
"Terima kasih, Paman," ucap Close dengan lirih. "Paman ... sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada Paman," sambung Close.
Seketika kening pak Prasetya berkerut tipis lalu meliriknya.
"Tanyakanlah ..." kata pak Prasetya.
"Paman ... maaf jika aku sedikit lancang. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama mengusik hati dan pikiranku. Aku hanya ingin tahu kejelasannya saja," kata Close. "Apakah sebelumnya Paman dan Azzura menjalin hubungan spesial?"
Dengan ragu-ragu Close melayangkan pertanyaan itu lalu menundukkan pandangan wajahnya.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Close, Pak Prasetya tak langsung menjawab melainkan mengelus dadanya lalu kembali merangkul bahu Close.
Sambil tersenyum, pak Prasetya pun menjawab pertanyaan dari pria blasteran itu. "Nggak ada hubungan spesial apa pun di antara kami berdua. Hubungan kami tak lebih dari seorang anak dan ayah," jelas pak Prasetya.
"Meski aku mencintainya, tetap saja aku hanya bisa menyimpan rasa cinta itu sampai detik ini. Meski perasaan ini salah."
Hening ....
Hembusan angin yang menerpa keduanya terasa begitu sejuk merasuk ke setiap jengkal tubuh sempurna kedua pria berbeda usia itu.
Close menghela nafas panjang lalu merogoh saku celananya. Hawa dingin memaksanya untuk membakar sebatang rokok untuk disesapnya.
"Rokok, Paman?!" tawar Close sesaat setelah membakar rokoknya.
"No ... thanks ..." tolak pak Prasetya karena ia memang bukan perokok.
Kembali hening ...
Keduanya kembali larut dengan perkiraan masing-masing sambil memandangi keindahan Kota A di malam hari itu.
"Paman, sekali lagi aku minta maaf. Aku sudah salah paham pada Paman dan Azzura. Aku mengira paman adalah SUGAR DADDY Azzura."
Mendengar pengakuan Close barusan, pak Prasetya mengulas senyum lalu menoleh ke arahnya. Pria paruh baya itu tak menyangka jika Close bisa berpikiran seperti itu.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, Close?" tanya pak Prasetya seraya menepuk pundaknya.
Close pun mulai menceritakan semuanya pada pak Prasetya tanpa ada satupun yang ia sembunyikan termasuk sejak terakhir mereka berseteru di rumah sakit.
Setelah mendengar semua cerita Close, pak Prasetya hanya bisa menghela nafas lalu merangkul bahunya.
Kesalahan Close adalah, ia tak mencari tahu lebih dulu sebelum menyimpulkan semuanya. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan membuatnya membenci Azzura.
"Maafkan aku Paman," ucap Close lagi lalu menyesap rokoknya dalam-dalam.
"Semuanya sudah berlalu Close. Jadikan semua itu pelajaran hidup. Belajar dari kesalahan bisa membantumu lepas dari penyesalan, mengajarkanmu untuk melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang serta selalu berpikir positif."
"Dalam menjalani kehidupan, kita harus melihat segalanya dari berbagai perspektif. Itulah mengapa, kita harus bisa belajar sekalipun dari kesalahan yang telah kita perbuat," pungkas pak Prasetya tanpa melepas rangkulannya dari pria yang sebaya dengan putra bungsunya itu.
Dalam diam Close hanya mengangguk pelan lalu kembali menyesap sisa rokoknya.
Setelah cukup lama berada di rooftop, Close akhirnya mengajak pak Prasetya meninggalkan tempat itu sekaligus akan mengantarnya ke apartemen Yoga.
.
.
.
Sesaat setelah tiba di depan gedung apartemen Yoga, pak Prasetya tak lupa berterima pada Close.
"Close, terima kasih. Oh ya, jika boleh paman sarankan, jangan terlalu merokok, sebaiknya kurangi karena nggak baik bagi kesehatan," pesan pak Prasetya.
"Baik, Paman," balas Close disertai anggukan kepala.
"Ya sudah, hati-hati di jalan," kata pak Prasetya.
__ADS_1
Lagi-lagi Close hanya mengangguk pelan lalu kembali melajukan kendaraannya itu menuju hotel miliknya.
