
Melihat wajah bingung Azzura, Nina dan Genta langsung terkekeh.
"Zu, nggak usah bengong begitu," kata Nina. "Aku dan Genta sudah saling kenal. Dia sahabatku," jelas Nina.
Seketika Azzura menautkan alisnya menatap keduanya bergantian. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nina lalu berbisik,
"Sepertinya kalian cocok," goda Zu lalu terkekeh kemudian menunduk menatap Ayya yang sejak tadi memegang tangannya.
Sadar jika Ayya terabaikan, ia pun menggendong bocah itu dengan gemas.
"Maaf ... bunda lupa jika kamu ada bersama bunda di sini," bisiknya.
Ayya hanya tersenyum sembari memainkan bros hijabnya.
Sedangkan Nina, mencebikkan bibirnya menatap Azzura dan merasa gemas dengan ucapan gadis itu barusan.
"Mas, kalian duduk sebentar ya," pinta Zu lalu menatap Ayya. "Sayang, kamu sama ayah dulu ya," kata Zu. "Oh ya, Mas. Mas pengen makan atau minum sesuatu? Biar aku buatkan sekalian," tawar Zu dengan seulas senyum.
"Boleh deh, kopi saja," sahut Genta dengan sembringah.
Setelah itu Azzura mendudukkan Ayya di sampingnya lalu menuju meja barista. Saat berada di tempat itu, lagi-lagi ia teringat momy Lio, Yoga dan Nanda.
Ada kerinduan yang mendalam pada ketiga sosok itu. Matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca mengenang ketiganya. Namun dengan cepat ia menepis perasaannya yang tiba-tiba saja menjadi melow.
Sementara di meja tempat Genta, Nina dan Ayya berada, ketiganya tampak mengobrol santai. Namun sesekali Genta mencuri pandang ke arah Azzura.
"Nin, bagaimana dengan perkembangan janinmu?" tanya Genta. "Apa pria brengsek itu nggak pernah memberi kabar?" geram Genta.
Nina menghela nafasnya dengan kasar lalu menatap Genta dan Ayya. Ia tersenyum miris. Dia, Genta dan Azzura sama-sama memiliki kesamaan yaitu gagal mempertahankan rumah tangga dengan alasan yang berbeda-beda.
"Genta ... aku sudah nggak mengharapkan pria brengsek itu lagi. Hatiku sudah tertutup," lirih Nina. "Alhamdulillah ... bayiku sehat dan berkembang dengan baik," sambungnya.
"Syukurlah ..." ucap Genta menatap iba sahabatnya itu.
Sedetik kemudian ia mengulas senyum pada Ayya lalu memegang jemari mungilnya.
"Ayya, nanti jika tante melahirkan mau ya jadi kakaknya dedek," kata Nina.
"Mau Tante. Ayya senang jika Ayya punya adek," jawabnya dengan polos.
Nina melirik Azzura yang sedang menaruh gelas di nampan lalu kembali menatap Genta dengan mata berkaca-kaca.
"Genta, seperti yang kamu tahu, aku menderita ginjal kronis dan nggak menutup kemungkinan jika aku melahirkan akan sangat beresiko," lirih Nina.
"Lalu ..."
"Jika terjadi sesuatu padaku, aku akan menitip putraku pada kalian berdua," lirihnya lagi lalu menyeka air matanya.
"Maksudmu berdua?" Genta mengerutkan keningnya dan sedikit kebingungan.
"Maksudku kamu dan Azzura," sambung Nina.
Genta bergeming. Tak lama kemudian Azzura menghampiri ketiganya lalu menyuguhkan kopi dan es coklat kesukaan Ayya di hadapannya beserta cemilan.
"Ayo silakan di cicipi kopinya," tawar Zu lalu duduk di samping Nina. "Ada apa sih?! Kok kamu kelihatan sedih begitu?" cecar Zu karena melihat raut wajah sedih Nina.
__ADS_1
Nina hanya menggelengkan kepalanya seraya menggenggam jemari Azzura lalu mengulas senyum.
.
.
.
Prasetya Hospital 2 ...
"Yoga ..."
Suara seseorang menyadarkannya dari lamunan panjangnya. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Radit," desisnya lalu menegakkan punggungnya.
"Ada apa? Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu selalu terlihat termenung?" cecar Radit lalu duduk berhadapan dengannya.
"Entahlah ... aku seolah tak bersemangat," jawabnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
Ia menghampiri jendela ruangannya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Pikirannya kembali melayang memikirkan Azzura.
Ini bahkan sudah lebih sebulan tapi kenapa ponselnya nggak pernah aktif? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Aku harus bagaimana?Bagaimana jika aku nggak akan pernah bertemu lagi dengannya?
Pertanyaan itulah yang kini memenuhi benaknya. Ia mengusap dadanya yang kini terasa sesak.
Azzura ... ada di mana dirimu?
Melihat Yoga yang kini hanya bergeming dan kembali termenung, Radit kembali menghampirinya lalu merangkul bahunya.
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan," kata Radit. "Azzura kan? Jika aku boleh sarankan coba cari infonya di jejaring internet," saran Radit.
