Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...


__ADS_3

Sesaat setelah berada di hadapan kedua orang tuanya, Genta langsung merangkul keduanya.


"Terima kasih, Yah, Mah," bisiknya dengan perasaan terharu sekaligus bahagia.


Setelah itu ia menghampiri atasannya lalu berjabat tangan khas perwira.


"Selamat ya, Pak Genta. Diam-diam ternyata kamu menghanyutkan juga. Saya nggak menyangka jika selama ini kamu sudah memiliki calon istri," kelakar Pak Surya sang atasan.


"Panjang ceritanya, Pak. Apa Anda tahu? Saya membutuhkan waktu selama tiga tahun untuk meluluhkan hatinya. Alhamdulillah perjuangan saya nggak sia-sia. Doain saya ya, Pak, semoga lancar sampai hari H."


Mendengar penuturan Genta, pak Surya cukup terkejut. Ia tak menyangka di balik sikapnya yang terkesan dingin terhadap wanita, ternyata ia bisa takluk pada gadis yang baru saja dilamarnya barusan.


"Saya tetap mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Sekaligus saya tunggu surat pengajuan izin dan undangan darimu." Pak Surya menepuk bahunya.


"Siap, Pak!" tegasnya penuh semangat. "Kalau begitu, saya sekalian pamit. Soalnya saya dan keluarga sudah janjian ingin mengajak anak-anak piknik."


Pak Surya hanya mengangguk seraya menepuk bahunya.


.


.


.


Jauh dari kota M tepatnya mansion tuan kheil, Close tampak sedang mengobrol santai dengan kedua orang tuanya.


Dua minggu sebelumnya, setelah daddy Kheil menghubunginya kala itu, seketika otaknya langsung memunculkan ide.


Keesokan harinya, ia memutuskan pulang ke Kota J dan melanjutkan perjalanannya ke negeri asal sang momy di kota Sidney Australia.


Awalnya sang momy masih enggan bertemu dengannya. Bahkan ia sempat diusir. Namun setelah membujuk sang momy lalu menjelaskan jika ia sudah tahu di mana keberadaan Azzura, momy Lio akhirnya melunak.


Perasaan rindu akan sosok gadis berhijab itu seketika menyelimuti dirinya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Close malah akan memanfaatkan sang momy untuk membujuk mantan istrinya itu supaya mau rujuk kembali dengannya.


*****


"Momy mau kan membantuku?"


"Momy akan berusaha. Berdoa saja semoga Azzura mau rujuk kembali denganmu. Tapi ... jujur saja, momy nggak yakin," kata momy Lio pesimis.


Bukan tanpa alasan, jika diingat-ingat kembali betapa kejinya perbuatan sang putra pada gadis itu.


Bisa bayangkan? Terikat dalam janji suci pernikahan, diperlakukan kasar secara fisik dan verbal, di selingkuhi di depan mata bahkan dengan kejinya melakukan hubungan terlarang di rumah sendiri tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Wanita mana yang nggak sakit. Sehingga rasa sakit itu menjalar dan mengakar ke dalam batinnya. Yang pada akhirnya membuat Azzura trauma dan mengalami gangguan mental.


Membayangkan semua itu, seketika membuat air mata momy Lio langsung mengalir deras. Depresi yang pernah dialami sang putra kala itu, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa trauma yang dialami oleh Azzura.


"Jika momy berada di posisi Azzura, momy pun nggak akan kuat. Mungkin saja momy akan bunuh diri. Nggak ada satupun wanita yang rela diperlakukan sedemikian rupa, Close," batin momy Lio.

__ADS_1


Ia tak berharap banyak dari Azzura. Sudah bisa bertemu sambil mengobrol dengan gadis itu saja, ia merasa itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Azzura, momy sangat merindukanmu, Nak."


"Mom, maafkan aku." Close berkata lirih.


Tak ada jawaban. Entah mengapa momy Lio masih merasakan sakit hati pada putra sulungnya itu karena sudah menyia-nyiakan gadis sebaik Azzura.


Sedangkan daddy Kheil yang sejak tadi memandangi keduanya hanya bisa bungkam seribu bahasa. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya.


"Sebaiknya kita berkemas. Dua jam dari sekarang kita akan ke bandara," kata daddy Kheil lalu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.