Ketika kendaraannya itu sudah melaju di pertengahan jalan, ia memelankan laju roda kendaraannya itu ketika melihat seseorang yang tak asing baginya.
Ia pun menghentikan mobilnya di bahu jalan. Setelah itu, ia menghampiri gadis yang berada di seberang jalan lalu menyapanya.
"Syakila?! Apa ada masalah?" tanyanya.
Gadis itu langsung berbalik dengan dengan wajah getir.
"Iya ... mobilku mogok lagi. Padahal sudah diservis beberapa hari yang lalu," keluh Sya dengan hela nafas.
Close langsung terkekeh mendengar keluhan gadis itu.
"Sepertinya dia sudah bosan dengan pemiliknya kali. Makanya dia mogok lagi," kelakar Close disertai tawanya.
"Memangnya kenapa jika mobilku sudah bosan dengan pemiliknya? Memangnya kamu mau beliin yang baru?" kesal Sya sambil memutar bola matanya malas.
"Idiiihh ... gitu saja marah," balas Close masih sambil tertawa. "Ntar cepat tua loh, Neng."
"EGP!" sahut Sya lalu duduk di atas bumper mobilnya sambil menunggu petugas derek.
(Emang gue pikirin)
"Apaan tuh?!" tanya Close dengan wajah bingung.
Kini gantian Syakila yang tertawa menatap wajah bengong pria blasteran itu. "Gitu saja nggak tahu," ledek Sya sekaligus mengabaikan tatapan Close.
Close menggedikkan bahunya lalu menghela nafas.
"Sebenarnya kamu dari mana sih, malam-malam begini? Sendirian lagi. Ayo ... sebaiknya biar aku saja yang mengantarmu pulang," tawar Close.
"Memangnya kamu tahu rumahku di mana?" ketus Sya.
Close terkekeh mendengar nada ketus dari gadis itu. "Jelaslah aku nggak tahu jika kamu nggak memberitahuku," jawab Close dengan santainya.
"Mau nggak?" tawar Close lagi.
Syakila hanya diam sambil menunduk. Sedetik kemudian ia pun mengiyakan tawaran Close.
"Ayo ... nggak baik di jam segini gadis baik seperti dirimu masih terlihat di jalanan. Takutnya mengundang para preman jalanan," kata Close lalu mengajaknya menuju ke arah mobilnya di seberang jalan.
Dengan patuh Syakila hanya menurut lalu menyusulnya dari belakang. Sesaat setelah keduanya duduk tenang di dalam mobil, Syakila pun memberitahu alamat rumahnya.
Setelah tahu alamat rumah gadis itu, Close mulai melajukan kendaraannya ke alamat rumah yang dimaksud.
Di sepanjang perjalanan, Syakila hanya diam dengan pandangan mengarah ke samping kaca mobil.
"Sebenarnya kamu dari mana malam-malam begini?" tanya Close sekaligus membuka suara.
"Aku baru pulang dari rumah sepupuku sekaligus menghibur diri," jelas Sya apa adanya dengan posisi yang sama.
"Oh ..." Close hanya ber oh ria sambil fokus menyetir.
Setelah itu, sudah tak ada pembicaraan hingga keduanya tiba di tempat tujuan.
"Terima kasih ya untuk tumpangannya. Maaf jika aku bersikap ketus tadi," kata Sya dengan lalu mengulas senyum.
"Nggak apa-apa, aku memakluminya," sahut Close. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju hotel.
********
Beberapa jam berlalu ...
Setelah membersihkan dirinya, Close memilih ke teras balkon kamarnya. Menyesap rokoknya sambil termenung.
__ADS_1
Memejamkan matanya membayangkan wajah Azzura. Sekelumit ingatannya kembali memenuhi benaknya. Potongan kenangan ketika pernah menjalin hubungan dekat dengan ex istrinya itu kembali terbayang.
"Azzura ..." ucapnya lirih
Dadanya kembali terasa sesak ketika potongan ingatannya mulai terbayang akan serentetan kekerasan fisik yang pernah ia lakukan padanya.
Mengumpat dengan kata-kata kasar serta tak memperdulikan perasaannya yang sering melakukan hubungan terlarang di rumah mereka kala itu.
