
Setibanya di kediaman Genta, pria itu membantu Azzura membuka pintu mobilnya.
"Zura, biar aku saja yang menggendong Ayya," cetusnya.
"Nggak apa-apa Mas, biar aku saja. Lagian sudah terlanjur," tolak Zu.
Genta hanya mengangguk lalu meraih tas putrinya kemudian mengajak Azzura masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya bersamaan.
"Waa'laikumsalam," jawab bu Nadirah dan pak Dirgantara.
"Loh ... Zu, Genta ... Ada apa, Nak? Apa Ayya sakit?" tanya bu Nadirah dengan raut wajah cemas.
"Nggak, Mah. Ayya hanya ketiduran," jawab Genta lalu mengulas senyum.
Bu Nadirah langsung mengusap dadanya merasa lega. Setelah itu ia mengajak Azzura menuju kamar cucunya yang ada di lantai dua.
Sesaat setelah berada di kamar itu, Azzura membaringkan tubuh mungil Ayya. Untuk sejenak ia menatap lekat wajah bocah itu lalu mengelus kepalanya.
Sekilas ia kembali teringat ucapan keji Close, yang menuduhnya mandul. Seketika itu juga air matanya tiba-tiba saja menetes.
Sementara di lantai satu, Genta dan sang ayah tampak mengobrol santai bahkan tak segan pak Dirga menggodanya.
"Ada apa? Ayah lihat sejak kemaren wajahmu terlihat berbinar bahagia?" selidik pak Dirga. "Apa karena gadis itu?" sambungnya lalu menepuk paha Genta.
"Ayah seperti nggak pernah muda saja," kata Genta dan tak langsung menjawab pertanyaan dari sang ayah.
Pak Dirga terkekeh lalu menepuk bahu putra sulungnya itu. Ia mengerti perasaan sang putra yang sudah menduda selama lima tahun.
Dan selama itu pula ia selalu bersikap dingin pada wanita. Namun sejak melihat kedekatan putri semata wayangnya dan Azzura di pesawat waktu itu, entah mengapa ia merasa jika Azzura adalah wanita yang tulus.
"Genta, ayah bisa melihat dari sorot matamu jika kamu memiliki perasaan pada ..." Pak Dirga tampak berpikir karena lupa nama Azzura. "Siapa namanya?" tanyanya sembari menatap Genta.
"Azzura," sahut Genta sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya, Azzura," sebut pak Dirga lalu mengulas senyum.
Tak lama berselang Azzura dan bu Nadirah tampak menuruni tangga lalu menghampiri keduanya yang sedang duduk di sofa.
"Pak, Mas, aku sekalian pamit," ucap Zu.
"Kenapa buru-buru? Sebaiknya kita makan siang dulu," tawar pak Dirga.
Azzura mengulas senyum. "Terima kasih Pak, Insya Allah lain kali saja," tolak Zu secara halus. Ia kemudian menatap bu Nadirah. "Bu, aku sekalian pamit," izinnya.
Bu Nadirah hanya mengangguk. Setelah itu ia mengantar Azzura hingga ke depan pintu utama lalu meminta Genta mengantarnya pulang.
Dengan patuh Genta menurut sekaligus membuat hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
.
.
.
Setibanya di rumah kontrakan Azzura, tak lupa gadis itu berterima kasih pada Genta lalu turun dari mobilnya.
"Mas, terima kasih ya. Maaf karena nggak bisa menemani Ayya bermain. Sampaikan salam maafku padanya ya," pesan Zu lalu tersenyum padanya.
"Nggak apa-apa, Zura. Ayya pasti mengerti," balas Genta.
Azzura hanya mengangguk dengan seulas senyum lalu melambaikan tangannya. Setelah memastikan kendaraan itu menjauh, barulah ia melangkah menghampiri pintu rumahnya lalu membukanya.
Satu jam berlalu setelah membersihkan diri dan dilanjut dengan melaksanakan shalat, ia pun berbaring di atas ranjangnya.
Senyumnya kembali terbit saat membayangkan wajah polos gadis cilik itu saat tidur.
"Kehadiranmu membuat hidupku semakin berwarna," desisnya lalu perlahan memejamkan matanya.
.
.
.
Keesokkan harinya, Rumah Sakit Arinata kota J ...
"Selamat pagi, Close. How are you today?" sapanya seraya menghampiri Close yang tampak sedang berdiri di dekat jendela kamar.
Mendengar seseorang menyapanya, perlahan ia menoleh lalu kembali menghadap ke jendela.
