Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 17 : Manusia laknat ...


__ADS_3

Sementara di kamar rawat bu Isma, Azzura sedang menyelimuti ibunya lalu mengecup pipinya.


"Ibu, aku pulang dulu. Besok aku akan ke sini lagi," bisiknya. Setelah itu, ia meraih paper bag-nya lalu meninggalkan kamar rawat ibunya.


Setelah berada di parkiran, ia segera mengenakan helmnya dan perlahan meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.


Tak butuh waktu yang lama, akhirnya ia tiba di rumahnya karena jalanan mulai senggang di jam-jam istirahat tepatnya arah jarum jam telah menunjukkan pukul 22.30 malam.


Setibanya ia di halaman parkir, lagi-lagi ia menghela nafasnya dengan kasar ketika mendapati mobil suaminya sudah terparkir rapi di halaman parkir rumah.


Setelah memarkir motornya, ia terlebih dulu memberi salam. Di jawab ataupun tidak dia tidak masalah. Pikirnya salamnya tidak bakalan di jawab oleh suaminya.


Ketika langkah kakinya memasuki rumah, gendang telinga langsung di sapa dengan suara-suara aneh yang saling berbalas dari arah lantai dua.


Azzura mendongak, matanya menyapu ke atas dan mendapati pintu kamar Close tidak tertutup rapat. Entah itu di sengaja atau tidak hanya suaminya yang tahu.


Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas. Suara lenguhan, desa*han dan erangan saling bersahutan.


Bagaimana tidak, lagi-lagi Close dan Laura sedang bermain kuda-kudaan, bergulat panas tanpa memperdulikan kehadiran Azzura sang istri sah.


Sedangkan Azzura merasa sangat jijik mendengar suara kedua insan itu yang sedang melayang ke nirwana merasakan nikmatnya surga dunia. 🀭✌️


Seketika Azzura merasakan perutnya mual dan langsung berlari ke arah dapur dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.


Sontak saja, suara Azzura mengganggu pergulatan panas Close dan Laura. Karena merasa jengkel, Close semakin mempercepat permainannya dan menuntaskan hasratnya lebih cepat.


Erangannya langsung menggema memenuhi kamarnya. Begitu ia menuntaskan hasratnya, dengan cepat ia meraih handuk lalu melilitkan di pinggangnya.


Ia pun segera menuruni anak tangga lalu menghampiri Azzura yang terlihat masih memuntahkan isi perutnya.


Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Azzura mencuci mulutnya lalu berkumur. Baru saja ia akan berbalik, Close langsung menarik rambutnya lalu mendorongnya dengan keras hingga perutnya membentur meja.


"Aakhh ... Close ..." rintih Zu karena kesakitan sambil memegang perutnya.


Merasa belum puas, dua tamparan keras kembali mendarat di kedua pipi mulus Azzura.


Plak ... plak ...


"Katakan!! Anak siapa yang sedang kamu kandung!!!" bentak Close lalu kembali menarik rambut Azzura.


"Lepasin ..." lirihnya sambil memegang tangan Close.


"Kamu belum menjawabku!! Cepat katakan kamu hamil anak siapa, hah!! Apa kamu menikah denganku hanya ingin menjebakku!!" bentak Close lalu kembali mendorong Azzura hingga gadis itu jatuh tersungkur.


"Aku, nggak sehina itu Close. Aku nggak hamil aku hanya mual," lirihnya.


Namun Close yang seperti orang kesetanan tidak mempercayai ucapan Azzura dan malah menginjak perut Azzura.


"Aakkkh ... Close ... sa- sakit," keluhnya terbata sambil memegang kaki Close yang berada di atas perutnya.

__ADS_1


"Sakit????!! Biarkan janin yang ada di perutmu ini mati!! Bahkan aku tidak sudi dia hidup," ucap Close begitu kejamnya.


Apa yang sedang ia pikirkan tentang Azzura, di tambah lagi mengingat gadis itu dekat dengan asistennya semakin membuatnya naik pitam. Begitu piciknya ia berpikir sehingga menyakiti Azzura sedemikian rupa.


Mendengar ucapan Close barusan, Azzura tersenyum sinis dan kembali menatap tajam mata suaminya.


Tatapan tajam Azzura semakin membuatnya jengkel dan semakin menekan kakinya, hingga membuat Azzura kembali mengerang kesakitan.


"Aakhh ..." rintihnya dengan wajah memerah menahan sakit. "Sssssttttt ..." Lagi-lagi Azzura meringis panjang lalu meringkuk memegang perutnya setelah Close menarik kakinya dari perutnya


Close berjongkok lalu mencengkeram pipi Azzura yang tampak masih memerah akibat tamparan kerasnya tadi.


"Jika sampai kamu hamil, aku tak segan-segan akan membunuh janinmu bahkan akan berbuatmu lebih sakit dari ini," ancamnya dengan rahang mengetat geram.


Azzura hanya bergeming dan hanya bisa meringis kesakitan.


Laura yang sejak tadi menyaksikan Azzura di siksa oleh suaminya kembali tersenyum puas.


"Rasain!! Siapa suruh kamu sudah berani mengganggu kesenangan kami," ucapnya lalu tertawa puas.


Saat Close menghampirinya ia langsung memeluk prianya lalu menoleh ke arah Azzura dengan tatapan dan senyum mengejek.


