
Tepat jam 1.00 dini hari, Azzura tersadar dari tidurnya. Akibat benturan tadi, ia merasakan kepalanya sakit bukan kepalang.
Ia hanya mampu meringis lalu mendudukkan dirinya sambil bersandar di tembok kamarnya.
Ia merenung sejenak. Bisa-bisanya suaminya membawa perempuan itu ke rumah mereka bahkan sampai melakukan hubungan terlarang.
Walaupun tidak memiliki perasaan apapun terhadap suaminya, namun tetap saja hatinya terluka apalagi Close tanpa segan memaki dan berlaku kasar padanya di depan kekasihnya itu.
"Kalian benar-benar menjijikkan," ucap Zu lalu beranjak dari tempatnya dan berniat ke dapur. Dengan langkah pelan ia pun memutar kunci kamarnya.
Ia membuka lemari gantung mencari sesuatu untuk di makan atau sekedar membuat teh hangat. Namun apa yang di carinya tidak ada di lemari itu.
Ia pun membuka kulkas, lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.
"Besok hari minggu, sebaiknya aku belanja bulanan saja," gumamnya. Ia pun kembali ke kamarnya dan mengunci pintu setelah itu ia kembali melanjutkan tidurnya.
.
.
.
Keesokan harinya ....
Setelah membersihkan seluruh ruangan di lantai bawah, Azzura beristirahat sejenak di pinggir kolam sambil memainkan kakinya di dalam air.
Sesekali ia mengulas senyum sambil menengadah menatap langit dan menghirup udara pagi.
Tampak Close yang baru saja menuruni anak tangga mengerutkan keningnya lalu meneliti seluruh ruangan di lantai bawah itu yang terlihat sudah bersih dan rapi.
Ia pun melangkah pelan lalu menuju dapur untuk meneguk air. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya, namun terhenti ketika berada tepat di depan pintu kamar istrinya.
Saat tangannya terulur ingin membuka pintu itu, Azzura menegurnya.
"Close, mau ngapain kamu?"
Close langsung mengarahkan pandangannya pada Azzura yang sedang berjalan ke arahnya.
"Jangan pernah membuka atau masuk ke kamar ini. Karena ini area privasiku. Sama halnya diriku yang nggak boleh masuk atau menginjakkan kakiku ke lantai dua. Bukankah, kita ini seperti orang asing?" tegas Zu penuh penekanan.
Close bergeming mendengar ucapan frontal bernada dingin dari istrinya, bahkan ia tak berkutik dan seolah mati kutu di tempat.
"Kembalilah ke kamarmu. Takutnya kamu akan alergi berada di area wanita kampungan sepertiku," sambung Zu lalu masuk ke kamarnya kemudian langsung mengunci pintunya.
Lagi-lagi Close kembali terpekur dan menatap nanar pintu kamar yang kini tertutup rapat. Ia pun kembali ke kamarnya dan mendapati Laura masih tertidur.
Ia segera masuk ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia sedikit merasa bersalah pada istrinya apalagi saat mendapati jidatnya yang terlihat memar.
Setelah membersihkan dirinya, ia pun mengenakan pakaian rumahan lalu kembali turun ke ruang tamu.
Sepi ....
Satu kata yang ia rasakan di rumah itu. Sedangkan Azzura yang baru saja selesai mandi, cepat-cepat masuk ke kamarnya.
Tiga puluh menit kemudian, ia pun tampak sudah rapi dengan pakaian casual, mengenakan sepatu kets dan tas selempangnya.
Saat melangkah keluar, lagi-lagi hatinya mencelos saat melihat Close dan Laura bermesraan di sofa ruang tamu.
Ia hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya dengan malas dan merasa jijik menatap keduanya yang merasa dua hanya milik mereka berdua.
Saat langkahnya mendekati ruang tamu itu, ia pun menegur Close yang tampak memeluk Laura di pangkuannya.
"Close ..." tegur Zu.
Close dan Laura langsung menoleh ke arahnya.
