
Setibanya di rumah sakit, Yoga langsung menuju ruangan sepupunya.
Tok ... tok ... tok ...
Daffa yang sedang berbicara dengan seseorang, langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
Setelah tahu siapa pelakunya, Daffa langsung tersenyum. "Yoga, tumben datangnya telat?!"
Yoga menghampirinya dan sedikit salah tingkah karena yang sedang bersama Daffa saat ini adalah gadis yang sejak tadi bermain di benaknya.
"Maaf soalnya aku bangunnya telat," bohongnya lalu melirik Syakila sekilas. "Sya?! Sudah lama?" tanyanya basa basi.
Gadis itu mengulas senyum lalu menjawab, "Lumayan, tadi hanya mengantar berkas pasien yang harus ditangani oleh kak Daffa."
Yoga membulatkan mulutnya. "Oh." Pria itu pun duduk di kursi yang bersebelahan dengan gadis itu.
"Oh ya, Yoga, ada pasien yang harus kamu tangani sekitar jam sepuluh pagi. Jika dilihat dari kasusnya, sepertinya pasien ini mengalami trauma kronis. Kamu harus sabar menghadapi pasien seperti ini," jelas Daffa lalu menyerahkan data pasien itu pada Yoga.
"Insyaallah, semampu yang aku bisa, aku akan berusaha memberi konseling yang terbaik," balas Yoga lalu meraih map itu kemudian membacanya lembar demi lembar.
Syakila meliriknya tanpa sadar memperhatikan Yoga yang terlihat serius mempelajari kasus pasien itu.
"Kok ... dadaku kenapa berdebar begini ya?" gumam Sya dalam hatinya. "Ah! Ngapain juga aku jadi salah tingkah begini? Jantung, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau berdetak begitu cepat?"
Tik ... tik ... tik ...
Yoga menjentikkan jarinya tepat di depan wajah gadis itu lalu terkekeh. "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu sedang mengagumi wajah tampanku, hmm?"
Dengan narsisnya Yoga menggoda gadis cantik itu, sehingga menciptakan semburat merah di pipi Syakila yang tampak jelas di wajahnya.
Ucapan narsis dari sepupu Daffa itu, seketika membuat sang empunya ruangan langsung melemparnya dengan kertas lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kepedean banget sih, kamu," sarkas Daffa.
"Ck, apaan sih?" protes Yoga dengan decakan. "Oh ya, kak, pasien ini masih terbilang muda dan sayangnya masih gadis. Jika di lihat dari kasusnya, sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapi pasien seperti ini. Jika boleh aku sarankan apa sebaiknya dia menjalani perawatan di rumah sakit ini hingga kejiwaannya pulih?" usul Yoga dengan mode serius.
"Sepertinya aku juga berpikir seperti itu. Nanti aku akan menghubungimu jika keluarga pasien menemuiku," timpal Daffa dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Yoga.
Sedangkan Syakila yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, akhirnya beranjak dari tempat duduknya lalu berpamitan.
"Kak Daffa, Yoga, aku sekalian pamit ya."
"Baiklah," sahut Daffa.
__ADS_1
"Ya sudah, bareng aku saja soalnya aku juga mau keluar," timpal Yoga.
Keduanya pun sama-sama meninggalkan ruangan Daffa. Sesaat setelah berada di luar ruangan, Yoga menawari diri untuk mengantarnya hingga ke parkiran.
Begitu keduanya sampai di parkiran, Yoga menatapnya sambil tersenyum usil.
"Hati-hati ya di jalan. Fokus nyetirnya, jangan sampai karena memikirkan dan membayangkan diriku, kamu sampai nggak fokus," goda Yoga lalu terkekeh.
Lagi ... ucapan narsis dari Yoga itu, membuat pipi Syakila merona dan tampak malu-malu.
"Ish, apaan sih?!" protes Sya lalu membuka pintu mobilnya.
"Oh ya, Sya, di jam makan siang nanti, kita makan bareng saja di restoran kak Kiya ya. Jangan khawatir, aku bareng kak Daffa kok," cetusnya.
"Baiklah," kata Sya. "Ya sudah, masuk gih," usirnya lalu menutup pintu mobil.
Yoga hanya terkekeh setelah berhasil menggoda gadis itu. Setelah memastikan mobil Syakila menjauh, barulah ia melanjutkan langkah kakinya menuju ruangannya.
Sesaat setelah berada di ruangannya, ia kembali mengeluarkan data pasien itu. Membaca ulang sambil memijat kening dan pangkal hidungnya.
"Clarissa Saraswati Imanuel," sebutnya lirih. "Kasian banget gadis ini. Jika ia pernah menjadi korban penculikan lalu disekap di ruangan gelap, tidak menutup kemungkinan dia pasti mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Astaghfirullah ..."
Kepala Yoga langsung berdenyut nyeri. "Seperti apa keadaannya yang sebenarnya? Lalu orang tuanya? Sepertinya kasus ini sedikit rumit," Yoga hanya bisa menerka-nerka.
