Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...


__ADS_3

Pagi harinya ...


Seperti yang telah direncanakan tiga hari yang lalu, acara aqiqah baby F berlangsung dengan lancar dan khidmat.


Seperti hari-hari sebelumnya, Azzura lebih mengutamakan anak-anak dari panti asuhan. Saking antusiasnya, ia merasa sangat terharu saat menatap wajah polos anak-anak kurang beruntung itu satu persatu.


Tak sendirian, ia bersama kedua anaknya dan juga ponakannya. Mengajak mereka mengobrol dan sesekali membuat mereka tertawa.


Ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan ketika bisa membuat anak yatim-piatu seperti dirinya itu tersenyum bahagia.


Di salah satu meja yang ditempati oleh Close dan Yoga, keduanya terus memandangi Azzura dari kejauhan.


"Close ... see ... senyumnya tulus banget pada anak-anak yatim itu. Bahkan anak-anaknya seperti sudah terbiasa berbaur dengan mereka," celetuk Yoga.


"Ya, kamu benar, Yoga. Kesalahan terbesarku adalah sudah menyia-nyiakannya, menyakiti hatinya, batinnya bahkan membuat psikisnya terganggu. Aku benar-benar menyesal," aku Close sambil tertunduk lesu.


"Honestly ... aku hampir saja menjadi pebinor saat itu. Sayangnya aku masih tahu diri," timpal Yoga lalu terkekeh. "Haaah ... apa kamu tahu? Andai saja aku tahu Azzura akan menjadi milik bang Genta, lebih baik aku menjadi pebinor saja saat dia menjadi istrimu."


Mendengar pengakuan yang lolos tanpa permisi dari mulut ex asistennya itu, mata Close langsung membulat sempurna. Sedetik kemudian ia langsung terbahak.


"Pppppffff .... hahahaha ... sayangnya kita sama-sama kalah dari Genta," timpal Close kemudian meninju pelan lengan Yoga.


"Haaah ... begitulah jodoh ..." kata Yoga. "Sudah empat tahun berlalu tapi aku merasa belum menemukan gadis yang cocok denganku. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Yoga.


Close menggedikkan bahunya sambil menyesap rokoknya dalam-dalam.


"Sama sepertimu, aku merasa hatiku sudah mati rasa pada wanita," aku Close lalu menghembus asap rokoknya.


"Mati rasa? Jangan bilang kamu belok?!" tuduh Yoga lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Close.


"Cih!! Siapa juga yang belok!" kesal Close. "Aku pernah gagal sekali. So ... aku nggak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Apa kamu tahu? Karena perasaan bersalahku pada Azzura yang membuatku sulit untuk menjalin hubungan. Aku takut melakukan kesalahan lagi," aku Close.


Yoga mengangguk pelan seraya meliriknya. Close yang ada di sampingnya kini sudah banyak berubah. Ia terlihat jauh lebih kalem dari sebelumnya.


Keduanya kembali mengarahkan pandangan ke arah Azzura dan Genta yang terlihat sedang tersenyum bahagia sambil menggendong baby Fattah dan Faatih.


"Azzura ... di balik perpisahan kita, banyak pelajaran berharga yang telah aku dapatkan darimu. Belajar sabar, belajar menerima, belajar memaafkan meski pernah tersakiti. Terutama belajar menghargai pasangan hidup. aku berharap akan menemukan jodoh seperti dirimu.'"


Ungkapan penuh harapan itu, hanya mampu ia ungkapkan dalam hatinya. Berharap jodohnya akan seperti Azzura.


Meski harapan untuk bertemu wanita yang memiliki sifat sama persis seperti Azzura nyaris impossible.


Namun siapa yang tahu? Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Meski sifat gadis itu tak sama persis seperti yang diharapkan oleh Close. 🤭✌️


*******


Tepat di pukul 13:15 sore, saat acara aqiqah itu selesai digelar, tak lupa Azzura dan Genta sudah menyiapkan bingkisan dan amplop untuk dibagikan pada anak-anak panti asuhan itu.


Di momen ini yang paling antusias adalah Devan dan Ayya. Tak lupa ia mengajak Novia dan Nenra ikut membagikan bingkisan itu pada anak-anak kurang beruntung itu.


Di tengah kebahagiaan yang Azzura dan Genta rasakan kini. Keduanya harus mempersiapkan diri, mental dan pikiran. karena tiga hari lagi mereka akan mengikuti agenda sidang tuntutan hak asuh anak yang telah dilayangkan oleh Johan pada mereka.


Satu jam berlalu sejak tasyakuran aqiqah itu selesai digelar, kini Azzura dan Genta sudah berada di kamar hotel.

__ADS_1


Sedangkan bu Nadirah dan pak Dirgantara, bi Titin lebih dulu pulang ke rumah bersama Ayya dan Devan.


Setelah melaksanakan shalat dhuhur, Genta menghampiri Azzura yang sedang memberi ASI pada bayinya.


"Sayang ... setelah mas pikir-pikir, sebaiknya kita harus mencari baby sitter untuk Fattah Faatih," usul Genta seraya menggendong Fattah yang tampak membuka matanya.


"Sekaligus meringankan pekerjaanmu mengurus anak-anak. Pun begitu dengan bi Titin," sambungnya lagi.


"Nggak masalah, Mas. Aku sih nurut saja," timpal Zu dengan seulas senyum. "Saranku ... baby sitter-nya yang seumuran bi Titin. Jangan yang masih muda, fresh dan mulus. Ntar Mas kepincut lagi," celetuk Zu sekaligus menyindir secara halus lalu terkekeh. "Soalnya sekarang, zamannya edan, Mas. Kebanyakan baby sitter yang masih muda suka menggoda. Bukan hanya kepincut pada sang majikan tapi sekaligus tergiur dengan uangnya plus ..."


Ucapan Azzura terputus karena Genta menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri lalu terkekeh.


"Kamu cemburu ya?" selidik Genta lalu terkekeh.


"Bukan cemburu hanya mengingatkan saja, Mas," sahut Zu dengan santainya.


"Pemandangan seperti itu seperti sudah menjadi makananku saat masih bersama Close. Mungkin hatiku sudah membatu tanpa rasa cemburu."


"Mas bukan tipe pria yang mudah tergoda dengan tipe wanita penggoda seperti itu. Banyak tuh, teman kantor, anak dari rekan bisnis ayah yang mendekat saat mas masih duda. Tapi mas sama sekali nggak tertarik," aku Genta.


"Tapi entah mengapa saat melihatmu di lampu merah waktu itu, hati mas mengartikan ada yang beda. Ketika melihatmu dan Ayya saling bercanda di pesawat waktu itu, mas semakin penasaran padamu. Ternyata kita jodoh dan mas nggak menyangka jika kamu mengajar di yayasan Dirgantara," pungkas Genta.


Azzura bergeming sedetik kemudian ia membaringkan Faatih lalu menatap wajah suaminya.


"Sayang, apa kamu tahu? Tiga tahun menunggumu bukanlah hal yang mudah bagi mas. Meski ada beberapa gadis yang mendekat dan menggoda. Tapi mas menolak karena hati ini sudah terlanjur mentok untukmu."


"Cinta mas semakin kuat karena kamu wanita yang berbeda. Karena sikapmu yang cenderung selalu menghindar dan menjaga jarak dari Mas."


Genta menghela nafasnya sejenak lalu mengecup baby Fattah yang kini sudah tertidur dalam gendongannya.


Genta membaringkan Fattah di samping Faatih. Kemudian ia semakin mendekati Azzura lalu memintanya duduk di pangkuannya.


"Sayang, tiga hari lagi, sidang itu akan digelar. Yang kuat ya. InsyaAllah kita pasti akan memenangkan gugatan itu dengan bukti-bukti yang valid," bisik Genta.


Azzura hanya mengangguk pelan lalu menyatukan keningnya. Mengelus kedua rahang tegas suaminya lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Awalnya hanya biasa saja, namun semakin lama Genta seolah menuntut. Hingga ia sadar lalu melepas tautan bibirnya karena Azzura mendorong pelan dadanya.


"Mas, hampir khilaf," bisik Genta dengan suara berat dan serak disertai nafas yang memburu. "Kamu sih! memancing hasrat mas saja. Terus nggak bisa bertanggung jawab."


Azzura langsung terkekeh lalu memeluknya dengan gemas. Bahkan ia bisa merasakan milik suaminya yang kini menegang.


"Kenapa menyalahkan aku sih, Mas? Mas saja yang kelewatan. Udah ngebet banget ya?!" bisiknya sekaligus meledek suaminya.


