Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 13


__ADS_3

Keesokan harinya seperti janji Yoga, ia benar-benar menepati janjinya pada Syakila. Saat jam makan siang, ia mengajak gadis itu bertemu di restoran milik Kiya.


Yoga yang lebih dulu tiba di restoran itu, tampak sedang mengobrol serius dengan seseorang melalui benda pilihnya.


Begitu panggilan berakhir, ponselnya kembali bergetar. Seketika alisnya kembali bertaut lalu menatap benda pipih tersebut.


"Close?! Tumben," desisnya kemudian menjawab panggilan dari mantan rivalnya itu.


"Ya, Assalamu'alaikum ... Close. Tumben-tumbennya kamu menghubungi ku. Apa kamu ingin menyampaikan kabar bahagia untukku?" cecar Yoga lalu terkekeh.


"Waa'laikumsalam ... emangnya nggak boleh?" tanya Close balik.


Lagi-lagi Yoga terkekeh mendengar pertanyaan dari Close.


"Boleh-boleh saja sih, hanya saja aku berpikir tadinya kamu ingin menyampaikan kabar bahagia. Siapa tahu sudah ada calonnya," jawab Yoga.


Dari seberang telepon, Close menghembus nafas kasar.


"Lagi usaha ini, lagian belum ada yang berkenan dihatiku," balas Close. "By the way, kamu lagi di mana sekarang?"


"Di Azkiya Resto," jawab Yoga.


"What?!!" pekik Close dari seberang. "Bukannya itu ..." ucapannya terputus karena Yoga langsung menyela.


"Ya ... restoran milik kak Kiya mantan istrinya kak Faz, arsitek yang terkenal di kota J. Sekarang sudah jadi iparku," jelas Yoga.


"Hmm ... kebetulan aku lagi berada di kota ini, aku langsung ke sana saja," cetus Close lalu memutuskan panggilan telepon secara sepihak.


Sontak saja ulahnya itu membuat Yoga geleng-geleng kepala.


Tak lama berselang, Syakila yang baru saja tiba langsung mengarahkan langkahnya menuju meja yang ditempati oleh Yoga.


"Yoga," sapanya lalu mendudukkan dirinya di kursi yang kosong.


"Sya," sahut Yoga lalu tersenyum pada gadis yang kini duduk di depannya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu," balas Sya.


"Nggak apa-apa semuanya demi kamu karena aku sudah terlanjur berjanji," kata Yoga dengan seulas senyum.


Ucapan Yoga barusan tanpa sadar membuat Syakila kembali salah tingkah mendengarnya. Ia pun mempersilahkan Syakila memesan makanan.


Saat sedang memilih menu makanan, suara seseorang mengalihkan tatapan Yoga dari buku menu.


"Waaah ... Ga, apa kalian sedang berkencan?" tanya Close to the poin lalu mendaratkan bokongnya di sebelah Yoga.


Saat pandangannya mengarah ke wajah Syakila, Yoga mengernyitkan kening sembari bergumam dalam hatinya. "Perasaan ini cewek yang semalam bersama Bram. Sekarang malah berdua dengan Yoga."


Plak ...


Yoga menepuk bahu ex boss-nya itu sekaligus mengalihkan tatapannya pada Syakila.


"Bro ...! Ada apa? Seperti baru lihat gadis saja kamu," ledek Yoga.


Close tak mengindahkan ucapan Yoga melainkan melayangkan pertanyaan pada Syakila.


"Maaf ... jika aku nggak salah kamu gadis yang bersama Bram kan semalam?"


"Iya," jawab Sya sambil mengangguk.


"Bram?!" timpal Yoga.


"Ya, Bram, ex tunanganku," sarkas Sya sambil memutar bola matanya malas. Ia langsung merasa jengah mendengar nama itu disebut. "Ck ... sudahlah nggak usah di bahas si bule itu," ketus Sya.


Tanpa sadar jika Close juga seorang blasteran. Mendengar nada ketus Syakila, Yoga langsung terbahak lalu meninju lengan Close.

