
Setelah memutuskan panggilan telepon secara sepihak lalu mengalihkannya ke mode pesawat, Azzura kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam tasnya.
"Yoga ... aku sekalian pamit," kata Zu dengan seulas senyum.
"Hmm ... ayo kita barengan saja ke parkiran," cetus Yoga lalu menautkan jemarinya dengan Zu.
"Yogaaa ..." protesnya.
Yoga hanya mengulas senyum dan tak menanggapi protesnya Azzura. Ia terus menautkan jemarinya hingga langkah keduanya terhenti di samping motornya.
Lagi-lagi setelah melepas tautan jemarinya, Yoga meraih helm Azzura lalu memasangkan ke kepala gadis berhijab itu.
Sambil menatap Yoga, entah mengapa Azzura tiba-tiba merasa sedih ketika membayangkan ia akan meninggalkan sang psikolog.
Pria yang selama ini banyak membantunya. Tangannya perlahan terangkat lalu memegang kedua tangannya dengan mata berkaca-kaca.
Sontak saja ulahnya membuat Yoga menautkan alisnya.
"Ada apa, Zu?" tanya Yoga.
"Nggak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih karena selama ini kamu sudah banyak membantuku. Termasuk rela menjadi suami bohonganku demi membuat ibu bahagia. Bahkan sampai di detik terakhir, ibu tetap menyangka jika kamu adalah menantunya," lirih Zu lalu menyeka air matanya
Yoga hanya mengulas senyum sembari menggenggam kedua tangannya dengan erat. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan karena ia ikhlas melakukannya.
"Aku ikhlas melakukannya bahkan sangat berharap bisa menjadi pendamping hidupmu yang sebenarnya," aku Yoga sambil menatap lekat wajah Azzura.
"Yoga," lirih Zu lalu menundukkan pandangannya.
Untuk sejenak keduanya sama-sama bergeming dengan tangan yang saling menggenggam. Entah mengapa Azzura merasa berat jika akan berpisah dengan sang psikolog.
"Zu, pulanglah dan hati-hati di jalan. Jangan lupa besok kamu harus konsultasi lagi," perintah Yoga sekaligus membuyarkan lamunannya.
Azzura hanya mengangguk lalu melepas genggaman tangannya dari Yoga. Ia mengulas senyum sebelum akhirnya ia menaiki motornya.
Begitu mesin motornya menyala, ia kembali pamit dan mulai meninggalkan Yoga di parkiran itu. Sepeninggal Azzura, Yoga bersandar sejenak di pintu mobilnya lalu menengadahkan wajahnya menatap langit.
"Kenapa perasaanku mengatakan jika Azzura akan meninggalkanku," lirihnya sambil memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.
Sedih ...
Kehilangan ...
Dua kata yang kini mewakili dan menyelimuti dirinya.
"Azzura, jika pun itu terjadi, sebisa mungkin aku akan tetap mencarimu hingga aku benar-benar menemukan dirimu dan tak akan aku lepas lagi."
Tanpa terasa air matanya langsung menetes dari ujung matanya. Yoga menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaannya, sebelum akhirnya memutuskan ke rumah sakit.
*
*
*
__ADS_1
Tiga hari kemudian pukul 14.30 sore ...
Setelah menimbang-nimbang dan menunggu waktu yang pas untuk berbicara secara baik-baik pada momy Lio dan daddy Kheil, Azzura meminta kedua orang tua dari suaminya itu menunggunya di kantor daddy Kheil.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dan bertukar shif, Azzura pun berpamitan untuk pulang pada rekan kerjanya.
Setibanya ia di kantor sang mertua, ia menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaannya sesaat setelah berada di dalam lift.
Ia kembali larut dengan pikirannya membayangkan nasibnya kedepannya setelah berpisah dengan suaminya.
Tinggg ....
Suara khas pintu lift membuyarkan lamunannya. Dengan langkah kecil ia melangkah mencari ruangan kerja daddy Kheil.
Langkahnya terhenti ketika seseorang menegurnya karena terlihat kebingungan.
"Maaf ... ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Jimmy sekaligus menawari bantuan.
"Ya, bisa tolong tunjukkan di mana ruang kerja tuan Kheil?" sahut Zu dengan seulas senyum.
Jimmy mengerutkan keningnya lalu menatap Azzura penuh selidik. Selama ini ia tidak mengenal menantu majikannya itu meski Close pernah bertanya perihal orang tua gadis itu.
"Ada urusan apa mencari tuan? Lagian istrinya saat ini ada bersamanya di ruangannya," kata Jimmy dengan nada yang tak bersahabat.
Azzura menghela nafas. "Aku memang ingin bertemu dengan keduanya dan sudah membuat janji dengan beliau," jelas Zu.
Jimmy bergeming sejenak. Namun mendengar ucapan Azzura yang sudah membuat janji dengan sang majikan, akhirnya ia mengantarnya ke ruangan tuan Kheil.
"Ini ruangan tuan," kata Jimmy.
Setelah itu, Jimmy kembali melanjutkan langkahnya dengan benak yang dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Sedangkan Azzura, setelah mengetuk pintu ia pun masuk ke ruangan kerja sang mertua.
"Daddy, Momy," sapa Zu lalu menghampiri keduanya yang sedang duduk di sofa.
"Sayang, kamu sudah datang," sahut momy Lio dengan seulas senyum.
Sedangkan daddy Kheil, ia sudah bisa menebak jika Azzura ke kantornya pasti ada hal serius yang ingin ia sampaikan padanya. Apalagi ia meminta sang istri juga ada di kantornya.
