Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 22 : Di mana orang tuanya ...?


__ADS_3

Sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil, Azzura hanya diam seribu bahasa dan hanya memandang keluar jendela mobil.


Setelah agak jauh dari rumah momy, barulah Azzura membuka suara. "Berhenti di sini. Aku naik angkot saja," pintanya tanpa menoleh sedikitpun.


Close meliriknya sejenak namun tak menghiraukan permintaannya dan tetap melajukan mobilnya.


"Aku bilang berhenti!" desaknya dan mulai merasa geram karena Close tak menghiraukan ucapannya. Karena merasa kesal, Azzura melepas seat belt lalu membuka pintu mobil, tanpa memperdulikan keselamatannya.


Sontak saja ulahnya itu membuat Close panik dan spontan mengerem mendadak.


"Apa kamu sudah gila, hah!!" bentaknya.


"Ya!! Aku memang sudah gila, kenapa?" balas Zu tak kalah kesalnya lalu segera keluar dari mobil itu kemudian berjalan berlawanan arah dari mobil Close.


"Azzura!! panggilnya lalu kembali memundurkan mobilnya namun gadis itu seolah tak peduli dan tak menghiraukannya dan malah berdiri sambil menahan angkot yang menghampirinya.


Tak ingin Close kembali memaksanya, Azzura cepat-cepat masuk ke dalam angkot dan menyuruh pak supir segera meninggalkan tempat itu.


Close tertunduk lesu ketika Azzura sudah masuk ke dalam angkot. Terpaksa ia menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan. Lagi-lagi ia kembali terbayang wajah istrinya itu ketika menangis dalam pelukan momy beberapa jam yang lalu.


"Jika dia mau, dia bisa saja melapor semua perbuatan KDRT yang aku lakukan padanya, kepada momy dan daddy. Bahkan dia juga bisa menyangkal jika dia itu tidak mandul. Tapi kenapa dia diam saja?" lirihnya sambil tertunduk lesu.


Close kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya. Biasanya ia akan lanjut ke apartemen Laura. Namun entah mengapa ia ingin pulang ke rumahnya saja.


kurang lebih dua puluh menit mengendarai, Close akhirnya tiba di rumahnya.


Sesaat setelah berada di dalam rumah, ia langsung mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu sambil memijat pangkal hidungnya.


"Sepi banget," desisnya lalu beranjak dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Lagi-lagi langkahnya terhenti ketika ekor matanya terarah ke atas meja makan, uang dan kedua kartu yang ia letakkan masih tetap di tempat bahkan masih utuh.


"Apa selama enam bulan terakhir, dia hanya makan di luar? Lalu bagaimana dengan kebutuhannya yang lain? Apa karena itu, dia lembur untuk menambah uang pendapatannya?"


Close bertanya-tanya sendiri sambil menatap uang yang tiap hari ia tambah nominalnya, namun tak pernah sekalipun uang itu berkurang bahkan posisi letaknya masih tetap sama begitupun dengan kedua kartu itu.


Sekelumit ingatannya kembali berputar enam bulan yang lalu saat ia dengan teganya menyiram Azzura dengan kopi dan menghambur semua makanan di atas meja waktu itu.

__ADS_1


Bahkan dengan percaya diri ia mengatakan tak akan pernah mau menyentuh atau mencicipi masakan olahan dari tangan istrinya itu.


"Apa kamu tahu? Masih banyak orang-orang di luar sana yang kurang beruntung ingin menikmati makanan seperti ini. Tapi kamu dengan angkuhnya menghambur semua makanan ini. Akan ada masanya kamu ingin mencicipi masakan hasil dari olahan tanganku sendiri. Tapi saat kamu menginginkan, mungkin aku nggak akan pernah memasak lagi, kecuali untuk diriku sendiri."


Close kembali melangkah dan berhenti tepat di depan pintu kamar Azzura. Lagi-lagi ia teringat ucapan istrinya itu yang melarangnya masuk ke dalam kamar buluknya. 🀭.


"Jangan pernah membuka atau masuk ke kamar ini. Karena ini area privasiku. Sama halnya diriku yang nggak boleh menginjakkan kakiku ke lantai dua. Bukankah kita ini seperti orang asing?"


"Kembalilah ke kamarmu. Takutnya kamu akan alergi berada di area wanita kampungan sepertiku."


"Azzura," lirihnya sambil menatap nanar pintu kamar itu.


Ia menyentuh pintu itu, memegang handle lalu memutarnya. Alisnya bertaut ketika pintu itu langsung terbuka saat ia memutar handlenya.


"Tumben nggak terkunci, apa dia lupa?" gumamnya menebak dan ternyata benar. Kunci kamar Azzura masih tertancap di tempatnya.


Karena tadi Azzura buru-buru, gadis itu lupa mencabut kunci kamar yang masih tertancap di handle pintu belakang.


