
Seketika ruangan itu menjadi hening, yang terdengar hanya suara Ayya, Novia dan Ganenra yang sedang bermain.
Nyesak ...
Sakit ...
Hampa ...
Semuanya menjadi satu. Sebisa mungkin Yoga berusaha bersikap tegar, kuat, serta menahan air matanya yang kini mulai menggenang.
Ia memejamkan mata, menarik nafasnya dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.
Pupuslah sudah harapannya untuk melamar Azzura. Padahal ia sudah merencanakan niatnya itu, dua hari sebelum berangkat ke Kota J.
Pak Prasetya, bunda Fahira dan Nella seketika mengarahkan pandangannya ke arah Genta dan Yoga.
Ketiganya tahu jika saat ini Yoga terlihat sangat terpukul mendengar kabar bahagia dari Genta. Namun tidak bagi pria yang berprofesi sebagai psikolog itu.
Di tengah keheningan, Genta kembali membuka suara. "Yoga, jujur saja, nggak mudah bagiku untuk meluluhkan hatinya. Aku butuh tiga tahun lamanya untuk menyatakan perasaanku sekaligus melamarnya. Saat aku melamarnya, aku sudah mempersiapkan mentalku sekuat mungkin jika aku akan ditolak. Namun Alhamdulillah, dia menerimaku apa adanya."
"Satu hal yang baru aku sadari selama ini, mungkin alasan Azzura enggan menjalin hubungan serius karena suatu alasan."
Yoga mengerutkan kening lalu melirik Genta seraya bertanya, "suatu alasan?"
Genta mengangguk pelan dengan hela nafas. "Hmm ... aku baru menyadari jika alasannya karena masih ada satu nama pria lain di hatinya. Dia nggak menyebut siapa nama pria itu. Jujur saja, aku merasa cemburu dengan sosok pria yang telah mencuri hatinya sebelum aku. Aku penasaran siapa pria misterius itu, Yoga," ungkap Genta dengan jujur.
Mendengar ungkapan kejujuran dari Genta, Yoga langsung memeluknya. Tanpa Azzura sebutkan siapa nama pria itu, ia sudah bisa menebak siapa yang dimaksud oleh gadis berhijab itu. Ya ... pria itu adalah dirinya sendiri.
"Azzura ... kenapa kita harus berakhir seperti ini? Jika sejak awal aku tahu kamu tinggal di Kota M, saat itu juga aku menyusulmu. Bahkan aku pernah beberapa kali ke kota itu. Tapi kenapa Allah nggak mempertemukan kita," batinnya sekaligus merasa nyesak.
"Selamat ya, Bang. Aku ikut berbahagia untuk Abang dan Azzura. Bahagiakan dia, sayangi dia serta perlakukanlah dia seperti ratu. Jangan sekali-kali membentak apalagi menyakitinya," bisiknya lirih dengan suara bergetar menahan air matanya.
Ucapan tulus itu, lolos begitu saja dari bibir Yoga. Namun siapa yang bisa menebak jika saat ini hatinya tidaklah baik-baik saja.
Sejenak, kening Genta berkerut tipis. Di tambah lagi suara Yoga yang terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Ia merasa ada yang aneh namun tak ingin menerka-nerka.
"Terima kasih, Yoga. Aku berharap kamu hadir dan segera menyusulku," balas Genta sembari menepuk punggungnya.
"Kapan pernikahan Abang akan digelar?" tanyanya seraya melerai dekapannya lalu menatap Genta dengan tegar.
"Insha Allah, seminggu lagi."
Yoga mengangguk pelan. "Entahlah ... apakah aku akan hadir atau nggak? Apakah aku akan kuat menyaksikan saat Abang mengikrarkan janji suci itu pada Azzura."
__ADS_1
Namun ucapan itu hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya saja. "Sekali lagi selamat ya, Bang," ucapnya sambil tersenyum. "Aku ke kamar dulu, Abang lanjutkan saja ngobrolnya dengan ayah bunda dan kak Nella."
"Baiklah, kebetulan aku juga sekalian mau pamit," balas Genta lalu beranjak dari sofa kemudian memanggil sang putri.
Sesaat setelah berada di halaman parkir, ia meraih kartu undangan pernikahan dari dalam mobil lalu menyerahkannya pada pak Prasetya.
"Paman, bunda, hadirlah di acara pernikahanku. Aku berharap kalian semua akan hadir di sana nantinya."
"Insha Allah ... kami pasti hadir," balas pak Prasetya lalu menepuk pundaknya kemudian mengelus kepala Ayya dengan sayang.
