
Setelah kurang lebih hampir satu jam berada di warung itu, akhirnya Genta mengajak Azzura pulang.
"Ya Allah ... kenyang banget seolah nggak bisa bernafas," keluh Genta sambil mengusap perutnya. "Ini namanya pemaksaan. Tega banget kamu, Sayang."
Azzura hanya terkekeh mendengar celotehan suaminya. Walaupun sudah kenyang namun Azzura tetap memintanya menghabiskan nasi goreng miliknya.
Tadinya Genta ingin dibungkuskan saja. Namun Azzura menolak karena ia pengen jika nasi goreng itu dihabiskan.
Entah itu bawaan hamil atau Azzura ingin menjahilinya. Tapi nggak mungkin juga karena Azzura bukan tipe orang seperti itu. Pikir Genta seperti itu lah kira-kira.
Sesaat setelah tiba di rumah, Azzura lebih dulu turun dari motor lalu menghampiri pintu kemudian membukanya.
"Sudah hampir jam satu dini hari?!" gumamnya ketika matanya terarah ke jam dinding sesaat setelah berada di dalam rumah.
Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Melepas bergo dan sweater-nya kemudian naik ke atas ranjang lalu memejamkan matanya.
Selang beberapa menit kemudian, ia merasa tubuhnya seperti dikungkung, kening dan bibirnya dikecup lalu turun ke lehernya.
"Maaaas ..." bisiknya tak menolak. Ia malah meminta Genta memeluknya.
"Mas nggak ingin sekedar memeluk saja," bisik Genta.
"Lalu?!"
"Mas ingin lebih dari itu sekaligus meminta bayaran tadi." Tangan Genta mulai menyusup masuk ke dalam piyamanya.
Seketika mata Azzura langsung terbuka lebar. Sadar jika suaminya menginginkannya, ia mendorong pelan dada liatnya.
"Aku lagi malas, Mas," tolaknya dengan halus seraya mengelus rahang tegas suaminya.
"Tapi kamu nggak boleh menolak. Dosa jika menolak hak suami," kata Genta sambil melepas satu persatu kancing piyama Azzura. "Boleh ya, Sayang."
Mau tak mau Azzura mengangguk pelan seraya mengusap bibir basah suaminya.
Tatapan sendu disertai suara berat dan serak itu, seketika membuat Azzura merinding takkalah Genta mulai menggerayangi tubuhnya dengan lembut disertai kecupan-kecupan kecil.
Melepas satu persatu pakaian yang masih melekat ditubuh hingga keduanya kini sama-sama polos.
Genta yang lebih mendominasi seolah tak memberi celah sedikitpun pada istrinya. Di bawah kungkungannya bibirnya terus bermain di setiap titik-titik sensitif sang istri.
Hingga suara desa*han disertai lenguhan Azzura mulai terdengar merdu di telinga Genta. Merasa sudah cukup, akhirnya Genta pun melakukan penyatuan diri.
Sepasang insan itu kembali merajut asmara hangat di atas ranjang. Keduanya seolah berada di atas nirwana menikmati nikmatnya surga dunia.
Suara mendesis, desa*han, lenguhan, serta erangan saling bersahutan memenuhi kamar itu saking nikmatnya sepasang kekasih halal itu saling memberi kenikmatan.
__ADS_1
Hingga akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncak pelepasan. Tubuh mereka pun sama-sama berkeringat dengan nafas yang sama-sama memburu.
"Terima kasih, Sayang," bisik Genta lalu mengecup kening dan bibir istrinya. Menyeka keringat di wajah lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Selang beberapa menit kemudian, Azzura mengajak Genta membersihkan diri.
"Mas, yuk bersihkan diri dulu. Setelah itu kita tidur."
"Baiklah. Tunggu sebentar, mas ambil handuk dulu." Dengan tubuh polos tanpa rasa malu Genta beranjak dari atas ranjang menuju ruang ganti.
Tak lama berselang, ia pun kembali sambil membawa kimono untuk Azzura lalu memakaikan ke tubuh istrinya kemudian mengajaknya mandi.
Tiga puluh menit berlalu ...
Keduanya kini sudah berada di atas ranjang.
"Sayang, tidurlah," bisik Genta dengan seulas senyum setelah berhasil menuntaskan hasratnya.
