Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...


__ADS_3

Sesaat setelah keduanya duduk di kursi cockpit, pintu helikopter itu pun kemudian ditutup oleh kedua prajurit yang berada di landasan lalu memberi hormat.


Azzura semakin dibuat bingung lalu melirik Genta yang tampak sedang berbicara dengan seseorang lewat benda khusus sambil mengutak atik tombol yang ada di cockpit.


Entahlah apa namanya. Yang tahu hanyalah Genta seorang.


Merasa sejak tadi Azzura terus menatap heran padanya, ia kembali mengulas senyum merasa gemas.


"Pasang sabuk pengamannya lalu kenakan ear muff-nya, Zu," perintahnya seraya memberi ear muff (alat pelindung telinga) itu pada Azzura.


Dengan patuh Azzura hanya menurut lalu segera memasang sabuk pengaman kemudian memakai ear muff-nya.


"Mas, kenapa kedua prajurit itu nggak ikut bersama kita?" tanyanya.


"Nggak apa-apa," jawabnya.


Setelah itu, ia mengarahkan pandangannya ke depan lalu mulai mengoperasikan benda itu.


Tak lama berselang, helikopter itu perlahan mulai mengudara meninggalkan lapangan khusus itu.


Sesaat setelah benda itu semakin tinggi di udara, Azzura dapat melihat keindahan kota M yang tersaji di siang itu dari atas ketinggian tempatnya berada sekarang.


"Masya Allah ... indahnya."


Sedangkan Genta, ia sesekali melirik Azzura yang tampak sedang tersenyum menatap keluar jendela heli.


"Mas, kenapa sih, harus menggunakan helikopter, sedangkan kita bisa menggunakan mobil saja," tanya Zu sekaligus membuka suara.


'Nggak apa-apa, biar beda," jawab Genta.


"Sebenarnya mau ke mana ini? Masa lokasi pikniknya harus menggunakan helikopter?" batin Zu.


Sementara di tempat yang berbeda tepatnya di lokasi yang akan Genta dan Azzura tuju, terlihat para taruna dan beberapa bawahannya tampak sudah bersiap-siap menunggu kehadiran keduanya.


Pun begitu dengan kedua orang tua Genta, beberapa atasannya serta adik dan iparnya terlihat seperti sudah tak sabar menyambutnya.


Dua minggu yang lalu ia telah mempersiapkan secara matang rencananya untuk melamar Azzura. Namun sebelumnya Genta terlebih dulu berkoordinasi langsung pada atasannya untuk meminta izin.


Setelah mendapat izin dari atasannya, ayah dan mamanya turut andil dalam persiapan sang putra untuk melamar gadis pujaannya itu. Bahkan keduanya sangat berharap jika Azzura mau menerima Genta menjadi pendamping hidupnya.


"Apa kalian sudah siap?!" tanya pak Dirgantara dengan semangat kepada para taruna dan bawahan sang putra.


"Siap, Pak!!!" jawab mereka serentak.


"Baik, lakukan tugas kalian sebaik mungkin," sambung pak Dirgantara.

__ADS_1


"Siap laksanakan!!"


Setelah itu mereka kembali bersiap-siap mengingat sebentar lagi Genta akan segera tiba.


Kembali ke Azzura dan Genta yang saat ini masih berada di udara. Sebentar lagi helikopter yang ditumpangi sekaligus dipilotinya itu akan segera mendarat di titik yang sudah di tentukan.


Sebelum benar-benar tiba di lokasi, Genta mengeluarkan selembar surat lalu memberikannya pada gadis itu.


"Zu," panggilnya.


Azzura langsung menoleh ke arahnya. "Ada apa, Mas?"


"Ini ... bacalah," pintanya.


"Apa ini Mas? Surat cinta yaaa?" kelakarnya seraya meraih surat itu.


"Kamu akan tahu setelah membaca isinya," balas Genta.


Begitu surat itu diraih, seketika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat Azzura mulai membuka surat itu lalu membacanya.


Assalamu'alaikum ... calon makmumku, Azzura Zahra. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untukku menunggu moment ini. Maaf ... aku bukanlah pria romantis yang pintar merangkai kata-kata untuk menyatakan perasaanku.


Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu, mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.


Bermunajat pada Allah SWT untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali aku bertanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku?


Hari ini aku memberanikan diriku untuk menyatakan perasaanku yang sebenarnya padamu.


