
Apartemen Yoga ...
Setelah seharian menjalani aktifitasnya di rumah sakit, Yoga kini terlihat sedang beristirahat di ruang tamunya
Bayangan tentang Azzura yang tampak begitu ketakutan tiba-tiba saja memenuhi benaknya. Ia seolah masih merasakan getaran tubuh gadis itu yang gemetaran ketakutan dalam dekapannya.
"Azzura ... apa dia baik-baik saja?" gumam Yoga lalu beranjak dari sofa menuju kamarnya.
Ketika ia akan melanjutkan langkahnya menuju balkon, alisnya bertaut saat mendapati sepucuk surat berada di atas meja nakasnya.
"Sepertinya surat?" desisnya sesaat setelah meraih kertas itu lalu duduk di sisi ranjang. Ia pun membuka surat itu lalu membacanya.
Dear Yoga ...
Setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, tapi perpisahan bukanlah alasan untuk kita saling melupakan.
Entah aku harus mulai dari mana. Tapi aku ingin berterima kasih untuk segalanya. Kebaikanmu, ketulusanmu dan caramu memperlakukanku sebagai seorang wanita, benar-benar membuatku merasa selalu aman dan nyaman berada di dekatmu.
Terima kasih ... karena selama enam bulan terakhir kamu rela menjadi suami bohonganku hanya karena ingin melihat ibu bahagia. Sampaikan salamku sekaligus maafku pada kak Farhan, kak Aida, ayah dan bunda juga Nanda karena aku nggak sempat berpamitan pada kalian semua.
Maaf ... aku harus pergi meninggalkan kota ini sejauh mungkin, demi menghilangkan semua rasa sakit dan trauma yang kini membekas dan entah kapan sembuhnya.
Ingatlah, meski jarak memisahkan kita, kita nggak pernah merasa jauh, karena pertemanan kita nggak diukur dengan jarak, melainkan hati.
Yoga ... jika kita berjodoh, Allah pasti akan mempertemukan kita kembali. Aku pamit dan jaga dirimu baik-baik. Sekali lagi terima kasih untuk segalanya.
Azzura Zahra ...
"Azzura," lirih Yoga lalu tertunduk dan merasakan tubuhnya seketika menjadi lemas. Menatap tulisan tangan Azzura.
Tangisannya langsung pecah ketika mengingat kebersamaannya dengan gadis berhijab itu. Ia merasa seperti terpukul kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak menemui aku atau sekedar menghubungiku walau hanya sedetik untuk melihat dan mendengar suaramu, Zu? Kenapa kita harus berpisah dengan cara seperti ini?" lirihnya disertai isakkan tangisnya sambil menggenggam surat itu.
Tak lama berselang seseorang menegur dan menghampirinya.
"Yoga ... ada apa, Nak?" tanya sang ayah lalu duduk di sampingnya.
"Ayah," lirihnya dan langsung memeluk sang ayah sambil menangis. "Azzura sudah meninggalkan kota ini. Bahkan dia nggak menjelaskan di kota mana ia pergi," sambungnya dengan tersengal-sengal.
Pak Prasetya hanya bergeming sekaligus terkejut mendengar ungkapan sang putra yang seolah terpukul dengan kepergian gadis itu.
Jauh dalam sudut hatinya merasakan hal yang sama. Seketika matanya ikut menganak sungai.
Yoga terus larut dalam kesedihannya dalam dekapan sang ayah. Sedangkan pak Prasetya, ia hanya membiarkan Yoga memeluknya, menangis hingga tangisannya perlahan mereda.
"Yoga ... menurut ayah itu jauh lebih baik daripada Azzura harus terus menerus bertemu dengan suaminya. Biarkanlah, Nak. Kita bisa mencari keberadaanya nanti," bisik ayah sembari menepuk punggungnya sekaligus menyemangatinya.
Yoga hanya bisa mengangguk lalu mengurai dekapannya dari sang ayah. Setelah itu, ia beranjak lalu melangkah ke arah balkon untuk mencari angin segar.
__ADS_1
Sedangkan pak Prasetya yang masih duduk di sisi ranjang, menatap nanar surat yang kini tergeletak di atas ranjang. Ia pun mengambil lembaran itu lalu membacanya.
"Azzura ..." lirih pak Prasetya dan tak bisa menahan laju air matanya.
Setelah bertahun-tahun menahan diri demi menghindari gadis itu, kini ia yang harus benar-benar kehilangannya. Entah ia harus bagaimana sekarang.
Dilema ....
Itulah yang kini mewakili segenap jiwa dan raganya. Ia sudah berusaha menepis perasaan yang sulit ia artikan sejak dulu hingga sekarang, namun tetap saja hatinya tak bisa berbohong jika ia mencintai Azzura secara diam-diam.
Meski itu salah dan tak pantas, namun seperti itulah kenyataannya. Sebaliknya Azzura, selama ini ia hanya menganggap segala bentuk perhatian dan kasih sayang dari pak Prasetya, hanyalah sebuah bentuk kasih sayang seorang ayah pada putrinya.
Namun siapa yang menyangka jika ia salah menafsir bahkan sama sekali tak peka, jika itu adalah cinta dari seorang pria dewasa.
Cinta memang aneh dan sulit ditebak. Namun entah pada siapakah akhirnya cinta Azzura akan berlabuh.
