Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?


__ADS_3

Beberapa jam berlalu setelah aktivitas panas pasangan halal itu berlangsung, Azzura menggeliatkan badannya.


"Ssssttt ... jam berapa ini? Astaghfirullah ... aku bahkan nggak membersihkan diri terlebih dulu sebelum tidur."


Ia menatap wajah suaminya yang tampak begitu nyenyak dalam tidurnya. Perlahan tangannya terangkat mengelus wajah itu.


Tak ingin mengganggu tidurnya, Azzura memindahkan tangan besar suaminya dengan hati-hati.


Dengan gerakan perlahan, ia menggeser tubuhnya menjauh dari Genta lalu merubah posisinya menjadi duduk.


"Di mana masa Genta menaruh handuknya?" ia celingukan mencari benda itu. "Aaakkhh ... ssssttt ... perihnya?" Ia merintih sembari merapatkan pangkal pahanya.


Merasa seperti mendengar suara rintihan, Genta langsung membuka matanya.


"Sayang," tegurnya dengan alis bertaut lalu cepat-cepat mendekati istrinya yang sedang duduk sambil meringis. "Ada apa?"


"Mas, ini perih banget," bisiknya sambil menjatuhkan air matanya menahan perih.


"Maafkan, Mas, Sayang," ucapnya merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Mas," balas Zu. "Bisa tolong ambilkan handuk?"


Tanpa banyak bicara, Genta langsung meraih handuk yang masih teronggok di lantai ubin.


Setelah melilitkan handuk itu di tubuh Azzura, Genta berjongkok di hadapannya sembari menggenggam kedua tangannya.


"Mau, mas bantu ke kamar mandi?" tawarnya.


"Apa boleh?"


"Hmm ... tapi tunggu di sini sebentar. Biar mas siapkan air hangat untukmu. Setidaknya air hangat bisa meredakan nyeri di area sensitifmu."


"Terima kasih ya, Mas," ucapnya lirih.


Genta hanya tersenyum lalu mendaratkan kecupan singkat di keningnya kemudian berlalu meninggalkanya.


Beberapa menit kemudian ...


Genta kembali ke kamar lalu menghampiri Azzura. Karena tak ingin istrinya itu protes, ia langsung menggendongnya lalu membawanya ke kamar mandi.


Walaupun sempat protes, Azzura tak bisa berkutik dengan sikap protektif suaminya.


Sesaat setelah berada di kamar mandi, Genta membantunya melepas handuknya lalu memintanya masuk ke dalam bathtub.


Ia pun meninggalkannya lalu memilih turun ke lantai satu kemudian lanjut ke dapur untuk membuat teh hangat.


tiga puluh menit berlalu ...


Kini Azzura sudah duduk di sisi ranjang dengan mengenakan piyama. Ia meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas.


"Sudah jam dua dini hari?" bisiknya. "Mas Genta ... ke mana dia?"


Tak lama berselang pintu kamar di buka. Dengan senyum bahagia, Genta menghampirinya sambil membawa secangkir teh hangat untuknya.


"Sayang, ini untukmu, minumlah selagi anget. Maaf, sudah membuatmu menahan sakit. Itu karena, ini adalah yang pertama bagimu."


Azzura hanya mengangguk lalu meneguk teh hangat itu. "Terima kasih ya, Mas."


"Sama-sama, Sayang."

__ADS_1


"Mas, sudah mandi belom?"


"Sudah."


"Kenapa nggak membangunkan ku, Mas," protes Zu.


Genta terkekeh. "Mas nggak tega soalnya tidurmu nyenyak banget. Kemarilah," pintanya seraya menarik pelan tangan istrinya kemudian memintanya duduk dipangkuannya.


Azzura hanya menurut lalu tersenyum malu-malu. Memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya di punggung leher suaminya.


"Mas, tubuhku serasa ingin remuk. Mas seperti orang kesurupan saja menjamah tubuhku," bisiknya.


Genta terkekeh sekaligus merasa gemas. "Maklum duda kesepian. Sudah lama nggak dapat makanan enak," kelakarnya.


Kening Azzura langsung berkerut tipis sekaligus bingung tak bisa mencerna maksud dari suaminya itu.


"Makanan enak? Tapi semalam nggak ada makanan di kamar ini, Mas," balasnya dengan polos.


"Polos banget istriku. Masa yang begini saja dia nggak mengerti."


"Ah, lupakan saja," kata Genta sambil mengelus-elus perut sang istri. "Mudah-mudahan dia cepat tumbuh ya, Sayang," bisiknya dengan penuh harap.


"Aamiin," sahut Zu.


