Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
96. Dugaanku ternyata benar ...


__ADS_3

Wisata malam Kota J ...


Setibanya di tempat yang sudah mereka tentukan, Nanda langsung melambaikan tangan ke arah Azzura.


Dari kejauhan, Yoga hanya bisa tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Sekuat mungkin ia bersikap tegar memandangi Azzura yang tampak bahagia bersama anak-anak dan calon suaminya.


"Wahai hati ... yang kuat ya," gumamnya dalam hati sambil mengelus dadanya.


"Yoga, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nella seraya memegang pundaknya.


"Tenang saja, Kak, aku baik-baik saja," ucapnya lirih dengan senyum tipis.


"Maafkan kakak."


"Nggak apa-apa, Kak, kami nggak berjodoh. Lagian Bang Genta pria yang baik, tulus dan tampak sangat menyayangi Azzura. Azzura sudah berada di tangan pria yang tepat."


Tak lama berselang, Azzura dan Genta bersama Ayya dan Dev pun mendekat.


"Hei ... jagoan paman." Yoga berjongkok lalu hi five. "Apa kalian sudah siap bermain?" tanya Yoga dengan sembringah.


"Siap, Paman!!!" pekik anak-anak itu dengan sangat antusias.


"Zu, Bang Genta, mau ikut bermain nggak?" tawarnya lalu terkekeh.


Azzura ikut terkekeh karena ia langsung teringat akan kenangan tiga tahun yang lalu saat keduanya bermain di wahana itu.


Seketika kening Genta bertaut tajam. Pikirnya selain pernah menjadi psikolog Azzura, apa keduanya pernah menjalin hubungan? Namun ia tak mau menerka-nerka.


"Mas, apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Zu.


"Jangankan kenal, kami sudah seperti saudara, Zu," kata Yoga lalu merangkul pundak Genta. "Benar kan, Bang."


Walaupun ia terlihat baik-baik saja, namun hatinya berkata tidak. Ia tetap terlihat biasa-biasa saja namun siapa yang menyangka jika hatinya menjerit merasa nyesak.


"Iya," jawab Genta dengan senyum tipis.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Yoga mengajaknya berfoto ria untuk dijadikan kenang-kenangan.


Puas berfoto-foto mereka mulai menemani anak-anak mereka ke wahana bermain. Tak henti-hentinya Azzura menebar senyumnya ketika bersama dengan sahabatnya Nanda, Yoga, Farhan, Aida dan Radit.


Baru kali ini Genta bisa menatap jelas wajah bahagia Azzura dengan senyum lepas ketika bersama dengan saudara dari iparnya itu.


Yang membuatnya merasa getir adalah melihat kedekatan sang calon istri dan Yoga. Keduanya tampak tak terpisahkan.


"Bang, sebaiknya biarkan saja mereka menghabiskan waktu mereka bersama," cetus Nella lalu mengajak iparnya itu sedikit menjauh.

__ADS_1


Keduanya memilih duduk di salah satu bangku yang terdapat di wahana itu.


"Nella, apa Azzura sedekat itu dengan mereka?" selidik Genta.


Sebelum menjawab, Nella menarik nafas lalu mengangguk pelan. Beberapa jam yang lalu setelah Genta meninggalkan kediaman pak Prasetya, Yoga sudah menceritakan semuanya padanya.


Ia pun menceritakan apa adanya. Hanya saja, ia tak menceritakan jika Yoga mencintai Azzura demi menjaga perasaan sang ipar.


Setelah mendengar penjelasan dari Nella, Genta hanya mengangguk mengerti. Namun tetap saja hatinya tak bisa berbohong jika ia merasa cemburu.


"Bang, aku tinggal sebentar ya," pamit Nella dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Genta.


Sepeninggal Nella, Genta masih memandangi Azzura dan Genta dari tempatnya duduknya. Melihat senyum lepas gadis itu saat bersama Yoga, ia semakin curiga jika pria misterius itu adalah Yoga.


"I'm insecure," ucapnya lirih lalu menundukkan pandangannya.


Sedangan dari jarak tempatnya duduk saat ini, Nella tampak menegur Azzura dan Yoga. Ia sekaligus ingin menemani anak-anak dan ponakannya bermain.


"Kak, aku titip Ayya dan Dev sebentar ya," pintanya lalu melirik Yoga.


"Baiklah, memangnya kamu mau ke mana?" tanya Nella.


"Aku ingin mengajak Yoga dan mas Genta mengobrol sebentar," aku Zu lalu melirik Yoga sekilas.


Nella hanya mengangguk, setelah itu ia pun meninggalkan keduanya.


