
Keesokan harinya ....
Seperti yang sudah Nyonya Liodra katakan semalam. Paginya ia dan Tuan Kheil pun tampak ke rumah sakit menjenguk Bu Isma, ibunya Zu.
"Mom ... apa Momy yakin, ibunya Zu di rawat di sini," tanya suaminya.
"Iya ... Azzura sendiri yang mengatakannya," jawabnya.
Nyonya Liodra pun mengetuk pintu kamar rawat itu lalu menyapa Zu, yang sedang menyuapi ibunya.
"Zu ... Ibu ..." sapa Nyonya Liodra dengan sulas senyum.
"Tuan, Nyonya ..." lirih Zu.
Bu Liodra menatap lekat wajah wanita yang sedang duduk bersandar dan terlihat pucat bahkan kepalanya di tutupi dengan kupluk.
"Bu, ini Nyonya Liodra owner cafe tempatku bekerja," jelas Zu. "Dan yang di sebelahnya Tuan Kheil suaminya. Beliau Presdir KL Brandon Corp."
Bu Isma mengulas senyum lalu mengangguk kecil.
"Saya Bu Isma, Nyonya, Tuan. Terima kasih karena mau berbesar hati menjengguk saya," ucap Bu Isma dengan suara pelan.
"Sama-sama, Bu. Kedatangan kami berdua ke sini bukan semata-mata hanya ingin menjenguk tapi sekalian ingin melamar Azzura untuk menjadikannya menantu kami," ungkap Nyonya Liodra.
Bu Isma melirik ke arah Azzura lalu tersenyum. Nyonya, Tuan, terima kasih. Tapi semua keputusan ada di tangan Azzura. Saya hanya mengikuti saja," lirih Bu Isma.
Nyonya Liodra dan Tuan Kheil sama-sama menatap Azzura dengan harap.
"Ibu, aku akan menerima lamaran ini sekalian aku minta restu dan doa dari ibu," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa curiga apapun, Bu Isma mengulas senyum seraya mengelus lengan putri semata wayangnya itu dengan sayang lalu mengangguk lemah.
"Terima kasih, Azzura, Bu," ucap Nyonya Liodra dan Tuan Kheil.
"Tapi, saya minta maaf Nyonya, Tuan. Ayah Azzura tidak bisa menjadi walinya karena suami saya sudah meninggal," aku Bu Isma dengan suara lirih.
"Tidak masalah, Bu. Kami menerima Azzura apa adanya," sahut Nyonya Liodra. Ia pun melirik ke arah Azzura. "Zu, mulai sekarang, panggil saya Momy dan Tuan Kheil dengan sebutan Daddy," tegasnya.
"Tapi, Nyo ...."
"Jangan panggil Nyonya lagi tapi Momy," tegasnya lagi sekaligus memotong kalimat Zu.
"Zu, Momy benar. Jangan panggil kami Tuan dan Nyonya lagi tapi panggil Momy dan Daddy," sambung Tuan Khiel.
Azzura hanya bergeming menatap sang calon mertua bergantian, menatap ibunya lalu menangis. Andai ibunya tahu alasannya mau menerima lamaran dan akan menikahi putra sang majikan, tentu saja ibunya menolak.
Namun demi melihat ibunya sembuh, Zu terpaksa menerima walaupun ia sudah bisa membayangkan seperti apa kehidupan rumah tangganya yang akan ia jalani.
"Sayang ..." ucap bu Isma dengan suara yang lemah.
"Ibu ..." lirih Zu lalu memeluk ibunya sambil terisak.
Ia bahagia sekaligus sedih. Ia bahagia karena ibunya akan segera di operasi dan akan melanjutkan perawatan kemoterapi. Ia bersedih karena membayangkan rumah tangganya yang akan ia jalani.
Melihat Zu terisak di pelukan ibunya, bu Liodra dan Tuan Kheil ikut meneteskan air mata.
"Bu, rencananya, pernikahan Zu dan putra kami akan di selenggarakan dua minggu lagi. Semuanya akan saya atur. Ibu nggak usah khawatir. Saya juga akan membiayai dan menanggung semua biaya operasi perawatan Ibu di rumah sakit ini," jelas bu Liodra sambil menggenggam jemari calon besannya itu.