Setelah berpamitan, Genta dan Ayya pun meninggalkan kediaman pak Prasetya lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Azzura.
Di kamar, Yoga sedang duduk di sisi ranjang sambil menatap sebuah kotak cincin. Dadanya kembali sesak saat Genta menyebut nama Azzura jika gadis itu adalah calon istrinya.
Perlahan ia berdiri lalu menuju ke teras balkon kamarnya. Ia merenung tentang perjuangan Genta selama tiga tahun untuk mendapatkan hati gadis bermata indah itu.
Gadis yang sama mereka cintai, bahkan pernah menjadi suami bohongannya kala itu.
Sungguh bukan suatu perjuangan yang mudah bagi seorang Genta. Apalagi Azzura sangat menjaga jarak dengan pria yang tak terlalu dikenalnya.
Yoga mencengkeram besi pagar pembatas balkon dengan pandangan menunduk. Perasaan hampa, kecewa yang mendalam seketika membuat air matanya berjatuhan dengan derasnya.
"Aku bukan pria pilihan. Ya Allah ... semangatku seolah patah. Apakah setelah ini, aku bisa melupakannya? Apakah akan ada pengganti seperti dirinya?"
Yoga terisak, sekelumit kenangan dan potongan ingatannya tentang kebersamaannya bersama Azzura, kembali memenuhi memori ingatannya.
"Maafkan aku, bu."
Saat ia terus larut dalam kesedihannya yang mendalam, satu tepukan di pundaknya membuatnya seketika membalikkan badan.
"Ayah," ucapnya lirih kemudian langsung mendekap erat sang ayah. Tangisannya semakin pecah tak terbendung.
"Yoga ..." pak Prasetya terus mengelus punggung tegap putranya yang bergetar karena tangisannya.
Entah ia harus berkata apa. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menenangkan putranya serta memberinya kekuatan.
"Menangis lah, Putraku. Ingatlah ... Tidak semua hal yang kita harap dan kita impikan bisa kita gapai. Terkadang kita harus mengikhlaskan meski itu berat. Terkadang kisah hidup kita berjalan dengan seseorang hanya untuk menjadi teman saja di suatu waktu. Tapi tidak untuk menjadi sebagai pasangannya selamanya," bisik lirih pak Prasetya pada sang putra.
Yoga tak menjawab melainkan hanya bisa menumpahkan air matanya dalam pelukan sang ayah.
Tanpa keduanya sadari Nella yang sejak tadi berada di kamar hanya bisa menatap nanar sang adik yang sedang menangis sambil memeluk sang ayah.
Hingga ekor matanya tak sengaja terarah ke meja nakas. Ia pun menghampirinya lalu duduk di sisi ranjang. Meraih kotak cincin itu lalu membukanya.
__ADS_1
Lagi dan lagi ... perasaan bersalah kembali menggerogoti dirinya. Menatap cincin yang sudah bisa ia pastikan untuk melamar Azzura.
"Maafkan kakak, Yoga," gumamnya lalu menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes.
.
.
.
.
Kediaman Azzura ...
"Assalamu'alaikum," ucap Genta dan Ayya bergantian lalu menekan bel pintu.
"Waa'laikumsalam," jawab Azzura, Nanda dan Radit.
Devan langsung menatapnya lalu ikut berdiri. Bak sudah hafal suara sang ayah, ia langsung berlari kecil menghampiri pintu.
"Ayah, Bunda," sebutnya seraya meloncat-loncat kecil.
Begitu pintu dibuka ia, langsung meminta di gendong.
"Kangen ya sama ayah? Sama kak Ayya ... nggak?" tanyanya.
"Kangen," jawabnya.
"Sayang, yuk masuk," ajaknya seraya merangkul putrinya.
Sesaat setelah berada di ruang santai, Radit terkejut menatapnya. "Bang Genta?!" sebutnya.
Nanda dan Azzura saling berpandangan lalu kembali menatap keduanya bergantian.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Zu dan Nanda serempak.
Keduanya sama-sama mengangguk. Setelah itu Genta pun duduk di samping Radit.
"Bang, kenalin ini istriku Nanda sekaligus sahabatnya Azzura," jelasnya. "Ngomong-ngomong ada urusan apa ke Kota J?"
"Nanti juga kamu bakal tahu," kata Genta dengan gamblang. Radit hanya menggelengkan kepalanya.
"Jadi ini pria yang Azzura maksud? Tak kalah tampan dari Yoga. Ck ... mikirin apa sih aku ini?" gumam Nanda dalam hatinya.
__ADS_1
"Mas, nanti kita ke rumah momy Lio dulu ya," izinnya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Genta.
...----------------...