
"Nak Zu?" tegur bi Titin. Ia pun duduk di samping Azzura sembari menatapnya dengan perasaan cemas.
"Bi," ucapnya lirih lalu membaringkan kepalanya di pangkuan bi Titin. "Bi, bisa tolong pijatkan kepalaku sebentar nggak? Tiba-tiba saja kepalaku pusing."
"Devan juga, Bunda," timpalnya.
Azzura tersenyum seraya mengulurkan tangannya supaya putranya itu mendekat. "Ya sudah, pijatnya berdua ya sama bibi."
Dengan telaten bi Titin memijat kepalanya dengan lembut sembari memandangi wajah pucat Azzura.
Merasakan pijatan lembut dari bi Titin, seketika itu juga, ia teringat akan mendiang ibunya. "Makasih ya, Bi, aku merasa sedang dimanjakan oleh ibuku."
Bi Titin hanya tersenyum mendengar ucapan lirih majikannya itu. "Bahkan bibi sudah menganggapmu sebagai anak bibi sendiri. Apa sekarang kamu merasa enakkan? Sebaiknya kamu istirahat di kamar saja, Nak. Nanti bibi akan membawakanmu obat pereda nyeri kepala."
"Makasih ya, Bi," ucapnya.
*******
Beberapa jam berlalu ...
Setelah meminum obat dan beristirahat sejenak, Azzura merasa sedikit membaik. Sebelum berangkat menjemput Ayya ia terlebih dulu menghubungi suaminya.
Genta yang baru saja masuk dan akan mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya langsung merogoh kantong celananya.
"Assalamu'alaikum, Sayang."
"Waa'laikumsalam, Mas. Mas aku bisa minta tolong nggak?"
"Apa sih, yang nggak buat kamu," balas Genta dengan senyum tipis.
"Mas, aku pengen makan martabak manis. Beliin ya," pinta Zu.
Sontak saja permintaan aneh istrinya itu membuat mata Genta membola.
"Sayang, apa kamu sedang bercanda? Nggak ada yang jual martabak manis di jam segini."
"Maaaaas, tapi aku kepengen," rengek Zu dari seberang telepon.
Genta menghela nafas sembari memijat keningnya. Entah harus beli di mana martabak manis di siang bolong.
"Insyaallah ... mas akan usahakan. Tapi kamu harus janji akan memakannya. Jangan seperti semalam," protesnya.
"Iya, Mas," balas Zu dengan sembringah. "Ya sudah, aku tutup dulu telfonnya soalnya aku mau menjemput Ayya."
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya," pesan Genta lalu memutuskan panggilan telepon.
Ia pun menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya sambil memijat keningnya turun ke pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Di mana aku harus mencari martabak manis di jam segini? Aneh-aneh saja permintaannya. Terus kalau nggak di makan lagi maka aku yang akan memakannya sebagai hukuman," gumam Genta dengan senyum penuh arti.
Ia pun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Satu jam lagi."
.
.
.
Setibanya di sekolah, Azzura tampak ikut bergabung dengan beberapa wali murid yang sedang menunggu anak-anak mereka.
Kehadirannya selalu menjadi pusat perhatian di sekolah itu. Bukan karena dirinya melainkan sang putra yang berparas bule.
Tak lama berselang, bunyi bel sekolah pun terdengar. Setelah menunggu beberapa menit, Ayya berlari kecil menghampirinya sembari memanggil adiknya.
"Bundaaa, dedek Devan." Senyum sembringah seketika terukir di wajah cantik nan manis gadis cilik itu.
"Alhamdulillah, sudah pulangan. Yuk, kita meluncur sekarang," ajak Zu sambil terkekeh.
"Iya, Bunda," jawab Ayya lalu mengenakan helm.
Setelah itu, ia pun mulai memacu motor maticnya meninggalkan halaman parkir sekolah. Kurang lebih tiga puluh menit memacu motornya, akhirnya mereka tiba juga di rumah.
Senyum Azzura langsung terbit di wajahnya saat mendapati kendaraan mertuanya terparkir di garasi.
"Oma dan kakek!!" pekik Ayya dan Devan lalu segera turun dari motor tanpa menunggu sang bunda.
Keduanya langsung memberi salam lalu menghampiri Oma dan kakeknya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Assalamu'alaikum, Mah, Yah, sudah lama?" tanya Zu sesaat setelah mendaratkan bokongnya disamping mama.
