Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...


__ADS_3

Sesaat setelah berada di ambang pintu kamar rawat bu Isma, Close langsung membuka pintu itu.


Ia terpaku sejenak saat mendapati Azzura sedang terbaring di bed pasien ibunya. Lalu menautkan alisnya saat tak mendapati sang mertua di kamar rawat itu, melainkan hanya Yoga dan Azzura.


"Yoga, di mana ibunya Azzura?" tanya Close dengan wajah bimbang.


"Ibu sedang berada di ruang ICU, kondisinya kritis," jawab Yoga dengan nada dingin.


Close menghampiri istrinya yang belum sadarkan diri.


"Zu ... Zu ... Azzura ..." sebutnya beberapa kali sambil menepuk pipinya. "Zu ... Azzura ..." ia kembali memanggil lalu menepuk pipi istrinya dengan perasaan cemas.


"Close, sebaiknya kamu ke ruang ICU melihat kondisi ibu mertuamu. Jika Azzura membuka mata lalu melihatmu ada di sini, dia pasti mengamuk," kata Yoga sekaligus menyarankan pria blasteran itu.


"Hmm," ia menjawab singkat lalu meninggalkan kamar itu lalu mempercepat langkahnya menuju ruang ICU.


Sesaat setelah tiba di ruangan itu, lagi-lagi alisnya saling bertaut ketika mendapati pak Prasetya berada di ruangan khusus itu bersama Farhan.


"Pria itu?!" desisnya. "Dokter Farhan, bagaimana dengan kondisi ibu mertua saya," tanyanya.


Farhan dan pak Prasetya langsung berbalik menatapnya.


"Pak Close ..." lirihnya. "Anda bisa lihat sendiri di monitor, detak jantung mertua Anda semakin melemah," kata Farhan.


Close menghampiri bed lalu menatap lekat wajah pucat sang mertua yang kini terpasang ventilator. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah monitor elektrokardiogram.


Seketika perasaan bersalah memenuhi jiwa raganya. Menyesali karena sejak awal tidak pernah bertanya, tidak peduli bahkan seolah tidak mencari tahu jika mertuanya sedang sakit parah.


Ia malah sibuk bersenang-senang dengan sang kekasih dan sering melampiaskan kemarahannya dan menyiksa sang putri.


Seketika air matanya luruh dengan begitu deras, memikirkan semua perbuatan kejinya.

__ADS_1


"Ibu," lirihnya lalu menyentuh tangan bu Isma di mana jarinya juga terpasang alat medis. "Maafkan aku," ucapnya. "Aku mohon bertahanlah, bahkan ibu belum mengenalku, kita belum pernah mengobrol dan bertukar pikiran," sambungnya. "Bu ... akulah menantu ibu yang sebenarnya bukan Yoga, maaf aku terlambat. Aku mohon bertahanlah. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik, bertanggungjawab, menyayangi dan mencintai Azzura," tuturnya sambil terisak.


"Nggak akan dan jangan bermimpi, bahkan aku nggak sudi jika harus dicintai, disayangi dan dipertanggung jawabkan olehmu," suara dingin itu seketika membuat ruangan itu seolah terasa mencekam.


Dengan tangan terkepal, wajah dipenuhi dengan sirat kemarahan, Azzura menghampiri Close lalu menarik jas suaminya dari belakang.


"Pergi dari hadapanku dan ibuku sekarang," usirnya tanpa memperdulikan tangisan suaminya.


Close bergeming, terpaku di tempat lalu menatap lekat wajah Azzura yang terlihat datar namun menyiratkan kemarahan.


"Zu ..." lirih Close.


"Pergi!!! Tinggalkan tempat ini!! Sejak kapan kamu peduli padaku dan ibuku, hah!!!" bentak Azzura. "Bukankah selama ini kamu hanya sibuk mengurus gundikmu, melakukan hubungan terlarang di rumah kita!!" bentak Zu lagi.


Kamu bahkan sering menuduhku yang tidak-tidak hanya karena aku sering pulang larut, tanpa mencari tahu lebih dulu! Apa kamu pernah bertanya, aku dari mana? Dengan siapa? Kenapa bisa pulang selarut itu? Apa kamu pernah bertanya di mana orang tuaku selama kita menikah?!" Azzura memberondongnya dengan pertanyaan tanpa henti sambil mencengkram jas suaminya.


"Nggak pernah kan, bahkan kamu nggak peduli. Yang aku dapatkan hanya makian dan siksaan tanpa henti," geram Zu lalu mendorong tubuh suaminya.


