
Satu jam kemudian ...
"Zu, aku pamit pulang. Kabari aku jika kita jadi ke wisata malam. Sudah lama banget kita nggak main ke sana."
Azzura hanya mengulas senyum sembari menggendong Dita. "Pasti aku kabari. Iya kan, Sayang," kata Zu lalu mengecup gemas Dita.
Bocah itu tertawa cekikikan karena ulah gadis itu.
Sedangkan Radit dan Genta yang sudah berada di dekat mobil tampak mengobrol. Setelah Genta memberitahu jika ia dan Azzura akan menikah, sontak saja ia begitu terkejut.
"Selamat ya, Bang, aku turut berbahagia untuk Abang dan Azzura."
"Terima kasih, Radit. Aku berharap kamu juga hadir nantinya." Genta menepuk pundaknya lalu tersenyum.
Setelah berpamitan, Azzura kembali mengajak Genta masuk ke dalam rumah.
"Mas, bada' magrib, kita ajak anak-anak ke wisata malam ya," cetus Zu seraya menggandeng lengan calon suaminya itu.
"Boleh, apapun demi kalian, mas akan tetap menurut," balasnya dengan seulas senyum.
"Ya sudah, aku buat kopi dulu untuk Mas. Setelah itu, kita ke rumah momy Lio sekalian antar undangan."
Genta hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya. Lagi-lagi hatinya menghangat dengan sikap lembut calon istrinya itu.
Sepeninggal Azzura, ekor matanya seketika terarah ke arah frame foto keluarga gadis itu. Ia pun menghampirinya.
"Apa?! Ini kan almarhum Jendral Fadil dan paman Pras?" Ternyata Azzura putrinya? Paman Pras? Apa hubungan mereka? Kelihatan banget jika mereka ini dekat?" gumamnya dalam hati namun penasaran.
"Mas." Azzura mengelus punggungnya dari belakang. "Ada apa? Itu mendiang ayah dan ibu dan satunya lagi paman Pras sahabat ayah dan ibu. Aku baru tahu jika Kak Nella itu putri pertamanya." Azzura menjelaskan sembari mengarahkan pandangannya ke arah foto itu.
Sedetik kemudian, ia terkekeh saat menatap wajah bingung Genta. "Ck ... nggak usah bengong begitu, Mas. Haaah ... nggak nyangka banget jika calon suamiku ternyata profesinya sama dengan mendiang ayah. Bedanya di satuannya saja."
Mendengar celetukkan Azzura, Genta langsung mencubit hidungnya karena merasa gemas.
"Mas, aku tinggal sebentar ya. Aku ganti baju dulu. Yuk, kopinya diminum selagi anget terus kuenya dihabisin. Kue itu aku bikin spesial buat calon suamiku yang baik hati ini."
Setelah itu ia langsung berlalu meninggalkan Genta lalu menuju kamar.
Mendengar ucapan dari calon istrinya itu, senyum manis langsung terbit di wajahnya sambil geleng-geleng kepala. Ia pun ke ruang santai lalu menghampiri putra dan putrinya.
Lagi ... hatinya kembali menghangat saat menatap keduanya yang selalu akur saat bersama.
"Sayang, semuanya berkat didikan darimu. Setelah menikah, aku nggak ingin menunda untuk memiliki momongan darimu. Apalagi usiaku yang sudah nggak muda lagi," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.
Sambil menunggu, sesekali ia meneguk kopi sembari menemani Ayya dan Devan bermain sambil tertawa cekikikan karena ulahnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Mansion Daddy Kheil ...
Setelah kurang lebih satu jam mengendara, akhirnya mereka tiba juga di mansion daddy Kheil.
Momy Lio tak menyangka jika Azzura akan berkunjung ke rumah mereka.
"Sayang, Nak, ayo masuk. Di dalam ada Gisel juga," tawar momy dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih, Mom," ucap Zu dan Genta bergantian.
Sesaat setelah berada di ruang tamu, Gisel langsung memekik memanggilnya.
"Azzura!!" Gisel menghampirinya lalu memandangi Devan dan Ayya.
"Jangan bengong begitu. Mereka ini anak-anakku," jelas Zu lalu terkekeh.
"Lalu siapa pria tampan di sebelahmu itu?" bisiknya.
"Calon suami."
"What?!!!" Gisel kembali memekik sekaligus penasaran. "Wah, Zu, sekian lama nggak ada kabar, sekalinya muncul membawa kabar bahagia."
Setelah itu mereka pun duduk di sofa.