Sedangkan Azzura, ia masih meringkuk kesakitan di dapur dan perlahan merangkak menghampiri pintu kamarnya.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berdiri lalu memutar handle pintu dengan tangan bergetar.


Air matanya langsung tumpah begitu derasnya, ia terisak sambil membekap mulutnya. Sakit akibat pukulan dan sakit yang ia rasakan di perutnya begitu terasa. Namun yang paling membuatnya sakit adalah ucapan kejam, keji dan tidak berperikemanusiaan dari suaminya serta perbuatan terlarang yang lagi-lagi mereka lakukan di rumah mereka, cukup menyakitkan hatinya.


"Kalian berdua memang manusia laknat, menjijikan!!" makinya dengan tersengal-sengal.


Lama ia duduk sambil menangis sebelum akhirnya ia meraih handuk dan pakaiannya lalu ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian ....


Waktu kini menunjukkan pukul 12.30 malam.


Azzura kembali ke dapur lalu merebus air untuk membuat kopi capuccino kesukaannya. Setelah selesai menyeduh kopi, ia pun membuka kulkas, memilih bahan makanan untuk di masak.


Tanpa memperdulikan suami dan gundiknya yang kembali bermesraan di ruang tamu. Azzura tetap mengolah bahan makanan dan memilih membuat capcay untuk dirinya sendiri.


Dengan cekatan ia mulai memasak dan sesekali menyeruput capuccino-nya.


Sontak saja aroma kopi dan bau masakan Azzura memenuhi ruangan dan seketika membuat pasangan haram itu merasa lapar.


"Harum kopi dan bumbu masakannya membuatku lapar saja ..." gumam Close dalam hatinya lalu melirik Laura.


Sedangkan Azzura, setelah masakannya matang, ia kembali mencuci wadah dan kembali menyusun di tempat semula. Setelah itu, ia membawa makanan dan kopinya masuk ke dalam kamarnya.


Ia pun menyantap capcay buatannya sendiri lalu meraih ponselnya yang bergetar.

__ADS_1


"Yoga," lirihnya, ia hanya membiarkan ponselnya terus bergetar hingga berhenti.


Ia kembali melanjutkan makannya hingga tuntas lalu menghabiskan kopinya. Setelah itu ia duduk sebentar selama beberapa menit.


"Azzura ... ingat, sesakit apapun siksaan dari pria keji itu jangan pernah meneteskan air matamu," peringat Zu pada dirinya sendiri lalu berdiri dan mematikan lampu kamarnya sebelum akhirnya ia berbaring di kasur lipatnya.


"Aakkh kepalaku ..." keluhnya merasakan sakit lalu mengusap perutnya yang juga terasa sakit bahkan tembus hingga ke belakangnya.


Ia memejamkan matanya dan beberapa menit kemudian akhirnya ia tertidur dan tak mengingat apapun lagi.


Sedangkan Close dan Laura keduanya kembali ke kamar dan melanjutkan tidur di kasur empuk yang sangat jauh berbeda dengan kasur Azzura.


Satu jam kemudian ...


Laura tampak sudah tertidur sambil memeluk Close. Sedangkan yang di peluk masih belum bisa memejamkan matanya.


Penyiksaan yang baru saja ia lakukan pada Azzura kembali membayanginya. Perlahan ia melepas pelukan Laura dan meraih rokok beserta pemantiknya.


Setelah membakar rokoknya ia memilih turun ke lantai satu lalu ke pinggir kolam renang. Lagi-lagi ia teringat kejadian semalam saat ia menceburkan istrinya ke dalam kolam renang itu bahkan menahan kepalanya untuk memberi efek jera.


Ia menyesap rokoknya dalam-dalam lalu menghembus asapnya dengan kasar. Setelah menghabiskan satu batang rokok, ia kembali ke dapur dan lagi-lagi langkahnya tertahan di depan pintu kamar Azzura.


Ia menatap pintu itu lalu berbisik, "Apa dia baik-baik saja?" Ia sedikit merasa khawatir.


Close memutar handle pintu dan ingin melihat keadaan Azzura, namun ia harus merasa kecewa karena pintu itu terkunci.


Close tertunduk lesu mengingat kejadian barusan, betapa beringasnya ia menyakiti Azzura tanpa belas kasihan.


Satu kata yang menyelimuti dirinya kini.


Menyesal ...


Namun sudah terlambat, karena kejadian barusan cukup membuat Azzura benar-benar merasakan sakit. Bukan cuma sakit fisik tapi juga batinnya.


Bukan orang tuanya yang menyakitinya dengan tangan yang telah merawatnya sejak dari bayi hingga ia dewasa melainkan suaminya yang tak memiliki hubungan darah dengannya.


Miris ....


Satu kata yang kini mewakili Azzura.


Azzura tetaplah Azzura, wanita bermata indah, lembut dan ramah dan sabar. Bukannya ia tak mampu membalas semua perbuatan suaminya padanya.


Namun ia masih menghargai dan menghormati suaminya sebagai imamnya dan masih ada hati dan perasaan yang harus ia jaga yaitu, ibu, mama dan papa mertuanya.


Namun entah sampai kapan Azzura mampu bertahan. Kesabaran seseorang pasti ada batasnya, akan ada di titik lelah dan pada akhirnya akan memilih menyerah.πŸ‚


...🌿................🌿...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2