__ADS_1


Sedangkan Close hanya diam dengan hela nafas. "Kesal sih kesal, neng. Tapi nggak usah bawa-bawa bule juga kali. Nggak tahu apa jika aku juga bule," gerutu Close dalam hatinya.


"Sya, kenalin ini temanku dari kota J, namanya Close," kata Yoga. "Close dia Syakila sepupu kak Kiya."


Keduanya saling berjabat tangan lalu menyebut namanya masing-masing. Setelah saling berkenalan mereka lanjut memesan makanan masing-masing.


Sambil menunggu, Yoga kembali mengulas senyum menatap Close dan Syakila bergantian.


"Kebetulan sekali kalian berdua ada di sini," kata yoga sekaligus kembali membuka suara.


"Lalu ...?" Close mulai membakar rokoknya lalu menyesapnya pelan.


"Aku sekalian ingin menyampaikan kabar bahagia ini pada kalian," sambung Yoga.


Sontak saja ucapan yang terlontar dari bibir Yoga membuat jantung Syakila berdebar kencang. Keningnya mengerut tipis bertanya-tanya dalam batinnya.


"Close ... Sya ... Insyaallah, jika nggak ada halangan, Minggu depan aku akan melamar gadis pujaanku," terang Yoga.


"Melamar gadis pujaannya ...?" batin Sya dan ia mengira jika gadis yang dimaksud Yoga adalah dirinya.


"Benarkah? Selamat untukmu, Ga. Finally kamu akhirnya menemukan tambatan hatimu," timpal Close seraya menepuk lengan ex asistennya itu.


"Siapa dia? Apa ..." Close tak melanjutkan kalimatnya melainkan mengisyaratkan dengan mata. Menebak jika gadis yang dimaksud adalah Syakila.


Jantung Syakila semakin berdebar tak karuan. Tak sabar ingin mengetahui siapa gerangan gadis yang dimaksud oleh Yoga. Namun, ia berharap jika gadis itu adalah dirinya.


"Gadis itu seorang dosen sekaligus pasienku yang pernah aku tangani selama setahun di rumah sakit tempatku bekerja," jelas Yoga mantap. "Namanya Clarissa atau biasa aku panggil dengan Rissa."


Duaaaaarrrr ...


Bak petir menyambar, seketika dada Syakila bergemuruh hebat mendengar penuturan Yoga barusan. Berharap gadis yang dimaksud adalah dirinya. Namun sebaliknya ungkapan Yoga barusan membuatnya sangat kecewa sekaligus terpukul.


Matanya mulai menggenang, namun sebisa mungkin ia menahan kristal bening di kelopak matanya itu.


"Selamat ya, Yoga," ucap Close sekaligus ikut bahagia untuk Yoga. Namun ia sangat penasaran dengan kisah Yoga dan calon pendampingnya itu.


"Terima kasih, Close. Ini semua berkat Azzura dan bang Genta juga. Saran keduanya benar-benar bermanfaat," aku Yoga dengan senyum manis. "Kapan-kapan aku akan menceritakan perjalanan kisah kami berdua nantinya."


Close mengangkat jempolnya sekaligus menyetujui.


Sedangkan Syakila yang kini masih berada di toilet, menumpahkan semua air matanya yang sejak tadi ditahannya.


Kecewa ...


Itulah yang dirasakan kini.


Menyesal ...


Meski di awal-awal dia tahu jika Yoga gencar mengejarnya, ia malah cenderung menjaga jarak bahkan sering menghindar.


Hingga rasa cinta yang baru saja akan ia ungkapkan terpaksa diurungkan. Karena pria yang berprofesi sebagai psikolog itu telah menyatakan jika ia akan melamar gadis yang pernah menjadi pasiennya.


Rissa mendongak menatap pantulan dirinya dari kaca toilet lalu tersenyum miris. Bukan salah Yoga melainkan salahnya sendiri.


Ia seperti tak menghargai usaha Yoga yang ingin menjalin hubungan serius padanya waktu itu. Sehingga Yoga mulai menyerah dan kembali ke mode cuek.


"Aku yang terlalu naif. Andai saja aku tak mengabaikan perasaannya waktu itu, mungkin saja saat ini kami sudah menikah," ucap Sya dengan suara lirih.