"Sekali lagi terima kasih ya, Sayang." Ia kemudian mengecup lama kening Azzura.
"Iya, Mas," balas Zu lalu membenamkan wajahnya di dada Genta kemudian memejamkan matanya.
Mungkin karena kelelahan dengan olahraga ranjang tadi, tak butuh waktu yang lama ia pun tertidur pulas.
Sedangkan Genta, ia hanya tersenyum sekaligus merasa lega karena misinya berhasil.
Ia pun mengelus perut Azzura seraya berbisik, . "Sayang, kalian ini permintaannya aneh-aneh saja. Apapun itu, ayah selalu berdoa semoga kalian sehat-sehat terus di dalam sana ya."
Setelahnya Genta mengecup perut yang masih rata itu kemudian mulai memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian akhirnya ia pun ikut tertidur.
.
.
.
Tak terasa pagi menjelang. Samar-samar matahari mulai memancarkan sinar cahayanya menyinari alam semesta.
Setelah selesai shalat berjamaah, Azzura kembali disibukkan dengan aktifitasnya seperti biasa. Namun tak berlangsung lama karena kali ini ia mengalami morning sickness.
Hal itu tentu saja membuat Genta cemas dan khawatir. Sejak tadi ia terus memijat tengkuk istrinya.
"Maaaas," ucapnya lirih sembari membenamkan wajahnya di dada Genta. "Ini nggak enak banget. Rasanya isi perutku seperti ingin keluar semua," keluhnya.
"Yang sabar ya, Sayang. Ini biasa terjadi di awal trisemester. Dulu mamanya Ayya juga seperti ini," bisik Genta sembari mengecup kening Azzura lalu mengelus rambutnya.
__ADS_1
Tak lama berselang, bu Nadirah menghampiri keduanya di kamar mandi.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"
"Kepalaku pusing, Mah. Mual terus muntah-muntah pokoknya nggak enak banget," keluhnya.
Bu Nadirah langsung mengulas senyum seraya mengelus kepalanya.
"Itu biasa terjadi, Nak. Maklum bawaan orok," kata bu Nadirah. "Ya sudah, kamu istirahat saja, Devan dan Ayya biar mama yang urus."
"Terima kasih, Mah," ucapnya lirih.
Sesaat setelah berada di kamar, Azzura duduk di sisi ranjang sembari memijat keningnya. Namun tetep saja ia memijit Ayya dan Devan.
Selang beberapa menit kemudian, suara kedua bocah itu langsung terdengar memanggilnya.
"Bundaaaa!!!" Keduanya berlari kecil menghampirinya lalu memeluknya.
"Sayang," bisiknya lalu mengecup keduanya bergantian. "Maaf ya, bunda nggak bisa mengurus kalian pagi ini."
"Bunda sakit ya?" tanya Ayya.
Azzura tersenyum seraya mengelus pipinya. "Sakitnya bakal bikin kalian senang. Karena sebentar lagi Ayya dan Devan akan punya dedek," jelas Zu.
"Dedek?" tanya Devan dengan bingung.
Genta yang baru saja keluar dari ruang ganti langsung tersenyum gemas. Ia menghampiri ketiganya lalu berjongkok di samping putranya.
"Iya, dedek. Tapi dedeknya masih di sini," jelas Genta sambil mengelus perut Azzura.
Devan dan Ayya hanya tersenyum lalu ikut mengelus perut sang bunda.
"Yuk, kita siap-siap. Biarkan bunda istirahat ya, Sayang," cetus Genta lalu mengajak kedua anaknya turun ke lantai satu untuk sarapan.
Selesai sarapan, Genta kembali ke kamar untuk memastikan Azzura baik-baik saja.
"Sayang," sebutnya lirih lalu duduk di sisi istrinya. Memejamkan matanya dengan wajah pucat, membuat hati Genta terasa berat ingin meninggalkannya.
Tangannya terulur mengelus puncak kepalanya seraya mengecup keningnya.
"Mas berangkat dulu," bisiknya. Dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan istrinya.
Sesaat setelah berada di garasi, ia pun berpamitan pada mamanya dan bi Titin.
"Mah, Bi, aku titip Azzura dan Devan ya. Aku berangkat dulu."
__ADS_1
...----------------...