
Genta dan Azzura masih betah berada di teras balkon hotel. Sebelum akhirnya ia mengajak Azzura kembali ke kamar lalu menutup pintu.
Sesaat setelah keduanya duduk di sofa, Azzura terus memeluk Genta. Ia jadi teringat saat istrinya itu sedang hamil anak pertama.
"Sayang ... jika tebakan mas nggak salah, sepertinya kamu hamil lagi deh," bisik Genta. "Apa kamu sudah kedatangan tamu bulanan mu bulan ini?" tanyanya.
Sejenak Azzura bergeming dalam dekapan suaminya. Sebenarnya sudah telat, Mas," aku Zu lalu mendongak. "Besok aku akan beli tespek setelah kita selesai kunjungan."
"Sayang," bisik Genta.
"Ada apa Mas," sahut Zu seraya mengelus rahang sang suami.
"Mas sebenarnya lagi pengen," bisik Genta menggoda.
Azzura terkekeh lalu memeluknya. "Itu sama sama saja kita akan membangunkan si kembar, Mas. Ntar mereka mengira lagi gempa." Azzura melepas pelukannya lalu mengecup singkat bibir suaminya.
Keduanya langsung tertawa merasa lucu. "Bagaimana jika di sofa ini saja. Jadi nggak akan menganggu tidur anak-anak," bujuk Genta.
Seketika Azzura tertawa lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Genta. Menghirup aroma tubuh suaminya itu sambil mengusapnya lembut.
"Apa Mas sungguh-sungguh dengan ucapan Mas barusan?" tanya Zu sekaligus merasa gemas. "Ternyata fantasi se*ks Mas liar juga ya."
Genta menggelengkan kepalanya seraya berbisik, "Kita bebas melakukannya dengan cara kita sendiri. Bebas berfantasi liar selagi itu dengan pasangan halal sendiri. Jadi ... mau mencobanya?" goda Genta.
"Nggak ah, Mas. Ntar suara desa*han kita mengganggu anak-anak."
Lagi ... Azzura memberi alasan sekaligus menolak namun merasa gemas pada suaminya.
"Jika ingin, ntar di rumah saja. Mau gaya apa juga bebas. Nggak ada yang lihat dan nggak mengganggu anak-anak. Aman, damai, nyaman dan nikmat," pungkas Zu lalu terkekeh.
"Mas bakal tagih janjinya. Nggak boleh menolak. Pokoknya harus siap," peringat Genta dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Zu.
.
.
.
Seminggu berlalu ...
Sebelum kembali ke kota M, Yoga sempat mengajak Azzura dan Genta berkeliling di kota A bersama Fattah Faatih.
Sebelum akhirnya keduanya kembali pamit pulang ke kota M. Tanpa terasa sudah seminggu berlalu sejak kepulangan Genta dan Azzura bersama sang putra kembar.
Seperti janjinya pada sepupunya, siang harinya ia tetap menghadiri acara aqiqah putri Daffa dan Kiya.
Tak sendirian ia, mengajak Rissa untuk menemaninya ke acara aqiqah itu. Sebelumnya ia bingung ingin memberikan hadiah apa yang cocok untuk ponakannya itu.
Akhirnya ia menghubungi Rissa untuk menemaninya membeli hadiah. Tadinya ia ingin mengajak Syakila membeli hadiah, namun gadis itu juga sibuk di tempat acara.
Secara Syakila adalah sepupu dari istri Daffa. Setelah mendapat hadiah yang cocok, akhirnya Yoga sekalian mengajak Rissa ke acara tasyakuran ponakannya itu.
"Kak Kiya, kak Daffa, selamat ya," ucapnya dengan sembringah menatap putri cantik dalam gendongan Kiya. "Ini buat Fayya ,Kak, maaf aku nggak bisa memilih hadiah, syukurnya ada Rissa yang menemani tadi."
"Nggak apa-apa, hadiah nggak penting-penting amat yang penting kamu hadir," bisik Daffa lalu tersenyum.
"Kak, selamat ya," ucap Rissa sekaligus meminta izin untuk menggendong baby Fayya.
Daffa mengajak Yoga sedikit menjauh dari istrinya dan Rissa. Senyumnya mengartikan sesuatu.