"Aku ingin tahu, password pintu rumah," ucapnya membuka suara. "Soalnya aku tidak ingin menganggu kesenangan kalian jika aku terlambat pulang dari kerja," jelasnya.
Close tersenyum sinis menatapnya sekaligus penasaran melihat penampilan casual istrinya itu dan bertanya-tanya ingin ke mana dia?
"Password-nya tanggal lahirku dan calon istriku," jawab Close lalu mengecup bibir Laura. "241793."
Azzura memutar bola matanya dengan malas lalu tersenyum sinis, melihat kelakuan suami dan pacarnya itu.
__ADS_1
"Kamu pikir aku cemburu? Yang ada, aku malah jijik melihat kelakuan kalian berdua," batinnya.
"Ok ... sudah aku save biar nggak lupa. Aku sekalian pamit dan selamat bersenang-senang buat kalian berdua," ucapnya dengan santai lalu meninggalkan pasangan kekasih itu.
Close hanya bisa menatap kepergian istrinya yang terlihat santai bahkan sama sekali tidak terusik dengan kemesraannya bersama Laura.
Sepeninggal Azzura, Close terlihat cuek dan hanya membiarkan Laura terus memeluknya. Sampai akhirnya ia membuka suara.
"Ayo ... kita juga siap-siap. Ini kan, hari minggu jadi kita bisa jalan-jalan," cetus Close.
"Aku ingin shopping, mau ya temani aku," pinta Laura dengan manja.
"Apapun kemaunmu akan aku turuti," sahut Close.
Namun benaknya masih saja bertanya-tanya. Sebenarnya Azzura mau ke mana?
Sedangkan Azzura, saat ini sedang dalam perjalanan menuju swalayan. Sesampainya di swalayan itu, ia pun melangkah kecil lalu mengambil salah satu troli kosong.
Ia mulai menyusuri satu demi satu rak makanan dan minuman lalu mengambil apa saja yang ia butuhkan termasuk bahan-bahan untuk membuat kue.
Senyumnya langsung mengembang saat memilih bahan-bahan kue.
"Jika ibu masih sehat dia pasti senang banget membuat kue bersamaku," gumamnya lalu memasukkan bahan kue itu ke troli belanjaannya.
Setelah itu, ia lanjut ke bagian sayuran, daging dan seafood. Saking asiknya belanja tak terasa troli belanjaannya sudah penuh.
Ia terkekeh lalu bergumam, "Aku seperti baru turun gunung saja. Hehehe."
Ketika akan mendorong trolinya, seseorang menyapanya.
"Zu!"
Azzura berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang.
"Yoga ... belanja juga? Sendiri atau lagi menemani pacar, mama, atau adik?" tanya Zu.
Yoga menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Sendiri ... ini kan, hari minggu. Aku habis joging di sekitar sini, kebetulan apartemenku nggak jauh dari sini jadi aku sekalian mampir," jelasnya.
"Boleh deh," kata Yoga.
"Ya sudah, kamu ambil saja. Aku tunggu di kasir ya," cetus Zu lalu mendorong troli belanjaannya ke arah kasir.
Sambil menunggu giliran, Azzura mengirim pesan kepada Nanda lalu mengirim alamat rumahnya.
Tak lama berselang, Yoga menghampirinya.
"Zu, apa Pak Close bersamamu?"
"Nggak. Tadinya aku ingin mengajaknya, tapi aku nggak tega soalnya terlihat banget jika dia kecapean," bohong Zu lalu tersenyum.
"Oh ... gitu ya. Apa kamu bawa mobil?"
Azzura terkekeh. "Nggak ... aku bawa motor."
"Zu, biar aku yang mengantarmu," tawar Yoga lalu meneguk air mineralnya. "Lagian belanjaan sebanyak ini nggak mungkin muat di motormu," kata Yoga.
Azzura tampak berpikir. "Boleh deh."
Azzura kembali mendorong troli ke depan kasir lalu mengeluarkan semua barang belanjaannya.
Setelah ditotal, ia pun membayar dengan menggunakan kartu ATM-nya.
