
Meninggalkan Yoga dan Rissa, Syakila yang sejak tadi lebih dulu meninggalkan kediaman kakak sepupunya, kini sedang berada di kamarnya.
Menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan. Meski belum pernah mengutarakan perasaannya pada Yoga namun tetap saja ia merasa terluka dan cemburu.
"Kenapa aku begitu bodoh, kenapa berharap lebih padanya. Sedangkan dia nggak pernah peka dengan perasaanku," ucap Sya dengan lirih sambil menyeka air matanya.
"Kenapa dia begitu perhatian dan juga peduli padaku jika hatinya tetap untuk wanita lain, kenapa? Kenapa Yoga?" Syakila terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Untuk sejenak Syakila bergeming sambil menunduk menatap nanar lantai ubin kamarnya.
"Sepertinya aku harus menyatakan perasaanku padanya. Daripada aku terus memendamnya, yang ada aku selalu baper padanya," gumam Sya dengan hela nafas.
Sedetik kemudian ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar. Kedekatan Yoga dengan Rissa tadi kembali memenuhi benaknya.
.
.
.
__ADS_1
.
Sedangkan Yoga yang kini sedang berada di salah satu penginapan tampak sedang berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Saat memejamkan matanya. Wajah Azzura seketika menghiasi benaknya.
"Zu ... apa yang aku rasakan saat ini, apa seperti itu yang kamu rasakan saat itu? Saat dirimu berada diantara aku dan bang Genta? Terjebak diantara dua pilihan serta merasakan dilema?"
"Jodoh begitu sulit tertebak. Saat takdir hampir mempersatukan kita, takdir itu juga yang memisahkan kita, hingga hadir bang Genta dalam kehidupan mu dan akhirnya menjadi pendamping hidupmu."
"Kini saat aku sudah melupakan dirimu, hadir dua wanita yang membuatku dilema."
Sementara Rissa yang kini sedang berada di kampus masih tampak melaksanakan kegiatannya di dalam kelas.
Beberapa jam berlalu ...
Akhirnya selesai juga tugasnya memberi materi serta penjelasan pada mahasiswanya. Setelah itu ia meninggalkan kelas lalu menuju ke ruang kerjanya.
Setelah mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya, ia pun merogoh tasnya lalu mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang ia menghubungi Yoga supaya menjemputnya. Meskipun tak enak hati karena merasa merepotkannya namun ia juga tak ingin mengecewakan pria itu.
Setelah menunggu beberapa detik menunggu, panggilan darinya langsung dijawab oleh Yoga.
"Assalamu'alaikum, Rissa apa kamu sudah selesai?" tanya Yoga dari seberang telepon.
"Waa'laikumsalam, iya barusan. Maaf sudah merepotkan dirimu." jawab Rissa.
"Ya sudah, aku ke sana sekarang. Tungguin ya," pesan Yoga lalu memutuskan panggilan telepon.
Begitu panggilan terputus, Rissa menghela nafas lalu meletakkan ponselnya di atas meja lalu termenung.
Ia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Sikap Yoga yang terkesan seperti melindunginya, selalu sukses membuat hatinya merasakan ada yang sulit ia artikan.
Entahlah, selama dua tahun terakhir menjalin pertemanan sekaligus sebagai pasien dan dokter, ia merasa semakin nyaman berada di dekat pria itu.
Namun ia juga masih merasakan keraguan dalam dirinya. Secara dia merupakan korban pelecehan seksual. Mana mungkin seorang pria bisa menerima keadaannya begitu saja.
Ia merasa seakan tak pantas jika menaruh hati pada Yoga meski perasaan itu ada.
__ADS_1
"Clarissa ... apa yang sedang kamu pikirkan. Jangan berharap lebih. Kamu nggak pantas buat Yoga," gumamnya. "Ya Tuhan ... kuatkan lah aku. Biarkan aku hidup dengan kesendirian tanpa berharap banyak padanya."