
Sejak tadi sepasang insan itu masih betah duduk di atas hamparan pasir putih. Mengarahkan pandangan wajah ke arah yang sama.
Ufuk barat yang kini telah berubah warna menjadi jingga menandakan matahari akan menenggelamkan dirinya dalam hitungan menit.
Setelah larut dalam perasaan haru biru, kini perasaan Rissa jauh lebih baik jauh lebih tenang di samping Yoga.
"Rissa ... kamu belum menjawab ku?" tanya Yoga membuka suara.
"Apa aku harus jawab sekarang?" Rissa balik bertanya.
"Apa aku harus menunggu?" Yoga meliriknya lalu menggenggam jemarinya.
Rissa menatap jemarinya yang kini digenggam erat olah Yoga lalu mendongak menatapnya kemudian mengulas senyum.
"Ya ... aku menerimamu," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar jawaban itu Yoga langsung merangkul bahunya dengan hela nafas pelan sekaligus merasa lega.
"Alhamdulillah ... setelah ini kita akan berlibur bersama di pulau Maldives. Tapi liburannya spesial," bisik Yoga dengan senyum penuh arti.
Kerutan tipis seketika terlihat di kening Rissa.
"Maksudmu?"
"Bukan cuman berlibur tapi sekalian honeymoon di sana?" kata Yoga.
"A-a-apa?! Honeymoon?!" tanya Rissa dengan perasaan gugup.
"Hmm ..." Yoga hanya berdehem lalu terkekeh menatapnya. "Udah ... nggak usah gugup begitu. Ayo kita pulang, lagian ini sudah gelap. Tapi sebelum pulang kita cari makan dulu," cetus Yoga.
.
.
.
Setelah mengendarai kurang lebih dua puluh menit, Yoga mengajaknya makan di salah satu warung pinggir jalan yang menjual aneka seafood.
Melihat ekspresi tak biasa dari Rissa saat masuk ke warung itu, Yoga terkekeh lalu menegurnya. "Maaf ... malam ini kita makan di warung ini saja. Tenang saja seafood-nya fresh kok," bisik yoga. "Apa kamu belum pernah makan di tempat seperti ini?"
"Siapa sih yang nggak pernah makan diwarung seperti ini. Pernah lah saat masih kuliah dulu," sahut Rissa lalu ikut terkekeh.
"Kamu lengan pesan apa?" tanya Yoga sambil membaca menu yang tersedia di warung itu.
"Aku pesan kerang hijau saus padang pedas dan
udang goreng mentega saus tiram, minumnya teh anget saja," pesanan pada pelayan warung.
"Aku pesan capcay siram udang saja, Mbak. Minumnya samain saja," kata Yoga.
"Mau pakai nasi nggak, Mas, Neng?" tanya pelayan warung.
"Kalau aku, nggak. Kamu?" tanya Yoga pada Rissa.
"Aku juga nggak," sahut gadis itu.
__ADS_1
"Baiklah, ditunggu sebentar ya, Mas, Neng," kata pelayan itu lagi lalu dijawab dengan anggukan kepala oleh Rissa dan Yoga.
Sepeninggal pelayanan warung, Yoga langsung tertawa sembari menatap wajah Rissa.
"Ada apa sih?" tanya gadis itu.
"Apa kamu bisa menghabiskan makanan pesananmu tadi?" Yoga balik bertanya.
"Jika aku nggak bisa habiskan, ya kamu bantu dong makannya," jawab Rissa dengan santainya.
"Ck ... nggak bisa, memangnya perutku, perut karet apa?" decak Yoga dan disambut tawa oleh Rissa.
Selang beberapa menit kemudian, makanan dan minuman pesanan keduanya pun diantar lalu di sajikan di atas meja.
Setelah berterima kasih pada pelayan warung, keduanya mulai menyantap makanannya masing-masing dengan lahap.
Melihat Rissa yang terlihat begitu menikmati makanannya, Yoga mengulas senyum sekaligus merasa gemas padanya.
Setelah selesai menyantap makanan mereka masing-masing, akhirnya keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju tempat tujuan.
.
.
.
Setibanya di kediaman Rissa, yoga sekaligus mengantarnya hingga ke depan pintu utama.
Setelah membuka pintu, Rissa sekalian mengajak Yoga masuk ke dalam rumah. Keduanya lalu menghampiri pria dan wanita paruh baya itu yang tampak sedang duduk santai di ruang tamu.
Pak Imanuel dan bu Erli langsung menatapnya dan Rissa bergantian. Sedetik kemudian keduanya berdiri sekaligus mempersilakan Yoga dan Rissa duduk.
Yoga sedikit merasa gugup menatap pak Imanuel dan bu Erli. Ia merasa tak enak hati pada kedua orang tua dari Rissa itu.
"Dokter Yoga," sebut pak Imanuel lalu tersenyum menatapnya yang terlihat gugup. "Jangan tegang atau gugup begitu. Saya percaya kok sama kamu," sambung pak Imanuel.
Rissa yang duduk di sampingnya langsung melipat bibirnya ingin tertawa mendapati wajah tegang sang Psikolog.
