Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 14


__ADS_3

Dua hari setelah Yoga menghubungi sang bunda, kini kedua orang tuanya itu sudah berada di kota A tepatnya di apartemen Yoga.


Tujuannya tentu saja ingin bersilahturahmi dengan calon besannya sekaligus ingin mengenal sosok calon menantunya.


Setelah seharian beraktivitas menjalani perannya di rumah sakit jiwa, malam harinya ia dan kedua orang tuanya tampak sedang bersiap-siap.


Sehari sebelumnya, Yoga sudah memberitahu calon mertuanya jika ayah dan bundanya mengundang mereka makan malam di salah satu restoran hotel untuk bersilaturahmi.


Pun begitu tentang Rissa, Yoga sudah menceritakan kisah kelam gadis itu pada ayah dan bundanya.


Orang tua dari Yoga itu, sama sekali tidak mempermasalahkan tentang masa lalu gadis itu. Karena bagi keduanya, wanita pilihan sang putra adalah yang terbaik.


"Yoga," panggil sang ayah. Mendekat lah, Nak."


Yoga langsung mendekat lalu berhadapan dengan sang ayah


"Ayah bangga padamu. Meski gadis itu memiliki masa lalu yang kelam, kamu bisa menerima dirinya apa adanya," bisik pak Prasetya lalu memeluknya.


"Karena cinta nggak memandang seseorang dari masa lalunya seperti apa, Yah. Yang terpenting adalah sebuah keyakinan jika dia adalah jodoh yang terbaik bagiku," balas Yoga.


"Ya sudah ... ayo kita berangkat sekarang," ajak pak Prasetya.


Tujuan mereka kini adalah ke restoran yang terdapat di salah satu hotel milik Close. Ex boss-nya itu telah menyiapkan tempat khusus untuk pertemuan dua keluarga itu.


Setibanya di hotel, Close langsung menyambut kedatangan Pak Prasetya, bunda Fahira dan Yoga.


"Yoga, Pak, Bu," sapanya dengan ramah lalu mengajak mereka ke restoran hotel yang terdapat di lantai tiga.


Setelah mengantar mereka di meja khusus, Yoga sekalian berterima kasih pada ex boss-nya itu.


"Pak, nanti setelah selesai acara pertemuannya, apa kita bisa bicara sebentar?" kata Close penuh harap.


"Tentu saja bisa," sahut pak Prasetya seraya menepuk pundaknya.


"Baiklah, kita mengobrol di rooftop hotel saja nanti. Hubungi saja nomorku jika Bapak akan naik ke atas," pesan Close lalu berpamitan.


Sepeninggal Close, ketiganya pun duduk di kursi masing-masing sambil mengobrol santai menunggu kedatangan pak Imanuel, bu Erli dan Clarissa.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi, akhirnya tiba juga di tempat itu.

__ADS_1


"Pak, Bu, Rissa," sebut Yoga satu persatu. "Pak, Bu, Rissa, ini orang tuaku."


Yoga memperkenalkan kedua orang tuanya pada calon istri dan calon mertuanya. Uluran tangan keduanya pun langsung disambut baik oleh Rissa dan kedua orang tuanya.


"Senang bisa bertemu langsung dengan Bapak dan Ibu terlebih calon istrinya Yoga," kata pak Prasetya dengan ramah.


"Kami juga, Pak, Bu. Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam di sini," balas pak Imanuel.


Setelah saling mengenal, mereka lanjut mengobrol sambil menikmati hidangan yang telah disajikan di atas meja.


Karena kepribadian pak Prasetya dan bunda Fahira yang sangat ramah, keakraban langsung terlihat diantara mereka tanpa ada rasa canggung.


Sesekali terdengar suara tawa mereka di tempat itu. Diam-diam Rissa merasa kagum pada kedua orang tua dari Yoga.


"Baik banget orang tuanya yoga. Terlihat banget jika mereka ini sering berkomunikasi dengan baik."


Setelah selesai menyantap makan malam, mereka kembali mendiskusikan tanggal dan hari untuk melamar Clarissa.


"Maaf, Bu, Pak, jika kalian izinkan, Insyaallah empat hari dari sekarang, kami akan melamar putri kalian untuk putra kami," tutur pak Prasetya.


