Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...


__ADS_3

Sepeninggal Azzura, momy Lio kembali menangis membayangkan betapa tersiksanya menantunya itu selama enam bulan terakhir.


Shock sekaligus sangat kecewa pada sang putra. Ia juga tidak menyangka jika Close selama ini tidak pernah bertemu dengan mertuanya selama habis menikah. Ia baru bertemu di detik-detik terakhir besannya itu menghembuskan nafas terakhir.


Mengingat semua itu seketika membuat dadanya sakit dan sesak.


“Mom ... Momy!!” panggil daddy Kheil karena langsung panik. Ia pun langsung meraih gelas yang berisi air lalu membantunya untuk minum.


Setelah meneguk air hingga tandas, momy Lio memeluk suaminya sambil terisak.


“Maafkan momy, Dad,” bisiknya dengan suara lirih. “Dalam hal ini momy yang salah sepenuhnya. Momy nggak akan menghalangi jika niat Azzura ingin berpisah dengan Close. Itu jauh lebih baik daripada ia terus menerus menderita dan tersiksa.” Momy Lio terisak karena merasa sangat bersalah pada menantunya itu.


Daddy Kheil hanya mengangguk namun sekaligus merasa sedih. Gadis sebaik dan santun seperti Azzura tega Close sakiti bahkan ia sia-siakan.


Close, daddy benar-benar sangat kecewa padamu. Setelah ini kamu pasti akan menyesal.


Daddy Kheil membatin pilu. Jauh dalam sudut hatinya, ia seolah tak rela jika kehilangan menantu sebaik Azzura. Namun mengingat kekejaman sang putra padanya, ia pun tak bisa berbuat banyak. Hanya menanti dan membantu Azzura.


Sementara itu di area parkir, Jimmy terus saja memperhatikan Azzura dari balik kaca mobilnya. Benaknya terus bertanya-tanya siapa sebenarnya dia?


“Gadis bermata indah,” gumamnya sambil terus menatap Azzura hingga menghilang dari pandangan matanya.


Pria blasteran itu langsung mengetuk-ngetuk kepalanya sambil cengengesan. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan parkiran.


*


*


*


Setibanya di rumah, Azzura langsung membersihkan dirinya. Setelah itu ia melaksanakan shalat ashar terlebih dulu sebelum membersihkan rumah dan memasak.


Begitu selesai, ia duduk di sofa ruang tamu sambil meneliti setiap sudut ruangan rumahnya tanpa ada satupun yang ia lewatkan.


Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan di dalamnya. Seulas senyum terbit di bibirnya.


“Ibu ... ayah,” lirihnya ketika matanya terarah ke frame foto kedua orang tuanya. “Aku juga ingin seperti kalian. Cinta ibu dan ayah abadi bersama. Semoga kelak jodohku seperti ayah,” lirihnya lagi lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Sedetik kemudian ia kembali membuka mata dan tampak berpikir. Malam ini ia berencana akan ke rumah suaminya untuk mengemasi barang-barangnya yang masih berada di kamarnya.


Pasca meninggalnya ibunya, Azzura belum pernah menginjakkan kakinya di rumah itu. Rumah yang dijuluki dengan rumah laknat.


Malah sebaliknya justru Close lah yang sering menginap di rumahnya. Namun tetap saja Azzura enggan sekamar dengan suaminya itu.


Karena merasakan kantuk, ia pun membaringkan tubuhnya di sofa lalu perlahan memejamkan matanya. Tanpa ia sadari, ia lupa mengunci pintu utama seperti hari kemarin-kemarin untuk antisipasi.


Arah jarum jam terus berputar, tanpa terasa hari semakin sore dan jarum jam telah menunjukkan 17.15. Namun Azzura masih saja tertidur dengan nyenyaknya di sofa ruang tamu.


Tak lama berselang terdengar suara mobil Close berhenti di halaman parkir rumah Azzura. Ketika menatap mobil yang terparkir di samping mobilnya, Close hanya bisa mendesah kecewa.


Sudah dua minggu mobil pemberian darinya tetap ditempat, karena sang empunya mobil sama sekali enggan mengoperasikan benda beroda empat itu.


Sesaat setelah berada di ambang pintu, Close mengetuk lalu memutar handlenya. Jika kemarin-kemarin pintunya tidak langsung terbuka, berbeda dengan hari ini.


Seketika membuat alisnya bertaut dan merasa heran.


"Tumben?” desisnya namun sudut bibirnya langsung melengkung karena mengingat beberapa minggu yang lalu jika Azzura pernah lupa. “Pasti dia lupa,” gumamnya lalu melangkah masuk kemudian kembali menutup pintu.


Setelah membuka sepatu dan meletakkan di rak, Close kembali melangkah pelan. Baru beberapa langkah, ia tertegun sekaligus terpaku di tempat menatap Azzura yang sedang tertidur pulas di sofa.


Hingga menampakkan kulit putih nan mulusnya, wajah cantik alami serta rambut lurus sebahunya.