"Aku sudah tahu, Zu, apa yang ingin kamu bicarakan." Yoga tersenyum tipis lalu mengarahkan pandangannya ke arah Genta yang tampak tertunduk.


Azzura ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. "Aku juga ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu. Ayo ... kita ke tempat mas Genta sebentar," ajaknya lagi seraya menggandeng lengan pria itu.


Mau tak mau, Yoga terpaksa menuruti keinginan gadis itu. Sesaat setelah berada di tempat Genta duduk, Azzura menegurnya lalu mengajak Yoga duduk di sampingnya.


"Mas, mikirin apa sih?"


Genta langsung mendongak lalu mengulas senyum saat gadis itu duduk di sampingnya.


"Sayang ... Yoga," sebutnya.


Ketiganya bungkam sejenak, masing-masing larut dengan pikirannya hingga Azzura membuka suara.


"Yoga, aku punya sesuatu untukmu. Anggaplah ini sebagai kenang-kenangan dariku." Azzura menatap Genta lalu menggenggam tangannya. "Mas, nggak apa-apa kan jika aku memberikan Yoga sesuatu?" izinnya.


Genta mengangguk pelan lalu mengulas senyum.


Karena tak ingin terjadi kesalahpahaman di antara keduanya terutama Genta, Azzura memilih berterus terang tentang hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan Yoga sebelum mengenalnya.

__ADS_1


Semuanya ia jelaskan tanpa ada yang ia tutup tutupi. Tak pelak, ungkapan kejujuran dari calon istrinya itu membuat hati Genta merasa getir sekaligus cemburu.


"Dugaanku ternyata benar," terka Genta dalam hatinya.


Sedangkan Yoga, ia hanya bisa tertunduk. Sebisa mungkin ia menahan air matanya. Dadanya kini bergemuruh merasakan sesak.


Di sisi lain, Genta merasa kagum dengan sikap tegas Azzura yang mau berterus terang apa adanya tanpa ada yang ia disembunyikan.


"Yoga." Azzura memanggilnya dengan suara lembut. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini untukmu." Azzura memberikan sebuah kota berbentuk segiempat yang telah ia bungkus rapi.


"Anggaplah ini hadiah dari seorang adik yang sangat menyayangi dirimu. Selamanya kamu tetap kakak terbaik bagiku. Terima kasih untuk segala kebaikan dan pengorbananmu untukku, selama kebersamaan kita walau waktunya begitu singkat."


Ungkapan tulus dari gadis berhijab itu, semakin membuat hatinya bergemuruh hebat. Apalagi saat melihat air mata Azzura yang kini mulai menetes.


"Zu ... please ... jangan ada air mata," pintanya dengan suara lirih sambil menggelengkan kepalanya.


Ingin rasanya ia menyeka air mata yang menetes di pipi Azzura, namun tak berani ia lakukan karena menjaga perasaan Genta.


"Yoga, terima saja nggak apa-apa," cetus Genta.


"Baiklah, aku terima. Terima kasih ya, Zu, Bang Genta," ucapnya lalu meraih kado itu.


Yoga menatap nanar kotak itu. "Apa isinya?"


"Yoga semoga kamu suka kadonya. Maaf ... jika aku sudah membuatmu kecewa," batin Zu lalu menyeka air mata lalu menghela nafas perlan.


Beberapa jam berlalu ...


Setelah puas mengajak anak-anak bermain di wahana itu, mereka lanjut ke salah satu restoran untuk makan malam.


Mereka menghabiskan waktu kurang lebih satu jam lamanya di restoran itu, sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.


Setibanya di kediaman Azzura, Ayya dan Devan sudah ketiduran.


"Sayang, besok sebelum kita pulang, mas ingin nyekar makan ayah dan ibu dulu. Kita ambil penerbangan sore saja," cetus Genta sesaat setelah membaringkan Ayya di atas ranjang.


"Baiklah, aku ikut, Mas saja."


"Ya sudah, mas pulang dulu ya," pamitnya.


Azzura hanya mengangguk lalu mengantarnya hingga sampai di depan pintu utama. Setelah memastikan mobil Genta meninggalkan halaman parkir, barulah ia menutup pintu lalu menguncinya.


Ia kemudian memilih duduk di sofa ruang tamu lalu melepas hijabnya.


"Maafkan aku, mas, Yoga, jika kejujuranku mungkin membuat kalian sama-sama kecewa padaku."

__ADS_1


...----------------...


Mumpung hari Senin, jangan lupa kasi vote ya, guys 😅🤭🙏 Maaf aku memaksa.


__ADS_2