Yoga ikut membantu Azzura membawa barang belanjaannya hingga keduanya sampai di depan swalayan.
"Zu, kamu tunggu di sini sebentar ya," pinta Yoga.
Azzura hanya mengangguk. Sedangkan Yoga ia segera meninggalkan tempat itu lalu menemui seseorang.
"Radit, ikut aku sebentar," pintanya.
"Ke mana?" tanya Radit.
__ADS_1
"Pokoknya ikut saja, nggak usah banyak tanya."
Radit hanya mengangguk menurut lalu mengikuti langkah Yoga ke arah mobilnya di parkir.
Setelah masuk ke dalam mobil, ia lalu mengarahkan kendaraannya itu ke arah Azzura yang sedang menunggunya.
Begitu ia keluar dari mobil, ia membantu Azzura memasukkan semua barang belanjaannya ke dalam bagasi.
"Zu, motormu biar di bawa sama temanku saja ya," saran Yoga.
"Baiklah, tapi besok langsung antar ke cafe saja ya," pinta Zu lalu memberikan kunci motornya pada Radit.
"Dit, aku duluan ya," kata Yoga lalu mengajak Azzura masuk ke dalam mobilnya.
"Kami duluan ya," pamit Zu pada Radit dengan seulas senyum.
Radit hanya mengangguk namun sedikit bengong dengan Yoga.
"Apa dia sudah gila? Itu kan, istri boss-nya. Ada-ada saja si Yoga. Nggak takut apa di cap pebinor," gumamnya yang masih menatap mobil itu yang mulai menjauh.
Ketika dalam perjalanan pulang, sesekali Yoga melirik istri boss-nya itu dan melihat jari manisnya. Namun alisnya kembali bertaut saat baru menyadari jidat Azzura sedikit memar.
"Apa dia baik-baik saja?" Gumamnya dalam hati.
"Zu ..."
"Hmm ..."
"Jidatmu kok memar?"
Azzura langsung meraba jidatnya lalu tersenyum tipis.
"Oh ini ... aku terpeleset di kamar mandi dan nggak sengaja terbentuk tembok," bohongnya dan terlihat santai.
"Lain kali hati-hati Zu," peringatnya. "Oh ya, Zu, apa bisa kita bertukar nomor ponsel?" harapnya namun sedikit pesimis.
"Boleh kok. Kemarikan ponselmu?" pinta Zu dengan seulas senyum.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Yoga langsung memberikan ponselnya pada Azzura. Azzura hanya terkekeh sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan asisten suaminya itu.
Setelah menyimpan nomor kontaknya, ia menyerahkan kembali ponsel Yoga.
"Besok aku akan menghubungimu setelah mengantar motormu ke cafe," kata Yoga.
Azzura hanya mengangguk. Tak lama berselang ponselnya bergetar.
"Nanda," lirihnya lalu menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Nanda. Apa kamu sudah sampai?" tanyanya lalu terkekeh.
"Waa'laikumsalam. Iya, kamu lagi di mana?" Nanda balik bertanya.
"Maaf, aku masih dalam perjalan pulang. Bentar lagi sampai," jelas Zu.
"Hmm, cepetan ya," balas Nanda lalu mematikan ponselnya.
Azzura melirik Yoga. "Yoga nanti belok kanan ya," pinta Zu.
"Ok ..."
Yoga hanya mengikuti instruksi Azzura hingga benar-benar tiba di halaman rumahnya.
"Yoga, makasih ya," ucap Zu.
"Sama-sama Zu, biar aku bantu bawa belanjaannya ke dalam," tawarnya.
Azzura hanya mengangguk lalu membuka pintu mobil. Sedangkan Nanda ia langsung menghampiri keduanya dan ikut membantu.
"Zu, siapa?" bisik Nanda lalu menyenggol bahu Zu.
"Yoga, asistennya Close," jawab Zu. "Ayo kita masuk," ajak Zu lalu menghampiri pintu rumah kemudian menekan password pintu.
Setelah itu ketiganya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur.
__ADS_1
...πΏ--------------πΏ...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈππ