
Setelah berada di rumah Azzura selama beberapa jam lama, akhirnya, Yoga Close dan Fatur berpamitan setelah menyantap makan siang di rumah itu.
"Bang ... terima kasih ya untuk makan siangnya," kata Yoga.
"Sama-sama Yoga, jangan sungkan jika berada di sini," balas Genta sembari menepuk bahunya.
"Aku dan Fatur juga pamit sekaligus berterima kasih," timpal Close dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Genta.
"Yoga, bareng kita saja," tawar Close.
"Baiklah, mumpung lagi gratis. Kapan lagi bisa satu mobil dengan pak CEO," kelakar Yoga lalu terkekeh.
Close ikut terkekeh. Meski keduanya pernah berseteru namun akhirnya mereka kembali akur setelah keduanya sama-sama tak bisa menggapai wanita yang sama. 😆✌️
"Kalian hati-hati ya di jalan. Kali saja di jalan dapat jodoh. Jangan jadi JONES terus (Jomblo ngenes) nggak enak tahu. Apalagi jika melihat pasangan yang romantis," kelakar Genta lalu tertawa.
Baik Yoga, Close dan Fatur hanya berdecak kesal mendengar ledekan suami dari Azzura itu. Setelah memastikan mobil Close menjauh, barulah Genta menutup pintu.
Ia kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga lalu buru-buru ke ruang kerjanya. Saat menatap mejanya yang kini sudah terlihat rapi, ia langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
Apalagi ia sudah tak mendapati surat gugatan itu di atas mejanya.
"Apa dia ke kantor pria brengsek itu gara-gara surat itu ya?" terkanya sembari mengusap tengkuknya.
Sedetik kemudian ia meninggalkan ruangan itu lalu ke kamar baby F. Namun Azzura tak berada di kamar itu.
Ia lalu ke kamar Devan. Lagi-lagi istrinya tak berada di sana lalu ia lanjut ke kamar Ayya. Sejenak ia hanya berdiri di ambang pintu.
Mendapati istrinya itu sedang melamun di sisi ranjang sambil menatap kedua anaknya yang sedang tertidur.
Dengan langkah pelan ia menghampirinya lalu memegang pundaknya.
"Sayang," bisik Genta lalu duduk di samping. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Azzura hanya diam, terus menatap wajah teduh Devan yang sedang tertidur pulas di samping Ayya.
"Sayang," bisik Genta lagi. "Apa kamu mendengarku?"
Tetap sama, Azzura tetap bergeming sambil memandangi wajah sang putra. Genta menghela nafas pelan.
Ia memilih merubah posisinya dengan duduk berjongkok di depan Azzura lalu meraih jemarinya kemudian mengecup singkat.
"Sayang ..."
"Aku mendengar, Mas. Maaf ... tadi aku ke kantor pria itu tanpa seizin mu," sahut Zu lalu menatap suaminya yang sedang berjongkok di depannya.
Sedetik kemudian ia melepas genggaman tangan suaminya lalu beranjak meninggalkanya yang masih terlihat bengong.
Azzura memilih ke kamar baby F. Sesaat setelah berada di dekat box bayi, ia menatap lekat kedua putranya.
Lagi ... ia terkenang saat Devan seusia Fattah Faatih. Ia seakan tak rela jika putranya itu akan jatuh ke tangan Johan.
"Itu nggak akan pernah terjadi," ucapnya lirih disertai linangan air mata.
"Sayang ..." tegur Genta yang ikut menyusulnya.
"Mas?!" Ia berbalik lalu mendekap erat tubuh tegap suaminya.
"Jangan bersedih. Mas tahu apa yang sedang ada dalam pikiranmu saat ini. Jangan khawatirkan tentang itu. Semuanya akan baik-baik saja ... percayalah," bisik Genta lalu membenamkan dagunya di puncak kepala istrinya.
Tak ada jawaban melainkan hanya suara tangisan Azzura yang terdengar.
"Kenapa kamu ke kantornya tadi?"
"Biar dia tahu dan sadar jika dia nggak pantas merebut Devan dari kita. Meskipun ia ayah kandungnya," ucap lirih Zu dalam dekapan Genta.
.
.
.
.
Malam harinya ba'da magrib ...
Mereka memilih menginap di hotel tempat acara aqiqah yang akan di gelar besok hari.
__ADS_1
Seperti janji, Yoga ia pada Devan, ia pun mengajak bocah ganteng itu bersama Ayya, Novia dan Nenra.
Meski bukan ke Dufan, Devan meminta diajak bermain di tempat wisata malam tempat mereka bermain kemarin malam.
Sedangkan Azzura memilih tetap di hotel bersama baby F di temani bi Titin.
Karena yang menemani anak-anaknya hanya Genta, Galuh dan Nella. Tak lupa Close ikut bergabung untuk menghibur diri sekaligus ingin merasakan seperti apa rasanya menjadi ayah walau hanya semalam. 🤭✌️
******
"Bang Nenra, Paman, ayo kita main wahana itu," tunjuk Devan sembari memegang tangannya.
"Memangnya Dev, berani naik itu?"
"Berani Paman. Ayah bilang jadi cowok nggak boleh lemah dan nggak boleh cengeng harus berani," celotehnya.
Yoga langsung terkekeh mendengar ucapan bocah tampan itu. Ia lalu mengacak rambutnya.
"Ya sudah, let's go," ajak Yoga lalu membawa keduanya ke arah wahana histeris.
Setelah itu ia melirik Close. "Close kamu harus mencoba ini," tantang Yoga. "Sekali-kali main bareng anak-anak, Bro, seru tahu?" Yoga kemudian terkekeh.
"Boleh deh," sahut Close.
Keempatnya pun menghampiri wahana itu. Jika Devan dan Nenra sudah terbiasa bermain dengan wahana itu, beda halnya dengan Close yang baru pertama kali mencobanya.
"Paman, santai saja," kata Nenra sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
Gila nih bocah. Santai banget dia. Haah ... belum juga di mulai aku sudah deg-degan duluan.
Yoga terkekeh melihat Close yang terlihat gugup.
"Ck ... masa kalah sama kedua bocah ini?! Belum juga apa-apa sudah keringat dingin," ledek Yoga.
"Cih ... memangnya kamu berani?!" decih Close.
"Berani dong ... di kota J dulu, aku dan Azzura sering bermain di tempat beginian," sahut Yoga.
Close mendengus kesal lalu memutar bola matanya malas.
Setelah itu, wahana itu mulai bergerak perlahan. Sama seperti namanya ketika benda itu melaju keatas, suara histeris mulai kedengaran termasuk Close.
Ia merasa perutnya langsung seperti dikocok hebat. Sedangkan Yoga, Devan dan Nenra terlihat sangat menikmati wahana itu sambil tertawa melihat ketegangan di wajah Close.
Sedangkan Genta, Galuh dan Nella memilih menemani putrinya bermain di wahana kora-kora.
Kurang lebih dua jam-an mereka berada di wahana itu, Close yang sejak tadi sudah turun dari wahana histeria langsung muntah-muntah.
Saat di ajak bermain lagi, ia enggan karena kapok. Yoga, Devan dan Nenra hanya menertawainya.
Setelah puas bermain dengan berbagai wahana, Genta kemudian mengajak mereka ke salah satu restoran terdekat.
"Dev, Nenra, apa kalian nggak mual?" tanya Close masih dengan wajah memerah karena merasa perutnya seperti dikocok.
Devan dan Nenra hanya menggeleng sambil cengar-cengir.
"Paman, masih mual ya? Tanya Devan. "Bunda bilang, kalau kita merasa mual minum yang kecut- kecut saja."
Genta langsung tertawa mendengar ucapannya. "Sayang, itu karena bunda lagi hamil saat itu," jelas Genta.
Close langsung mengacak rambutnya merasa gemas. "Saran Devan boleh dicoba keknya."
Ia pun memanggil salah satu waiters lalu memesan orange juice.
"Oh ya, Yoga, bagaimana dengan tempat kerjamu di kota A?" tanya Close.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?" tanya Yoga balik.
"Sama, mungkin sekitar seminggu lagi aku akan kembali ke kota J."
Yoga mengangguk pelan lalu meneguk kopinya. Tak lama berselang juice pesanannya pun di antar.
