Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...


__ADS_3

Saat tahu siapa yang membuka pintu, sontak saja mata keduanya membola. Momy Lio langsung menghampiri keduanya dengan tatapan menghunus tajam.


Tanpa pikir panjang, momy Lio langsung mendaratkan tamparan yang cukup keras di wajah keduanya.


"Sekarang momy mengerti mengapa Azzura memutuskan bercerai darimu," kata momy dengan nada dingin. "Ternyata karena wanita jala*ng ini. Sepertinya masih banyak rahasia yang kamu sembunyikan dari momy," sambung momy Lio dengan suara tercekat.


"Mo-momy," lirih Close dan Laura.


"Jangan memanggilku momy!!" bentak momy Lio pada Laura dengan tatapan benci. "Karena aku bukan mertuamu bahkan aku nggak pernah menyukaimu sejak dulu bahkan sampai sekarang!" tegas momy Lio dengan begitu dongkolnya. "Wanita murahan!!" makinya kemudian menghampiri Close lalu mencengkeram baju putranya itu.


"Mulai detik ini besok atau seterusnya jangan berharap momy akan berkunjung lagi ke sini atau memberimu dukungan. Berusahalah untuk sembuh dan segera cari keberadaan menantu momy itu!! Jika tidak, jangan pernah menemui momy lagi," ancam momy Lio lalu mendorongnya.


"Dan kamu wanita jala*ng!!" Momy Lio mendekati Laura dengan tatapan benci. "Apa sekarang kamu merasa puas setelah mereka bercerai hah?!!" bentak momy Lio.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Setelah itu, ia mendekatkan wajahnya ke Laura lalu berbisik,


"Dengarkan aku baik-baik. Kamu pikir aku nggak tahu jika kamu punya pria lain selain Close, hah!" geramnya. "Bahkan aku sangat yakin jika anak yang ada di rahimmu bukan cucuku melainkan anak dari pria lain," tegas momy Lio.


Dengan susah payah Laura menelan salivanya. Kemarahan momy Lio sontak saja membuat nyalinya menciut.


Bukan tanpa alasan, momy Lio beberapa kali memergoki gadis blasteran itu kencan dengan pria lain selain Close. Bahkan pernah memergokinya menginap di hotel dengan pria yang sama pula.


Setelah menyelesaikan kalimatnya, momy Lio langsung meninggalkan kamar rawat itu dengan perasaan kecewa dan hati yang hancur.


"Azzura anakku, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari momy? Bahkan kepergianmu pun terasa begitu mendadak," lirih momy dengan suara tercekat sambil mempercepat langkahnya menuju lift.


Sementara di kamar rawat, Close langsung berteriak dan menghambur semua benda yang ada di dalamnya dan mengusir Laura supaya meninggalkannya.


Seketika Daffa dan Amel yang sedang berbincang-bincang di ruang kerjanya dibuat kaget.


"Mel, siapkan suntikan penenang dan hubungi beberapa perawat pria," perintah Daffa dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Amel.


Keduanya langsung tergesa-gesa menuju kamar rawat Close yang memang tak jauh dari ruang kerjanya.


"Close!!" pekik Daffa sesaat setelah tiba di kamar itu lalu menghampirinya kemudian menahan tubuh besarnya. "Mel ... ayo cepat berikan suntikan itu," perintah Daffa.


"Let me go!!!" teriak Close sambil memberontak dan enggan disuntik. "Let me go!!!" berontaknya lagi. Saking kuatnya ia memberontak, malah membuat keduanya terjatuh.


Untung saja tak lama berselang beberapa perawat pria segera memasuki kamar itu dan ikut menahan tubuh Close.


Setelah diberikan suntikan obat penenang, tak lama kemudian ia pun tak sadarkan diri. Belum kelar masalahnya dengan Azzura, kini ia harus menghadapi masalah baru karena sang momy enggan bertemu lagi dengannya.