"Semuanya akan terungkap setelah dia mau menceritakan semua kejadian yang ia alami. Sepertinya harus menggunakan metode hipnoterapi jika ia setuju," gumam Yoga lalu menghela nafasnya.
Setelah mengantar Ayya Genta lanjut mengantar Devan kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.
Senyumnya terus merekah mengingat ucapan dan pelukan hangat istrinya. "Semenjak hamil sikapnya juga berubah menjadi manja. Semoga saja setelah melahirkan dia masih tetap seperti itu," ucapnya penuh harap.
"Rasanya aku sudah nggak sabar ingin bertemu dengan twins." Genta kembali larut dengan pikirannya konyolnya. "Kira-kira Azzura setuju nggak ya jika aku masih ingin nambah momongan? Mumpung masih kuat."
Genta langsung terkekeh sendiri sambil membayangkan wajah kesal istrinya disertai omelannya jika ia mengatakan hal itu sakarang.
Tak lama berselang ia pun tiba di halaman parkir kantornya. Sebelum melanjutkan langkahnya ia terlebih dulu merapikan pakaiannya yang sedikit kesempitan di tubuhnya.
"Ini semua gara-gara keusilan si kembar. Tega banget ngerjain ayahnya," gumamnya merasa gemas.
Setelah itu ia pun langsung mengayunkan langkahnya menuju kantor seraya menyapa beberapa bawahannya yang sedang berjaga.
Sepertinya biasa, kegiatan rutin dan wajib yang ia lakukan adalah menjadi instruktur untuk para taruna.
Tak jarang pula ia langsung turun ke lapangan menerbangkan pesawat tempur demi menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional. Sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
__ADS_1
Sungguh suatu tugas berat bagi seorang Genta sebagai salah satu anggota kesatuan pertahanan negara yang bertugas menegakkan hukum wilayah Indonesia.
Baru saja ia akan beranjak dari tempat duduknya, salah satu bawahnya menghampirinya seraya memberi hormat.
"Selamat pagi, Pak! Pak Surya meminta Bapak menghadap ke ruangannya sekarang!"
"Baiklah," sahutnya sambil mengangguk kecil. Ia pun bergegas ke ruangan atasannya itu. "Ada apa ya?"
Genta bergumam sambil menerka-nerka. Tak biasanya atasannya itu memintanya menghadap. Yang ia cemaskan adalah, ketika dirinya akan tergabung menjadi pasukan perdamaian ke Lebanon.
Karena belum lama ini, sudah ada beberapa yang terpilih dan tergabung di pasukan khusus itu. Yang membuatnya getir adalah istrinya saat ini sedang hamil besar. Ia seakan tak rela jika harus meninggalkan Azzura dalam keadaan hamil.
Apalagi jika ia dikirim ke Lebanon, itu sama saja ia akan berada di negara konflik itu selama satu tahun lamanya. Otomatis ia tak bisa menemani istrinya melahirkan sekaligus tak bisa menyambut kelahiran putra kembarnya.
Namun jika itu terjadi, ia harus siap dan terpaksa harus meninggalkan Azzura dan anak-anaknya. Demi tugas negara apalagi sebagai pasukan perdamaian sekaligus membawa nama baik negara Indonesia.
Dengan perasaan getir ia langsung memberi hormat pada pak Surya sesaat setelah ia berada di ruangan atasannya itu.
"Selamat pagi, Pak!"
"Selamat pagi juga. Silakan duduk Pak Genta," seru pak Surya.
Dengan patuh Genta duduk di salah satu kursi sambil menatap wajah pak Surya dengan harap-harap cemas.
Melihat wajah tegang Genta, pak Surya langsung terkekeh. "Pak Genta, santai saja jangan tegang begitu."
Genta langsung menarik nafasnya dalam-dalam. "Maaf, ada apa, Bapak memanggil saya?"
Tak langsung menjawab, pak Surya menggeser sebuah amplop putih dengan senyum bangga.
"Saya punya kabar baik untuk Pak Genta. Ini untukmu. Surat pernyataan itu langsung dari petinggi di kesatuan kita," jelas pak Surya.
Bukannya senang, Genta malah sudah bisa menebak jika surat pernyataan itu pasti karena dirinya akan bergabung menjadi pasukan perdamaian yang akan dikirim ke Lebanon.
Pikirnya sambil menebak dengan perasaan campur aduk. "Jika benar aku akan bergabung di pasukan itu ... Ya Allah ... aku nggak bisa membayangkan tangisan Azzura seperti apa."
"Pak Genta, silakan dibuka lalu dibaca surat itu," pinta Pak Surya.
Walaupun enggan membuka dan membaca surat pernyataan itu, namun dengan terpaksa akhirnya ia membuka lalu membaca surat yang langsung dikirimkan oleh petinggi di kasatuannya.
Seketika dadanya langsung bergemuruh hebat setelah membaca surat itu. Entah ia harus mengucap syukur ataupun bersedih.
Hanya Genta yang tahu. 🤭✌️
__ADS_1