Radit kembali mengelus punggungnya. Ia mengerti benar dengan perasaan sahabatnya itu. Hubungan yang rumit menurutnya.
Haahhhh ... cinta memang rumit. Lagian ngapain juga dia nggak menyatakan perasaannya sejak awal. Meskipun Azzura saat itu masih berstatus istri Close. Haishhh ... mikirin apa sih kamu Radit? Itu sama saja Yoga dilabeli PEBINOR.
Radit bergumam panjang dalam hatinya sembari melirik Yoga yang masih tampak melamun. Sedetik kemudian ia menepuk bahu sahabatnya itu.
"Yoga, sebaiknya kita ke cafe saja," cetusnya.
Yoga langsung meliriknya lalu menyunggingkan senyum tipis. Sejak Radit mengenal Nanda, sahabatnya itu gencar mengejarnya.
"Bilang saja ingin bertemu Nanda," ledek Yoga lalu terkekeh.
"Mau bagaimana lagi. Daripada kamu mikirin Azzura terus, mending kita hibur diri ke cafe itu," balas Radit sembari menepuk bahu Yoga lalu terkekeh.
Yoga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah sahabatnya itu.
"Dasar Radit," desisnya lalu menyusulnya.
.
.
.
__ADS_1
Sementara di Nina Cookies, Azzura, Nina dan Genta masih tampak mengobrol kecil, hingga Ayya akhirnya mengajak sang ayah pulang.
"Ayah, Bunda ... pulang yuk."
"Baiklah," sahut Genta sembari mengusap kepala putri semata wayangnya itu.
"Ayo, bunda antar samapi ke depan," tawar Zu.
Ayya menggelengkan kepalanya karena enggan dan otomatis membuat alis Azzura bertaut heran.
"Loh kenapa? Katanya mau pulang," sambung Zu.
"Pulangnya sama Bunda," sahutnya dengan wajah memelas.
"Zu," sebut Nina seraya mengelus lengannya. "Nggak apa-apa. Sebaiknya kalian pulang bareng saja," kata Nina. "Mumpung Mas ganteng itu belum berangkat tugas," bisiknya dengan maksud menggoda Azzura lalu terkekeh.
"Ishhh, kamu apa-apaan sih?!" balas Zu lalu melirik Genta sekilas kemudian kembali menatapnya lalu ikut terkekeh.
"Bundaaaa ... ayoooo," rengek Ayya.
"Sebentar ya, Sayang," pinta Zu dan dijawab dengan anggukan kepalanya. "Nin, aku pulang dulu ya. Ingat ... jangan terlalu banyak bergerak. Jika kamu perlu sesuatu, minta tolong sama karyawan kamu saja," pesannya sekaligus memperingati Nina.
Lagi-lagi Nina terkekeh mendengar ucapan Azzura yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya.
Setelah itu, Azzura dan Genta akhirnya berpamitan dan meninggalkan toko kue Nina. Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia kembali memangku Ayya.
"Bunda, boleh ya temenin Ayya sebentar di rumah. Kita bisa main dengan ayah dan oma," pintanya sambil menyandarkan kepalanya di dada Azzura.
Dengan seulas senyum Azzura mengangguk. Ia tetap sabar meladeni permintaan bocah cantik itu.
"Zura ... maaf jika ..."
"Nggak apa-apa, Mas," sahut Zu sekaligus memotong ucapan Genta. Ia mengulas senyum sambil terus mengusap kepala putrinya.
Di sepanjang perjalanan menuju kediamannya, sesekali ia melirik Azzura yang dengan sabar memangku putrinya sambil terus mengelus rambutnya.
Mungkin karena merasa nyaman, akhirnya bocah cilik itu tertidur.
"Zura," tegur Genta.
"Iya Mas," sahutnya dengan suara lembut seperti biasanya.
"Besok kan hari Sabtu sekaligus libur sekolah. Apa kamu nggak ada rencana ke mana-mana?" tanya Genta sedikit ragu.
"Nggak ada Mas, biasanya aku bantu-bantu Nina di toko kue," jelas Zu dengan seulas senyum. "Oh ya, Mas. Aku sekalian minta izin hari Minggu ini, boleh ya Ayya ke rumahku. Soalnya aku sudah janji ingin mengajaknya main masak-masakan," tuturnya sambil terkekeh. "Maksudku masak-masaknya beneran," sambungnya.
Genta tersenyum mendengar ucapan Azzura yang disertai dengan kekehannya. Ia pun kembali melirik gadis berhijab itu.
"Jika kamu nggak keberatan, apa boleh aku ikut bergabung dengan kalian?" tanyanya dan sedikit ragu kalau-kalau permintaannya itu ditolak.
"Boleh kok, Mas," jawab Zu disertai dengan anggukan kepalanya.
Mendapat izin dari Azzura, seketika sudut bibirnya langsung membentuk lengkungan sempurna.
Lagi-lagi hatinya kembali menghangat. Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebelum kembali bertugas, ia ingin menikmati waktu kebersamaannya dengan putrinya dan juga gadis berhijab itu.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