Tanpa pikir panjang dan diselimuti dengan rasa penasaran, Close langsung membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam ruangan sempit itu.


Saat menatap kasur lipat tipis yang tergulung rapi, ia merasa bersalah karena kasur istrinya itu sangat jauh berbeda dengan kasur yang ada di kamarnya.


"Azzura ..." lirihnya. Ia lalu menatap rak lemari serbaguna di mana semua benda milik istrinya tertata rapi menjadi satu di sana.


"Rapi banget," desisnya seraya menyentuh pakaian istrinya di rak itu.


Ia mendudukkan dirinya di atas ubin lalu meraih frame foto gadis itu yang terletak di atas meja bersama kedua orang tuanya dan sahabatnya.


satu hal yang baru ia sadari, ketika ia menikah dengan Azzura kedua orang tuanya itu sama sekali tidak terlihat di acara itu bahkan yang menjadi walinya adalah daddynya sendiri.


"Lalu di mana orang tuanya? Kenapa mereka tidak hadir ketika kami menikah? Bahkan sampai detik ini aku belum pernah bertemu dengan mereka," gumamnya lalu meletakkan kembali frame itu di tempat asalnya.


Ia kembali teringat saat malam di mana ia mendatangi Azzura rumah itu terlihat sepi bahkan orang tuanya tidak ada di rumah itu.


"Sebenarnya ke mana orang tuanya? Malam itu saat aku ke rumahnya di hanya sendiri dan orang tuanya sama sekali tidak terlihat?"

__ADS_1


Close kembali bertanya-tanya dan membuatnya semakin penasaran.


Setelah puas mengamati kamar itu, ia beranjak dari tempat duduknya. Alisnya mengernyit ketika menatap sepasang setelan piyama celana pendek tergantung di belakang pintu kamar itu.


"Seperti apa dirinya jika mengenakan piyama ini? Seputih apa kulitnya dan bagaimana bentuk dan model rambutnya? Apakah panjang atau pendek? Bahkan aku belum pernah sekalipun melihatnya mengenakan baju seperti ini di rumah," gumamnya merasa penasaran.


Setelah itu, ia kembali meninggalkan kamar itu dan memilih naik ke kamarnya. Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tampak berpikir. Tak lama berselang, ia kembali merubah posisinya menjadi duduk.


Sedetik kemudian ia membuka laci nakas lalu meraih surat perjanjian perceraian dan cek kosong itu lalu menatap lama kedua lembaran itu. Ia tampak berpikir dan entah mengapa ia merasa takut jika Azzura benar-benar akan menandatangani surat perceraian itu. Apalagi saat melihatnya menangis dan sudah siap bercerai jika sewaktu kedua orang tuanya menyetujui niat istrinya itu.


"Nggak ... nggak ... ini tidak benar," desisnya merasa gusar.


Close kembali menaruh lembaran itu di laci dan tak sengaja melihat cincin nikahnya yang tidak pernah ia kenakan selama enam bulan terakhir.


Ia pun meraih cincin itu lalu kembali melingkarkan di jari manisnya. "Aku ingin mencoba dan memulainya dari nol," desisnya.


Bukan tanpa alasan, mengingat istrinya itu semakin dekat dengan asistennya, ia seakan tidak rela. Bahkan beberapa kali ia memergokinya berjalan bersama walau mereka tidak sendiri melainkan dengan teman-temannya.


"Sial!!! Bukan nggak mungkin Yoga dan Azzura bisa menjalin hubungan dekat jika keduanya terus-terusan bersama," kesalnya.


Close terdiam sejenak lalu meraih rokok dan pemantiknya. Setelah membakar benda itu ia menyesapnya dalam-dalam lalu menghembus asapnya dengan kasar.


"Sepertinya aku harus cari tahu tentang Azzura dan keluarganya dari sahabatnya itu," gumamnya lalu menatap cincin nikahnya yang kini kembali melingkar di jari manisnya.


Sedetik kemudian, Close meraih ponselnya dan ingin menghubungi istrinya. Namun ia baru sadar selama menikah ia tidak pernah bertukar nomor ponsel dengan istrinya itu.


"Ahh ... sial!!" umpatnya. "Bahkan aku tidak memiliki nomor ponselnya," sesalnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali menyesap rokoknya.


Lagi-lagi ia tampak berpikir. "Sebenarnya tadi dia mau ke mana? Apa dia pulang ke rumahnya?" tebaknya bertanya-tanya sendiri. "Sebaiknya aku ke sana saja, siapa tahu dia beneran ada di rumahnya itu. Jadi aku bisa bertemu langsung dengan mamanya," ucapnya dengan penuh harap.


Akhirnya Close memutuskan untuk ke rumah Azzura. Besar harapannya jika gadis itu sedang berada di kediaman itu.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2