Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 63 : Depresi ...


__ADS_3

Satu bulan kemudian ...


Sudah sebulan Close terpuruk dalam kesalahan dan penyesalannya. Ia sempat beberapa kali mendatangi rumah Azzura dan mencoba mencari keberadaanya di jejaring internet namun usahanya nihil.


Semenjak itu pula ia sudah tidak memperdulikan dirinya, bahkan enggan bertemu dengan siapapun termasuk Laura.


Semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan. Hingga beberapa kali tuan Kheil ingin membawanya bertemu dengan Psikolog, namun ia terus menolak dan mengamuk karena enggan.


Namun karena kondisinya semakin memprihatinkan dan membuat tuan Kheil dan momy Lio khawatir, akhirnya keduanya meminta bantuan dokter Aida untuk memberikan suntikan obat penenang supaya ia bisa dibawa bertemu dengan Psikolog.


Walaupun merasa kasian pada sang putra, namun satu-satunya jalan untuk membuat Close kembali pulih dan sembuh dengan merawatnya di salah satu rumah sakit jiwa kota J.


Tuan Kheil dan momy Lio memutuskan membawa Close ke salah satu rumah sakit jiwa Kota J atas saran dokter Aida tepatnya di Rumah Sakit Arinata.


Kini tuan Kheil dan momy Lio sedang berada di ruangan Daffa. Seorang psikolog sekaligus Dirut di rumah sakit itu.


Dengan senyum ramah, Daffa menyapa keduanya yang sejak tadi sudah menunggunya.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa Daffa sesaat setelah membuka pintu. Ia pun menjabat tangan keduanya lalu duduk di sofa.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nyonya," tanya Daffa dengan ramah.


"Ya, kedatangan kami kemari karena ingin konsultasikan masalah kejiwaan putra kami. Kondisinya semakin memprihatikan," sahut tuan Kheil dengan wajah sendu.


Tuan Kheil dan momy Lio pun menceritakan pokok permasalahannya serta penyebab awal mula sang putra sering mengamuk karena frustasi sejak ditinggal oleh mantan istrinya.


Daffa mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan dari tuan Kheil dan momy Lio.


"Depresi," ucap Daffa lalu menatap tuan Kheil dan momy Lio. "Dari penjelasan Tuan, saya sarankan untuk sementara sebaiknya putra Anda dirawat di rumah sakit ini saja. Hingga kondisi kejiwaannya kembali pulih."


"Tolong lakukan yang terbaik untuk putra saya, Dok," ucap lirih tuan Kheil dan momy Lio dengan mata yang berkaca-kaca.


"Insya Allah ... Tuan, Nyonya. Ini bukan kasus pertama bagi saya. Sebenarnya untuk menyembuhkan pasien tergantung dari kondisi mentalnya. Dukungan dan segala bentuk perhatian dari Anda berdua juga penting," jelas Daffa. "Ada yang cepat dan ada juga yang membutuhkan waktu cukup lama, tergantung peristiwa yang mereka alami," jelas Daffa.


Momy Lio menggenggam jemari suaminya lalu menangis membayangkan keadaan Close. Ia tak menyangka jika sang putra akan mengalami depresi setelah kepergian Azzura.


Ia tak menyalahkan Azzura melainkan menyalahkan dirinya dan Close. Jika saja ia tidak nekat menikahkan keduanya, pasti semua ini tak akan terjadi.


Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan tak mungkin kembali utuh seperti semula. kini yang harus ia lakukan adalah mengembalikan rasa percaya diri Close dan menyembuhkan sang putra.


.


.


.


Jauh dari kota J, sejak diterima menjadi tenaga pengajar di sekolah elit TK Dirgantara, Azzura sangat menikmati perannya sebagai guru.

__ADS_1


Karena sering berinteraksi dengan anak-anak ia merasa seperti benar-benar menjadi seorang ibu yang memiliki malaikat kecil sebagai pelipur laranya.


Sikapnya yang lembut dan penyayang membuatnya sangat disenangi dan disayangi oleh anak-anak yang bersekolah di TK itu.


Kedekatannya dengan Ayya selama sebulan terakhir membuat hidupnya semakin berwarna. Tak jarang keduanya menghabiskan waktu bersama dengan mengajarkan bocah cantik itu dengan hal-hal yang bermanfaat.


Tentu saja sang nenek semakin merasa bahagia karena Ayya bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu setelah ia ditinggal sejak masih berusia satu tahun. Dan sang nenek dan ayahnya lah yang merawatnya hingga saat ini.


Tepat jam sepuluh lewat tiga puluh menit, Ayya dan Azzura tampak masih berada di ruangan kelas. Keduanya sedang duduk sambil memainkan beberapa benda di ruangan itu.


"Sayang, kok oma belum menjemputmu?" tanya Zu.


