Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...


__ADS_3

Dari kejauhan, Close masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri dan masih betah memperhatikan istrinya yang sedang memeluk pak Prasetya.


Sementara Yoga yang sedang menghampiri ayahnya, tampak terenyuh tak kala mendengar suara isakkan Azzura dalam dekapan sang ayah.


"Ayah," lirihnya seraya menyentuh pundaknya.


Ayah hanya mengedipkan kedua matanya sambil mengangguk. Mengisyaratkan supaya ia tak perlu khawatir.


Setelah beberapa menit menumpahkan air matanya, ia mendongak menatap wajah paman Pras dengan mata yang masih berair.


"Nggak apa-apa, Nak, paman mengerti," bisiknya lalu mengusap sisa air mata Azzura yang masih membasahi kedua pipinya, lalu kembali menyandarkan kepala gadis berhijab itu di dadanya lalu membenamkan dagunya di puncak kepalanya.


"Ayah ..." sebutnya dengan sesenggukan bahkan seolah enggan melepas dekapannya.


Rindu ....


Itulah yang mewakili segenap jiwa raganya akan sosok sang ayah yang sudah lama meninggal. Namun kini terbayarkan ketika ia bertemu lagi dengan pak Prasetya.


Untuk sejenak keheningan kembali tercipta, yang terdengar hanya suara sesenggukan Azzura yang terdengar lirih.


Setelah merasa cukup tenang, barulah Azzura melepas dekapannya dari paman Pras.


"Sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya paman lalu mengulas senyum.


Azzura hanya mengangguk lalu melirik Yoga yang sedang menatapnya.


"Maaf ... aku sudah seperti gadis yang nggak tahu diri. Menangis dan memeluk suami orang," kata Zu. "Jika istri paman melihatku memeluk suaminya seperti tadi, mungkin aku langsung di jambak lalu diteriaki pelakor," sambungnya.


Suasana yang tadinya sedih seketika berubah dan membuat Yoga dan paman Pras tertawa lucu.


"Istri paman nggak seperti itu orangnya, Nak," kata paman dengan seulas senyum lalu merangkulnya dan Yoga secara bersamaan.


"Ayo, kita duduk dulu," cetus paman.


Ketiganya pun duduk bersama di satu bangku yang sama. Namun Azzura sedikit penasaran, ada hubungan apa Yoga dengan paman Pras. Ia juga merasa jika Yoga memiliki wajah yang mirip dengan pria tampan paruh baya itu.


Apa Yoga, putra paman Pras? Wajahnya pun ada kemiripan.


"Azzura, paman sekalian ingin mengenalkanmu dengan putra paman," kata paman sekaligus membuka suara.


"Maksud Paman, pria yang sedang duduk di samping paman itu ya?" tanya Zu lalu melirik Yoga.


Paman menautkan alisnya lalu melirik keduanya bergantian.

__ADS_1


"Apa kalian sudah saling mengenal?" paman balik bertanya.


"Iya, Yah," timpal Yoga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.


"Syukurlah jika kalian sudah saling kenal. Jadi ayah bisa bernafas lega," sahut ayah lalu menggenggam tangan Yoga dan Azzura bersamaan. "Apa kalian tahu? Sudah lama ayah ingin menjodohkan kalian berdua. Bahkan sewaktu ayah Azzura masih hidup," lirih paman mengenang sahabatnya itu, lalu melirik sang putra.


Baik Azzura maupun Yoga keduanya cukup terkejut mendengar penuturan pria paruh baya itu.


"Jadi benar? Gadis yang ayah maksud waktu itu adalah Azzura?! Bodohnya diriku nggak mengiyakan saja permintaan ayah saat itu," batin Yoga sambil tertunduk.


Pak Prasetya menghela nafas lalu melepas genggaman tangannya.


"Ngomong-ngomong, apa kabar dengan ibumu, Nak? Sudah lama sekali paman nggak bertemu dengan beliau. Maaf, jika selama ini paman sudah nggak pernah mampir ke rumahmu. Waktu paman lebih banyak habis di armada kapal lautan lepas," jelas paman seraya mengelus kepala Azzura.


Entah mengapa ia sangat menyayangi gadis itu. Bahkan hatinya selalu saja menghangat ketika bersamanya.


"Paman, saat ini ibu sedang sakit bahkan sudah enam bulan terakhir ibu dirawat di rumah sakit ini," jelas Zu dengan suara lirih.


Paman Pras cukup terkejut mendengar ungkapan Azzura. "Sakit? Sakit apa, Nak?" cecar paman.


"Kanker payudara stadium akhir. Ibu sudah dioperasi beberapa kali, namun aku melihat ibu nggak ada perubahan," jelas Zu lagi dengan air mata yang kini mulai berjatuhan. "Paman, aku takut jika ibu juga pergi meninggalkan aku," sambungnya lagi lalu kembali menangis.


"Azzura," lirih paman lalu kembali menyandarkan kepalanya di dadanya sembari mengelus punggungnya.


"Ayah ..." lirih Yoga lalu memegang pundak sang ayah. Seketika Ayahnya menoleh dengan kening mengerut.


