Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...


__ADS_3

Setibanya di rumah, Azzura langsung mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu lalu melepas hijabnya dan meletakkan di atas meja sofa.


Setelah itu, ia berbaring sejenak sambil menatap langit-langit ruangan itu. Karena masih merasakan pusing, perlahan matanya mulai tertutup hingga tak terasa ia malah tertidur di sofa itu.


Lima belas menit berlalu ...


Terdengar bel pintu terus berbunyi, namun sang empunya rumah tak kunjung membuka pintu. Hingga orang yang berada di luar pintu berinisiatif membukanya.


Ketika memutar handle pintu, seketika alis Yoga bertaut. "Kok nggak terkunci?" desisnya lalu memasuki rumah sambil membawa paper bag makanan.


Ketika matanya terarah ke Azzura, ia terpaku sejenak menatap gadis itu tanpa hijabnya. Untuk pertama kalinya ia memergoki Azzura tidak mengenakan hijab.


Perlahan ia menghampiri Azzura, lalu meletakkan paper bag makanan yang dipegangnya ke atas meja sofa. Setelah itu ia berjongkok menatap lekat wajah sendu gadis itu.


Tangannya terangkat seraya mengelus kepala Azzura dengan sayang lalu memanggil namanya.


"Zu," lirihnya masih sambil mengelus kepala Azzura. "Zu," panggilnya lagi hingga panggilan yang ketiga gadis itu belum merespon.


Mungkin karena lelah di tambah lagi kepalanya yang masih sakit, Azzura tetap tidak merespon.


Yoga terus menatap wajah Azzura tanpa ingin melewatkan sedetik pun.


"Berhijab dan tanpa hijab kamu tetap kelihatan cantik. Apa aku pria pertama yang melihat kamu tanpa hijab?" desis Yoga masih sambil mengelus kepala Azzura dengan sayang.


Bagaimana tidak, selama ini ia belum pernah sekalipun melihat Azzura melepas hijabnya meski di dalam rumahnya sendiri. Dan ini adalah pertama kalinya ia melihat gadis itu tanpa hijabnya.


"Zu," panggil Yoga lagi lalu mengelus lengannya.


Merasa seperti ada seseorang yang menyentuhnya, perlahan Azzura membuka matanya lalu memijat keningnya. Ia belum menyadari kehadiran Yoga yang sedang duduk di bawah sofa tepat di sampingnya.


"Zu, apa kamu baik-baik saja?" tegur Yoga.


Azzura langsung melirik. "Yoga," desisnya lalu perlahan mendudukkan dirinya dan tak menyadari jika ia tidak mengenakan hijabnya.

__ADS_1


Ketika matanya terarah ke atas meja, ia langsung merasa panik dan meminta Yoga memejamkan matanya hingga ia selesai mengenakan hijabnya.


Begitu selesai memakai hijabnya, barulah ia meminta Yoga membuka matanya. Yoga hanya tersenyum lucu lalu menggenggam kedua tangannya.


"Maaf ... sejak tadi aku sudah melihatmu," aku Yoga dengan seulas senyum. "Sejak tadi aku membangunkan mu tapi kamu nggak merespon," aku Yoga lagi tanpa melepas genggaman tangannya dari Azzura.


Azzura bergeming lalu menatap tangannya yang di genggam oleh Yoga lalu beralih menatap wajahnya.


"Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Zu.


Yoga menjelaskan apa adanya pada Azzura biar gadis itu tidak salah paham padanya. Setelah menjelaskan semuanya pada Azzura, gadis itu hanya mengangguk lalu memintanya duduk di sofa.


Begitu Yoga duduk di sampingnya, Azzura kembali menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu memijat keningnya.


"Yoga, kamu pria pertama yang melihatku tanpa hijab selain almarhum ayah," kata Zu. "Bahkan Close nggak pernah melihat aku melepas hijabku. Jujur saja aku pun nggak rela jika ia melihat auratku," kata Zu lagi.


Yoga mengulas senyum lalu membatin, "Beruntung banget diriku. Bahkan pria brengsek itu nggak pernah melihatnya tanpa hijab. Andai kamu tahu betapa cantiknya istrimu ini tanpa hijabnya, aku yakin kamu pun nggak akan bisa mengalihkan pandanganmu darinya."


