
Sesaat setelah berada di ambang pintu kamar rawat ibu, ketiganya sama-sama mengatur nafas.
Setelah itu, Azzura membuka pintu lalu menyapa sang ibu yang sedang duduk di kursi roda menghadap ke jendela.
"Ibu," sapanya lalu menghampiri wanita kesayangannya itu.
Ibu menoleh sekaligus memutar kursi rodanya lalu mengulas senyum. Sedetik kemudian ia menatap Yoga dan pak Prasetya.
"Pras ... apa itu kamu?" lirih ibu.
Pak Prasetya hanya mengangguk lalu menghampirinya dengan mata berkaca-kaca menatap istri sahabatnya sekaligus temannya sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA.
"Maaf, aku baru tahu jika kamu sedang sakit," ucapnya lalu berjongkok kemudian menggenggam jemari bu Isma.
"Nggak apa-apa, Pras," balas ibu dengan seulas senyum.
"Isma, berjuanglah untuk sembuh demi Azzura," lirih pak Prasetya dengan suara bergetar.
"Pras, aku sudah pasrah jika sewaktu-waktu aku akan menyusul mas Fadil," kata ibu dengan mata berkaca-kaca lalu mengelus lengan temannya itu, kemudian menatap Azzura dan Yoga yang ada di sampingnya.
"Ibu," lirih Zu lalu melirik Yoga.
"Pras," sebut ibu. "Ini Yoga, suaminya Azzura," kata ibu memperkenalkan yoga pada pak Prasetya.
"Isma, seandainya kamu tahu Yoga adalah putraku kamu pasti akan terkejut. Terima kasih sudah menganggap putraku sebagai menantumu Is. Walaupun hanya menjadi suami bohongan putrimu, setidaknya aku tetap bangga karena Yoga sangat melindungi Azzura." Pak Prasetya membatin pilu.
"Aku sudah tahu, Is," desis pak Prasetya sekaligus merasa sedih. "Kami sempat mengobrol di taman tadi sebelum menjengukmu di sini," jelas pak Prasetya lagi.
"Benarkah?"
"Hmm ..." Pak Prasetya hanya bisa mengangguk namun tetap saja ia tak kuasa menahan laju air matanya.
"Pras, selama ini Azzura sudah menganggapmu seperti ayahnya sendiri. Aku akan titip Azzura kepadamu dan juga Yoga, jika aku sudah nggak kuat lagi," lirih ibu. "Kuatkan putriku, rangkul dan dekap dia seperti mas Fadil mendekapnya, Pras," pesan ibu. Ia kemudian menatap Azzura dan Yoga lalu tersenyum.
"Sayang, maafkan ibu jika kita akan berpisah. Apapun yang akan terjadi pada ibu nantinya kamu harus kuat, ikhlas dan tetap tegar," pesan ibu lalu meraih tangannya dan Yoga.
Azzura langsung berlutut lalu memeluk ibunya kemudian kembali terisak. "Lalu aku dengan siapa nantinya, bu? Aku nggak punya siapa-siapa lagi jika ibu juga menyusul ayah," batin Zu dalam hatinya. Air matanya semakin mengalir deras.
"Azzura," desis Yoga seraya mengelus punggung gadis itu. Baik ia dan ayahnya ikut menangis tak kuasa mendengar tangisan Azzura yang terdengar pilu.
"Sayang, sepeninggal ibu nantinya, jadilah istri yang baik, patuh dan mau mendengar nasehat suamimu. Jadilah ibu yang selalu mengayomi anak-anakmu kelak, didik mereka dengan baik, penuh kasih sayang dan juga didik dengan memberikan pengetahuan tentang agama," pesan ibu lagi sambil mengelus-elus punggung putri semata wayangnya itu.
Azzura tak mampu berkata-kata melainkan hanya bisa menangis mendengar pesan mendalam dari sang ibu.
Entah mengapa ia merasa, ibunya akan meninggalkannya dalam waktu dekat. Dadanya seketika berdebar kencang dan nyaris membuatnya tak bisa bernafas.
__ADS_1
Seketika penglihatannya menjadi gelap dan merasakan pusing, hingga dekapan eratnya perlahan terlepas.
Bruukkk ...
Seketika tubuh Azzura langsung jatuh ke lantai.
"Zu!!!" pekik Yoga dan pak Prasetya dengan panik karena gadis itu jatuh pingsan. Bersamaan dengan bu Isma yang terlihat mulai melemah.
"Is ... Isma!!" pekik pak Prasetya lalu menahan tubuh ringkih temannya itu lalu segera mendekapnya agar tidak terjatuh.
"Yoga, baringkan Azzura di bed pasien," perintah ayah. "Ayah akan menghubungi Farhan," tuturnya lalu segera menghubungi Farhan untuk membawa brankar.