"Ga ... apa kamu yakin nggak ada hubungan apa pun di antara kalian? Apa benar kamu yakin dia sebatas pasien dan teman tanpa memiliki perasaan apa pun pada gadis itu?" cecar Daffa memberondongnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Sejenak Yoga bergeming sambil mengarahkan pandangannya ke arah Rissa yang sedang menggendong baby Fayya.
__ADS_1
Selama setahun lebih berinteraksi dengan gadis itu sebagai psikolog dan pasien, tak mungkin jika Yoga dan Rissa tak memiliki perasaan.
Apa lagi hubungan baik antara keduanya terus berlanjut setelah Rissa keluar dari rumah sakit itu.
Sedangkan antara Syakila dan Yoga akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama jika ada waktu luang saja.
"Yoga?!" sebut Daffa seraya menepuk pundak sang sepupu. "Kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Mau tahu apa mau tahu banget?" kata Yoga tak langsung menjawab pertanyaan dari Daffa. "Jika sudah waktunya kakak bakalan tahu kok," sambungnya dengan ambigu.
Tak lama berselang Zana menghampiri keduanya disusul oleh Syakila.
"Ayah, Paman," panggil gadis mungil itu.
"Zana," sahut Yoga lalu berjongkok kemudian menggendong putri sambung Daffa itu. "Oh ya, Kak. Apa kak Faz belum datang?"
"Mungkin sebentar lagi," kata Daffa.
"Sya," tegur Yoga dengan seulas senyum. "Sudah lama?"
"Lumayanlah ... dari semalam aku di sini bantu-bantu kak Kiya. "Kamu sendiri?" Sya balik bertanya.
"Aku baru saja nyampe bareng Rissa," jelas Yoga seraya mengarahkan dagunya ke arah gadis blasteran itu.
Lagi ... hatinya serasa tercubit saat Yoga datang bersama gadis itu.
"Tadinya aku ingin mengajakmu mencari hadiah yang cocok untuk baby Fayya ... tapi aku nggak tega soalnya kamu juga lagi sibuk, jadi aku ajak Rissa saja," jelas Yoga lagi.
"Benarkah?" tanya Sya dengan senyum yang dipaksakan. Ia melirik Rissa yang sedang asik mengobrol dengan kakak sepupunya sambil menggendong baby Fayya.
"Sya ... menurut mu ... aku dan Rissa cocok nggak?" tanya Yoga dengan spontan tanpa memikirkan perasaan Syakila.
Mendengar pertanyaan spontan dari Yoga, Syakila merasa hatinya seperti ditusuk ribuan jarum.
Ingin marah, cemburu tapi pada siapa? Karena sejatinya Yoga bukanlah siapa-siapanya melainkan hanya sebatas teman.
"Apa seperti ini yang dikatakan cinta bertepuk sebelah tangan?" tanyanya dalam hati. "Nggak mungkin juga aku mengutarakan perasaan ku yang sebenarnya padanya."
Tik ... tik ... tik ...
Yoga menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Syakila lalu terkekeh.
"Ditanya malah melamun," ledek Yoga lalu mencubit hidung Syakila.
Lagi-lagi Syakila hanya bisa tersenyum dengan terpaksa.
"Zana ...?"
"Udah dibawa sama kak Daffa ... tuh?" Yoga mengarahkan telunjuknya ke arah Daffa dan Faz ayah kandung dari Zana.
"Ehem ... ehem ... ehem ..."
Syakila dan Yoga langsung berbalik.
"Arash?!" kata Yoga dan Syakila serentak. "Waaah ... apa aku ketinggalan informasi tentang kalian berdua?" selidik Arash yang tiba-tiba saja muncul.
Yoga menggedikkan bahunya lalu mengarahkan pandangannya ke arah Rissa.
"Tujuanku membawamu ke sini bukan hanya ingin menemani ku saja. Tapi sekalian untuk menguatkan mentalmu supaya ingatan kelam itu perlahan akan menghilang. Kini saat melihatmu bisa berbaur dengan tamu-tamu yang hadir, aku semakin yakin jika kondisi mentalmu semakin membaik," batin Yoga dengan senyum tipis.
Puk ...!!
"Ga, ada apa sih? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Arash sekalian menyadarkan Yoga.