************
Jauh dari kota J, Azzura yang sejak tadi sore sudah tiba di kota M, tampak sedang menginap di salah satu hotel.
Tampak senyumnya menghiasi wajahnya, karena terus mengingat pertemuannya dengan Ayya gadis cilik berusia lima tahun di pesawat tadi.
"Gemes banget," gumamnya mengingat wajah cantik bocah itu.
Setelah itu, Azzura melangkah keluar menuju balkon kamar hotel. Ia memandang keindahan kota M yang tak sesibuk di kota J.
"Masya Allah ... aku nggak menyangka jika aku bakal menetap di kota ini," gumamnya lalu memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
"Bismillah ... Allaahummalthuf bii fii taisiiri kulli 'asiirin, fa inna taisiira kulli 'asiirin 'alaika yasiir, as 'alukal yusra wal mu'aafaata fid dun-yaa wal aakhirati.
Artinya: "Ya Allah, berilah taufik, kebajikan, atau kelembutan kepadaku dalam hal kemudahan pada setiap kesulitan, karena sesungguhnya kemudahan pada setiap yang sulit adalah mudah bagiMu, dan aku mohon kemudahan serta perlindungan di dunia dan di akhirat," (HR Thabrani).
Azzura melafazkan doa itu dengan suara lirih.
"Yoga ... maafkan aku karena kita harus berpisah dengan cara seperti ini. Aku nggak akan pernah melupakan dirimu. Kebaikan dan ketulusanmu serta bentuk perhatianmu padaku terasa begitu sulit untuk ku lupakan," lirih Zu lalu menyeka air matanya mengingat sosok Yoga.
.
.
.
Mansion Keluarga Kheil ...
Sejak pulang dari kantornya, tuan Kheil tak banyak bicara melainkan hanya termenung. Hingga membuat momy Lio terpancing untuk bertanya.
Tak biasanya suaminya seperti itu. Sambil membawa segelas kopi hangat, ia menghampiri sang suami yang sedang duduk di ruang santai.
"Daddy," sapa momy Lio sembari meletakkan gelas berisi kopi itu di atas meja. "Sejak pulang kantor, momy lihat daddy seperti nggak semangat. Ada apa?" tanya momy.
__ADS_1
Tuan Kheil meliriknya sekilas lalu meraih gelas kemudian meneguk kopinya. Entah ia harus memulai pembicaraan dari mana. Ia takut jika istrinya itu akan kembali colaps.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan pada momy?" batinnya seraya menggenggam jemari momy Lio.
Momy Lio semakin merasa heran dengan sikap aneh suaminya. Ditambah lagi genggaman tangannya yang terasa begitu erat.
"Mom," lirihnya dengan suara tercekat. "Azzura sudah meninggalkan kota ini," kata daddy Kheil sekaligus membuka suara. "Dia nggak bilang mau ke mana. Tadi, sebelum berangkat dia hanya mengirim pesan jika dia sudah berada di pesawat dan akan segera lepas landas," jelas daddy Kheil.
Momy Lio langsung menatapnya sekaligus sangat terkejut. Sedetik kemudian air matanya langsung luruh mengenang sang menantu.
Tuan Kheil pun menjelaskan semuanya pada momy Lio tentang pertemuannya dan Azzura tadi pagi di kantor serta permohonan terakhir Azzura yang membutuhkan bantuannya sekaligus permintaan maaf gadis itu untuknya dan Gisel.
Duaarrrrr ....
Close yang sejak tadi tak sengaja mendengar percakapan momy dan daddy-nya seolah disambar petir.
Kaki yang tadinya begitu kuat menopang tubuhnya seketika membuatnya jatuh dengan posisi berlutut.
"No ... no ... impossible," gumamnya sambil menarik rambutnya merasa frustasi.
Momy dan daddy Kheil langsung menoleh ke belakang saat mendengar ada benda jatuh.
"Close," tegur sang daddy lalu berdiri sambil menatapnya dari jarak yang tak terlalu jauh dari sang putra.
"Daddy, tell me if it's a lie ... right?" ucapnya sambil menangis.
Satu kenyataan pahit yang kembali membuatnya shock sekaligus membuat dunianya terasa akan runtuh detik itu juga.
Daddy Kheil menggelengkan kepalanya lalu berucap, "Unfortunately ... it's all true, Close," jawab daddy Kheil.
Ia kembali tertunduk sambil menangis dengan tubuh bergetar. Ia tak menyangka jika Azzura benar-benar akan menggugat cerai dirinya bahkan benar-benar meninggalkanya.
Ucapan bernada dingin Azzura kemarin seketika kembali terngiang di telinganya.
Ya suami, dan sebentar lagi bakal jadi MANTAN SUAMI.
Bukankah ini yang kamu inginkan? Bahkan sejak awal pernikahan kita, kamu dengan percaya diri menginginkan aku segera menandatangani surat perjanjian perceraian itu.Tenang saja nggak lama lagi keinginan mu itu akan segera terwujud.
"Maafkan aku, Zu ... maafkan aku ... ke mana aku harus mencarimu. Please ... give me last one chance," isaknya sambil tertunduk.
.
.
...πTuhan menciptakan penyesalan biar kita tahu bahwa tidak semua hal bisa diulang kembali. Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima.π...
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1