"Bundaaa, ngantuuk," rengek Devan mulai gelisah sambil mengucek matanya.
"Sayang, Devan biar sama aku saja," kata Genta.
Melihat sikap Genta yang begitu perhatian, seketika membuat hati momy Lio mencelos.
"Ngantuk ya? Ya sudah, bobok saja," bisik Genta seraya mengelus kepala putranya dengan sayang.
"Momy, apa daddy belum pulang?" tanya Zu karena sejak tadi ia tak melihat keberadaan daddy Kheil.
"Mungkin sebentar lagi."
"Mom, Gisel, tujuanku datang kemari karena aku ingin mengantar undangan pernikahanku dan Mas Genta. Insha Allah akan digelar Minggu depan," jelas Zu seraya memberikan kartu undangan itu pada ex mertuanya. "Aku harap, momy, daddy, Gisel dan Close hadir nantinya."
"Sayang, kami pasti hadir, Nak." Mata momy Lio mulai berkaca-kaca lalu memeluknya. "Selamat ya, Nak. Maafkan momy jika saat itu sudah memaksamu menikah dengan Close," bisik momy.
"Semuanya sudah berlalu, Mom. Doain saja aku dan mas Genta."
"Momy akan selalu mendoakanmu, Nak." Momy Lio mengelus punggungnya lalu mengurai dekapannya.
Setelah mengobrol santai, akhirnya Azzura dan Genta berpamitan. Walaupun tak sempat bertemu daddy Kheil, ia hanya menitip pesan.
*******
Malam hari setelah selesai shalat magrib, Azzura sudah tampak rapi bersama Devan dan Ayya. Sedangkan Genta masih berada di kediamannya.
__ADS_1
Sebelum pulang, ia lebih dulu mengajak Azzura singgah di rumahnya sekalian mengambil pakaian Ayya.
Setelah itu, Azzura menghubungi Yoga, Nanda dan Farhan jika ia jadi ke wisata malam seperti yang sudah mereka bicarakan tadi siang.
Tin ... tin ... tin ...
Suara klakson mobil terdengar dari halaman rumah.
"Dek, ayo ... itu pasti ayah," kata Ayya lalu memegang tangan sang adik menuju pintu.
Azzura mengulas senyum memandangi keduanya. Ia pun menyusul lalu perlahan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Ayya dan Devan langsung berlari kecil menghampiri sang ayah.
Tingkah keduanya tentu saja membuat sudut bibir Genta kembali membentuk sebuah lengkungan. Menatap anak-anaknya ditambah lagi saat Azzura menghampirinya sambil tersenyum.
"Sayang, maaf sudah membuat kalian menunggu," ucapnya.
Azzura terkekeh. "Sayang?" Bunda dari Devan itu, langsung menempelkan punggung tangannya di kening Genta. "Mas nggak lagi sakit kan? Atau nggak salah makan obat?" tanyanya.
"Nggak, Mas baik-baik saja kok. Memang kenapa?"
"Nggak salah memanggilku, sayang?"
Genta menggeleng lalu memegang tangan gadis itu yang masih menempel di keningnya. "Mulai hari ini, besok dan seterusnya, kamu harus terbiasa mendengarku memanggilmu, SAYANG."
Azzura bergeming menatap dalam manik calon suaminya itu. Hingga suara Ayya dan Dev menyadarkannya.
"Bundaaa ... Ayaaah ... ayo," desak keduanya.
"Yuk, anak-anak sudah pada protes soalnya kita kelamaan." Azzura mengulas senyum tipis lalu membuka pintu mobil.
Di perjalanan menuju tempat wisata malam, Azzura melirik Genta.
"Mas."
"Hmm."
"Aku ingin meminta izin, itupun jika Mas berkenan." Azzura tampak ragu ingin mengutarakan keinginannya.
"Katakan saja." Genta meliriknya lalu tersenyum.
"Aku ingin memberikan sesuatu semacam kenang-kenangan pada seseorang," aku Zu ragu-ragu. "Jika Mas nggak mengizinkan, aku nggak akan memberikannya."
Genta mengerutkan kening lalu meliriknya sekilas. "Apa yang dia maksud, pria misterius itu?" tebak Genta dalam hatinya.
Hening sejenak ...
Yang terdengar hanya suara Ayya dan Dev yang sedang bercanda di kursi belakang mobil.
Sejatinya Genta merasa sedikit cemburu. Namun karena sebentar lagi mereka akan menikah ia pun mengizinkan.
__ADS_1
"Aku penasaran, siapa sebenarnya pria itu."
...----------------...