkel ia pun menulis alamat rumah itu lalu memberikannya pada Azzura.
Setelah meraih kertas itu, Azzura meraih kedua paper bag-nya.
"Baiklah, aku duluan," pamitnya lalu meninggalkan kamar hotel tersebut.
Ingin rasanya ia menangis saat itu juga mendengar semua kata-kata Close, namun tidak ia lakukan karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
"Apa kamu tahu Close? ucapanmu tadi, secara tidak langsung telah menjatuhkan talak satu ke atas diriku," gumam Zu.
Azzura kembali melajukan motornya ke arah rumahnya untuk mengemasi pakaiannya dan akan melanjutkan perjalanan ke alamat rumah yang telah Close berikan padanya.
Sedangkan Close yang masih berada di kamar hotel tampak termenung memikirkan sikap Azzura yang tampak biasa saja.
Satu hal yang baru ia sadari adalah, baju yang Azzura kenakan kemarin masih tetap sama.
"Sebenarnya ke mana gadis barista itu semalam?"
...🌿----------------🌿...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya, bantu like, vote dan ramaikan kolom komentar. Berikan gift juga jika berkenan 🤭✌️ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Thank you 🙏☺️