"Ck ..." decak Genta merasa gemas mendengar ucapan istrinya yang masih betah duduk di pangkuannya.


Hening sejenak ...


Azzura menempelkan kepalanya ke ceruk leher Genta sembari mengelus dada bidang nan liat suaminya itu dengan lembut.


"Mas ..."


"Hmm," sahut Genta lalu mengecup kening istrinya kemudian mengelus perutnya.

__ADS_1


"Setelah acara pelantikan kenaikan pangkat, kita liburan yuk bareng anak-anak dan bi Titin," cetus Zu.


"Boleh, lagian sudah lama mas nggak berlibur. Apalagi selama kita habis menikah. Kamu pengen berlibur ke mana? Dalam negeri atau luar negeri?" tanya Genta sekaligus mengusulkan tempat berlibur.


"Dalam negeri saja, Mas. Tepatnya di Pulau B saja," usul Zu.


"Boleh, lagian anak-anak juga nggak lama lagi akan libur sekolah. Jadi kita bisa quality time penuh," timpal Genta dengan seulas senyum.


.


.


.


.


Sepulang dari acara aqiqah baby F, Close langsung menuju kantor Johan karena akan membahas masalah pekerjaan yang sempat tertunda kemarin karena kehadiran Azzura yang tiba-tiba.


Kini keduanya tampak serius menatap sebuah gambar resort milik Close yang akan di bangun di kota itu.


Johan memberi beberapa saran untuk mendesain beberapa tempat di bagian titik bangunan supaya terlihat menarik.


Close hanya mengangguk sekaligus menyetujui usulan dari sang arsitek. Setelah selesai membahas masalah pekerjaan, Close meraih rokoknya.


"Oh ya, Johan, sebenarnya ada apa sih, Azzura mendatangimu kemarin? Kalian membahas masalah apa?" tanya Close pura-pura tak tahu lalu menyesap rokoknya.


Sejenak Johan bergeming lalu memijat pangkal hidungnya. Entah ia harus menjawab ataupun tidak.


"Jika dilihat dari raut wajah Azzura kemarin, sepertinya dia sangat kesal, ada apa?" tanya Close lagi.


"Membahas masalah hak asuh anak. Aku melayangkan surat gugatan hak asuh anak pada mereka," aku Johan dengan suara lirih.


"Meski tak berkoar-koar dengan emosi, dia cukup tenang saat membahasnya. Aku seolah tak bisa berkutik. Bahkan ingin membalas ucapannya saja lidahku keluh," sambungnya.


"Sejak dulu dia memang seperti itu. Terlihat santai dalam berucap namun lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang."


Seketika Close teringat saat ia dan Azzura masih berada dalam ikatan pernikahan. Ucapan yang dilontarkan Azzura selalu sukses membuatnya tak berkutik.


Ia seakan mati kutu tak bisa membalas ucapan ex istrinya itu. Terlihat tenang namun bisa membuat seseorang terbungkam seolah tak memiliki jawaban yang tepat untuk membalas ucapannya.


"Tiga hari lagi sidang itu akan digelar. Aku hanya berharap bisa memenangkan hak asuh itu jatuh ke tanganku. Aku ingin menebus semua kesalahanku pada mendiang istriku lewat putraku," kata Johan.


"Lalu ... bagaimana jika kamu kalah dalam sidang itu? Apa yang akan kamu lakukan? Jika di lihat watak seorang Genta cukup keras tapi dia terlihat sangat bijaksana," sarkas Close.


Johan bergeming lalu tertunduk lesu. Ucapan Azzura kemarin masih saja terngiang-ngiang di telinganya.


"Pun begitu dengan Azzura, sejak dari bayi dia sudah mengasuh putramu hingga sebesar sekarang. Aku rasa dia juga sudah punya jawaban yang cukup cerdas untuk melawanmu di pengadilan," pungkas Close.


Lagi ... Johan bergeming dan semakin menundukkan pandangan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa baru sekarang kamu ingin mengakui jika Devan adalah putramu, hah?! Lalu di mana dirimu saat ia masih berada di dalam kandungan ibunya?!!"


"Semua keputusan Devan kelak tergantung dari keputusan istriku."

__ADS_1


Kalimat itu kembali terngiang di telinga Johan. Sejujurnya ia takut jika ia tak akan pernah bisa memeluk putranya lagi.


...----------------...


__ADS_2