Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 26 : Jangan sampai kamu menyesal ...


__ADS_3

Malam harinya ...


Azzura terlihat mulai gelisah dan sesekali memejamkan matanya. Bahkan keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran di wajahnya hingga membuat jilbabnya terlihat basah.


"Hasbunallah wani'mal wakil. Ya Allah kuatkan aku," lirihnya sambil berdoa dalam hati demi menenangkan dirinya. "Malam ini aku menginap di rumahku saja," lirihnya lagi dalam hatinya sambil menatap ibu.


"Nanda, kita pulang sekarang ya," pintanya.


Seakan mengerti dengan kondisi Azzura saat ini, Nanda mengangguk cepat.


"Bu, aku dan Nanda pulang dulu ya," pamitnya.


"Iya, Nak. Kalian hati-hati ya dijalan apalagi ini sudah malam," pesan ibu dengan seulas senyum.


"Iya, Bu," jawab keduanya bersamaan.


"Sus, aku titip Ibu ya. Jika Ibu kenapa-napa, langsung hubungi aku," pesannya pada suster Tiara.


"Baiklah," balas suster Tiara seraya mengelus lengan Azzura.


Sesaat setelah berada di luar kamar, Azzura langsung memeluk sahabatnya dengan tubuh bergetar.


"Zu," lirih Nanda sambil mengelus punggung sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. "Tenanglah," bisiknya.


"Aku takut," desisnya dengan suara bergetar tanpa melepas dekapannya.


"Zu, ingat ibu dan ayahmu," peringat Nanda.


Perlahan-lahan Azzura mulai melepas dekapannya lalu menarik nafasnya dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


Lagi-lagi dari kejauhan Yoga hanya bisa menatapnya dengan perasaan pilu. Ada kemarahan yang terpendam dalam dirinya mengingat sosok suami gadis berhijab itu.


"Close Navarro Kheil ... andai saja saat ini kamu berada di hadapanku, akan aku pastikan kamu babak belur di tanganku. Dasar pria brengsek pecundang!!!" geramnya dengan tangan terkepal.


Ia pun menghampiri Azzura dan Nanda yang masih berada didepan pintu rawat bu Isma.


"Zu, Nanda. Apa kalian sudah mau pulang?" sapanya.


"Iya, jawab Nanda.


Hening sejenak sebelum akhirnya Yoga membuka suara.


"Zu, Nanda biar aku saja yang mengantar kalian pulang," tawar Yoga.


Mendapat tawaran dari Yoga, Azzura dan Nanda saling berpandangan.


"Kalau begitu, biar Azzura saja bareng kamu. Soalnya aku bawa motor sendiri," sahut Nanda.


"Zu, apa nggak apa-apa jika aku yang mengantarmu pulang?" tanya Yoga sekaligus meminta izinnya


"Iya nggak apa-apa," lirihnya.


"Sebentar, aku temui ibu dulu," izinnya lalu membuka pintu kemudian menghampiri ibu.


Sedangkan Azzura dan Nanda menunggu di luar.


"Bu," sapa Yoga sesaat setelah berada di dalam kamar rawat itu. Yoga pun duduk di kursi samping bed pasien kemudian menggenggam erat jemari ibu.

__ADS_1


Untuk sejenak ia tak mampu berkata-kata saat menatap lekat wajah pucat wanita paruh baya itu.


"Nak ... ada apa? Kenapa kamu menatap ibu seperti itu?" tanya ibu seraya mengelus punggung tangannya.


"Nggak apa-apa, Bu," jawabnya dengan suara lirih lalu menunduk dan seketika itu juga dua kristal bening ikut berjatuhan dari bola matanya.


"Nak, jangan sedih begitu. Ibu baik-baik saja," kata ibu.


Yoga hanya mengangguk. "Bu ... aku ingin membahagiakan ibu dan Azzura. Weekend nanti, aku nggak ingin melewatkan satu detik pun bersama kalian," lirih Yoga dengan suara tercekat.


Mendengar ucapan tulus dari Yoga, ibu merasa terharu lalu mengelus kepalanya.


"Nak Yoga, sejak awal ibu sudah bisa merasakan jika kamu adalah pria yang baik, bertanggung jawab dan sangat menyayangi Azzura. Terima kasih dengan segala ketulusanku, Nak," tutur ibu masih sambil mengelus kepalanya."Berjanjilah pada ibu, jika sewaktu-waktu ibu akan berpulang, kamu akan terus setia menjadi suami yang baik bagi putri dan cucu ibu kelak," harap ibu dengan seulas senyum.


Air mata Yoga semakin deras berjatuhan mendengar kalimat amanat dari ibu. Ia hanya bisa mengangguk pelan.


Bu, andai saja saat ini posisi sebagai suami benar-benar adalah aku, putri ibu tidak akan sakit mentalnya. Jika ibu tahu kondisi mentalnya saat ini, aku juga nggak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi pada ibu.


"Nak, pulanglah ... Azzura sudah menunggumu," pinta ibu.


"Baiklah Bu, aku pamit," lirihnya lalu beranjak dari kursi kemudian keluar dari kamar rawat itu.


Sesaat setelah berada di luar kamar, ia ikut duduk di kursi tunggu bersisian dengan Azzura dan Nanda.