"Makasih ya," ucapnya pada waiters.
"Sama-sama, Pak."
Setelahnya Close mulai meneguk orange juice pesanannya. Dan benar saja, rasa mualnya sedikit berkurang.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan malam bersama di restoran itu hingga selesai. Sebelum meninggalkan tempat itu mereka masih tampak mengobrol-ngobrol santai.
Sebelum akhirnya, Devan mengajak pulang.
"Yaaah ... pulang yuk, Devan sudah ngantuk," keluhnya sambil sesekali menguap.
"Kemarilah sebentar, biar paman memangkumu," tawar Close.
Devan hanya menurut. Entah karena ia kecapekan bermain sambil ke sana kemari di wahana atau memang karena sudah beneran mengantuk.
Tak lama berselang, Devan perlahan memejamkan matanya. Sambil memangku bocah tampan itu, Close mengelus kepalanya sambil memandangi wajahnya.
Seketika ia langsung teringat ucapan Azzura di kantor Johan tadi pagi. "Nggak terbayangkan ... sejak dari bayi Azzura merawatnya. Dan segampang itu Johan ingin merebutnya."
Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya meninggalkan restoran lalu menuju ke arah parkiran.
"Bang, kami duluan ya," pamit Galuh dan Yoga.
"Ya sudah, hati-hati ya," peringat Genta.
Setelah memastikan mobil Galuh menjauh barulah ia menghampiri Close yang sedang menggendong Devan.
"Close, makasih ya," ucap Genta lalu tersenyum lalu mengambil Devan darinya.
"Sama-sama," balas Close.
Ia masih berdiri di tempat sambil memperhatikan Genta yang begitu telaten mengurus kedua anaknya.
"Genta," sebut Close.
"Ya?!" Genta menutup pintu mobil belakang lalu menatapnya.
"Maafkan aku karena pernah menyakiti Azzura. Sampai membuatnya mengalami gangguan mental," ucap Close dengan perasaan bersalah sekaligus menyesal.
"Semuanya sudah berlalu Close. Lupakanlah semuanya. Alhamdulillah saat ini Azzura sudah membaik. Pesanku hanya satu, jika kamu menikah nantinya jangan pernah sia-siakan wanitamu," pesan Genta seraya menepuk pundaknya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang. Jangan lupa datang ke acara aqiqahnya si kembar besok," pesan Genta.
Close hanya mengangguk pelan. Sepeninggal Genta, Close menghampiri mobilnya lalu merogoh saku celana mengeluarkan rokoknya.
Setelah membakar rokoknya, ia mulai menyesap rokoknya sambil termenung.
"Beruntung banget Genta bisa menaklukkan hati Azzura. Terlihat banget jika Azzura juga sangat mencintai dan menyayanginya. Salahku telah menyia-nyiakan dirinya. Bahkan sampai membuat psikisnya terganggu."
"Apakah aku bisa bertemu lagi dengan wanita seperti Azzura. Rasanya hatiku sudah mati rasa pada wanita," pungkas Close.
Ia kembali menyesap rokoknya hingga selesai. Setelah itu, ia pun masuk ke mobilnya lalu meninggalkan halaman parkir restoran.
.
.
.
.
Hotel Clarion ...
Setelah mengantar Devan dan Ayya ke kamar bi Titin, Genta langsung ke kamar yang ditempati Azzura.
Begitu ia membuka pintu kamar, ia langsung terenyuh saat mendapati Azzura tertidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
Sedangkan baby F berada di sampingnya. Sebelum menghampiri istrinya dan anaknya, Genta terlebih dulu masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah itu mengenakan celana pendek tanpa memakai kaos.
"Sayang," bisiknya lalu mengecup keningnya. "Hei, bangun. Perbaiki posisi tidurnya."
Azzura mengerjab perlahan lalu menatapnya. Sudah pulang, Mas?! Anak-anak ... mana?" tanya Zu.
"Mereka sudah tidur di kamar bi Titin," jelas Genta.
"Mendekatlah Mas," pinta Zu.
Genta hanya menurut patuh lalu mendekat. Tahu jika Azzura ingin memeluknya, ia langsung membawanya masuk ke dalam pelukannya.
...----------------...
__ADS_1