
Mendengar suara lembut Azzura menyebutnya, Genta mengulas senyum lalu perlahan memutar tubuh istrinya itu supaya berhadapan dengannya.
Membelai lembut wajahnya sembari terus menatap wajah polos nan cantiknya. Tangannya perlahan turun lalu menggenggam kedua jemari halusnya.
Genta mulai mendekat lalu mengecup lama kening Azzura lalu kembali menatap lekat wajahnya.
Sungguh perlakuan lembut penuh kasih sayang dari Genta membuatnya begitu terharu. Perlakuan yang tak pernah ia dapatkan dari ex suaminya.
Alih-alih mendapatkan perlakuan lembut penuh kasih setelah ijab qobul. Ia malah langsung mendapat kata-kata kasar disertai kekerasan fisik.
Dengan mata berkaca-kaca, perlahan Azzura memberanikan diri memeluknya lalu menangis.
"Terima kasih, Mas, atas segala cinta tulus, kasih sayang Mas padaku dan anak-anak," ucapnya lirih.
Genta hanya mengangguk sembari mengelus punggung polosnya lalu semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Azzura.
"Kebahagiaan ku adalah kalian bertiga. Hatiku selalu menghangat setiap kali melihatmu bersama anak-anak kita," akunya lalu melerai dekapannya.
Hening sejenak ...
Sebelum akhirnya Genta kembali membuka suara sambil menatap dalam manik Azzura.
"Sayang, mas nggak akan menunda-nunda ingin memiliki momongan darimu. Apalagi jarak usia kita yang cukup jauh."
Sejenak Azzura menunduk dengan wajah merona tak kuat membalas tatapan mata suaminya yang mulai terlihat sendu.
"Mas ..."
"Mas ingin bikin kesebelasan saja seperti yang disarankan oleh Galuh. Mumpung mas lagi kuat dan belum keok," kelakarnya.
Mata Azzura langsung membulat sempurna mendengar keinginan konyol suaminya itu. "Apa?! Kesebelasan, Mas?! Yang benar saja, memangnya aku pabrik anak apa!"
Seketika tawa Genta langsung memenuhi ruangan pribadi itu. Ia tidaklah benar-benar serius dengan ucapannya. Semua ia lakukan demi mencairkan ketegangan yang menyelimuti diri istrinya.
Setelah puas tertawa, Genta kembali menggenggam jemarinya sambil menghela nafas pelan.
"Sayang, apa boleh mas meminta hak-nya mas malam ini?" izinnya.
__ADS_1
Walaupun takut disertai rasa gugup yang luar biasa, Azzura mengangguk pelan.
Lagi ... Genta kembali mendekatinya lalu mengusap ubun-ubun istrinya lalu membaca doa.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Selesai melafazkan doa itu, Genta kembali mengelus ubun-ubun Azzura lalu mengecup keningnya dengan sayang.
"Apa mas boleh melakukannya sekarang? Apa kamu benar-benar ridho?" tanya Genta dengan suara yang kini mulai serak karena sejak tadi ia terpaksa menahan hasratnya.
Azzura kembali mengangguk pelan. Bahkan pipinya semakin merona. Perutnya terasa seperti dihinggapi oleh ribuan kupu-kupu.
Genta mulai membaringkan istrinya itu lalu mengungkungnya, menatap wajah cantiknya kemudian perlahan mendaratkan kecupan di kening, turun ke hidung pipi lalu ke bibir tipis istrinya.
Melu*mat lembut hingga beberapa detik turun ke leher, tulang selangka lalu ke dada meninggalkan tanda jejak kepemilikannya di sana.
Tangannya pun tak tinggal diam. Menggerayangi setiap lekuk tubuh istrinya. Entah sejak kapan keduanya kini sama-sama polos.
"Aaahh ... Maaaas ... aku ..." bisik Zu dengan dada membusung setelah sesuatu di bawah sana mengeluarkan cairan sekaligus mencapai puncak pelepasan pertamanya.
Genta tersenyum puas menatapnya lalu berbisik, "nggak apa-apa, Sayang, keluarkan saja."
Ada kepuasan saat menatap istrinya mencapai puncak pelepasan. Ia kembali mendaratkan kecupan di kening dan bibir. Setelah itu ia pun mulai melakukan penyatuan diri.
Azzura meringis menahan perih saat senjata andalan sang suami ingin melesat masuk ke dalam lorong sempitnya.
"Ssssttt ... Maaaas ..." Azzura mencengkeram kuat pundak suaminya hingga kukunya tak sengaja menancap di kulit punggungnya.
"Sayang, kamu ..." Genta tak melanjutkan kalimatnya melainkan kembali membenamkan bibirnya yang lama di kening istrinya itu. Merasa terharu sekaligus bahagia.
Bagaimana tidak karena Azzura masih perawan dan tak pernah tersentuh oleh Close.
"Maafkan, Mas," bisiknya tepat di telinga istrinya. "Mas nggak tahu jika kamu masih perawan." Ia mengusap air mata yang kini mengalir di ujung mata istrinya.
Setelah beberapa detik, ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Melakukannya dengan pelan dan lembut demi membuat istrinya nyaman dengan permainannya.
__ADS_1
Pegulatan panas di atas ranjang itu terus berlangsung hingga keduanya sama-sama mencapai puncak pelepasan.
Menyembur benihnya yang banyak ke dalam rahim sang istri. Berharap dengan diiringi doa semoga benihnya segera tumbuh dan berkembang di rahim istrinya.
Kegiatan panas itu kembali berulang, berkali-kali hingga membuat keduanya benar-benar merasa lelah barulah Genta menghentikan aktivitasnya.
"Terima kasih, Sayang," bisiknya dengan nafas yang masih memburu lalu merebahkan tubuh tegapnya di samping istrinya.
Sedetik kemudian ia membelai wajah istrinya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Syukurlah, Devan nggak terbangun. Jika dia sampai terbangun maka aku terpaksa menundanya lagi."
Genta tersenyum lucu lalu membenamkan dagunya di puncak kepala Azzura sembari mengelus punggungnya dengan sayang.
"Sayang, tidurlah ... kita bisa lanjut lagi nanti," godanya.
"Maaaasss ... sudah ... aku lelah dan sudah nggak sanggup," bisiknya lalu perlahan memejamkan matanya dalam pelukan Genta.
Tak ada jawaban melainkan sebuah lengkungan yang terbentuk di wajah tampan Genta.
Dua puluh menit berlalu ...
Suara dengkuran halus Azzura mulai terdengar sekaligus menandakan jika wanitanya itu sudah terbuai ke alam mimpi.
"Sayang, mas nggak menyangka jika kamu masih perawan. Pernikahan macam apa yang kamu jalani bersama mantanmu itu?"
Genta mendudukkan dirinya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang sambil mengelus rambut halus istrinya.
"Mas berjanji akan selalu membahagiakanmu, membuat senyum di bibirmu terus terukir indah di wajahmu. Sudah cukup penderitaan yang kamu alami selama ini."
Genta memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
"Semoga setelah ini, mentalmu akan segera pulih. Melupakan semua rasa trauma dan luka di hatimu. Sayang, tanganku akan terus menggenggam jemarimu hingga kita menua bersama."
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like n komen. Maaf jika adegan ini g bikin greget 😆🤭✌️😜
__ADS_1