"Is ... Isma!! Jangan seperti ini, jangan membuatku takut," lirih pak Prasetya dengan suara bergetar menatap wajah pucat temannya itu.
Selang beberapa menit kemudian, Farhan beserta team medis memasuki kamar itu dengan membawa brankar pasien.
"Ayah?! Apa yang terjadi?!" Farhan menatap ayahnya, Yoga dan Azzura bergantian. "Ibu!! Azzura!!" Seketika ia ikut panik.
"Ayo, cepat, Nak. Kita harus membawa bu Isma ke ruangan ICU secepatnya," pungkas pak Prasetya.
Dengan sigap pak Prasetya menggendong tubuh lemah bu Isma lalu memindahkan ke brankar.
"Yoga, kamu di sini saja temani Azzura. Ayah dan Farhan harus segera mengambil tindakan darurat," pesan ayah lalu mengajak Farhan dan beberapa perawat mendorong brankar itu menuju ruangan ICU.
"Isma, ayo sadarlah. Jangan membuat kami takut. Kasian Azzura," lirih pak Prasetya sambil mendorong brankar itu.
Begitu selesai memasang alat-alat medis di tubuh bu Isma, pak Prasetya memperhatikan elektrokardiogram monitor.
"Farhan, detak jantung bu Isma semakin melemah," lirihnya. "Semoga saja nggak terjadi apa-apa."
"Bu Isma mengalami koma, Yah," desis Farhan.
"Ya, kita berdoa saja semoga bu Isma bisa sadar dalam waktu dekat," kata pak Prasetya.
Sementara di kamar rawat, Yoga langsung menghubungi pak Kheil.
"Maafkan aku tuan, ini darurat dan tuan
perlu tahu keadaan bu Isma sekarang," lirihnya lalu menghubungi Tuan Kheil.
Tuan Kheil yang baru saja selesai memasuki ruangannya segera merogoh saku jasnya karena ponselnya bergetar.
Saat menatap layar benda pipih itu, keningnya mengerut.
"Yoga," lirihnya lalu menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Ya hallo, Yoga."
"Tuan, maaf jika saya lancang. Apa tuan lagi sibuk?" tanya Yoga merasa tidak enak.
Tuan Kheil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sejenak.
"Kebetulan ini sudah hampir jam makan siang sekaligus jam istirahat. Ada apa, Yoga" tanya tuan Kheil.
"Tuan apa, Anda bisa ke rumah sakit sekarang?" tanya Yoga.
Mendengar rumah sakit, seketika ia langsung menjadi cemas dan pikirannya langsung mengarah ke besannya.
"Yoga, apa kamu sekarang bersama Close di kamar rawat ibunya Azzura?"
"Benar tuan, tapi pak Close sedang nggak bersama saya sekarang. Tadi pagi dia memang sempat menjenguk ibunya Azzura tapi dia sudah kembali ke kantor," jelas Yoga. "Tuan sebaiknya, Anda datang ke rumah sakit sekarang, soalnya ibunya Azzura kritis."
"Apa!!!" Tuan Kheil langsung panik dan cemas. "Apa Azzura dan Close sudah tahu?" tanya tuan Kheil dengan suara bergetar.
"Pak Close belum tahu, tuan. Begitupun dengan Azzura, karena Azzura dan ibunya pingsan secara bersamaan," jelas Yoga.
Seketika perasaan cemas dan khawatir menyelimuti diri tuan Kheil, memikirkan menantu dan besannya itu.
"Baiklah, saya akan segera ke sana," balas tuan Kheil lalu memutuskan panggilan telfon.
Setelah itu, ia langsung menghubungi putranya.
Kebetulan Close yang sejak tadi masih berada di parkiran menunggu Azzura di dalam mobilnya, langsung menjawab panggilan sang daddy.
"Hallo Daddy."
"Close, sebaiknya kamu segera ke rumah sakit, daddy akan menyusul," perintah daddynya to the poin.
Close menautkan alisnya dan tampak berpikir.
"Ada apa, Dad?" tanyanya tanpa dosa.
"Mertuamu kritis, Azzura juga belum sadarkan diri?" jelas daddy dengan suara bergetar.
"A-apa?!" kagetnya. "Baiklah, aku ke sana sekarang," pungkasnya lalu memutuskan panggilan telepon.
"Ibu ... Azzura ... apa yang terjadi?! beberapa jam yang lalu ibu terlihat baik-baik saja. Azzura?"
Seketika ia turut merasa cemas dan khawatir. Dengan perasaan getir ia segera membuka pintu mobil lalu mempercepat langkahnya menuju bangsal tiga.
"Ibu, Azzura ... maafkan aku," lirihnya sambil terus berjalan menuju kamar rawat mertuanya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