Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
130. Keputusan tegas Genta ...


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Azzura yang terlihat sedang menggendong Faatih malah ketiduran sambil mendekap putranya itu.


Sedangkan Fattah sedang digendong sus Mimi yang duduk di samping bi Titin. Sementara Ayya dan Devan terlihat terus bercanda ria di kursi paling belakang.


Genta hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan anaknya itu. Sesekali ia mengintip dari kaca spion tengah sambil tersenyum.


Saat melirik Azzura yang sedang tertidur sambil menggendong Faatih, ia menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan.


"Nak Genta, ada apa?" tanya bi Titin.


"Nggak apa-apa, Bi. Aku hanya ingin menyetel kursi Azzura," jawab Genta lalu menyetel kursi mobil agar posisi istrinya itu nyaman.


Setelah itu ia mengelus wajah istri dan putranya bergantian. Sontak saja perlakuan lembut serta penuh perhatian itu dari Genta pada istrinya menjadi pusat perhatian sus Mimi.


Bahkan sejak meninggalkan kediaman pak Prasetya, ia terus mencuri-curi pandang pada Genta.


Sebenarnya, bi Titin sudah mulai agak risih dengan gadis itu sejak seminggu yang lalu. Pada saat awal-awal bekerja di rumah Genta, gelagatnya biasa saja.


Namun akhir-akhir ini, bi Titin mulai agak risih setelah beberapa kali memergoki gadis itu menatap Genta dengan tatapan yang sulit di artikan. Meski begitu, bi Titin tak ingin suudzon lebih dulu.


"Nggak bisa dibiarkan ini. Dia bisa saja menjadi duri dalam pernikahan nak Genta dan Azzura," gumam bi Titin dalam hatinya.


"Sus Mimi, biar aku saja yang menggendong nak Fattah," tawar bi Titin.


"Nggak apa-apa, Bi, biar aku saja," tolaknya dengan suara yang dibuat sehalus mungkin.


Mendengar nada suara lembut yang seperti dibuat-buat, bi Titin sebenarnya merasa geram sambil menggerutu dalam hatinya.


"Cih! Demi apa coba? Rasanya aku pengen menjambak rambut gadis ini! Menyebalkan!"


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba juga di kediamannya.


"Kak Ayya, Abang Dev, yuk turun, Nak," ajak bi Titin lalu menurunkan kursi mobil bekas tempat duduknya sekaligus mengajak sus Mimi yang masih betah duduk di dalam mobil.


Gelagatnya itu semakin membuat bi Titin merasa jengah, apalagi ia terus menatap Genta yang terlihat sedang melepas seat belt istrinya lalu meraih Fatih dari dekapan Azzura.


"Sus Mimi! Ayo ... ngapain masih bengong di situ?"


"Ah, iya, Bi." ia langsung gelagapan karena di tegur sekaligus disindir dari wanita paruh baya itu.


Tak lama berselang, Genta turun dari mobil lalu memanggil bi Titin.


"Bi, tolong bawa Faatih ke kamar ya. Tolong bersihkan dulu tubuh keduanya lalu ganti pakaiannya. Biar tidurnya nyaman. Sekalian Ayya dan Devan juga ya, Bi," pesan Genta.


"Baik, Nak Genta. Ya sudah, bangunin nak Zura dulu. Setelah itu istirahatlah. Faatih Fattah, ayya dan Devan biar bibi dan sus Mimi yang urus."


"Iya, Bi, makasih ya," ucap Genta seraya mengelus lengannya.


Sepeninggal bi Titin, Genta mengitari mobilnya lalu membuka pintu mobil. Ia terkekeh saat memandangi istrinya itu masih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Sayang, bangun kita sudah sampai di rumah," bisiknya sembari mengelus pipinya. "Sayang ..."


Untuk kedua kalinya Genta memanggilnya.


Karena tak merespon Genta mengecup bibirnya lalu menggigitnya pelan. Tak pelak ulah jahilnya itu membuat Azzura meringis.


Ia mengerjab lalu menggeliat pelan. "Ssssttt, Mas!"


"Masih mau?" goda Genta sembari mengusap bibir istrinya.


"Ish!! Bukan aku, tapi Mas, dasar mesum!" ocehnya.


"Mesum sama istri yaaa, nggak pa-pa, Sayang. Yang penting bukan dengan wanita lain," bisik Genta. "Yuk kita masuk."