"Terima kasih," ucap Bu Isma lalu mengulas senyum.
"Sama-sama, Bu," Balas keduanya.
********
Sementara itu, di kantor Close, Laura tampak begitu kesal dan jengkel.
__ADS_1
"Apa!!! Apa aku nggak salah dengar?!" geram Laura menatap tajam Close.
"Bukan aku yang ingin tapi momy. Bahkan dua minggu lagi kami akan di nikahkan," jelas Close.
"Kenapa kamu nggak menolak?!" kesal Laura.
"Aku sudah menolak, tapi momy tetap ngotot ingin menikahkan aku dengan gadis itu," imbuh Close.
"Sayang! Pokoknya aku nggak mau jika kamu sampai menyentuhnya. Sebaiknya kamu melakukan sesuatu," usul Laura.
"Nggak mungkin aku menyentuhnya, mana mungkin aku tertarik dengan gadis kampungan seperti dirinya. Yang ada, aku sangat membenci gadis itu," jelasnya namun tak menjelaskan secara gamblang penyebab ia membenci Azzura.
Close menyeringai lalu memeluk Laura.
"Ide kamu, boleh juga. Melakukan sesuatu ... menurutku ide yang paling brilian adalah membuat surat perjanjian perceraian. Ya, dia tetap akan menjadi istriku. Tepatnya sebagai istri di atas kertas saja. Aku akan menyuruhnya menanda tangani surat perjanjian perceraian itu kapan saja, jika ia sudah menyerah dan lelah sekaligus resmi bercerai darinya."
Sungguh tega apa yang di rencanakan Close dan Laura. Bahkan dengan percaya diri, ia mengungkapkan keinginannya itu dengan menggebu-gebu. Close lupa jika di antara benci dan cinta itu perbedaannya sangat tipis. 🙄
Laura langsung tersenyum puas mendengar ucapan Close.
"Aku nggak mau kehilangan Close. Lihat saja nanti, aku akan terus menghasut Close supaya terus membencinya," gumamnya dalam hati
*******
Dua minggu kemudian ....
Hari yang yang sangat di tunggu oleh kebanyakan pasangan kekasih yang akan menikah, pada umumnya akan terlihat bahagia, namun itu tidak berlaku bagi Azzura dan Close.
Keduanya sama-sama terpaksa menikah dengan alasan yang berbeda.
Saat Azzura akan dipersunting oleh Close, ibunya juga harus di operasi di hari yang sama.
"Nanda, aku titip ibuku. Tolong hubungi aku jika ibu sudah selesai di operasi," pintanya dengan suara tercekat.
"Iya, Zu. Maaf ... aku juga nggak bisa hadir di hari pernikahanmu. Ibumu lebih penting. Beliau sudah ku anggap seperti ibuku juga," sahut Nanda lalu memeluk sahabatnya itu. Ngomong-ngomong selamat ya, Zu. Aku nggak menyangka jika kamu akan menjadi menantu Bu Liodra."
"Sayang ... jangan menangis Nak. Tersenyumlah, karena ini hari bahagiamu," lirih ibunya lalu mengelus wajah polos Zu. "Maaf ... ibu nggak bisa mendampingimu."
"Andai ibu tahu alasanku menikah, ibu pasti nggak akan setuju," batinnya.
Tak lama berselang beberapa perawat masuk ke kamar bu Isma dan mulai mendorong bed pasien keluar kamar.
Dengan linangan air mata, Zu dan Nanda ikut mendorong bed pasien ibunya hingga mereka terpisah di depan pintu ruang operasi.
Sedetik kemudian ia menatap seorang dokter pria yang sedang mengenakan masker menghampiri pintu ruang operasi.
"Dok, tolong selamatkan ibu saya," lirihnya lalu menggenggam kedua tangan dokter itu dengan suara tercekat.
Dokter itu hanya mengangguk lalu menatap lekat mata Azzura yang terus mengeluarkan air matanya.
"Jadi ... pasien tadi, ibunya gadis ini?" gumam pak dokter, lalu menatap tangannya yang sedang digenggam Azzura.