"Close, jika momy nggak bisa membujuk Azzura, maka kamu harus melepasnya. Biarkan dia bahagia dengan caranya sendiri serta jangan mengusiknya lagi," tegas momy.


Setelah itu ia pun menyusul sang suami menuju kamar.


Close hanya bisa tertunduk lesu mendengar kalimat momy Lio. Jauh dalam sudut hatinya, ia sangat berharap jika Azzura bisa melunak lewat momynya.


.


.


.


.


Kembali ke Kota M ...


Bahkan senyumnya terus tersungging di bibirnya. Sejak tadi pula, ia terus memperhatikan Azzura bersama anak-anaknya dan ponakannya.


Tak lama berselang Galuh menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


"Wah, Bang ... sepertinya Abang lagi membayangkan bakal memiliki anak yang banyak ya," goda sang adik.


"Ya begitulah." Tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya.


"Bikin kesebelasan saja, Bang," kelakar Galuh.


"Emangnya pemain bola apa?!" kesalnya lalu memukul paha sang adik karena gemas.


"Duh!! Sakit tahu, Bang." Galuh mengusap pahanya. Sedetik kemudian ia malah tertawa seraya merangkul pundak sang kakak. Ia pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dimana Azzura dan anak-anaknya sedang bermain.


"Azzura gadis yang baik, bang bahkan sifatnya jauh berbeda dengan mantan istrimu itu. Huh! Wanita itu menyebalkan," gerutunya dalam hati.


Dua jam berlalu ...


Azzura, Nella dan bu Nadirah sedang duduk di ruang santai ... Ketiganya tampak mengobrol dan sesekali ketiganya tertawa.


"Mah, Kak Nella ... terima kasih karena selama ini begitu baik padaku. Maaf jika aku nggak seperti gadis normal lainnya. Apa Mama nggak malu memiliki menantu sepertiku?"

__ADS_1


Bu Nadirah menggelengkan kepalanya seraya memeluknya. "Tidak, Nak, jangan berkata seperti itu. Apapun keadaanmu kami tetap menerimamu apa adanya."


"Zu, percayalah kamu pasti bisa melewati masa-masa sulitmu," timpal Nella sembari mengelus punggungnya.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Zu seraya menggenggam tangan bu Nadirah dan Nella.


Tak lama berselang Genta menghampiri ketiga wanita itu lalu ikut duduk di sisi sang mama.


"Apa aku mengganggu?"


Bu Nadirah mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya. Mengerti jika putranya ingin mengatakan sesuatu pada Azzura, ia pun mengajak Nella berpindah tempat.


"Sayang, mama dan Nella tinggal sebentar ya," pamit bu Nadirah.


"Iya, Mah," sahut Zu.


Sepeninggal mama dan iparnya, Genta meliriknya.


"Zu, maaf jika lamaranku terkesan mendadak. Aku hampir putus asa saat mendengar jawaban pertamamu," akunya dengan hela nafas.


Azzura tersenyum. "Sejak kapan, Mas menyukaiku?" tanya Zu to the poin.


"Sejak di Kota J."


Jawaban yang lolos begitu saja dari Genta tentu membuatnya terkejut.


"Kota J?" Ia balik bertanya dengan wajah bingung.


"Ya, karena hanya sekilas. Saat itu aku nggak sengaja melihatmu di lampu merah bersama temanmu. Mobilku berada persis di samping motor kalian," jelas Genta sambil tersenyum mengingat moment itu.


Azzura tampak berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Seketika perasaan kembali merasakan sedih sesaat setelah mengingat moment itu. Ia tersenyum miris.


Hening sejenak ...


Sebelum akhirnya, Genta mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celananya.


"Zu, aku ingin kita menikah dalam waktu dekat. Nggak apa-apa kan?"


"Tapi, Mas ..."


"Aku mohon ..." Genta menatapnya penuh harap.


Azzura tak menjawab melainkan hanya mengangguk setuju.


"Mendekatlah," pinta Genta. "Maaf, aku ingin memakaikan cincin ini ke jari manismu."


Azzura hanya menurut lalu mengulurkan tangannya pada Genta.


"Insyaallah, sebulan dari sekarang kita akan menuju halal," ucapnya sesaat setelah memakaikan cincin itu ke jari manis Azzura.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev."


...----------------...


__ADS_2