Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
123. Terbuat dari apa hatinya ...?


__ADS_3

Close yang sejak tadi berada di balik pintu, sengaja tak beranjak karena merasa penasaran apa yang ingin Azzura bahas dengan Johan.


Ia pun membuka sedikit pintu lalu mendengarkan semua percakapan keduanya. Saat mendengar semua uneg-uneg dari ex istrinya itu, ia ikut tersindir sekaligus insecure.


Sepeninggal Azzura, Johan langsung menangis lalu terduduk lemas. Ia merasa dunianya seakan runtuh mendengar semua ungkapkan panjang lebar dari Azzura barusan.


Penyesalan ...


Rasa bersalah ...


Terpojok ...


Tiga kata itu cukup melengkapi dirinya kini. Entah ia harus berbuat apa. Tangisannya seolah tak berarti lagi dan tak sebanding dengan semua perbuatannya pada Nina dan putranya.


Sungguh ia benar-benar takut jika Devan membencinya dan tak akan pernah menganggapnya ada. Seperti yang ia lakukan pada Nina empat tahun yang lalu.


"Nina, Devan ... maafkan aku," ucapnya lirih dengan pandangan menunduk.


Sementara Azzura yang kini sudah berada di depan pintu, langsung memegang pundak Close demi menopang tubuhnya yang terasa lemas.


"Close," sebutnya lirih sambil menunduk. Buliran bening kembali berjatuhan dari pelupuk matanya.


Ia memegang bekas sayatan operasi di perutnya yang terasa nyeri. "Akkhh," rintihnya.


"Zu ... apa kamu baik-baik saja?" Close tampak cemas menatap.


Azzura menggelengkan kepalanya masih sambil memegang pundaknya lalu menempelkan keningnya di dada Close.


Untuk sejenak Close membiarkan Azzura seperti itu. Hingga ia kembali berdiri tegak lalu menatap Close dengan mata berkaca-kaca.


"Ayo, sebaiknya aku mengantarmu pulang," tawar Close lalu memberi isyarat pada Fatur.


.


.


.


Saat dalam perjalanan pulang, Azzura hanya diam membisu dengan pandangan kosong. Bayangan wajah Nina dan Devan masih menghiasi benaknya.


Sedangkan Close yang duduk di sampingnya, sejak tadi terus menatapnya merasa bersalah.


"Zu," tegurnya lalu menggenggam jemarinya.


Azzura langsung menoleh karena terkejut saat jemarinya digenggam oleh ex suaminya.


"Ada apa?" tanyanya lalu perlahan melepas genggaman tangan Close.


"Maafkan aku jika saat ki ..."


"Nggak ada yang perlu dimaafkan Close," sela Zu dengan cepat. "Yang berlalu biarkanlah berlalu, aku sudah melupakan semuanya."


Azzura kembali mengarahkan pandangannya ke depan dengan perasaan sedih.


"Jadikan semua itu pelajaran hidup. Jangan mengulangi kesalahan yang sama jika kamu nggak ingin orang yang kamu cintai meninggalkan dirimu."


"Zu ..." ucap Close.


"Close ... jika suatu saat kamu menikah, hargailah istrimu. Cintai, sayangi dan perlakukanlah ia layaknya seorang ratu. Saat ia mengandung buah cinta kalian, berikanlah perhatianmu serta selalu sempatkan waktumu untuknya meski kamu sibuk ."


"Karena seorang istri akan merasa sangat tersanjung dengan hal-hal kecil yang kamu lakukan untuknya," pungkas Zu.


Close bergeming sambil menatapnya. Hatinya langsung tertohok mendengar ungkapan kata nasehat dari ex istrinya itu.


Sedetik kemudian ia menundukkan pandangan wajahnya dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus dada.


Meski sudah empat tahun berlalu, ia masih belum bisa melupakan Azzura. Entah mengapa sejak berpisah darinya, semangatnya seolah patah dan merasa tak tertarik lagi ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun.


Penyesalan dan rasa bersalah itu selalu menghantui dirinya. Ia takut akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.


Akibatnya ia menjadi sosok pria dingin dan hanya berbicara seperlunya saja. Kecuali jika bersangkutan dengan masalah pekerjaannya.

__ADS_1


.


.


.


Sesaat setelah mobil itu berhenti tepat di depan rumah Azzura, ibu dari empat anak itu sekalian mengajaknya mampir sebentar.