"Insyaallah, kami akan mencoba melakukan yang terbaik," sahut sang dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Zu lalu melepas genggaman tangannya.
Pak dokter hanya mengangguk lalu tersenyum di balik maskernya. Setelah itu ia pun masuk ke ruang operasi.
Dengan berat hati, Azzura berpamitan pada sahabatnya. Ia terpaksa meninggalkan rumah sakit itu, lalu menghampiri mobil yang sejak tadi telah menunggunya.
Di sepanjang perjalanan, Azzura hanya diam dan menatap keluar jendela mobil. Pikirannya larut memikirkan ibunya.
Tak lama berselang, Yoga menegurnya.
"Nona Zu, kita sudah sampai," tegur Yoga yang tak lain adalah asisten Close.
__ADS_1
"Sudah sampai ya, maaf. Oh ya, jangan panggil Nona, panggil Zu atau Zura saja," kata Zu lalu tersenyum.
Yoga balas tersenyum sambil mengangguk.
Setibanya ia di hotel, momy Liodra langsung menjemputya di loby hotel itu.
"Sayang, kamu harus segera di rias. Tersenyum lah Nak," bisik momy Liodra.
Keduanya pun segera ke salah satu kamar hotel yang telah di siapkan untuk meriasnya.
"Mbak, tolong rias calon mantu saya secantik dan seanggun mungkin," pinta momy Liodra.
"Siap, Nyonya."
Sebelum wajah Azzura di poles make up, MUA terlebih dulu membantunya mengenakan kebaya. Setelah itu Mbak MUA pun mulai memoles wajah polos Azzura.
Tiga puluh menit kemudian ....
"Sempurna," ucap Mbak MUA menatap kagum wajah cantik Azzura.
Tak lama berselang, sang calon mertua dan iparnya menghampirinya.
"Waaah ... Zu ... aku sampai pangling," aku Gisel.
"Sayang, apa kamu sudah siap, Nak?" tanya momy.
"Siap, Mom." Ia pun memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaannya.
Setelah itu Gisel dan Momy Liodra mengapit lengannya menuju ballroom hotel di mana pak penghulu, Daddy dan Close sedang menunggunya.
Dengan langkah pelan tapi pasti, momy Liodra dan Gisel mengantarnya kepada Close yang sedang berdiri menantinya.
Untuk sejenak, Close tertegun menatap kagum sang calon istri. Ia langsung memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdebar menatap jelas wajah cantik Azzura.
Namun seketika membuyar saat momynya menegurnya.
"Close ..."
Close menyambut tangan Zu lalu membantunya duduk di samping kursinya.
Beberapa menit kemudian, pak penghulu menyalami tangannya lalu mulai menuntunnya mengucapkan janji suci pernikahan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Azzura Zahra binti Muhammad Fadil dengan mas kawinnya yang tersebut di bayar tunai." Suara lantang Close menggema di ruangan itu, mengucap ijab qobul hanya dengan sekali tarikan nafasnya.
"Sah ..."
"Sah ..."
"Sah ..."
Wajah Azzura tetap terlihat tenang, namun hatinya mencelos merasa miris. Mengingat dirinya kini resmi menjadi istri dari Close Navarro Kheil.
Zu tersentak kaget saat jemarinya di raih oleh Close lalu memasangkan cincin pernikahan di jari manisnya begitupun sebaliknya, ia dengan terpaksa memasang cincin itu di jari manis Close.
"Close ... ayo kecup kening istrimu," pinta daddynya.
Dengan terpaksa ia menuruti permintaan daddynya
Close menatap lekat wajah Zu seraya menangkup pipinya lalu mengecup keningnya.
Setelah itu ia berbisik, "Selamat datang di pernikahan laknat ini. Pernikahan yang bakal seperti berada di dalam neraka."
Azzura hanya bergeming dengan wajah datar menatap lekat manik coklat suaminya, seolah ia sudah siap menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi.
...🌿----------------🌿...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya, readers terkasih dengan meninggalkan rate, vote, like, gift dan meramaikan kolom komentar.
Maaf author memaksa. Tanpa dukungan dari readers terkasih, siapalah author recehan seperti aku. Happy reading 🙏😊🥰😘