"Ini ... untukmu," kata Daffa sembari menyodorkan cup kopi hangat pada Close.
Untuk sesaat ia tetap bergeming dan tak peduli bahkan terus mengarahkan pandangannya ke depan.
"Close," tegur Daffa lagi. Dengan sabar ia tetap berdiri di dekatnya sambil memegang cup kopi di kedua tangannya.
"Kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, ketika orang yang kita sia-siakan sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain. Tapi jika kita terlalu menyesalinya, justru itu hanya akan membuat kita lupa untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah kita perbuat," ucap Dafa sambil mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
Mendengar ucapan mengandung nasehat dari sang psikolog, Close perlahan menoleh ke arahnya.
"Ayo, mulailah menata dan berjanji pada dirimu sendiri untuk segera memperbaiki semua kesalahan yang telah kamu lakukan. Aku berharap kamu segera sembuh dan bisa menjalani aktivitas mu seperti biasa lagi dan berusaha menemukan Azzura," sambung Daffa.
Lagi-lagi Close hanya bisa menatap Daffa dalam diamnya.
I'ts okay, jika kamu masih belum siap konsultasi, nggak apa-apa. Tapi pikirkan lagi baik-baik. I trust you can," kata Daffa lalu meninggalkan kamar rawat Close.
Sepeninggal Daffa, ia membalikkan badannya lalu menghampiri bed pasien. Duduk lalu menatap lekat cup kopi yang masih terlihat berasap.
__ADS_1
Close merenung ucapan Daffa barusan yang ada benarnya.
"Psikolog itu benar," desisnya.
Close termenung dan kembali memikirkan ucapan Daffa.
Selang beberapa jam kemudian, saat ia sedang duduk di sofa sambil tertunduk, suara pintu yang dibuka seseorang seketika membuatnya langsung mengarahkan pandangannya ke benda itu.
"Close," sapa gadis itu yang tak lain adalah Laura.
Dengan santainya ia menghampiri pria pujaan hatinya itu lalu duduk di sampingnya. Namun Close seolah tak peduli dan malah mengacuhkan dirinya.
"Close, aku merindukanmu. Cepatlah sembuh supaya kita bisa bersama lagi," kata Laura.
"Pergi dan tinggalkan aku," ucapanya dingin.
Laura terhenyak mendengar ucapan dingin Close bahkan pria itu sama sekali tak menatapnya.
"Aku ke sini ingin memberimu kabar bahagia," kata Laura lagi.
Seketika raut wajah dan kening Close mengerut sekaligus merasa heran. Namun ia masih bergeming dan tak peduli.
"Close, aku hamil," ucap Laura percaya diri.
Sontak saja ucapan Laura membuatnya langsung menatapnya. Tadinya Laura berpikir Close akan senang. Tapi alih-alih senang atau tersenyum, Close malah menatap tajam dirinya.
"Did i hear right?" sahut Close.
Jawaban Close tentu saja membuatnya kaget. Tadinya ia ingin memanfaatkan keadaan Close dengan kondisi terpuruk tapi malah sebaliknya.
Close menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari sofa dan menjauh dari Laura.
"Azzura benar ... jika kamu layak disebut GADIS MURAHAN," kata Close tanpa permisi. "Kita memang sering berhubungan intim, tapi aku selalu sadar dan sering menggunakan pengaman. Jika tidak pun aku membuangnya di luar," jelasnya dengan nada dingin. "Aku yakin bayi yang sedang ada di kandunganmu itu bukan bayiku melainkan milik orang lain," tebak Close.
Mendengar ungkapan bernada dingin dari Close, lagi-lagi membuat Laura kaget bukan kepalang.
"Close!!!!" bentak Laura lalu berdiri menghampirinya. "Terakhir kali kita melakukannya sebulan yang lalu! Apa kamu lupa itu?!"
Close mengangguk. "Yes, i still remember. Tapi aku merasa aku nggak menumpahkannya di dalam melainkan di luar," jawab Close lalu menatapnya.
Seketika tubuh Laura membeku tak percaya dengan jawaban yang diberikan Close padanya.
Namun Laura masih keukeuh menyatakan anak yang sedang dikandungnya itu adalah anaknya Close.
"Pokoknya aku nggak mau tahu! Kamu harus bertanggungjawab, Close!!!!" bentak Laura sambil mengepalkan kedua tangannya.
Setelah itu ruangan itu kembali hening. Tak lama berselang pintu dibuka oleh seseorang. Sontak saja keduanya langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu itu.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