"Close, jika kamu berkenaan mampirlah sebentar dengan asistenmu," tawar Zu lalu membuka pintu mobil.


Close hanya mengangguk pelan lalu mengajak Fatur menyusul Azzura yang kini sudah lebih dulu meninggalkan keduanya.


"Assalamu'alaikum," ucap Zu.


Namun alisnya langsung bertaut saat mendengar suara yang tak asing baginya sedang berbicara dengan seseorang.


"Waa'laikumsalam ... Bundaaa ..." jawab Devan dan Ayya seraya berlari kecil menghampirinya.


Close dan Fatur yang berada di belakangnya langsung tersenyum menatap kedua bocah menggemaskan itu.


"Close, Fatur, ayo masuk. Sepertinya itu suara Yoga," kata Zu.


Setelah itu ia mengajak kedua anaknya ke ruang santai. Dan benar saja setelah berada di ruang santai itu ia mendapati Yoga sedang menggendong putranya.


"Yoga," sapanya lalu menghampirinya dengan sembringah. "Kenapa nggak bilang-bilang jika kamu ingin kemari?"


Yoga langsung terkekeh seraya menatapnya.Tak lama berselang Close juga menyapanya dengan lalu mengulas senyum.


"Yoga, sudah lama?" tanyanya.


"Lumayanlah," jawabnya lalu mengecup baby Faatih yang sedang berada dalam gendongannya.


Close menatap kedua bayi kembar itu bergantian lalu meminta izin pada bi Titin untuk menggendong baby Fattah darinya.


Saat baby Fattah sudah berada dalam gendongannya, matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca.


Ia langsung teringat akan ucapan kejinya kala itu. Seenaknya menuduh Azzura mandul padahal ia sama sekali tak pernah menyentuh Azzura.


"Maafkan ucapan paman saat itu pada bundamu," bisik Close lalu mengecup pipi baby Fattah dengan sayang.


"Yang hangat saja, Zu," sahut Yoga.


Azzura hanya mengangguk lalu menuju dapur dibantu oleh bi Titin.


Ketika kedua berada di dapur, bi Titin langsung mencecarnya.


"Nak Zu, apa kamu beneran ke kantor pria brengsek itu?" Azzura mengangguk pelan.


"Sebenarnya ada apa, sampai-sampai kamu langsung mendatanginya ke kantornya?" tanya bi Titin lagi.


"Hanya memperingatkannya saja, Bi. Soalnya dia mengajukan gugatan hak asuh anak. Dia pikir segampang itu merebut Devan dariku dan mas Genta?! Dia salah orang, Bi. Seperti yang Bibi tahu, sejak masih bayi aku sudah mengadopsi Devan. Apa dia sudah lupa dengan Bibi yang pernah tinggal bersamanya? Dia melupakan hal itu."


Bi Titin mengelus lengannya. Ia tahu benar bagaimana perjuangan dan perasaan wanita berhijab itu. Dengan tulus, penuh kasih sayang ia merawat Devan hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sholeh.


Apapun yang ingin bocah itu lakukan, ia pasti akan meminta pendapat dan izin dari sang bunda terlebih dulu.


"Bibi, akan membantumu dan nggak akan membiarkan Devan jatuh ke tangannya," kata bibi.


"Terima kasih, Bi," ucap Zu dengan suara lirih.


Selang beberapa menit kemudian, kopi buatannya pun akhirnya selesai diseduh. Ia lalu membawa nampan itu ke ruang santai lalu menyuguhkan kopi di hadapan ketiga pria itu.


"Paman!! Kapan kita akan bermain lagi?" celetuk Devan lalu duduk di samping Yoga kemudian mengecup kepala sang adik dengan gemas.


"Kapan yaaa?" Yoga memasang mimik wajah bertanya-tanya. "Boleh request tempat nggak?" tanyanya balik.


Devan mengarahkan pandangannya pada Azzura seolah meminta pendapat di mana tempat yang bagus.


"Dufan saja ... keknya bagus deh, sayang," saran Zu.


"Keknya ... saran bunda bagus deh," timpal Yoga lalu terkekeh.

__ADS_1


"Boleh ... Bunda?" tanya Devan sekalian meminta izinnya.


"Boleh, Sayang," kata Zu.