Obrolan santai pasangan suami istri itu terus berlanjut hingga keduanya sama-sama mengantuk barulah mereka kembali melanjutkan tidur.


.


.


.


.


Setelah selesai shalat dilanjut mengurus anak dan suaminya, Azzura terlihat sudah berada di dapur membantu bi Titin menyiapkan sarapan.


Begitu selesai, ia pun memanggil anak dan suaminya untuk sarapan.


"Sayang, sebaiknya hari ini kamu nggak usah masuk mengajar," saran Genta.


"Tapi, Mas ..."


"Udah, nurut saja," sambung Genta.


Azzura menghela nafas sembari mengangguk pelan.


Tiga puluh menit kemudian ...


"Sayang, Mas dan Ayya berangkat dulu ya. Kamu di rumah saja bareng Devan dan bibi. Mas akan pulang sore nanti." Genta mengecup kening dan pipi sang istri.


"Iya, Mas. Hati-hati dijalan," ucapnya seraya mencium punggung tangan suaminya kemudian mengecup puncak kepala putrinya. "Sayang, pulangnya nanti bareng Novia dan Nenra ya, Nak," pesan Zu.


"Iya, Bunda."


Azzura mengantar keduanya hingga ke depan pintu utama. Setelah memastikan keduanya sudah menjauh, barulah ia masuk lalu menghampiri Devan.


.


.

__ADS_1


.


.


Jauh dari tempat Azzura berada, Yoga masih betah berada di kota L. Terhitung sudah dua hari ia berada di pulau itu.


Menikmati kesendirian sambil jalan-jalan demi melupakan rasa kecewa yan masih bersarang di hati.


Hingga langkahnya terhenti di salah satu rumah makan khas kota L yang menurutnya begitu unik.


Setelah memesan makanan khas daerah itu, ia pun duduk sambil memainkan ponselnya.


Ia membuka galeri foto sambil menatap satu persatu foto yang diambil beberapa minggu yang lalu di kota J saat mereka berada di taman wisata malam.


Ia tersenyum saat menatap Devan. Bocah tampan berparas bule itu. Ia menghela nafas saat lanjut menggelar layar ponselnya.


"Beruntung banget bang Genta bisa meluluhkan hatimu. Andai saja saat itu posisi bang Genta adalah aku, mungkin saat ini kita sudah memiliki anak," gumamnya sambil mengusap wajah Azzura di layar ponselnya.


"Salahku karena nggak langsung mengutarakan rasa cintaku padamu tiga tahun yang lalu. Andai saja aku tahu kita akan berakhir seperti ini, lebih baik aku sekalian menjadi pebinor kala itu." 😅✌️


Yoga membisu sejenak menahan sesak di dada yang tiba-tiba saja menyerang. Ia menarik nafas dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-paru.


"Apakah aku akan sekuat Kak Daffa? Tapi saat ini dia terlihat malah dekat dengan seseorang. Apakah dia sudah move on? Ah, entahlah. Kenapa cinta begitu rumit?" gumamnya lagi lalu memejamkan matanya sejenak.


Tak lama berselang, makanan pesanannya pun diantar. Setelah berterima kasih ia pun lanjut menyantap makanannya.


.


.


.


.


Siang harinya ...


"Assalamu'alaikum ..."


"Waa'laikumsalam," balas Azzura lalu menghampiri pintu kemudian membukanya.


Senyumnya langsung mengembang saat tahu tamunya.


"Sayang," ia langsung meraih Dita dari gendongan sahabatnya lalu mengajaknya masuk. "Kenapa kalian nggak kasih kabar jika mau ke sini?" protes Zu.


Nanda dan Radit hanya terkekeh lalu mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu.


"Ngomong-ngomong, kok nggak bareng Yoga?" tanyanya.


"Yoga, kemaren sudah pulang. Katanya ada urusan mendadak," bohong Radit.


"Cepat banget, padahal masih banyak hal yang ingin aku share padanya," aku Zu.


"Ingat, kamu tuh sudah jadi istri orang. Ngapain juga mikirin pria lain," ledek Nanda.


"Ish, bukan begitu, Nan. Yeah ... dia salpa (salah paham)" Azzura terkekeh. "Hal yang ingin aku share seputar masalah kesehatan mentalku. Tapi ya sudahlah, orangnya sudah pulang duluan kapan-kapan saja."


Obrolan mereka terus berlanjut, saling bercanda sekaligus melepas kangen. Sebelum akhirnya Radit dan Nanda kembali berpamitan setelah menyantap makan siang di rumah itu.


Keduanya juga sekaligus memberikan Azzura hadiah karena sore nanti mereka akan kembali ke Kota J.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2