"Mungkin sebentar lagi Bunda," jawab Ayya lalu duduk di pangkuannya.


Seperti itulah siswa/siswi TK memanggilnya sejak pertama kali mengajar hingga saat ini termasuk Ayya.


"Oh ya, hari minggu nanti kamu pengen ajak bunda ke mana lagi? Atau kita main ke rumah bunda saja. Nanti kita main masak-masakan tapi masak-masakannya beneran," kata Zu lalu memeluknya dengan gemas.


"Boleh Bunda, Ayya mau," jawab Ayya dengan sembringah.


Tawa canda keduanya kembali memenuhi ruangan kelas itu. Keduanya tak menyadari jika ayah dari bocah itu sejak tadi berada di ambang pintu memperhatikan keduanya.


Sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Entah mengapa sejak pertama kali melihat keduanya begitu akrab di pesawat hatinya langsung menghangat.


Sayangnya ia belum sempat berkenalan dengan Azzura saat itu karena buru-buru dengan panggilan tugas.


Genta Pramudya Dirgantara, berprofesi sebagai MARSMA TNI AU sekaligus insinyur penerbangan di satuannya.


"Assalamu'alaikum ..."


Ia mengetuk pintu sekaligus memberi salam.


"Waa'laikumsalam ..." jawab Zu dan Ayya bersamaan lalu menoleh.


"Ayaaaahh," pekik Ayya lalu berlari kecil menghampiri sang ayah.


Sedangkan Azzura hanya memandangi keduanya sambil tersenyum.


"Maaf ... sudah merepotkan dan membuat kalian menunggu," kata Genta seraya menghampiri Azzura yang masih duduk di tempat.


"Ah ... nggak apa-apa, Pak. Lagian nggak masalah, sudah menjadi tugas saya sebagai guru di sini," sahut Zu dengan seulas senyum ramah.


"Jangan panggil, pak dan nggak usah gunakan bahasa formal. Kita ngobrol biasa saja," saran Genta.


"Baiklah," balas Zu lalu menatap Ayya dan sedikit merasa canggung.


Hening sejenak ...

__ADS_1


"Oh ya, kenalin aku Genta Pramudya, ayahnya Zayyana Amara. Panggil Mas Genta saja," kata Genta sembari mengulurkan tangannya.


"Azzura Zahra. Panggil Zu atau Zura saja," balas Zu lagi lalu menjabat tangan Genta kemudian mengulas senyum.


Nama yang indah seperti orangnya. Azzura yang berarti langit biru. Tenang, lembut dan indah dipandang.


Genta bergumam dalam hatinya dan seolah tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari mata indah gadis itu. Hingga membuat Azzura menundukkan pandangannya.


Pandangan mata Genta terputus saat Ayya menegur sang ayah.


"Ayah ..." Ayya melepas tangan ayahnya lalu tertawa.


Sontak saja teguran dari sang putri membuatnya salah tingkah apalagi Ayya menertawai dirinya.


"Maaf," ucapnya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nggak apa-apa," kata Zu. "Ayo aku sekalian antar kalian ke depan," ajaknya lalu meraih tas Ayya.


Ketiganya pun melangkah keluar meninggalkan kelas Ayya, hingga ketiganya sampai di parkiran sekolah.


Azzura berjongkok lalu menggenggam kedua jemari mungil Ayya. Ia memeluknya sejenak.


"Sayang, kita ketemu besok lagi. Sekarang kamu pulang sama ayah ya," pesan Zu seraya mengelus kepalanya dengan sayang.


"Iya Bunda," jawabnya dengan patuh.


Sontak saja semua bentuk perhatian kecil Azzura kembali membuat hati Genta menghangat.


"Zura ... apa sebaiknya aku dan Ayya sekalian mengantarmu pulang," tawar Genta penuh harap.


"Lain kali saja, Mas," tolak Zu. "Soalnya aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan," bohongnya.


"Baiklah, kalau begitu aku dan Ayya pulang dulu," pamit Genta lalu membuka pintu mobil.


Azzura hanya mengangguk dengan seulas senyum sembari melambaikan tangan ke arah keduanya.


Setelah memastikan mobil Genta meninggalkan halaman parkir sekolah, ia pun kembali melangkah masuk ke kelas untuk mengambil tasnya.


Merasa sudah tak ada lagi yang ia lupa, Azzura kembali melanjutkan langkahnya hingga di pos keamanan.


"Bang, aku duluan ya," kata Zu pada bang satpam.


"Siap, Bu," kata bang satpam dengan hormat.


Azzura tertawa menatap bang satpam. "Bang Deden, biasa saja nggak usah pakai hormat segala," kata Zu lagi.


Bang Deden ikut tertawa. "Siap Zura ... hati-hati ya," pesan bang Deden dan dijawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2