
Beberapa jam berlalu sepulang dari tempat praktek Nora, Genta dan Azzura belum memberitahu kabar bahagia itu pada kedua orang tuanya.
Setelah selesai makan malam kemudian dilanjut dengan shalat isya, kini keluarga kecil itu tampak sedang duduk di ruang santai.
"Bundaaa, Devan ngantuk."
Azzura hanya tersenyum sambil mengelus kepala putranya yang saat ini sedang dipangkunya.
"Ayo ... bunda temani tidur di kamar ya," ajak Zu lalu menggendongnya.
"Ayya juga, Bun," protes Ayya lalu segera mengikuti sang bunda.
"Yuk," ajak Zu seraya mengulurkan tangannya. "Mas, Mah, Yah, Bi, aku temani anak-anak dulu ya."
Ketiganya hanya mengangguk. Setelah itu, Azzura menggenggam jemari putrinya lalu mengayunkan langkah menapaki anak tangga menuju kamar.
"Naaah, kita baring bertiga di sini ya? Bunda bacain buku kisah nabi Musa a.s saja ya," cetus Zu yang kini sudah duduk diantara kedua anaknya.
"Iya, Bunda," jawab Ayya dan Devan serentak sembari memeluk Azzura.
Azzura pun mulai membaca buku itu dan sesekali mengelus kepala kedua anaknya. Keduanya terus mendengar cerita kisah Nabi Musa a.s yang dibacakan oleh sang bunda.
Hingga beberapa menit kemudian keduanya pun akhirnya tertidur sambil memeluknya. Azzura kembali memandangi wajah teduh kedua anaknya itu sembari terus mengelus kepala keduanya.
Karena sudah malas ingin beranjak dari tempat tidur itu, akhirnya ia ikut berbaring lalu ikut tertidur.
Sedangkan di ruang santai, Genta bersama kedua orang tuanya juga bi Titin tampak masih mengobrol santai.
"Mah, Yah, Bi, aku punya kabar bahagia buat kalian," kata Genta dengan senyum bahagia.
"Kabar bahagia?! Kamu naik pangkat ya? Wah bagus dong. Ayah tunggu traktirannya," kelakar pak Dirga.
"Aamiin, semoga saja." Genta mengamini ucapan sang ayah lalu terkekeh. "Naik pangkat nggak penting-penting amat, Yah. Tapi jika beneran ya Alhamdulillah. Ini kabar bahagia dari kami berdua. Azzura lagi hamil anak kembar."
Sontak saja penuturan dari Genta seketika membuat wajah mama, ayah dan bi Titin berbinar bahagia lalu sama-sama mengucap syukur.
"Alhamdulillah ... waaah, selamat ya, Nak," kata pak Dirga sembari merangkul bahu Genta lalu berbisik, "Ternyata kamu tokcer juga ya. Sekali jadi langsung isi dua. Keknya ayah juga mau tahu rahasianya biar bisa bikin mama hamil lagi.
Mendengar keinginan sang ayah, Genta langsung terbahak lalu kembali berbisik, "Bukankah yang duluan makan garam lebih berpengalaman? Udah deh, Yah, ingat umur. Ntar encok siapa yang susah? Ayah sendiri kan, cari penyakit saja."
Pak Dirgantara langsung berdecak kesal mendengar ledekan Genta. Putranya itu terus menertawainya.
Sedangkan bu Nadirah dan bi Titin yang hanya menjadi penonton bagi kedua-nya, dibuat terheran-heran dengan kelakuan bapak dan anak itu.
"Ngomongin apa sih?" tanya bu Nadirah dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Ada deh, Mah. Rahasia para pria," seloroh Genta sambil terkekeh. Setelah itu, ia beranjak dari tempat duduknya lalu sekalian berpamitan.
Bu Nadirah hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari putra sulungnya itu.
Sesaat setelah berada di ambang pintu kamar Devan, Genta langsung memutar handle pintu. Senyumnya langsung terukir saat menatap anak dan istrinya sudah tertidur.
Dengan gerakan perlahan ia menggendong Ayya lalu memindahkan putrinya itu ke kamar sebelah. Setelah itu, ia kembali ke kamar lalu membangunkan Azzura.
"Sayang, bangun," bisik Genta sembari mengelus pipi Azzura.
"Mas ..."
"Yuk ... pindah ke kamar," ajak Genta. Dengan patuh Azzura menurut. Sebelum beranjak, ia memperbaiki posisi tidur Devan lalu mengecup puncak kepalanya.
Sesaat setelah berada di kamar, Azzura langsung naik ke atas ranjang lalu berbaring kemudian memejamkan matanya.
"Ngantuk banget ya," bisik Genta lalu mengecup keningnya kemudian melepas bergonya.
"Hmm ... peluk aku, Mas," pinta Zu sembari meraba dadanya.