"Zu ... berjanjilah padaku. Jika suatu saat kita terpisah jangan pernah lupakan aku," lirih Yoga seraya menggenggam kembali jemari lentik gadis itu.


Azzura langsung menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil mengangguk lalu balas mengelus tangan Yoga.


"Aku nggak akan pernah melupakanmu Yoga. Sejak awal kamulah satu-satunya pria yang peduli padaku bahkan rela menjadi suami bohongan demi melihat ibu bahagia," lirih Zu bersamaan dengan dua kristal bening yang langsung jatuh dari pelupuk matanya.


"Jika suatu saat takdir akan menyatukan kita dalam pernikahan yang sakral, apakah kamu mau menerimaku dengan ikhlas menjadi suamimu yang sebenarnya?" tanya Yoga dengan suara lirih.


Azzura hanya bergeming, bibirnya semakin bergetar dadanya seolah bergemuruh dan ingin kembali menumpahkan air matanya sebanyak-banyaknya mendengar ucapan tulus dari Yoga.


Entah ia harus menjawab apa. Saat ini yang ia butuhkan adalah sedikit ketenangan, selebihnya ia akan memasrahkan pada takdirnya.


Karena Azzura tak kunjung menjawab, Yoga malah memeluknya sembari mengelus punggungnya. Ia mengerti tidak sepantasnya ia bertanya mengenai hal pribadi apalagi gadis itu baru saja kehilangan ibunya.


"Maaf ... jika ucapanku mengusik perasaanmu. Aku nggak akan memaksa jika kamu nggak ingin menjawabnya sekarang," bisik Yoga dengan perasaan bersalah karena membuat Azzura menangis.

__ADS_1


Dalam dekapan sang psikolog, Azzura menggelengkan kepalanya lalu balik berbisik, "Beri aku waktu untuk menjawabnya. Mungkin nggak sekarang tapi akan ada waktunya."


"Berjanjilah padaku, Zu," lirih Yoga lalu melonggarkan dekapannya kemudian mengusap air mata Azzura.


Azzura hanya mengangguk. Setelah itu, Yoga mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya yaitu sebuah kotak perhiasan.


"Simpanlah ini sebagai kenang-kenangan dariku. Kita nggak akan tahu apakah kita akan terus bersama di kota ini ataupun tidak," kata Yoga.


Entah mengapa sejak memikirkan ucapan Azzura beberapa hari yang lalu, ia merasa jika gadis itu benar-benar akan meninggalkan kota J.


Itulah mengapa ia sengaja memesan sebuah kalung untuk Azzura sebagai kenang-kenangan supaya gadis itu tetap akan mengingatnya. Bahkan ia berharap takdir akan benar-benar mempersatukan ia dan Azzura dalam ikatan pernikahan.


Azzura kembali menatap Yoga lalu ke kotak perhiasan itu lalu menangis.


"Zu, jangan menangis," pinta Yoga dengan seulas senyum meski hatinya juga sedang menangis dan seakan tak rela jika Azzura benar-benar meninggalkanya. "Kamu wanita kuat, tegar dan aku percaya kamu pasti bisa melewati masa-masa sulitmu. Baik hari ini, esok dan seterusnya," sambung Yoga.


"Terima kasih, Yoga," ucap Zu.


Setelah beberapa menit saling menguatkan dan merasa perasaannya mulai tenang. Azzura meraih paper bag makanan yang masih berada di atas meja lalu mengajak Yoga ke dapur.


Ia pun mulai menata makanan itu lalu mempersilahkan Yoga terlebih dulu menyantap makanan itu, karena ia ingin ke kamar dan akan melaksanakan shalat zhuhur yang sudah terlambat baginya.


Beberapa menit kemudian sepeninggal Azzura, tak lama berselang terdengar suara mobil dari arah halaman rumah Azzura.


Yoga yang sedang berada di meja makan tampak sedang menikmati makanannya tanpa tahu siapa gerangan sang pemilik mobil.


Pikirnya mungkin itu hanya suara mobil milik tetangga Azzura yang hanya bersebelahan dengan rumah Azzura.


Seolah tak ingin ambil pusing, Yoga tetap menyantap makanannya dengan santai sambil menunggu Azzura selesai shalat.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2