"Yoga, Mom, Dad, aku ke kamar dulu ya," izin Rissa lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah, segera bersihkan dirimu," sahut momy.
Sepeninggal Rissa, Yoga menarik nafas pelan lalu mengarahkan pandangannya ke arah orang tua Rissa.
"Pak, Bu ... jika kalian berkenan, izinkan aku untuk menjadi pendamping hidup Rissa," tutur Yoga.
Pak Imanuel dan bu Erli saling berpandangan setelah mendengar ungkapan Yoga barusan.
"Aku tulus mencintai putri kalian, Pak, Bu," tutur Yoga lagi.
Kedua orang tua Rissa tak bisa berkata-kata, terharu sekaligus merasa tak percaya mendengar penuturan Yoga barusan.
Yoga kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berlutut di depan pak Imanuel dan bu Erli. Memegang tangan keduanya sembari mendongak memandangi wajahnya.
"Aku tahu apa yang sedang kalian khawatirkan. Pasti berhubungan tentang kejadian kelam yang pernah menimpa Rissa," tebak Yoga.
__ADS_1
"Pak, Bu, percayalah padaku. Aku benar-benar tulus mencintai putri kalian. Aku nggak peduli dengan kejadian kelam yang pernah menimpanya. Niat dan tekadku sudah bulat ingin mempersuntingnya menjadi istri sekaligus pendamping hidup ku. Aku ingin meminta restu dari kalian berdua," pungkas Yoga.
Mendengar ungkapan tulus dari Yoga, Pak Imanuel langsung memeluknya sambil menangis merasa terharu. Pun begitu dengan bu Erli.
"Terima kasih karena telah mencintai putriku dan mau menerima dirinya apa adanya meski dia adalah korban ..."
Pak Imanuel tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia hanya mampu menangis karena membayangkan keadaan putrinya saat ditemukan dalam keadaan miris kala itu.
"Pak ... Bu ..." sebut Yoga dengan lirih. Bahkan ia pun tak kuasa menahan air matanya. Mengerti akan perasaan keduanya.
"Dokter Yoga, jujur saja kami nggak masalah bahkan sama sekali nggak keberatan. Tapi semua keputusan tergantung dari Rissa," timpal bu Erli.
"Kami sudah membahasnya tadi, Bu, Pak. Insyaallah ... satu minggu lagi aku akan membawa kedua orang tuaku untuk datang melamar," balas Yoga sungguh-sungguh. "Sekaligus menentukan tanggal yang cocok untuk melangsungkan pernikahan kami nantinya. Mohon doa restu juga dari, ibu dan bapak."
Pak Imanuel dan bu Erli mengangguk pelan sekaligus menyetujui niat tulus Yoga.
"Sekali lagi terima kasih," ucap keduanya sembari menepuk pundak yoga.
"Sama-sama, Pak, Bu. Kalau begitu aku sekalian pamit," izin Yoga lalu perlahan berdiri.
"Baiklah, biar bapak mengantarmu sampai di depan pintu," tawar pak Imanuel seraya merangkul bahunya.
Sesaat setelah berada di depan pintu utama, pak Imanuel kembali memeluknya lalu kembali berterima kasih padanya.
"Aku pamit, Pak. Jika Rissa mencariku, katakan saja aku sudah pulang," bisik Yoga lalu mengurai dekapan pria paruh baya itu.
"Baiklah, hati-hati di jalan," pesan pak Imanuel sembari memandangi Yoga yang terlihat sedang menghampiri mobilnya.
Setelah memastikan kendaraan Yoga meninggalkan halaman parkir, barulah pak Imanuel masuk ke dalam rumah.
Sementara Yoga yang kini sedang dalam perjalanan pulang, tampak tersenyum merasa bahagia.
"Finally ... lega juga rasanya setelah mengungkapkan perasaanku padanya. Zu, terima kasih atas saran yang telah kamu berikan padaku," gumam Yoga.
Tak lama berselang, ponselnya bergetar. "Siapa sih?!" desisnya lalu menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan.
"Syakila? Tumben!" gumamnya lalu menjawab panggilan dari gadis itu.
"Assalamu'alaikum ... Sya."
"Waa'laikumsalam, Yoga. Apa kamu ada waktu malam ini?" tanya Sya.
Kening Yoga berkerut tipis. "Untuk?" Yoga balik bertanya.
"Aku ingin mengajakmu keluar jalan-jalan, soalnya aku lagi suntuk banget di rumah," kata Sya dari seberang.
"Sya, maaf ya, malam ini aku nggak bisa soalnya aku sedikit lelah," aku Yoga sekaligus menolak secara halus. "Insyaallah ... besok saja. Gimana ... mau nggak?"
Syakila terdiam sejenak sambil menghela nafas pelan sekaligus kecewa. Padahal tujuannya mengajak Yoga keluar karena ia ingin menyatakan perasaannya pada pria itu.
Namun kali ini ia harus menelan pil pahit setelah mendengar jawaban dari Yoga barusan.
"Baiklah, kalau begitu besok saja," sahutnya dengan perasaan kecewa.
...----------------...
__ADS_1