Dengan langkah pelan, ia menghampirinya lalu menatap lekat wajah cantik istrinya serta sekujur tubuhnya tanpa ingin melewatkan satu detikpun.


Close berjongkok dan tak bisa menahan dirinya. Ia langsung mendaratkan satu kecupan di kening istrinya lalu mengelus kepalanya dengan sayang.


Sontak saja ulahnya membuat Azzura terusik dan perlahan membuka matanya. Betapa kagetnya ia saat mendapati Close sedang menatapnya sambil tersenyum.


Azzura langsung mendudukkan dirinya lalu sedikit menjauh dengan perasaan geram.


“Mau apa kamu?!!! sentaknya dengan tatapan menghunus tajam. Setelah itu ia segera beranjak lalu cepat-cepat melangkah namun dengan cepat Close menahannya lalu memeluknya dengan erat.


“Lepasin aku brengsek!!!" marah Zu sambil meronta dengan begitu kesalnya.


“Nggak akan,” bisik Close menahan tubuh istrinya yang terus meronta minta di lepaskan. “Tidak ada salahnya aku memeluk istriku dan menatapnya dengan bebas, aku suamimu,” sambung Close.

__ADS_1


Azzura tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya. “Ya suami dan sebentar lagi bakal jadi MANTAN SUAMI,” tekan Zu.


Mendengar ucapan frontal yang lolos begitu saja dari bibir istrinya, sontak membuat Close terkejut dan melepasnya.


"What?!! Mantan suami?" tanyanya. Namun Azzura enggan menjawab dan memilih meninggalkannya menuju kamarnya.


Seolah belum puas, ia mengejar Azzura menapaki anak tangga hingga gadis itu akan menutup pintu kamarnya namun Close menahannya dengan cepat.


"Zu!! Jangan seperti ini, apa maksudmu?!!”


“Jangan pura-pura nggak tahu,” jawab Azzura sambil menahan pintu kamarnya.


Karena kalah tenaga dan sudah tak bisa menahan dorongan dari Close akhirnya ia menyerah.


Close langsung menangkup pipinya lalu menatap wajahnya dengan lekat. “Zu ... please ... beri aku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita," lirihnya.


Azzura melepas kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya dan sedikit menjaga jarak.


“Bukankah ini yang kamu inginkan? Bahkan sejak awal pernikahan kita, kamu dengan percaya diri menginginkan aku segera menandatangani surat perjanjian perceraian itu,” sindir Zu. “Tenang saja nggak lama lagi keinginan mu itu akan segera terwujud," sambung Zu sambil menatap suaminya.


“Aku khilaf ...” lirih Close.


“Khilaf? Aku rasa kamu nggak khilaf tapi seolah benar-benar ingin menyingkirkan aku dari kehidupanmu,” sahut Zu. “Apa kamu ingat sebelum kita menikah kamu mendatangiku di rumah ini, mengancam bahkan menyakitiku. Apa kamu ingat sesaat setelah ijab Qabul, kamu berbisik dengan mengatakan pernikahan kita bakal seperti berada di dalam neraka. Dan kamu benar-benar mewujudkan ucapanmu itu. Dengan menyiksaku, menyakiti fisik dan batinku, memaki dan mengumpat semaumu bahkan di depan kekasihmu."


Close terpaku dan tak berkutik. Mendengar penuturan istrinya ia hanya mampu terdiam dan menangis menyesali semua perbuatannya.


Ia melangkah maju menghampiri Azzura dengan derai air mata penuh penyesalan lalu mendekap erat tubuh istrinya.


"Zu ... aku nggak ingin kita berpisah. Aku ingin memperbaiki pernikahan kita. Aku mencintaimu sejak dulu hingga sekarang. Apa kamu nggak mengingat kita pernah dekat ketika masih kuliah di kampus yang sama? Bahkan kamu juga sangat menyayangiku,” kata Close sekaligus mengingatkan Zu kenangan keduanya.


Azzura hanya bergeming, namun tak menanggapi ucapan Close. Hatinya sudah membatu bahkan sudah mati rasa karena ulah suaminya sendiri.


“Aku sudah lama melupakan kenangan itu, sejak kamu mulai membenciku dan sering menghinaku bahkan menghukumku tanpa sebab di depan teman-teman mu,” lirih Zu. “Jujur saja aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba membenciku sampai sedemikian rupa tanpa tahu sebabnya,” sambung Zu lalu mendorong pelan dada suaminya kemudian meninggalkannya di kamar itu.


Lagi-lagi Close hanya bisa menangis menyesali perbuatannya, mendengar penuturan istrinya yang terdengar dingin. Namun sebelum waktu itu tiba, ia sudah bertekad akan berusaha membujuk istrinya dan bisa diberi kesempatan terakhir.


...****************...

__ADS_1


Mumpung hari Senin jangan lupa berikan vote ya. Ngarep banget ✌️😅😅


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya 🙏 Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘


__ADS_2