"Baru saja, Nak. Kangen kalian, rasanya sepi banget sejak kalian pindah rumah," jawab mama.
"Tinggal bareng kami saja di sini, Mah, Yah," usul Zu.
"Nggak bisa juga, Nak, soalnya ayah punya tanggung jawab di beberapa Yayasan."
"Mah, nginapnya lama-lama ya di sini," pinta Zu sembari memeluk sang mertua dengan manja.
Bu Nadirah dan pak Dirgantara hanya terkekeh mendengar permintaan menantunya itu.
Menjelang shalat zhuhur, ia lebih dulu membantu bi Titin menyiapkan makan siang. Begitu selesai, ia pun mengajak mertua dan anak-anaknya makan termasuk bi Titin.
Setelah selesai makan siang kemudian dilanjut dengan shalat berjamaah, mereka kembali ke ruang santai sambil menonton diselingi obrolan kecil.
Beberapa jam berlalu, Azzura tampak menemani putrinya mengerjakan PR, sedangkan Devan tampak bermain dengan Oma dan kakeknya.
__ADS_1
Tak lama berselang, suara kendaraan Genta terdengar dari arah garasi mobil. Bak sudah menghafal suara kendaraan itu, Devan langsung berlari kecil menghampiri pintu utama.
"Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Waa'laikumsalam," jawab mereka yang ada di dalam termasuk Devan yang ada di belakang pintu.
Dengan hati-hati Genta memutar handle pintu lalu membukanya. Ia tersenyum saat mendapati putranya itu menyambutnya. Ia langsung menggendongnya lalu membawanya ke ruang santai.
"Genta, tumben pulang di jam segini?" tanya ayah.
Ia melirik istrinya sekilas lalu menghela nafas. "Ya mau gimana lagi, Yah. Aku harus keliling dulu mencari penjual martabak manis untuk Azzura. Syukurnya dapat. Ayah tahu sendiri kan, jam segini belum ada yang buka," jelasnya lalu meletakkan martabak manis itu di atas meja sofa.
Ayah dan mamanya hanya tersenyum menatapnya sembari geleng-geleng kepala.
"Maaaaf," ucap Zu dengan manja.
"Nggak apa-apa, Sayang," balasnya lalu duduk di belakangnya sambil memangku Devan. "Itu martabaknya, harus dimakan ya."
Azzura membuka bungkusannya lalu mengeluarkan box martabak itu. Ia pun memanggil bi Titin dan mertuanya menyantap martabak manis itu tak terkecuali suami dan anaknya.
Bukannya memakan ia hanya memandangi martabak itu. Sama seperti semalam ia mengatakan sudah kenyang.
Genta hanya bisa geleng-geleng kepala sekaligus merasa gemas dengan sikap aneh istrinya.
"Sayang, mas ke atas dulu ganti baju," izinnya.
"Ya sudah, ayo aku temani," cetusnya dan dijawab dengan anggukan kepala.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, Genta langsung memeluknya dengan gemas lalu berbisik, "Karena kamu nggak mau makan martabaknya, biar mas saja yang memakanmu, hmm."
Azzura langsung terkekeh. "Tadi kepengen banget, Mas. Tapi saat melihat martabaknya, aku sudah nggak mau."
Genta membawanya duduk di sisi ranjang sambil memangkunya. "Padahal, mas susah payah membujuk penjualnya tadi minta dibuatkan untukmu."
"Maaf," bisik Zu lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. "Mas."
"Hmm, ada apa?" bisik Genta lalu mengecup keningnya.
"Kepalaku masih sakit, mual bahkan seperti mau meriang. Tapi setelah minum obat agak mendingan. Hanya saja kepalaku masih pusing," akunya.
"Mual ...? Pusing ...? Apa jangan-jangan istriku lagi berisi ya?" tebak Genta dalam hatinya dengan senyum tipis.
"Sore nanti, kita periksa ya," usul Genta dengan hati berbunga-bunga.
Meski belum valid, namun ia sudah bisa menebak jika istrinya itu sedang hamil. Di tambah lagi perubahan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah.
Ia kembali mengecup kening Azzura lalu mengelus perutnya. "Alhamdulillah ... semoga tebakanku ini benar," batin Genta.
__ADS_1