Azzura menunduk. "Loh, Mas?! Faatih mana?" Azzura langsung menegakkan badannya lalu menoleh ke belakang dengan wajah bengong.


"Mereka sudah ada di dalam rumah," jelas Genta. "Makanya jangan molor."


Azzura langsung mencebikkan bibirnya mendengar ledekan dari suaminya. Ia langsung menghadiahkannya satu cubitan di perut.


Setelah itu, ia pun turun dari mobil lalu meninggalkan suaminya. Genta hanya terkekeh lalu ikut menyusulnya.


Beberapa menit kemudian, setelah mengganti pakaian, seperti biasa sebelum benar-benar tidur, Azzura lebih dulu memasuki kamar anak-anaknya, memberi kecupan sekaligus mendoakan. Setelah itu barulah ia kembali ke kamar utama.


"Mas, kita nggak sempat mampir ke rumah momy Lio. Nanti setelah pulang dari pulau B, kita mampir sebentar ya," usul Zu.


"Hmm ... tidurlah, soalnya besok pagi kita akan berangkat ke pulau B. Hari yang sudah lama mas tunggu-tunggu. Berlibur bersama dengan keluarga yang utuh," bisik Genta.


"Sayang," panggil Genta lalu mengecup kening dan bibirnya.


Tak ada jawaban melainkan Azzura tetap dengan mode mati suri. ✌️😅


Merasa Azzura kini sudah benar-benar terlelap, ia menaikkan selimut hingga menutupi dadanya. Setelah itu ia memilih ke lantai satu lalu ke ruang santai.


Sedetik kemudian, ia menghubungi seseorang. Ia tampak begitu serius berbicara dengan orang yang sedang dihubunginya itu. Entah apa yang dibicarakannya.


Setelah selesai berbicara lewat benda pipih itu, ia memijat keningnya lalu menghembus nafas dengan kasar.


"Nak Genta!" tegur bi Titin lalu menghampirinya kemudian duduk di sampingnya. "Belum tidur, Nak?"


"Aku nggak bisa tidur, Bi," akunya lalu tertunduk.


"Kenapa? Sepertinya kamu lagi memikirkan sesuatu? Boleh bibi tahu?" selidik bi Titin sembari mengelus lengan kekarnya.


"Ya, Bi. Aku sudah memutuskan akan mengembalikan sus Mimi ke jasa yayasan yang telah merekomendasikan dirinya menjadi baby sitter untuk baby F," tegas Genta.


Mendengar ucapan Genta, bi Titin langsung tersenyum sekaligus merasa lega. Akhirnya Genta bisa menyadari gelagat aneh gadis itu. Begitulah pikiranya.


"Jika bibi boleh tahu, apa alasannya?" cecar bi Titin dengan penuh rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


"Aku nggak mau rumah tanggaku terusik, Bi. Tadinya aku mengira jika baby sitter yang akan bekerja untuk baby F, adalah yang seumuran dengan Bibi, nyatanya seorang gadis dewasa."


Genta menarik nafasnya lalu meghembus pelan. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menyandarkan punggungnya di sofa.


"Awalnya, aku pikir nggak apa-apa lah dia bekerja di rumah kita. Tapi semakin ke sini gelagatnya semakin mencurigakan. Aku jadi risi dan nggak nyaman, Bi."


"Nak Genta, jika boleh bibi jujur, sebenarnya sejak awal bibi sudah nggak menyukai gadis itu. Sebenarnya bibi ingin protes saat kamu ingin mempekerjakan baby sitter di rumah, tapi bibi nggak berani protes."


"Jika bibi perhatikan, sus Mimi sepertinya menyukaimu, dari tatapannya saja sudah mengartikan jika dia bakal jadi pelakor. Apa kamu nggak memperhatikannya? Bahkan di rumah pak Prasetya dia terus menatap mendamba padamu. Terus saat kita pulang dia terus mencuri-curi pandang, bibi sampai geram. Namun nggak bisa ngomong takut salah."


Genta melirik bi Titin dengan perasaan bersalah. Bukannya Genta tak tahu, ia tahu benar gelagat dan tatapan tak biasa dari gadis itu. Namun ia memilih pura-pura tak tahu.


Meski tak memperlihatkan rasa ketiksukaannya pada gadis itu, ia tetap terlihat biasa-biasa saja. Namun merasa risih saat ia ditatap mendamba.