__ADS_1
"Ah nggak apa-apa. Sya ... Arash aku tinggal sebentar ya. Kalian lanjut saja obrolannya," kata Yoga lalu mengayunkan langkahnya ke arah Rissa.
Sesaat setelah menghampiri Rissa, Kiya mengulas senyum menatap Yoga dan Rissa bergantian.
"Yoga, pacarnya diajak makan dulu," tawar Kiya lalu memberi isyarat pada Risa jika ia ingin menggendong baby Fayya.
Sedangkan Rissa dan Yoga saling berpandangan lalu tersenyum merasa lucu. Lucu karena keduanya dikira pasangan kekasih.
"Jangan protes, anggap serius juga nggak apa-apa kali," bisik Yoga tepat di telinga Rissa.
Mendengar ucapan yang lolos begitu saja dari bibir Yoga, Rissa langsung menghadiahinya satu cubitan di perut liatnya.
"Ssssttt ... sakit tahu?" bisik Yoga lagi sambil mengusap perutnya.
"Lagian ... jadi orang kok, narsis banget," balas Rissa lalu terkekeh. "Sebaiknya kita makan dulu. Habis itu tolong antar aku ke kampus."
"Siap Bu dosen," ucap Yoga.
Keduanya sama-sama melangkah ke arah meja prasmanan untuk mengambil makanan. Sedangkan Syakila dan Arash hanya bisa memperhatikan keduanya.
"Sya, apa Yoga dan gadis itu ada hubungan spesial?" tanya Arash.
"Kenapa kamu bertanya padaku. Tanyakan saja pada Yoga. Bukankah kalian sering bertemu di tempat kerja kalian?" sarkas Sya dengan perasaan dongkol.
Tanpa permisi, ia memilih meninggalkan Arash yang masih diselimuti dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
"Aneh! Aku kan cuma bertanya, salahnya di mana coba? Lalu ... kenapa dia jadi kesal begitu?" gumam Arash sambil geleng-geleng kepalanya.
Tiga puluh menit kemudian ...
Yoga dan Rissa kembali berpamitan pada Daffa dan Kiya. Ia sempat mencari keberadaan gadis itu namun tak menemukannya.
Karena mengejar waktu untuk mengantar Rissa ke kampus, akhirnya keduanya pun meninggalkan tempat acara tasyakuran yang masih berlangsung.
Ketika dalam perjalanan menuju kampus, senyum Rissa terus terukir di wajah cantiknya. Benaknya masih membayangkan wajah mungil baby Fayya yang begitu menggemaskan baginya.
"Ada apa? Kelihatannya bahagia banget sampai senyam senyum sendiri?" tanya Yoga seraya meliriknya.
"Nggak apa-apa, hanya saja aku merasa gemas pada baby Fayya," aku Rissa.
Yoga hanya mengangguk pelan sekaligus merasa senang.
Setibanya di depan kampus, Rissa mengucapkan terima kasih lalu akan membuka pintu mobil namun tertahan saat Yoga memegang tangannya.
Sontak saja Rissa langsung menoleh lalu mengerutkan keningnya menatap Yoga.
"Ada apa?" tanya Rissa.
"Hubungi aku jika kamu sudah selesai mengajar. Aku akan menjemputmu soalnya aku khawatir jika kamu pulang sendirian," ucap Yoga dengan lirih.
Mendengar ucapan Yoga barusan, sejenak Rissa bergeming sambil menatap lekat wajah Yoga dengan perasaan terharu.
"Segitu khawatir kah dirimu padaku hingga kamu takut jika terjadi sesuatu padaku? Perasaan macam apa sebenarnya yang kamu miliki padaku? Apakah CINTA atau hanya sekedar SIMPATI dengan keadaan dan masa kelam yang pernah aku alami?"
Pertanyaan itu hanya bisa Rissa ungkapkan dalam hatinya.
"Clarissa Saraswati Imanuel, apa kamu mendengarkan ku?" tanya Yoga sekaligus menyadarkannya.
Gadis itu menundukkan pandangan wajahnya sambil mengangguk pelan.
"Yes ... i hear you," ucapnya pelan lalu lanjut membuka pintu mobil. Sesaat setelah berada di luar mobil, ia melambaikan tangannya.
Begitu mobil Yoga sudah mulai menghilang dari pandangan matanya, barulah ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kampus.
__ADS_1
...----------------...