
Dua Minggu berlalu ...
Setelah pulang honeymoon dari pulau Maldives, Yoga mengundurkan diri secara baik-baik dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Meminta izin kepada mertuanya untuk membawa Rissa tinggal di Kota J. Tujuannya bukan saja akan menggantikan sang ayah sebagai pimpinan di Prasetya Hospital namun sekaligus ingin menyemangati Close yang akan berangkat umroh.
Sudah dua minggu terakhir sejak Yoga dan Rissa pindah dari Kota A. Kini Yoga dan Rissa kembali aktif beraktivitas seperti biasanya.
Meski Yoga melarangnya untuk mengajar di kampus, namun sang istri tetap bersikeras karena merasa suntuk tak berbuat apa-apa.
Sedangkan Close, masih berada di tanah suci Mekkah menjalankan umrohnya dan akan segera kembali ke kota J. Terhitung sejak terakhir ia berada di Mekkah, hari ini adalah hari terakhir ia berada di tempat itu
*******
Tok ... tok ... tok ...
Bunda Fahira langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang diketuk. Tak lama berselang pintu itu dibuka.
"Sayang ..." ucap bunda dengan seulas senyum menatap menantunya.
"Bun, aku bawakan makan siang," sahut Rissa lalu menghampiri mertuanya sambil membawa dua paper bag makanan.
"Kenapa repot-repot, Nak," kata bunda.
"Nggak apa-apa, Bun," balas Rissa.
Bunda Fahira kembali mengulas senyum lalu mengajaknya duduk di sofa. "Apa kamu nggak mengajar hari ini, Nak?"
"Nggak, Bun, besok. Hari ini aku off," jawab Rissa. "Bun, aku tinggal ya, soalnya aku mau ke ruangan Yoga. Ini makan siang untuk Bunda dan ayah."
Rissa meletakkan satu paper bag di atas meja lalu kembali berpamitan. Tujuannya sudah pasti ke ruangan kerja suaminya.
Sesaat setelah sampai di depan pintu ruangan suaminya, ia pun mengetuk pintu lalu membukanya.
"Sayang ... apa kamu sedang sibuk?" tanya Rissa sekaligus menyapa suaminya.
"Nggak Honey, ini baru saja selesai membaca laporan beberapa pasien," sahut Yoga seraya mengarahkan pandangannya kepada istrinya.
"Aku bawakan makan siang," kata Rissa lalu meletakkan paper bag makanan di atas meja sofa.
"Kemarilah," pinta Yoga seraya menepuk pahanya mengisyaratkan jika ia ingin Rissa duduk di pangkuannya.
Tanpa banyak kata, Rissa hanya menurut. Duduk di pangkuan suaminya seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung leher suaminya.
Ia mengulas senyum lalu mendaratkan kecupan di bibir. "Ada apa?" tanya Rissa dengan berbisik.
Mengelus rahang tegas Yoga lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher prianya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Honey, aku hanya ingin memelukmu saja," jawab Yoga dengan senyum yang kini mengembang karena ulah manja istrinya.
Hening sejenak ...
Yoga memejamkan matanya sejenak merasakan elusan lembut dari jemari lentik istrinya yang terus bermain di wajah turun ke dadanya
"Ssssttt ... Honey jangan memancing," desis Yoga lalu menahan jemari lentik itu. "Aku nggak akan kuat menahan jika jemari ini terus bermain manja."
Rissa terkekeh mendengar ucapan Yoga dengan suara berat menahan hasratnya. Setelah itu ia beranjak dari pangkuannya lalu mengajaknya duduk di sofa.
Ia pun mengeluarkan box makanan dari dalam paper bag lalu menatanya di meja. "Sayang, makan dulu ya. Ini sudah hampir jam satu siang," kata Rissa.
"Makasih Sayang," ucap Yoga disertai dengan anggukan.
.
.
.
.
Jauh dari kota J tepatnya di Masjidil Haram, Close dan beberapa rekannya tampak sedang berjalan mengelilingi Ka'bah.
Senyum pria blasteran itu pun tak pernah sirna wajah tampanbya. Suasana damai tercipta dalam sanubari merasuki relung hatinya.
Ia terus memegang dadanya sekaligus merasa terharu bisa dipermudah berada di tempat itu. Mengingat ia pernah berbuat sesuatu yang benar-benar telah menyakiti hati, fisik serta batin Azzura.