Tak banyak bicara namun ia langsung mengambil keputusan telak dan tegas demi menjaga keharmonisan keluarga.


"Lagian ngapain juga kamu mempekerjakan baby sitter dirumah. Memangnya bibi nggak bisa menjadi baby sitter untuk Fattah Faatih?" kesal bi Titin lalu mencubit pahanya. "Lalu ... apa alasan mu ingin mengembalikan gadis itu ke yayasan?"


"Jelas saja aku ingin keluargaku baik-baik saja dan tetap harmonis," tegas Genta. Tadi aku sudah menghubungi pihak yayasan jasa baby sitter. Aku juga sudah menghubungi Edi untuk menyiapkan tiket lalu mengantarnya ke kota M besok."


"Alhamdulillah ..." ucap bi Titin sekaligus merasa bersyukur dengan sikap tegas Genta. "Beruntungnya nak Azzura mendapatkan suami seperti dirimu, Nak," sambung bi Titin dengan perasaan terharu.


"Bi, aku dan Azzura sama-sama pernah gagal dalam pernikahan. Azzura bukanlah tipe wanita yang gampang ditaklukkan hatinya. Bibi tahu sendiri kan, bagaimana kerasnya aku berusaha untuk meluluhkan hatinya. Aku nggak mau hanya karena orang baru, rumah tanggaku jadi berantakan," jelas Genta.


"Jujur saja saat aku mengusulkan untuk mempekerjakan baby sitter, Azzura sudah memperingatkan ku, Bi. Mungkin instingnya sebagai seorang istri begitu kuat," aku Genta lalu mengulang kalimat yang Azzura ucapkan tiga Minggu yang lalu.


"Baby sitter-nya yang seumuran bi Titin. Jangan yang masih muda, fresh dan mulus. Ntar Mas kepincut lagi. Soalnya sekarang, zamannya edan, Mas. Kebanyakan baby sitter yang masih muda suka menggoda. Bukan hanya kepincut pada sang majikan tapi sekaligus tergiur dengan uangnya."


Mendengar kalimat yang diucapkan Genta, seketika tawa bi Titin langsung terdengar nyaring di telinganya.


"Nah kan, ucapan nak Azzura memang nggak salah, buktinya apa sekarang? Kamu sendiri yang ketar ketir," kata bi Titin masih sambil tertawa puas.


Genta berdecak kesal sambil mengusap tengkuknya. Andai saja ia tak mengusulkan niatnya itu pada Azzura, ia tak akan merasa segelisah sekarang.


"Haaah ... syukurlah kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Jangan kasih ruang bagi bibit-bibit pelakor. Menyebalkan!" gerutu bi Titin. "Jadi bagaimana besok? Apa kita jadi ke pulau B?"


"Aku tunda sehari, Bi. Lusa saja kita berangkat. Aku ingin menyelesaikan masalah ini dulu. Aku nggak mau dicap majikan tak bertanggung jawab," timpal Genta.


Bi Titin mengangguk mengerti lalu menepuk pundaknya. Mengagumi sifat dan sikap Genta yang bijaksana, dewasa, dan tegas.


"Alhamdulillah, syukurlah. Bibi bangga padamu. Mantan istrimu pasti menyesal telah meninggalkanmu. Allah itu Maha Adil, buktinya Dia mempertemukan dirimu dengan nak Azzura. Wanita santun, lembut, penyayang dan shalihah."


"Ya sudah, bibi kembali ke kamar lagi. Sebaiknya kamu juga kembali ke kamarmu. Istirahatlah, Nak. Jangan pikirkan apa pun lagi. Yang penting masalah ini selesai besok," kata bi Titin.


Ia pun beranjak dari sofa kemudian berlalu meninggalkan Genta yang masih betah duduk ditempat.


"Mana rela aku kehilangan wanita yang sudah susah payah aku perjuangkan selama tiga tahun. Syukurnya ada Devan sebagai alasan untuk terus mendekatinya. Lagian, wanita sepertinya belum tentu ada duanya," gumam Genta sambil membayangkan wajah teduh istrinya.


"Mas nggak akan membiarkan siapa pun merusak rumah tangga kita. Insyaallah itu nggak akan pernah terjadi, Sayang. Jika pun kita akan berpisah, hanya maut yang akan memisahkan kita dan bukan seseorang yang tak bertanggung jawab."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2