
"Yoga, Rissa," sapa Close dengan seulas senyum.
Ia langsung memeluk pria yang pernah berseteru dengannya itu. "Sekali lagi selamat ya."
"Terima kasih, Close," ucap Yoga sambil menepuk punggungnya. "So ... kapan kamu akan berangkat umroh?"
"Sekitar satu minggu lagi. Doain aku ya, semoga semuanya lancar tanpa hambatan," balas Close.
Setelah itu, ia memilih menghampiri, Genta dan Azzura. Senyumnya langsung terbit saat menatap Fattah Faatih dan Devan.
"Hai jagoan!" ia mengangkat tangan lalu hi five pada Devan.
"Paman," sebut bocah tampan itu seraya menempelkan telapak tangannya pada Close.
"Daddy Johan nggak bareng kalian?" tanya Close sembari mengelus rambut coklatnya.
"Daddy kerja, Paman," jawabnya dengan polos.
Close mengangguk lalu mengulas senyum. Menatap dalam-dalam wajah Devan. "Dia ini fotocopy-nya Johan. Plek ketiplek sama persis wajahnya. Besarnya nanti pasti digilai banyak gadis," batin Close.
Sedangkan Genta yang sejak tadi mengamati keduanya hanya terkekeh. Pikirnya entah apa yang sedang keduanya bahas.
"Close, yuk kita naik ke pelaminan bareng-bareng, kita abadikan momen ini bersama Yoga," ajak Genta.
Dengan senang hati Close menyetujuinya. Ia menggenggam jemari mungil Devan lalu mengajaknya bersama.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mereka tak melewatkan momen penting itu untuk mengabadikan kebersamaan mereka.
Agar menjadi kenang kenangan di masa tua kelak. Senyum serta kebersamaan mereka terabadikan dalam satu lensa kamera dan akan menjadi sebingkai foto kenangan.
Setelah puas berfoto ria, mereka kembali ke meja masing masing. Azzura memilih menghampiri momy Lio dan daddy Kheil.
"Mom, Dad," sapanya seraya merangkul kedua ex mertuanya itu.
"Sayang," balas momy lalu mengelus perut Azzura yang sudah tampak sedikit membuncit. "Terima kasih karena sudah membuat Close jauh lebih baik, Nak."
"Sama-sama Mom. Aku juga nggak tega melihatnya terus-terusan merasa bersalah. Semoga setelah umroh, Close akan memperkenalkan calon mantu buat Momy dan daddy nanti."
Momy Lio dan daddy Kheil kembali mengulas senyum. Tak lupa keduanya mendoakan Azzura dan keluarganya. Meski pernikahan Azzura dan Close kandas di tengah jalan, namun momy Lio dan daddy Kheil tetap menganggapnya seperti putri sendiri.
Resepsi itu terus berlangsung hingga selesai di sore hari. Azzura dan Genta lebih awal meninggalkan acara resepsi itu, karena mendadak mendapat panggilan dari atasannya.
Dengan berat hati keduanya harus berpamitan pada yoga Rissa dan juga teman-temannya yang lain.
.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa jam berlalu ...
Setelah acara resepsi selesai digelar, Yoga dan Rissa kini sudah berada di kamar presidential suite.
Keduanya tampak berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Setelah setengah hari menerima tamu, keduanya merasa sangat kelelahan.
Apalagi Rissa, ia mengeluhkan kedua betisnya terasa pegal. Perlahan Yoga merubah posisinya menjadi duduk.
Tanpa banyak kata Yoga meletakkan kedua kaki sang istri di atas pahanya lalu memijatnya dengan lembut.
"Apa masih pegal?" tanya Yoga sambil memandangi wajah Rissa.
"Hmm ... banget," jawabnya lirih.
Yoga hanya tersenyum sembari terus memijat kedua kaki istrinya dengan lembut. Sesekali ia meliriknya yang tampak sesekali mengusap mata lalu menguap.
"Tidurlah jika kamu sudah mengantuk," kata Yoga. Ia mengerti apa yang kini dirasakan oleh istrinya itu.
"Terima kasih," ucap Rissa lalu mengisyaratkan supaya yoga ikut berbaring di sampingnya.