"Zu, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya. Meski sudah tahu kondisi Azzura yang sebenarnya namun ia tak ingin lancang.


"Ya, aku baik-baik saja," bohongnya seraya menyeka keringat di wajahnya.


"Ayo, kita berangkat sekarang," ajaknya


"Hmm."


"Nanda, aku dan Yoga duluan ya," izin Zu.


"Baiklah, sampai ketemu besok di cafe."


Azzura hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Azzura memasang seat belt, barulah Yoga mulai melajukan kendaraannya.


Yoga tidak langsung mengantarnya pulang melainkan mengarahkan kendaraannya itu ke salah satu tempat wisata malam kota J.


Sadar jika Yoga mengubah haluan, Azzura meliriknya dengan penuh tanda tanya.


"Yoga, ini seperti mengarah ke salah satu tempat wisata malam," celetuknya.


"Ya, kamu benar. Kita akan ke sana. Sayang sekali Nanda nggak ikut," sahut Yoga lalu terkekeh.


Maaf Zu, setidaknya pergi ke tempat wisata malam seperti itu akan sedikit membantumu menghilangkan kegelisahanmu.


Kurang lebih tiga puluh menit mengendara, akhirnya keduanya tiba juga di tempat itu.


Senyum Azzura langsung mengembang melihat tempat wisata malam itu.


"Masya Allah, sudah lama sekali aku nggak ke sini," desisnya lalu menggandeng lengan Yoga memasuki tempat itu.


"Zu," lirih Yoga, dadanya tiba-tiba saja berdetak kencang ketika lengannya digandeng.


"Nggak apa-apa, anggap saja aku ini adikmu yang sedang menggandeng kakaknya," imbuh Zu dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Baiklah," timpal Yoga lalu terkekeh. "Mau mencoba beberapa wahana yang menguji adrenalin?" tantang Yoga.


"Siapa takut," balas Zu menerima tantangan Yoga.


"Aku jadi teringat almarhum ayah. Jika kami ke sini aku yang suka mengajak ayah mencoba wahana ekstrim. Sebaliknya ibu, ibu hanya jadi penonton saja," kata Zu.


"Benarkah? Ternyata kamu bernyali juga ya," imbuh Yoga.


Setidaknya mengajak gadis itu mengobrol sambil mencoba beberapa wahana di tempat itu sedikit melupakan trauma psikisnya.


.


.


Meninggalkan Azzura dan Yoga yang sedang berada di tempat wisata malam, sebaliknya dengan Close yang saat ini sedang berada di salah satu club' malam ternama di kota J bersama teman-temannya.


Walaupun jam masih menunjukkan pukul 20.30 malam, tapi tak menyurutkan niatnya dan teman-temannya untuk berada di tempat itu.


Sejak tadi Close terlihat menenggak minuman beralkohol bersama teman-temannya diselingi dengan obrolan kecil


"Close, tumben kamu nggak bareng Laura," tanya Sammy.


"Palingan bentar lagi dia muncul," timpalnya dengan seringai tipis membayangkan kekasihnya itu yang pastinya akan tampil dengan pakaian serba kekurangan bahan.


"Close, apa kamu nggak merasa bersalah pada istrimu? Ini bahkan sudah enam bulan kalian menikah, tapi kamu masih saja nggak pernah berubah," celetuk Mizan tiba-tiba. "Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari," sambung Mizan sekaligus menasehati temannya itu.


Close hanya bergeming sambil menyesap rokoknya dalam-dalam lalu menghembusnya dengan kasar.


Seketika benaknya langsung membayangkan kedekatan istri dan asistennya itu. Bahkan Keduanya tak terlihat canggung.


Senyum tulus istrinya itu terus terukir jika bersama dengan sang asisten. Sebaliknya jika bersamanya, alih-alih tersenyum ia malah terlihat kaku dan menatap jijik padanya.


Satu jam berlalu ...


Ketika ia baru saja akan beranjak dari tempat duduknya, Laura baru saja tiba dan langsung memeluknya kemudian mengecup bibirnya.


"Laura, aku pulang dulu. Kepalaku pusing," bisiknya.


"Aku baru saja datang dan kamu malah sudah ingin pulang?" protesnya.


"Please ... biarkan aku pulang, aku ingin beristirahat. Besok kita bisa bertemu lagi di kantor," tegasnya.


"Apa kamu nggak ingin aku menginap di rumahmu malam ini," cetusnya dengan dengan nada menggoda.


"Not for tonight, Laura," tolaknya lalu melepas kedua tangan gadis itu dari pinggangnya dan berlalu meninggalkannya.


Sontak saja penolakan Close membuatnya kesal dan jengkel.


Mizan dan Sammy hanya terkekeh melihatnya dicuekin.


"Sudahlah Laura ... ingat dia itu sudah beristri," sindir Mizan dengan senyum sinis.


"Ya istri, tapi hanya di atas kertas," sahutnya dengan perasaan dongkol.


Sementara itu, Close yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang, tampak sesekali memijat kening dan pangkal hidungnya.


"Aku merasa seperti nggak enak badan," keluhnya dan semakin menambah kecepatan mobilnya supaya cepat tiba di rumahnya.

__ADS_1


...πŸͺ΄................πŸͺ΄...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2