Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
114. Semuanya akan baik-baik saja ...


__ADS_3

Mall Kota M ...


Azzura dan Nella sedang duduk di salah satu tempat bermain sambil mengawasi anak-anak mereka.


Keduanya pun tampak sedang mengobrol dan sesekali tertawa memandangi tingkah lucu anak-anak mereka yang sedang bermain bersama Galuh.


"Kak, gimana dengan kabar ayah bunda? Rasanya kangen banget sama mereka berdua. Soalnya sudah lama nggak bertemu," kata Zu.


"Alhamdulillah, keduanya sehat dan baik. Besok rencananya mereka akan kemari kok," balas Nella. "Tadinya mereka ingin langsung menyambangi kalian di daerah M, tapi sepertinya nggak jadi soalnya kebetulan sekali kalian sudah ada di sini."


"Alhamdulillah ... syukurlah." Ia pun kembali mengarahkan pandangannya ke arah anak dan ponakannya lalu tertawa kecil melihat tingkah putranya yang super aktif.


Tak lama berselang Devan berlari menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan rambutnya pun basah karena keringat.


"Capek ya, Sayang," tanya Zu seraya menyeka keringatnya dengan tisu.


"Capek, Bunda tapi seru," jawabnya lalu menempelkan wajahnya ke perut sang bunda.


Ia langsung tertawa lalu mengecup perut buncit Azzura karena merasakan tendangan dari calon adiknya. Seakan tahu jika kakaknya mengajak bermain, calon adiknya begitu aktif bergerak sehingga membuat Azzura sedikit meringis.


Ia terkekeh karena Devan tak henti-hentinya menggeser kepala dan tangannya mengikuti arah gerakan calon adiknya.


"Zu, aku pengen bergabung dengan anak-anak," izin Nella dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Azzura.


Dari arah yang tak terlalu jauh dari tempat Azzura duduk, sejak tadi sepasang mata terus memandanginya. Ia lalu tersadar saat pundaknya ditepuk.


"Johan, sedang apa kamu di sini? Ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak pria itu yang tak lain adalah Close.


Untuk sejenak Johan hanya bergeming lalu tersenyum karena mendapat ide. "Sebaiknya aku mengajak Close ke sana. Sekedar basa basi sekaligus aku ingin mendekat pada putraku," batinnya.


"Close, jika aku nggak salah, itu mantan istrimu kan?" tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya pada Azzura.


Close langsung mengikuti arah telunjuk rekan bisnisnya itu.


"Azzura," ucapnya lirih. Ia mematung ketika memandangi ex istrinya itu yang sedang asik bercanda dengan putranya.


Yang lebih membuat hatinya mencelos saat melihat perut buncitnya. Matanya langsung memerah menahan air mata.


Sungguh penyesalannya kembali menyelimuti dirinya karena pernah menuduh ex istrinya itu mandul.


Sebelum menghampirinya, Close menarik nafas dalam sekaligus menetralkan perasaannya. Ia pun mengajak Johan menghampirinya.


"Zu," sapanya dengan seulas senyum.


Azzura langsung menoleh. "Close," sapanya balik lalu membalas senyumnya.


Close lalu berjongkok kemudian mengelus kepala Devan. Sedetik kemudian alisnya bertaut saat menyadari sesuatu. Ia mendongak menatap Johan lalu kembali menatap Devan.


"Wajah Devan dan Johan kok mirip banget ya? Apa jangan-jangan ...?"


"Apa kabar jagoan paman?" tanya Close lalu memeluk Devan. "Masih ingat nggak sama paman?" tanyanya lagi.


"Paman Close," bisiknya disertai anggukan kepala.


Close langsung tersenyum lalu mengurai pelukannya.


Devan mendongak lalu menatap ayah kandungnya. "Bunda ... lihat ..." Devan menunjuk Johan. "Itu paman yang tadi kan, Bunda. Yang bantu kita di tempat belanja," tuturnya dengan polos.

__ADS_1


Azzura menatapnya lalu tersenyum seraya mengangguk.


"Nggak nyangka ya, kita bertemu lagi," kata Johan. "Apa boleh aku memeluk putramu lagi?" izinnya lalu berjongkok.


Azzura hanya mengangguk kecil. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Johan langsung memeluk putra kandungnya itu lalu mengecup lama puncak kepalanya.


Baru sebentar ia merasakan kebahagiaan bisa mendekap putranya, tak lama berselang Devan mendorong pelan dadanya lalu memekik memanggil sang ayah yang baru saja tiba di tempat itu.


"Ayah!!!" Ia langsung berlari menghampiri Genta yang tampak sedang menantinya.


Begitu Devan berada dalam dekapannya, ia langsung menggendongnya. Rahangnya mengetat, tatapannya menghunus tajam ke arah Johan.


Meski kini amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun, sebisa mungkin ia meredamnya demi Azzura dan sang putra.


"Close," sapanya pada ex suami Azzura dengan ramah namun sama sekali tak menegur Johan bahkan menatap benci pria itu.


"Genta, apa kabar? Maaf, kami nggak sengaja bertemu di sini," kata Close.


"Nggak apa-apa, Close. Alhamdulillah ... seperti yang kamu lihat, kami baik-baik saja. Insyaallah, nggak lama lagi Azzura akan melahirkan."


"Selamat ya, meski aku telat mengucapkan kata itu," balas Close dengan perasaan hampa.


"Terima kasih," ucap Genta.


Sedangkan Johan hanya menjadi pendengar. Ia mematung di tempat tak berani bersuara. Nyalinya seolah menciut.


Di balik sikap tenang Genta, ia dapat merasakan jika pria itu sedang memendam amarah. Apalagi saat melihat tatapan menghunus darinya tadi.