Azzura Zahra ... aku mencintaimu dengan setulus hatiku. Izinkan aku menjadi imammu, pendamping hidupmu, ibu dari anak anakku kelak hingga akhir hayatku.


Genta Pramudya Dirgantara


Begitu selesai membaca goresan pena yang terukir rapi di atas kertas itu, setetes demi setetes air matanya langsung berjatuhan tanpa bisa dicegah.


Azzura menoleh ke arah Genta, menatap lekat wajah pria yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Namun pandangannya seketika terusik saat ekor matanya tak sengaja menangkap sesuatu di bawah ketinggian.


Lagi-lagi air matanya semakin mengalir deras ketika melihat barisan membentuk sebuah formasi tulisan 'WILL YOU MARRY ME?'


"Mas." Lirihnya lalu menyeka air matanya.


Genta tak menjawab melainkan fokus untuk mendaratkan helikopter yang sedang dipilotinya itu ke titik yang sudah di tentukan.


Selang beberapa menit kemudian setelah menunggu baling-baling capung besi itu berhenti berputar barulah ia melepas sabuk pengamannya dan ear muff-nya.


"Maaf jika aku sudah membuat mata indahmu itu menjatuhkan air mata."

__ADS_1


Azzura hanya bergeming sambil menunduk. Tak lama berselang pintu helikopter itu pun di buka dari luar.


"Ayo," ajaknya.


Ia hanya menurut. Sesaat setelah kakinya menapak di landasan itu, Genta masih berdiri di sisi helikopter.


Tak lama berselang, seorang bawahannya menghampirinya lalu memberikannya sebuah microphone.


Begitu microphone berada di genggaman tangannya, ia menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum berucap.


"Azzura Zahra ... hari ini aku ingin menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Aku benar-benar tulus mencintaimu dan benar-benar ingin menjadikanmu sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakku kelak."


"Hari ini, di hadapan kedua orangtuaku, adik, ipar, atasanku, para prajurit, taruna dan anak-anak kita, mereka menjadi saksi, jika hari ini dengan segala kekurangan dan kerendahan hatiku aku ingin menjadikanmu sebagai istriku. Maukah kamu menerimaku sebagai imammu?"


Seketika itu juga sorak sorai langsung terdengar dengan kata-kata, TERIMA ... TERIMA ... TERIMA ...


Lagi dan lagi, Azzura tak mampu berkata-kata melainkan hanya bisa menangis terharu mendengar ungkapan tulus penuh harapan dari ayah Zayyana Amara itu.


"Mas ... maaf ... aku nggak bisa ..."


Sontak saja ucapan lirih yang terdengar menembus gendang telinganya membuat Genta seolah terpukul.


Dan seketika itu juga suara sorak sorai yang tadinya begitu riuh perlahan mereda menjadi hening.


Genta menatap lekat wajah gadis itu yang sedang berdiri berhadapan dengannya. Sejak tadi wajahnya terlihat sendu dengan mata sembab.


Jauh dalam sudut hati, Azzura masih menyimpan satu nama, yaitu Yoga. Namun di sisi lain, ia juga tak bisa memungkiri jika selama ini Genta lah pria yang sering hadir dalam hidupnya saat ia membutuhkan sandaran.


"Maaf Mas ... aku nggak bisa ..." untuk yang kedua kalinya ucapan itu kembali terucap di bibir Azzura dengan suara tercekat.


"Aku menagih janjimu." Lirih Genta dengan perasaan kecewa berbalut sedih. Ia tetap berdiri tegak di hadapan gadis itu, siap menerima keputusannya dan harus ikhlas jika ia benar-benar ditolak.


"Maaf Mas ... aku nggak bisa menolak pria sebaik Mas Genta." Azzura menyeka air matanya.


Mendengar sambungan kalimat terakhir yang terucap dari gadis itu, seketika sorak sorai kembali bergema.


Tak bisa menahan rasa haru, Genta meneteskan air matanya. Ingin rasanya ia mendekap gadis itu sekarang juga namun ia tetap menahan dirinya.


Tak lama berselang, Galuh dan Nella menghampiri keduanya lalu memberikan ucapan selamat di susul oleh para taruna yang ikut andil membantu sang instruktur.


Galuh langsung memeluk kakaknya lalu berbisik, "Selamat ya, Bang. Waaah ... akhirnya bakal lepas status duda juga Abang ya."


"Apaan sih?" kesalnya.


"Kalau bisa cepat-cepatlah, Bang." Galuh kembali menggodanya.

__ADS_1


''Soon."


...----------------...


__ADS_2