Permintaan kecil itu membuat sudut bibir Genta melengkung tipis. "Peluk saja? Yakin nggak mau yang lain?" goda Genta lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Hmm ..." Azzura mengangguk pelan lalu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Padahal aku lagi pengen banget. Haaah ... yang sabar ya Genta, masih ada hari esok," batinnya sembari menahan hasratnya yang kini sudah di ubun-ubun.
Demi menetralkan perasaannya, ia mengatur nafasnya pelan sembari terus mengelus punggung sang istri hingga sesuatu di bawa sana mulai meleyot.
Tak lama berselang, ia pun ikut memejamkan matanya menyusul Azzura yang sejak tadi sudah terlelap dalam dekapannya.
.
.
.
.
Kota A ...
Yoga yang baru saja keluar dari lift, samar-samar seperti mendengar suara seseorang sedang bertengkar di area parkir apartemen.
Karena merasa penasaran, ia pun mencari arah sumber suara. Kerutan tipis di keningnya seketika terbentuk.
"Sepertinya itu, Syakila," bisiknya sambil mengamati dari jauh.
__ADS_1
Tampak pria yang mungkin saja sang kekasih dari gadis itu sedang memegang erat pergelangan tangannya kemudian menarik lalu memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Bram, lepasin nggak!! Aku nggak mau ikut denganmu!! Hubungan kita sudah berakhir." Syakila berontak dan berusaha melepaskan genggaman tangan ex tunangannya itu.
"Nggak, aku nggak mau lepasin kamu begitu saja. Aku nggak rela jika kita batal menikah."
Syakila tersenyum sinis saat mendengar ucapan Bram. "Sekalipun kamu memaksa, aku nggak sudi. Mau mengelak bagaimana lagi kamu, hah?!! Apa belum cukup bukti?! Dengan mata kepalaku sendiri aku memergokimu sedang menggagahi wanita lain di apartemenmu, pria menjijikkan!"
"Sayang, maafin aku. Aku khilaf," ucap Bram.
"Khilaf?! Apa khilaf sampai melakukannya berulang kali? Aku rasa itu bukan khilaf melainkan doyan. Sudahlah Bram, sebaiknya kamu kembali saja pada wanita pemuas hasrat mu itu. Jangan ganggu aku lagi."
Syakila masih berusaha melepaskan genggaman tangannya dari ex tunangannya itu. Namun Bram kembali menariknya dengan kasar.
"Lepasin!! Sakit tahu nggak!!" Syakila sedikit meringis merasakan pergelangan tangannya seperti terkilir. "Aaww ... ssssttt ... sakit!!"
Merasa gadis itu semakin terdesak, Yoga menghampiri keduanya dengan rahang mengetat.
"Lepasin gadis itu." Suara bariton Yoga seketika membuat keduanya menoleh ke arahnya.
"Yoga?!" gumam Syakila namun masih bisa di dengar oleh Bram.
"Oh hoo, aku tahu kenapa kamu memutuskan pertunangan kita. Alasannya pasti karena pria ini, iya kan?!!" bentaknya lalu memberikan tatapan menghunus pada Yoga. "Alasan kamu memergokiku, itu hanya alasan lain," sambung Bram dengan rahang mengetat.
"Jika aku adalah alasannya, memangnya kenapa?!" Kali ini bukan Syakila yang menjawab melainkan Yoga.
Pria itu perlahan meraih lengan Syakila lalu menariknya pelan supaya berdiri di belakangnya.
"Pria pecundang!! Sudah ketahuan berselingkuh malah menuduh sebaliknya," sindir Yoga dengan nada dingin.
Mendengar sindiran dari Yoga seketika Bram melayangkan tinjunya pada Yoga. Namun belum sempat mengenai wajah tampannya ...
Bugghh ...
Bogeman mentah dari Yoga langsung mendarat indah di batang hidung pria blasteran itu. Seketika darah segar langsung mengalir dari lubang hidungnya.
"Ini peringatan awal dariku. Jika sampai aku melihatmu menganggu Syakila lagi, maka aku akan berbuat lebih dari ini," peringat Yoga lalu memegang pergelangan tangan gadis itu kemudian meninggalkan Bram yang masih terpaku di tempat.
Sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil, Yoga melirik gadis itu yang sedang menangis sambil menunduk.
"Maaf jika aku ..." ucapannya terpotong karena Syakila langsung menjawab.
"Nggak apa-apa, syukurnya ada kamu. Jika nggak dia pasti akan berbuat kasar padaku." Syakila tersengal lalu menyeka air matanya.
Lagi ... Yoga merasa geram saat tahu seorang wanita diperlakukan kasar oleh pria. "Aku merasa seperti dejavu saja," batin Yoga lalu memberikan Syakila tisu.
__ADS_1
...----------------...