"Close, Bu, Genta ... aku pamit dulu ya," izin Johan. "Kalian lanjut saja ngobrolnya."


Ingin sekali ia mengelus kepala putranya namun tak berani ia lakukan karena Devan berada dalam gendongan Genta.


"Nggak apa-apa, aku masih ada urusan," bohongnya. Ia pun berlalu meninggalkan tempat itu.


Setelah jarak Johan agak jauh, ia meminta bantuan Close untuk memangku Devan sebentar.


"Close, aku titip, Dev sebentar," ucapnya lalu menyerahkan Devan padanya. Mungkin karena kelelahan bermain, bocah itu terlihat mulai mengantuk.


"Sayang, aku tinggal sebentar ya," pamitnya.


Azzura hanya mengangguk namun terlihat curiga karena merasa ada yang tak biasa dari gestur tubuh suaminya. Apalagi ia terlihat buru-buru mengayunkan langkahnya.


Tentu saja kecurigaan Azzura itu benar adanya. Karena saat ini, Genta sedang mengejar Johan. Apalagi yang ingin ia lakukan? Tentu saja ingin memberi pelajaran padanya.


Sesaat setelah langkah kakinya terhenti di area parkir, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok ayah kandung dari Devan itu.


Setelah ekor matanya terarah padan targetnya, ia langsung mengambil langkah seribu menghampirinya.


Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengetat dengan menggeretakkan giginya.


Ia langsung menarik bahu pria blasteran itu yang baru saja membuka pintu mobilnya.


Bugghh ...


Bugghh ...


Bugghh ...

__ADS_1


Bogeman bertubi-tubi itu mendarat di wajah dan perut Johan. Merasa belum puas, Genta


kembali menghajarnya tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Berani-beraninya kamu menyentuh putraku, hah!! Brengsek!! umpatnya.


Bugghh ...


Ia kembali mendaratkan tinjunya ke batang hidung Johan lalu mencengkeram bajunya kemudian menyandarkannya ke mobil.


"Apa masih belum jelas ancamanku padamu waktu itu, hah?!!"


"Dia bukan put ...."


Bugghh ...


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Genta kembali menonjok mulutnya.


"Meski dia bukan putra kandungku, tetap saja aku menganggapnya putraku sendiri tanpa membeda-bedakan kasih sayangku padanya dan putriku. Saat ia lahir, suara pertama yang ia dengar adalah suaraku saat menyambutnya lalu mengazaninya."


"Jangan hanya karena ulahmu, psikisnya dan istriku terganggu. Karena keduanya memiliki hubungan yang sangat erat meski dia nggak terlahir dari rahim istriku."


"Apakah pantas pria brengsek sepertimu ingin mendekatinya?! Lalu di mana dirimu saat Nina masih mengandungnya?! Apakah kamu pernah bertanya tentangnya? Mencari tahu keadaannya yang sedang berjuang mempertahankan kandungannya meski ia dalam keadaan sakit? Katakan padaku!!"


Johan bergeming mendengar pertanyaan beruntun dari genta. Ia tertunduk sekaligus menahan sakit ditubuhnya.


"Apa yang kamu inginkan sekarang? Saat Devan mulai tumbuh besar, kamu tiba-tiba hadir di kehidupannya. Aku nggak memungkiri dan nggak menyangkal jika kamu adalah ayah biologisnya. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, kamu ibarat pria asing baginya!" tegas Genta.


Johan tersenyum sinis mendengar ucapan Genta lalu mengangkat wajahnya menatap maniknya.


"Yang aku inginkan sekarang adalah, hak asuhku sebagai ayah kandungnya. Aku akan mengajukan hak asuh itu ke pengadilan nanti."


Genta menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum sinis seolah mengejek. Ia lalu mengetuk-ngetuk telunjuknya ke kening Johan.


"Tuan Johan Claire yang terhormat! Apa Anda masih waras? Nggak mimpi kan? Silakan ajukan hak asuh itu, jika boleh aku sarankan sewa pengacara hebat dan yang paling mahal."


"Asal kamu tahu saja, jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan semua bukti-bukti tentang dirimu. Sekeras apapun kamu berusaha memperjuangkan hak asuhmu tetap akan sia-sia," sindir Genta."


"Apa kamu lupa saksi utama ada padaku? Aku harap kamu nggak melupakan bi Titin!" tegas Genta dengan begitu geramnya.


Genta menjeda kalimatnya sejenak lalu menarik nafasnya dalam-dalam demi meredam amarahnya yang masih memuncak.


"Saat ini Devan masih polos dan masih bisa menerima kehadiranmu. Tapi saat dia sudah berusia tujuh belas tahun, dia berhak memilih."


"Jika ia tahu kenyataan yang sebenarnya tentang dirimu yang telah menyia-nyiakannya sejak masih berada dalam kandungan ibunya hingga ibunya meninggal, akan aku pastikan kamu bakal menangis darah," pungkas Genta.


Mendengar semua penuturan dari Genta, Johan kembali menundukkan pandangan. Nyalinya kembali menciut.


Takut jika putranya itu menolaknya. Ia tak mampu berkata-kata ataupun membalas ucapan Genta. Yang ada hanya kegetiran akan penolakan sang putra.


"Pergi dari hadapanku sekarang," usir Genta dengan nada dingin lalu mendorong bahu pria blasteran itu. "Semua keputusan Devan kelak tergantung dari keputusan istriku."


Setelah itu, Genta memutar badannya akan melangkah. Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati Azzura sedang mematung tak jauh dari di tempat itu.


"Sayang ... kamu," ucapnya lirih lalu menghampirinya cepat.


"Mas," sebutnya lalu menangis memeluknya.

__ADS_1


"Sayang, tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya.


...----------------...


__ADS_2