"Yoga, Zu," sebut ayah. "Apa kalian menyembunyikan sesuatu pada ayah?" cecar paman.


Tak ingin menyembunyikan sesuatu pada paman Pras Azzura menyeka air matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaannya sebelum menceritakan semuanya pada paman Pras.


Lagi-lagi dari kejauhan, Close yang sejak tadi memperhatikan ketiganya tampak semakin membuat darahnya mendidih. Namun sekaligus membuatnya sedikit merasa iba ketika melihat istrinya yang sejak tadi menangis.


Akhirnya ia memilih kembali ke parkiran dan memutuskan menunggu istrinya di dalam mobil.


"Siapa pria paruh baya itu? Azzura bahkan tampak nyaman bersamanya dan nggak menolak ketika dipeluk olehnya. Lalu Yoga, tampak biasa saja. Apa Yoga tahu jika Azzura menjalin hubungan khusus dengan pria paruh baya itu?" gumam Close menerka-nerka dengan perasaan getir.


Kembali ke Azzura, Yoga dan pak Prasetya.


"Paman, semua biaya operasi dan perawatan ibu ditanggung oleh mertuaku," lirih Zu.


"Mertua? Kapan kamu menikah? Jangan becanda kamu, Nak," cecar paman seolah tak percaya.


"Azzura benar, Yah," timpal Yoga sambil menunduk. "Sebenarnya ayah mendapat undangannya, tapi ayah dan bunda saat itu ada pertemuan dengan petinggi dari satuan TNI di luar kota," jelas Yoga.

__ADS_1


Paman Pras hanya mengangguk kepalanya namun tetap saja ada yang mengganjal di hatinya.


"Paman," lirih Zu lalu menggenggam tangan paman Pras. "Sebenarnya aku menikah karena terpaksa. Saat itu, aku bingung dan nggak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Akhirnya aku coba meminjam uang pada momy Lio," kata Zu.


"Lalu?"


"Momy Lio malah menawariku supaya mau menikah dengan putranya saat itu. Karena aku terdesak dan nggak punya pilihan lain, akhirnya aku menyetujuinya," jelas Zu dengan jujur.


Untuk sejenak paman Pras bergeming lalu sedetik kemudian ia melirik sang putra.


"Bukankah momy Lio itu, momy dari boss mu, Yoga?" selidik sang ayah.


"Iya, Yah," jawab yoga dengan lirih.


"Apa itu artinya kamu adalah menantu dari keluarga Kheil Brandon?" tanya paman Pras lalu mengalihkan pandangannya ke Azzura.


Azzura hanya bisa mengangguk sambil menangis..


"Apa kamu bahagia menikah dengan Close?" cecar paman Pras lagi.


Azzura menggelengkan kepalanya. "Paman, nggak ada pernikahan terpaksa yang membuat seseorang itu bahagia. Yang ada hanya penderitaan batin," lirih Zu sambil menangis.


"Yoga, kini ayah mengerti semuanya. Bisa jelaskan apa yang membuatmu sangat marah pada Close? Bahkan nggak segan mengancamnya tadi," selidik ayah yang ingin mendengar penjelasan dari putra bungsunya itu.


"Yah ... Close sering melakukan KDRT pada Azzura bahkan itu sudah berlangsung sejak awal pernikahan mereka sampai sekarang," jelas Yoga dengan suara bergetar. "Parahnya, itu sampai berdampak pada psikis Azzura. Jika saja bunda nggak meminta bantuan dariku untukmu memberinya bimbingan konseling, aku juga nggak akan pernah tahu jika Azzura selama ini mengalami KDRT dari pria bajingan itu," jelas Yoga lagi dengan perasaan geram bercampur amarah.


Mendengar ungkapan dari putranya, seketika membuat darah pak Prasetya seolah mendidih.


Ia bergeming lalu memeluk gadis itu yang sedang menangis sesenggukan.


"Ayah, tolong rahasiakan semua ini pada ibunya Azzura. Maafkan kami berdua karena harus berbohong jika aku adalah suami Azzura," lirih Yoga seraya merangkul bahu sang ayah. "Saat itu, Close belum pernah menjenguk mertuanya sama sekali. Sehingga aku berinisiatif menjenguk ibu, tapi ibunya Azzura langsung mengira jika aku adalah suaminya," pungkas Yoga lalu menyeka air matanya.


Ayah hanya mengangguk. "Baiklah, ayah akan merahasiakan ini dari bu Isma," kata ayah. "Azzura, Yoga, tenangkan diri kalian dulu. Setelah itu ajak ayah bertemu dengan bu Isma," cetus ayah dengan mata berkaca-kaca.


"Azzura, kenapa kamu nggak menghubungi paman waktu itu?"


"Bukannya nggak mau Paman, tapi ponsel lamaku hilang. Jadi semua kontak orang-orang penting hilang semua. Sekarang aku pakai kartu baru lagi?" jelas Zu.


"Ya sudah nggak apa-apa, nanti paman minta nomormu. Sebaiknya sekarang kita menjenguk ibumu dulu," ajak paman Pras.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2