"Apa paman boleh ikut bermain dengan kalian?" timpal Close dengan seulas senyum.


"Boleh, Paman!" jawab Devan dengan cepat.


Sedangkan Fatur yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, diam-diam merasa kagum akan sosok Azzura.


Pikirnya, meski pernah mendapat perlakuan tak mengenakan dari boss-nya hingga sempat mengalami gangguan mental, namun wanita yang kini berstatus ibu empat anak itu, sedikit pun tak menyimpan dendam. Malahan ia masih mau berteman dengan mantan suaminya itu.


"Terbuat dari apa hatinya? Jika wanita lain yang berada di posisinya, belum tentu dia mau berteman dengan mantannya. Jangankan menjadi teman melihat saja enggan. Pengen juga satu yang seperti dia. Haaah ... si boss pasti sangat menyesal," gumam Fatur dalam hatinya.


Mereka kembali melanjutkan obrolan dan sesekali melempar candaan dan godaan.


Hingga obrolan mereka teralihkan dengan suara mobil Genta. Azzura langsung beranjak dari sofa lalu melangkah hingga di depan pintu sekaligus menyambut suaminya.


"Assalamu'alaikum," ucap Genta memberi salam.


"Waa'laikumsalam, Mas," jawab Zu lalu mencium punggung tangannya.


"Sepertinya lagi ada tamu ya?" bisik Genta.


"Hmm ... Yoga, Close dan Fatur, Mas," balas Zu dengan seulas senyum. "Ngomong-ngomong tumben pulangnya cepat?"


"Nggak apa-apa, emang nggak boleh ya," bisik Genta lagi lalu mencubit hidungnya.


Azzura terkekeh lalu menggandeng lengannya kemudian melangkah bersama ke ruang santai. Dengan senyum ramah ia langsung menyapa ketiga pria jomblo itu.


"Waah ... para pria tampan lagi ngumpul di sini ya? Sayangnya masih jomblo saja," kelakar Genta lalu duduk di samping Close.


Ia menepuk bahunya lalu bertanya, "Bagaimana kabarmu Close?"


"Sepertinya yang kamu lihat, baik dan sehat," jawabnya.


Genta kemudian melirik Yoga lalu meninju kecil lengannya. "Kapan kamu datang? Kok nggak kasih kabar sih?!" protesnya.


"Tadi pagi, Bang," jawab Yoga.


Genta mengangguk kecil lalu mengulas senyum.


"Oh ya, kebetulan saat ini kalian lagi di rumahku, aku sekalian mengundang kalian ke acara aqiqah baby Fattah Faatih besok di hotel Clarion," kata Genta.


"Azzura sudah memberitahuku tadi saat bertemu di kantor Johan," sahut Close.


Seketika Genta menautkan alisnya lalu melirik sang istri dengan tatapan menyelidik. Namun ia menahan diri untuk bertanya pada istrinya.


"Ada urusan apa, Azzura ke kantor pria brengsek itu?!" gumam Genta dalam hatinya.


"Syukurlah. Datanglah besok, aku akan dengan senang hati menanti kehadiran kalian di sana. Oh ya, sebaiknya kalian makan siang saja di sini sebelum pulang," tawar Genta.


.


.


.


.


Masih di ruang kerjanya, Johan tampak sedang berdiri di depan dinding kaca sambil merenung jauh tentang ucapan Azzura beberapa jam yang lalu.


Tatapan mata wanita berhijab itu disertai linangan air mata yang terus mengalir saat berbicara padanya kembali memenuhi benaknya.


Terlihat jelas jika ia sangat menyayangi Nina dan Devan hingga sebegitu marahnya ia padanya. Bahkan bisa membuatnya tak berkutik sekaligus membungkamnya.


"Bagaimana jika putraku sangat membenciku kelak?" gumamnya. "Devan ... maafkan dady."


Ia kembali meneteskan air matan mengingat putra semata wayangnya itu. "Dady memang bersalah padamu dan momy," gumamnya.


"Maafmu sudah terlambat. Harusnya kata maaf itu kamu ucapkan empat tahun yang lalu pada Nina sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya."

__ADS_1


Kalimat yang diucapkan oleh Azzura beberapa jam yang lalu itu, kembali terekam jelas di kepala dan Indra pendengarannya.


...----------------...


__ADS_2