"Pergilah, jangan berharap apapun lagi padaku," kata Zu dengan suara dingin. "Tenanglah ... jika terjadi sesuatu pada ibuku, aku akan menanda tangani surat perjanjian perceraian kita, lalu mengisi cek kosong itu sebagai ganti rugi selama ibuku dirawat di rumah sakit ini. Setelah itu kamu bebas dan bisa menikah dengan gundik kesayangan mu itu," pungkas Zu.


Lagi-lagi Close serasa disambar petir di siang bolong, mendengar ungkapan isi hati istrinya. Terdengar dingin dan cukup membuatnya terpekur.


"Pergi!!!!" pekik Zu mengusirnya dengan begitu geramnya.


Semua yang ada di ruangan itu cukup terkejut mendengar semua penuturan Azzura. Tanpa terkecuali tuan Kheil yang sejak tadi berada di dekat ambang pintu, menyimak pembicaraan menantunya itu.


Seketika tuan Kheil mengepalkan kedua tangannya, mengetatkan rahangnya bahkan menggeretakkan giginya dengan perasaan marah.


Ia tidak menyangka jika selama ini sang putra bisa berbuat hingga di luar batas. Satu kenyataan yang membuat pria paruh baya itu terhenyak dan sangat kecewa.


Ia pun melangkah satu langkah lalu berdiri tepat di ambang pintu bersamaan dengan Close dan Azzura yang memaksanya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Baik Azzura dan Close keduanya sama-sama terkejut mendapati kehadiran sang daddy yang sedang berdiri di bingkai pintu.


Tuan Kheil langsung menghampiri Close dan tanpa aba-aba ia langsung mendaratkan dua tamparan yang cukup keras di kedua pipi sang putra dengan penuh amarah.


Setelah itu ia mencengkram jas putranya lalu menatapnya dengan tatapan menghunus tajam.


"Daddy benar-benar kecewa padamu. Daddy mengira jika keputusan daddy dan momy menikahkanmu dengan Azzura adalah keputusan yang tepat. Tapi nyatanya kami salah," kata daddy dengan perasaan kecewa lalu mendorongnya.


Close hanya bergeming lalu tertunduk lesu. Ia bahkan seperti dikuliti habis-habisan oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.


Sedangkan tuan Kheil, ia menghampiri Azzura lalu mendekap erat menantunya itu dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.


"Maafkan daddy dan momy, Nak. Kami benar-benar nggak tahu jika selama ini kamu diperlakukan kasar bahkan mendapat KDRT dari putra kami," bisik daddy dengan suara tercekat.


"Kenapa kamu hanya diam saja, kenapa nggak pernah memberitahu daddy dan momy?" lirih tuan Kheil bertanya dengan penuh penyesalan. "Bahkan daddy sangat nggak membenarkan perbuatan kasar yang dilakukan Close padamu," sambungnya.


Dalam dekapan mertuanya, Azzura hanya mampu menangis menumpahkan air matanya bahkan tubuhnya bergetar meluapkan semua kesedihannya.


"Daddy, bukannya aku nggak ingin memberitahu, tapi sebagai istri, aku masih sangat menghargai Close sebagai suamiku. Awalnya aku masih bisa bersabar dan masih memberinya kesempatan untuk berubah, tapi bukannya berubah sikapnya semakin menjadi-jadi," aku Zu dengan sesenggukan. "Puncak kesabaranku sudah habis, Dad. Mungkin sudah waktunya aku dan Close berpisah," lirihnya lagi. "Jika terjadi sesuatu pada ibuku, izinkan kami menjalani kehidupan masing-masing," pinta Zu dengan sesenggukan. Tangisannya begitu terdengar pilu.


Farhan, pak Prasetya, Yoga dan tiga perawat yang ada di ruangan itu tak kuasa menahan air matanya. Mereka ikut meneteskan air mata mendengar ungkapan isi hati terdalam dari gadis berhijab itu.


"Azzura," lirih Close ikut menangis menyesali semua perbuatannya. "Azzura ... beri aku kesempatan terakhir," pintanya seperti memohon.


Dalam dekapan sang mertuanya Azzura hanya mampu menangis dan tak bisa berkata-kata bahkan enggan menjawab permohonan suaminya.


Seketika ruangan itu kembali hening, yang terdengar hanya suara sesenggukan Azzura bersahutan dengan suara monitor elektrokardiogram ibunya.


πŸ’” Wanita ... hanya karena dipandang lemah, bukan berarti kamu bisa berbuat sesuka hatimu. Jika emosinya sudah memuncak maka kamu akan melihat sisi gelapnya wanita πŸ’” (Rousy)


🍁Lepaskanlah dan kita akan menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang kita miliki.🍁

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2