"Bu, Pak jika kalian berkenan kita adakan lamaran di ballroom hotel ini saja. Hitung-hitung biar kalian nggak terlalu repot," timpal bunda lalu tersenyum.


"Jika ingin kalian seperti itu, kami menurut saja. Bagaimana bagusnya kami tetap menyetujui," kata pak Imanuel.


Ditengah kebahagiaan Yoga yang kini sedang bersama dengan calon istri dan mertuanya, Syakila malah larut dengan pikirannya sendiri.


Sejak tadi ia sudah berada di rumah Kiya dan Daffa. Demi menghibur hatinya yang kini diselubungi kecewa dan sedih, ia memilih bermain bersama Zana.


Tak lama berselang, Kiya menghampirinya lalu duduk di sampingnya kemudian mengelus punggungnya.


Merasa tak kuat, Syakila memeluk sepupunya itu sambil menangis. Menumpahkan air matanya.


"Kak ... aku terlambat, aku terlalu naif karena seolah tak menghargai perjuangan Yoga dua tahun yang lalu. Saat aku ingin mengatakan jika aku menyukainya, dia sudah memiliki gadis pujaannya. Dan sebentar lagi mereka akan menikah."


Dengan perasaan sedih disertai air mata yang terus berlinang di pipi, Syakila mengungkapkan isi hatinya pada Kiya.


"Sya, itu artinya kalian nggak berjodoh. Apa kamu lupa tentang aku dan mas Faz? Tujuh tahun kami menjalani biduk rumah tangga namun akhirnya kami berpisah."


"Jangan terlalu bersedih, Sya, akan ada hikmah di balik semua ini. Percayalah jodoh terbaikmu saat ini bukanlah Yoga tapi akan ada yang jauh lebih baik darinya," pungkas Kiya.

__ADS_1


Syakila hanya bergeming dalam pelukan sepupunya itu. Meski masih belum bisa menerima kenyataan ucapan dari Kiya barusan ada benarnya.


"Terima kasih, kak atas nasehatnya," ucap Sya lalu mengurai pelukannya kemudian mengusap sisa-sisa air matanya di pipi.


Setelah kurang lebih dua jam berada di restoran itu, pak Imanuel dan istri pun akhirnya berpamitan.


"Sekali lagi terima kasih atas jamuan makan malamnya, kami sekalian pamit," kata pak Imanuel beserta istri dan Rissa.


Sepeninggal ketiganya, Pak Prasetya langsung menghubungi Close untuk bertemu di rooftop hotel.


"Yoga, Bunda ... kalian pulang lebih dulu," seru pak Prasetya.


"Lalu ... Ayah pulangnya dengan siapa?" tanya Yoga.


"Masalah itu gampang, Yoga. Ayah minta tolong pada Close saja nanti," kata pak Prasetya.


Yoga hanya menurut lalu mengajak sang bunda meninggalkan tempat itu. Sedangkan pak Prasetya mengayunkan langkahnya menuju lift.


Senyumnya langsung mengembang sesaat setelah berada di rooftop itu. Memandangi keindahan kota A dari atas ketinggian tempatnya berdiri saat ini.


"Alhamdulillah ... akhirnya putraku akan menikah sebentar lagi. Ya Allah lancarkan lah niat putraku hingga hari H-nya," gumam pak Prasetya.


Tak lama berselang Close yang baru saja tiba di tempat itu langsung menyapa pak Prasetya.


"Pak ... sudah lama?"


Pak Prasetya perlahan berbalik lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak juga, baru beberapa menit yang lalu," jawab pak Prasetya lalu merangkul bahu pria blasteran itu. "Jangan panggil Pak, panggil paman saja biar lebih akrab," cetus pria paruh baya itu.


Close hanya mengangguk pelan lalu mengulas senyum. Untuk sejenak keduanya kembali bergeming. Pandangan keduanya sama-sama terarah ke tempat yang sama.


"Paman ..."


"Hmm ..."


"Maafkan semua kesalahan dan sikap arogan ku kala itu," ucap yoga sekaligus membuka suara.


"Paman sudah memaafkanmu, Close. Semuanya sudah berlalu. Biarkanlah ia mengalir seperti air. Lagian dendam berkepanjangan nggak akan ada selesainya.

__ADS_1


__ADS_2