Sementara di tempat Yoga dan Close, keduanya masih asik mengobrol sambil menikmati makanannya.


"Syakila kok, belum kembali ya? Apa dia sedang mengeram di toilet? Lama banget," gumam Yoga lalu disambut dengan tawa Close.


"Ada-ada saja kamu," timpal Close.


"Close ... jika boleh aku sarankan, kenapa kamu nggak mencoba saja menjalin hubungan dengan Syakila," saran Yoga. "Dia gadis yang baik kok, jalanin saja dulu dengan saling bertukar nomor ponsel."

__ADS_1


Close bergeming dan tampak berpikir. Sedetik kemudian ia melirik Yoga.


"Aku takut melakukan kesalahan yang kedua kali, Yoga. Perbuatan keji yang pernah aku lakukan pada Azzura, sampai detik ini masih membayangi diriku. Entahlah ... aku juga bingung dengan perasaanku sekarang. Seperti benar-benar mati rasa," aku Close dengan mimik wajah sedih.


Close menghela nafas berat, memejamkan matanya sejenak. Berpikir, andai waktu bisa diputar kembali, ia ingin menjadi suami Azzura yang baik layaknya Genta yang memperlakukan ex istrinya itu seperti ratu.


"Rasanya nggak akan ada lagi wanita yang sama seperti Azzura," ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Close," tegur Yoga seraya menepuk pundaknya.


"Sudahlah, semua itu sudah berlalu. Aku yakin kamu pasti bisa melupakannya."


Close hanya mengangguk pelan dengan senyum yang dipaksakan lalu melanjutkan makannya.


Selang beberapa menit kemudian, Syakila kembali menghampiri keduanya lalu duduk di kursinya.


"Maaf agak lama, perutku tiba-tiba saja melilit," bohong Sya.


"Kirain bersemedi di toilet," kelakar Yoga lalu tergelak bersama Close.


"Isshh ... nggak lah," protes Sya lalu mencubit lengan Yoga.


Meski hati dan perasaannya kini tak baik-baik saja, namun sebisa mungkin ia tetap bersikap santai di depan Yoga dan Close.


Ia pun mulai menyantap makanan dengan tenang hingga selesai. Sebelum meninggalkan restoran itu, Close memberanikan diri untuk bertukar nomor ponsel dengan Syakila.


Pikirnya tak ada salahnya mencoba saran dari Yoga. Toh ... buktinya Yoga sudah bisa move on juga dari Azzura. Sedangkan dirinya masih stuck di tempat.


"Coba saja ... siapa tahu dia cocok denganku," batin Close sambil mengetik nomor ponsel Syakila lalu menambahkan ke kontak.


.


.


.


Sementara itu di Prasetya Hospital, wajah bunda Fahira berbinar bahagia setelah mendapat panggilan dari putra bungsunya tadi.


Ia pun melangkah menuju ruangan kerja suaminya.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu seketika membuat pak Prasetya langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


"Bunda?" sebut pak Prasetya lalu mengulas senyum. "Melihatnya bahagia banget," tebaknya.


"Ya," sahut bunda Fahira lalu duduk di pangkuan suaminya.


Pak Prasetya langsung mengernyit menatapnya lekat. "Apa? Boleh ayah tahu?" tanyanya.


"Yoga ingin kita ke kota A," jawab bunda.


"Apa ada urusan penting?"


"Ya ... penting, karena ini bersangkutan dengan pilihan hidupnya," balas bunda. "Maksud bunda, Yoga ingin kita melamar gadis pilihannya di kota A."


"Beneran, Bun? Alhamdulillah ... akhirnya putra kita bisa mendapatkan pengganti Azzura," ucap pak Prasetya dengan sembringah.


"Sebelum melamar, ada baiknya kita bersilahturahmi dulu dengan orang tua gadis itu, Yah. Biar kita tak terkesan melamar mendadak," cetus bunda.


"Ya, ayah juga setuju dengan ide Bunda," balas pak Prasetya.


Akhirnya setelah menunggu lama, harapan keduanya ingin melihat Yoga segera menikah dengan gadis pilihannya akan segera terwujud.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2