Close mencengkram besi pembatas sambil tertunduk. Air matanya seketika itu juga langsung mengalir deras.
"Sudah enam tahun berlalu, Zu. Aku masih belum bisa melupakan dirimu. Jujur saja, saat melihatmu bersama Genta dan anak-anakmu aku merasa cemburu."
"Aku selalu membayangkan jika aku yang berada di posisi Genta," ucapnya sambil terisak. "Semuanya salahku, ya ... salahku. Aku sudah berusaha mencoba melupakan dirimu tapi aku nggak bisa."
Close mendongak memandangi langit yang terlihat gelap tanpa bintang disertai dengan beberapa kali kilatan cahaya serta suara gemuruh di langit.
Tak lama berselang, perlahan tetesan rintik hujan mulai berjatuhan menerpa wajahnya. Semakin lama rintikan air dari langit itu semakin deras.
Close tetap bergeming ditempat. Lagi-lagi ia teringat saat berada di pemakaman mertuanya kala itu.
Layaknya hujan yang semakin deras membasahi bumi, air matanya juga semakin deras mengalir dari kelopak matanya.
"Azzura ... bagaimana caranya supaya aku bisa melupakan dirimu? Bagaimana caranya menghapus semua bayangan wajahmu di mataku? Bagaimana caranya, Zu?"
Sambil terisak ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Selama ini ia memang terlihat baik-baik saja namun hanya di luar saja.
Siapa yang menyangka jika ia ternyata serapuh kayu yang telah lapuk. Penyesalan mendalam yang ia rasakan selama ini masih saja merasuki sanubarinya.
"Harus berapa lama lagi aku akan terjebak dengan penyesalan serta rasa bersalahku padamu Zu? Aku sudah mencoba keluar dari zona itu tapi belum berhasil."
.
.
.
.
Jauh dari kota A tepatnya di Kota M, Azzura masih betah duduk di ruang santai meski waktu kini telah larut.
Entah mungkin karena kontak batin dengan ex suaminya atau sebaliknya. Sejak tadi ia terlihat gelisah tanpa sebab.
"Astaghfirullah ... kenapa aku merasa gelisah begini?" gumamnya sambil menghela nafasnya kemudian mengelus perutnya.
Tak lama berselang Genta menghampirinya.
"Sayang! Sedang apa kamu sendirian di sini? Nggak seperti biasanya kamu seperti ini," selidik Genta lalu duduk di sampingnya.
Sontak saja Azzura langsung terlonjak kaget saat Genta menegur lalu duduk di sampingnya.
"Entahlah Mas, tiba-tiba saja aku teringat Close. Apa dia baik-baik saja ya?" aku Zu lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Tumben?" bisik Genta lalu mengecup keningnya.
"Entahlah Mas," balas Zu dengan perasaan yang tiba-tiba saja menjadi melow mengingat mantan suaminya itu.
"Doakan saja dirinya, Sayang. Mungkin saat ini dia sedang mengingat atau merindukan dirimu. Ngomong-ngomong, sudah lama kita nggak pernah bertemu dengannya. Hanya berkabar lewat ponsel saja," kata Genta.
"Sayang, jika kamu punya waktu luang, sempatkanlah bertemu dengannya. Semangati dirinya. Jujur saja, sejak terakhir kali kita bertemu dengannya, mas bisa melihat dari tatapan matanya padamu, ia masih menyimpan penyesalan mendalam."
"Close pasti akan terhibur jika kamu sekalian mengajak anak-anak bertemu dengannya," saran Genta.
Mendengar saran dari suaminya itu, Azzura kembali menegakkan badannya lalu memandangi wajah suaminya dengan lekat.
Sikap bijaksana dari suaminya itu selalu sukses membuatnya kagum. Sungguh ia merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki suami seperti Genta.
__ADS_1
"Aku rasa itu bukanlah saran yang cukup bagus, Mas. Ada baiknya jika Mas saja yang berbicara secara empat mata padanya." Azzura balik memberi saran. "Aku rasa itu lebih afdol karena langsung dari hati ke hati."
Genta hanya mengangguk pelan sambil memikirkan waktu yang tepat untuk bertemu dengan ex suami Azzura itu.