Yoga tak menjawab melainkan mengikuti perintah istrinya. Berbaring disampingnya nya dengan posisi miring saling berhadapan.
"Mendekatlah, Honey," pinta Yoga supaya Rissa membaringkan kepalanya di dadanya.
Dengan ragu-ragu Rissa mendekat lalu meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Irama jantungnya seketika berdetak kencang.
Ditambah lagi tangan sang suami yang langsung mengelus wajah dan rambutnya. Elusan serta kecupan lembut penuh kasih itu, seketika membuat darahnya berdesir sekaligus membuat sekujur tubuhnya meremang.
Perlahan ia memejamkan mata sembari menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh suaminya yang menyeruak memasuki indra penciumannya.
Selama beberapa menit berada dalam pelukan Yoga, akhirnya Rissa terlelap juga. Entah karena lelah atau memang ia merasa nyaman berada dalam pelukan sang suami. Entahlah hanya dia yang tahu.
Sedangkan Yoga, ia hanya bisa tersenyum lalu memperbaiki posisi tidur istrinya. Memandangi dengan lekat wajah cantik gadis blasteran itu yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Have a nice dreams my Honey," bisik Yoga lalu mendaratkan kecupan yang cukup lama dan dalam di kening istrinya lalu turun ke bibir.
Setelah itu ia menyelimutinya. Sedetik kemudian ia memilih ke balkon kamar, memandangi keindahan Kota A yang kini sudah diterangi oleh cahaya lampu.
__ADS_1
Sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan sempurna. Merasa seolah sedang bermimpi jika kini ia telah melepas status lajangnya.
"Ya Allah, semoga pernikahanku langgeng seperti Azzura dan bang Genta. Dikarunia anak-anak yang akan menemani hari-hariku kelak bersama Rissa," gumamnya.
"Sebenarnya aku masih ingin berbincang-bincang dengan mereka, sayangnya mereka harus secepatnya kembali ke kota M. Sayang banget."
.
.
.
Di tempat yang berbeda tepatnya di resort ...
Close beserta kedua orang tuanya tampak berada di satu kamar. Mereka terlihat sedang mengobrol santai.
"Sayang banget, Azzura dan Genta pulangnya lebih cepat dari rencana awal," keluh Close. "Padahal aku masih ingin bermain-main dengan si kembar dan Devan."
Mendengar keluhan dari sang kakak, Gisel malah terkekeh lalu duduk di sampingnya.
"Makanya nikah, biar cepat punya anak," ledek Gisel.
"Cih ... nyadar?!" ledek Close balik. "Kamu saja belum punya calon. Malah nyuruh kakak nikah."
Close memprotes lalu mencubit paha sang adik. Mendengar ocehan Close, momy Lio dan daddy Kheil langsung tertawa.
"Close mungkin maksud Gisel, setelah kamu nikah baru dia akan menyusul," kata momy.
"Alasan, Gisel saja yang sering jual mahal," sahut Close lalu merubah posisinya menjadi duduk. "Apa momy ingin tahu? Jimmy dan Indra naksir loh sama dia, tapi Gisel saja yang jual mahal."
"Kakak!!" kesal Gisel dengan bibir cemberut.
Daddy Kheil langsung mengarahkan pandangannya pada putri bungsunya itu.
"Daddy rasa nggak ada salahnya jika kamu memilih salah satu darinya. Menurut daddy ... Jimmy tipe pria kompeten dan pekerja keras. Lagian dia juga sudah lama menjadi asisten daddy. Daddy sangat mengenal baik anak itu."
Secara tak langsung Daddy Kheil mengisyaratkan jika ia tak menolak jika Jimmy menjadi menantunya.
"Kalau Indra, daddy rasa dia juga pria yang baik. Hanya saja semua pilihanmu tergantung dari kamu saja," pungkas daddy.
'Tuh ... dengerin," timpal Close lalu terkekeh.
Gisel hanya bergeming lalu mengarahkan pandangannya ke arah momy dan daddy-nya. Sedetik kemudian ia kembali melirik sang kakak.
...----------------...
__ADS_1