Berdoa memohon selalu dipermudah dalam segala urusan. Tak lupa ia berdoa supaya dipertemukan dengan jodoh yang baik layaknya sifat yang dimiliki oleh bunda dari Ayya, Devan dan Fattah Faatih.
Ada senyum yang terlukis indah di wajah tampannya membayangkan anak-anak dari wanita yang pernah menempati hatinya itu.
Setelah berdoa ia kembali melanjutkan langkahnya hingga ekor matanya tak sengaja terarah kepada seseorang yang tak asing baginya.
Entah apakah ia sedang bermimpi atau kah memang kenyataan. Gadis dengan pakaian syar'i yang sedang mengandeng seseorang.
Mungkin saja itu kedua orang tuanya. Sesekali ia tersenyum bersama dengan pria dan wanita paruh baya itu.
Lagi-lagi Close tampak berpikir, apakah ini suatu kebetulan ataukah sebuah takdir yang telah dijawab oleh sang pemilik alam semesta.
Ya ... gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Syakila dan kedua orang tuanya yang kini sama-sama sedang menjalankan ibadah umroh.
"Syakila ...?!" Close berucap lirih sembari terus mengikuti arah langkah gadis itu bersama kedua orang tuanya.
Tertegun sekaligus terpesona memandangi wajah Syakila yang kini sedang mengenakan pakaian serba tertutup.
"MasyaAllah ..." ucapnya nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Tak ingin melewatkan kesempatan, ia segera mempercepat langkahnya mengikuti gadis itu hingga berada tepat di belakangnya.
"Assalamu'alaikum ..." ucapnya memberi salam.
Sontak saja Syakila dan kedua orang tuanya menahan langkahnya lalu perlahan berbalik. Mencari tahu siapa gerangan yang menyapa mereka.
"Waa'laikumsalam ..." jawab Sya dan orang tuanya bergantian.
Pak Airlangga dan bu Suhada saling berpandangan dengan kerutan tipis di kening sekaligus merasa bengong.
Keduanya menatap lekat pria tinggi menjulang yang sedang berhadapan dengan mereka.
"Pak ... Bu ... aku Close, temannya Syakila," kata Close lalu mengulurkan tangan menjabat tangan keduanya.
Sedangkan Syakila mengatupkan bibirnya menahan tawa karena melihat penampilan Close yang agak berbeda.
Kepala plontos dengan kain ihram yang kini membalut tubuh kekarnya.
"Haah .... rasanya aku ingin terbahak detik ini juga," batin Sya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kila ..." tegur sang mama.
"Iya, Mah," sahutnya lalu melirik Close sekilas.
"Apa kalian sudah lama berteman? Atau memang sedang menjalin hubungan serius. Kok kebetulan banget?" selidik bu Suhada.
"Kami hanya berteman, Mah, Pah," jawab Sya seraya menatap mama dan papanya. "Dia rekan bisnis Bram juga teman dari Yoga sepupu kak Daffa," jelas Sya.
Pak Airlangga hanya mengulas senyum lalu mengajak mereka kembali melanjutkan langkahnya berkeliling Ka'bah.
Seperti mendapat angin segar, pak Airlangga sesekali membahas masalah bisnis dengan Close.
Keduanya bahkan terlihat sangat antusias. Sedangkan Syakila dan bu Suhada hanya bisa menjadi pendengar keduanya.
Sifat humble dan supel pak Airlangga membuat Close tak sedikitpun merasa canggung saat berbicara dengan pria paruh baya itu.
"Nggak nyangka banget, papanya Syakila baik banget. Aku seperti sedang mengobrol dengan Genta saja," batin Close sambil tersenyum tipis.
Ekor mata pun, sesekali mencuri pandang pada Syakila dan bu Suhada. Lagi-lagi sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan.
Ada yang sulit ia artikan dengan perasaan kini. Apalagi ia sangat menyukai Syakila dengan pakaian yang dikenakannya saat ini.
"Bisakah kamu akan seterusnya seperti itu? Jujur saja aku menyukai jika kamu terus mengenakan pakaian seperti itu."
Ungkapan isi hatinya itu hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya saja. Namun senyumnya tetap tersungging lalu memegang dadanya.
Debaran yang kini membuat dadanya berdebar tak karuan. Irama jantungnya seolah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
"Close ... apa yang kamu pikirkan? Apakah dia yang akan menjadi pengganti Azzura? Jika iya, jawablah doaku ya Allah," batin Close lagi seraya melirik Syakila
...----------------...