πŸ˜†βœŒοΈ


"Tolong angkat dan baringkan dia ke bed pasien," perintah Daffa. "Tolong ikat kaki dan tangannya. Hanya untuk berjaga-jaga saja," perintah Daffa lagi.


Melihat kamar itu berserakan dengan ulah Close, sang psikolog hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia juga merasa bingung padahal baru beberapa menit ia meninggalkan pria itu dan merasa ia baik-baik saja. Namun tak lama kemudian ia malah mengamuk dan membuat seisi kamar berantakan.


"Nona, tolong tinggalkan pasien," pinta Daffa.


Laura hanya mengangguk sekaligus merasa shock mendapati kondisi Close. Bahkan ucapan pedas momy Lio barusan, masih saja terngiang-ngiang di telinganya.


.

__ADS_1


.


.


Meninggalkan Close yang semakin depresi karena harus mengahadapi dua masalah sekaligus, berbeda halnya dengan Azzura.


Gadis itu malah tampak bahagia sejak menetap di kota M. Namun tetap saja ia masih berusaha melawan trauma psikis dan kegelisahannya ketika malam menjelang.


Sambil menunggu kedatangan Ayya dan Genta, ia di temani oleh Nina. Keduanya kini berada di dapur.


"Zu ..." sebut Nina.


"Hmm."


"Kamu ini lucu ya, lulusan tata boga tapi malah memilih mengajar anak-anak TK," celetuk Nina.


"Kebetulan waktu itu nggak sengaja bertemu dengan omanya Ayya di cafenya. Dia malah menawari pekerjaan itu. Kebetulan saat itu aku masih menunggu panggilan. Pikirku nggak ada salahnya menerima tawaran itu sambil menunggu panggilan kerja, jadi aku terima saja," jelas Zu panjang lebar lalu terkekeh.


"Jika boleh tahu, apa sudah ada panggilan kerja dari salah satu tempatmu melamar?" tanya Nina.


"Hmm ... tapi aku sudah nggak tertarik. Soalnya aku malah lebih senang di kelilingi bocah-bocah lucu di sekolah itu," aku Zu lalu mengulas senyum sambil membayangkan wajah lucu dan menggemaskan anak-anak didiknya.


Sifatnya keibuan banget. Selain lembut dan sopan dalam bertutur kata dia juga selalu mengajarkan hal-hal kebaikan pada Ayya. Jika Genta menikahi Azzura, aku akan sangat mendukungnya.


Nina membatin sambil mengelus perutnya. Senyuman kini menghiasi wajahnya. Matanya pun tak lepas memperhatikan gerak gerik gadis itu.


Tak lama berselang, pintu rumahnya diketuk dan terdengar suara orang yang sedang di tunggu-tunggu sejak tadi memberi salam.


"Assalamu'alaikum ... Bunda, Tante Nina," ucapnya dengan penuh semangat.


Keduanya pun segera menyambut gadis cilik itu di depan pintu.


"Sayang, Mas, ayo masuk," ajak Zu dengan seulas senyum lalu menggenggam tangan mungil Ayya masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, Zura," balas Genta sambil mengikuti langkah ketiga-nya.


"Bunda, beneran ya kita main masak-masakan," celotehnya. Dengan seulas senyum Azzura hanya mengangguk sekaligus merasa gemas.


Sedangkan Nina dan Genta memilih duduk lesehan di ruang tamu sederhana itu yang memang tak dilengkapi sofa maupun kursi.


Namun keduanya cukup nyaman karena rumah kontrakan itu sangat rapi dan bersih.


"Nin, apa Azzura sudah lama tinggal di sini?" tanya Genta.


"Sudah sebulan, sejak di pindah dari kota asalnya," jawab Nina apa adanya.


"Sebulan? Berarti itu masih baru," balas Genta dan di jawab dengan anggukan kepala sahabatnya. "Apa selama ini Ayya sering main ke sini?"


Nina terkekeh menatapnya lalu menggodanya.


"Mau tahu apa mau tahu banget?" goda Nina.