Setelah duduk di samping momy Lio, ia menggenggam tangannya sebelum memutuskan memulai pembicaraan.
"Mom, Daddy, aku kemari karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua," lirihnya.
Sudah kuduga. Tuan Kheil membatin sambil menarik nafasnya.
"Sebelumnya, aku minta maaf pada Momy dan Daddy jika yang akan aku bahas ini sedikit sensitif," sambung Zu.
Momy Lio tampak menelaah ucapan sang menantu dan merasa sedikit kebingungan.
"Nggak apa-apa, Nak. Katakan saja mungkin momy dan daddy bisa membantumu," sahut momy sembari mengelus tangan menantunya.
"Momy, Daddy, aku sudah memutuskan untuk berpisah dari Close. Aku juga sudah memasukkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama tiga hari yang lalu," jelas Zu dengan perasaan bersalah.
Ucapan yang terucap dari bibir sang menantu seketika membuat momy Lio cukup terkejut. Tapi tidak bagi daddy Kheil, karena ia sudah memprediksi ini akan terjadi sejak berada di rumah sakit pada saat itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mom. Aku seperti menantu yang nggak tahu diri. Setelah ditolong kini aku malah mengecewakan Momy dan Daddy," lirih Zu sambil tertunduk tak berani menatap sang mertua.
"Sayang, tapi kenapa? Bukankah kamu dan Close selama ini baik-baik saja?" tanya momy.
Azzura hanya bisa tertunduk lalu menggelengkan kepalanya. Antara ingin menjelaskan ataupun tidak. Namun suara Daddy Kheil membuat sang istri langsung mengalihkan pandangannya ke arahnya.
"Mom, biar aku yang menjelaskan semua pokok permasalahannya. Ini bukan salah Azzura dan Close melainkan kesalahan kita berdua," kata daddy.
"Kesalahan kita berdua?" tanya momy dengan alis yang saling bertaut.
Daddy hanya mengangguk lalu mulai menjelaskan semuanya yang ia ketahui pada sang istri tanpa ada satupun yang ia tutup-tutupi.
Setelah mendengar semua penjelasan dari sang suami tentang keadaan rumah tangga Azzura dan Close yang sebenarnya, momy Lio langsung memeluk Azzura sambil menangis.
Ia tak mampu berkata-kata melainkan hanya bisa menangis sambil mendekap erat sang menantu. Ia tak menyangka jika sang putra bisa melakukan hal di luar batas.
"Maafkan momy, Nak. Momy merasa sudah menghancurkan hidupmu. Momy nggak menyangka jika Close tega menyakitimu," ucap momy dengan suara tercekat.
"Momy, semuanya sudah terjadi dan nggak perlu di sesali. Aku sudah memaafkan semua perbuatan Close padaku. Hanya saja berpisah adalah jalan terbaik untuk kami. Izinkan dan ikhlaskan kami berpisah dan menjalani kehidupan kami masing-masing. Aku hanya bisa berdoa semoga dia akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik," pungkas Zu lalu melonggarkan pelukannya dari sang mertua.
Baik momy Lio dan daddy Kheil keduanya tampak bergeming, namun air mata keduanya sudah cukup mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam dari putra sulungnya itu.
Mau tidak mau keduanya hanya bisa pasrah dan menyetujui keinginan terakhir Azzura, walaupun keduanya merasa berat hati.
"Sayang, jika pun kalian sudah resmi berpisah, berjanjilah pada momy jika kamu masih akan menjaga hubungan baik kita. Kamu tetaplah anak momy," lirih momy Lio lalu menyeka air matanya.
Azzura hanya mengangguk dengan perasaan sedih sekaligus bersalah.
"Zu, jika kamu butuh bantuan dari kami, jangan sungkan-sungkan ngomong sama daddy. Daddy dan momy pasti akan membantumu," timpal daddy Kheil lalu berpindah duduk ke sampingnya.
Dengan perasaan terharu, Azzura langsung merangkul keduanya. Namun jauh dalam sudut hatinya ia juga merasa sedih namun inilah kenyataan hidup dan takdirnya. Ia hanya mampu pasrah, ikhlas dan tegar.
Setelah kurang lebih satu jam berada di ruangan itu, akhirnya ia kembali berpamitan lalu meninggalkan ruangan kerja sang mertua.
Dengan langkah gontai, tatapan mata yang kosong ia melangkah pelan hingga ia tak menyadari menubruk punggung seseorang yang sedang berjalan di hadapannya.
Langkahnya terhenti lalu menunduk sambil memejamkan matanya tak berani mendongak siapa yang sudah ia tabrak.
Jimmy langsung berbalik lalu menatapnya dengan alis yang saling bertaut keheranan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tegur Jimmy.
Azzura perlahan mendongak sekaligus merasa lega. Pikirnya tadi itu adalah suaminya. Ia takut jika Close kembali memaksa menemaninya makan.
"Hmm." Azzura menjawab singkat lalu melanjutkan langkahnya menuju lift kemudian di susul Jimmy.
"Maaf, jika ucapanku tadi membuatmu tersinggung," sesalnya.
Azzura hanya mengangguk dan menatap pantulan bayanganya dan Jimmy di dalam lift yang sudah tertutup.
Sebenarnya siapa gadis ini? Aku baru pertama kali melihatnya datang ke kantor. Sepertinya dia gadis baik-baik.
Jimmy membatin dan sesekali mencuri pandang ke arah Azzura sekaligus membuatnya penasaran.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