Genta berdecak mendengar godaan sahabatnya itu. "Ck ... tinggal jawab ya atau tidak, apa susahnya sih?" kesal Genta.

__ADS_1


"Biasanya Azzura membawanya ke toko kue dulu setelah itu baru pulang ke rumah," jawabnya. "Sepertinya Ayya sangat menyayangi Azzura daripada mamanya sendiri. Kamu bisa lihat sendiri kan, bahkan Ayya memanggilnya bunda," sambungnya.


Tak lama berselang Azzura dan Ayya tampak menghampirinya dengan membawa nampan. Berisi kopi hangat dan irisan kue buatannya.


Setelah menyuguhkan kopi dan teh, Azzura mempersilahkan mencicipi kopi dan kue yang dihidangkan.


Obrolan mereka berlanjut dengan saling melempar candaan. Seketika ruangan itu tampak riuh dengan suara tawa mereka.


Ada kehangatan yang Azzura rasakan dengan kehadiran Ayya, Genta dan Nina. Ia serasa memiliki keluarga.


Namun entah mengapa tiba-tiba saja ia teringat akan sahabatnya Nanda, Yoga, Farhan dan Aida. Ada kerinduan yang mendalam pada keempat sosok itu.


Bukan rahasia lagi jika selama ini merekalah yang selalu ada menemani dan menyemangati dirinya bahkan di masa-masa kritis sang ibu.


Aku merindukan kalian. Maaf bukannya aku nggak ingin menghubungi kalian tapi ponselku hilang saat akan berangkat ke kota ini.


Azzura membatin pilu. Sedetik kemudian ia melirik Ayya yang sedang menatap curiga padanya. Ia langsung mengecup kepalanya lalu memeluknya.


"Bunda kenapa sedih," bisiknya.


"Kok Ayya tahu jika aku lagi sedih?" gumam Zu dalam hatinya.


"Bunda, biasanya jika Ayya sedih ayah akan mengajak Ayya ke pantai," bisiknya gadis cilik itu lagi.


Seketika senyum Azzura menghiasi wajahnya mendengar celetukkan gadis cilik itu.


"Apa boleh?" tanya Zu dengan nada bercanda dan dijawab dengan anggukan.


Keduanya malah jadi tontonan Genta dan Nina sekaligus merasa heran apa yang sedang keduanya bicarakan.


"Sayang, ngomong apa sih sambil bisik-bisik? Apa ayah dan Tante Nina nggak boleh tahu?" tanya sang ayah.


"Ayah, Tante, kita ke pantai saja yuk," ajaknya tiba-tiba.


Genta dan Nina terkekeh mendengar permintaan Ayya.


"Boleh, sebentar lagi ya, Sayang. Setelah kopi ayah habis," tawar Genta.


Satu jam berlalu ...


Kini mereka tampak sudah bersiap menuju lokasi yang diinginkan sang putri.


"Maaf ya, Mas. Kebetulan aku sudah lama aku nggak melihat laut," Kata Zu ketika mobil yang di kendarai Genta mulai meninggalkan rumah kontrakannya.


"Nggak apa-apa, Zura. Kebetulan aku masih punya waktu sampai besok," sahut Genta. "Oh ya, hari Senin aku akan kembali menitip Ayya padamu di sekolah. Soalnya aku akan kembali bertugas di pangkalan udara selama seminggu kedepan," pungkasnya.


"Iya, Mas," jawab Zu sambil mengangguk.


Sedangkan Ayya dan Nina hanya menjadi pendengar keduanya. Di sepanjang jalan mereka kembali melempar candaan.


Bahkan Nina tak segan menggoda Genta sekaligus membuat pria itu salah tingkah.


...----------------...

__ADS_1


Mumpung hari Senin, jangan lupa berikan votenya ya readers βœŒοΈβ˜ΊοΈπŸ™ Maaf ngarep banget. Maaf jarang up karena kesibukan di dunia nyata sebagai emak berdaster πŸ˜†βœŒοΈ


Salam hangat penuh cinta dari kota perbatasan Kaltara. πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2