
Di restoran, Yoga dan Close tampak sedang menunggu kehadiran Genta dan Azzura beserta Fattah Faatih.
Sesekali Yoga menggoda Close yang terlihat sedikit berbeda setelah mengobrol lama dengan Azzura tadi.
Sosok Azzura seperti sebuah mood booster bagi pria berdarah indo Australia itu. Wajahnya pun sejak tadi terlihat terus berbinar bahagia.
"Waaah ... Close ... aku jadi penasaran apa yang kalian bicarakan tadi. Jujur saja kamu membuatku cemburu," kelakar Yoga.
"Sesuatu yang benar-benar membuat hatiku lega, bahagia serta rasa kehampaan yang aku rasakan selama ini, seolah terhempas semuanya setelah Azzura menyemangati ku," kata Close dengan senyum tipis.
"Alhamdulillah ... syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. By the way, sholawatin saja supaya kamu mendapat istri seperti Azzura," kelakar Yoga lagi lalu terkekeh.
Mendengar ucapan Yoga, Close ikut terkekeh. Pikirnya ide Yoga boleh juga. Siapa tahu beneran terkabul.
"Pintar juga si Yoga. Aku rasa nggak ada salahnya mengikuti sarannya," batin Close sambil senyam senyum.
Tak lama berselang, Azzura dan Genta menyapa keduanya lalu duduk di kursi yang kosong.
"Ayo, sama paman dulu." Close meraih Fattah yang sedang dipangku oleh Genta.
Ia langsung memeluk bocah tampan itu dengan gemas lalu mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
"Benar-benar bibit unggulan. Jika anakku cewek kelak, paman ingin menjodohkan kalian nantinya," batin Close dengan senyum yang mengembang.
"Close, ada apa sih? Kok senyum-senyum sendiri," cecar Genta sambil geleng-geleng kepala.
"Ah nggak apa-apa, pokoknya hari ini aku merasa benar-benar bahagia. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu datang ke kota ini. Meski waktunya singkat namun sangat berharga bagiku," ucap Close.
Sejatinya, ia sangat mengagumi sifat seorang Genta. Tegas, berwibawa dan bijaksana dalam keadaan apa pun.
Ia ingin banyak belajar dari pria yang berprofesi sebagi pilot tempur itu. Sungguh ia merasa Azzura memang pantas menjadi pasangan hidup Genta.
Beberapa menit kemudian makanan yang sejak tadi sudah dipesan oleh Close sedang dihidangkan dan ditata dengan rapi di atas meja.
Begitu selesai, karyawannya itu pun mempersilahkan mereka menyantap makan malam yang telah disajikan.
"Selamat menikmati hidangan makan malamnya, Pak, Ibu," kata waitress.
"Makasih ya," ucap mereka bergantian.
"Bang, Zu ... ayo kita santap sepuasnya. Jika kurang kita pesan lagi. Mumpung boss-nya yang traktir," kelakar Yoga. "Atau kita sekalian bungkus."
"Pppffff ... hahaha ... hahaha ... idiiih, kamu sudah seperti mak-mak kondangan yang suka membungkus makanan." Azzura tak bisa menahan tawanya.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan makan malam hingga selesai.
Beberapa jam berlalu ...
"Bang, Azzura ... apa kalian akan pulang besok?" tanya Yoga.
"Iya, kami ingin mampir ke kota J, sekalian ingin nyekar makam, ibu ayah," jawab Zu.
"Kalau begitu kita barengan saja besok," timpal Close dan dijawab dengan anggukan oleh Zu dan Genta.
"Baiklah. Oh ya doakan aku ya, supaya acara lamaran dan hari H-ku dilancarkan. Pokoknya aku sendiri yang akan mengantar kartu undanganku pada kalian," kata Yoga dengan penuh semangat.
"Pastinya termasuk doa untuk Close juga. Pokoknya kalian harus semangat," balas Genta seraya menepuk pundak Close.
"Ya sudah, aku duluan ya. Soalnya kalian satu arah tujuan," pamit Yoga.
Azzura Genta dan Close hanya mengangguk pelan. Setelah memastikan kendaraan Yoga menjauh, Close mengajak keduanya masuk ke dalam mobil.
.
__ADS_1
.
.
Setibanya di hotel, Close membantu Azzura untuk menggendong putranya. Sesaat setelah mereka sampai di kamar hotel ia pun ikut masuk lalu membaringkan tubuh mungil putranya.
"Close terima kasih, ya," ucap Zu dan Genta bergantian.
"Oh ya, Close, apa kita bisa mengobrol sebentar?" tanya Genta.
"Tentu saja. Kita mengobrol di rooftop hotel saja, bagaimana?" usul close.
"Nggak masalah tapi setelah aku selesai shalat ya," kata Genta dan dijawab dengan anggukan oleh Close.
Sementara Yoga yang kini sudah berada di apartemen sedang menemani ayahnya mengobrol di teras balkon.
Tak lama berselang bunda Fahira ikut bergabung dengan anak dan suaminya itu.
"Yoga, bagaimana dengan pertemuan kalian tadi?" tanya bunda Fahira.
"Alhamdulillah, baik Bun. Yang bikin gemas si kembar itu loh. Pengen juga punya anak kembar seperti mereka," seloroh Yoga.
Pak Prasetya dan bunda Fahira langsung terkekeh mendengar keinginan sang putra. Yoga melirik bunda Fahira dengan tatapan penuh arti.
"Bun, Bunda kan dokter kandungan. Bunda pasti tahu bagaimana caranya supaya bisa memiliki bayi kembar."
Mendapat pertanyaan dari putra bungsunya itu, bunda Fahira hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ia pun mengelus punggungnya lalu mengulas senyum.
"Bisa saja, Nak, salah satunya dengan bayi program bayi tabung disertai mengkonsumsi obat penyubur. Tapi nggak semudah itu. Faktor genetik juga sangat mempengaruhi," jelas bunda.
"Maksud bunda bayi tabung? Bagaimana caranya?" tanya Yoga penasaran.
"Ya program bayi btabung. Metode itu merupakan proses penggabungan sel telur dan ****** menjadi embrio di ruangan laboratorium, bukan di rahim wanita."
"Mending yang alami saja ya, Bun. Kedengarannya ribet," sahut Yoga.
"Jadi nggak jadi pengen punya anak kembar?" tanya sang ayah.
Yoga terkekeh sambil mengangguk. "Kembar atau pun nggak, aku akan menerima kehadiran calon bayiku nantinya."
"Begitu lebih bagus," timpal pak Prasetya lalu merangkul bahunya.
.
.
.
"Close," sapa Genta sesaat setelah berada di rooftop.
Pria itu pun berbalik lalu menyambut ayah empat anak itu dengan senang hati.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu," sesal Genta seraya merangkul bahunya.
"Nggak apa-apa, aku sekalian menikmati view kota A dari sini," balas Close lalu menyesap rokoknya.
Keduanya sama-sama memandangi gedung-gedung tinggi di kota itu. Dengan berbagai macam cahaya lampu yang menyinari setiap sudut bangunan kota.
Hening sejenak ...
"Genta, sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat untukmu dan Azzura atas kehamilan keduanya. Aku turut berbahagia untuk kalian."
__ADS_1
"Terima kasih, Close," balas Genta.
"Aku sekaligus ingin berterima kasih padamu karena sudah memberiku waktu dan kesempatan untuk berbicara heart to heart dengan Azzura."
Tanpa rasa canggung Close mengatakan itu dengan seulas senyum sambil memegang dadanya merasa terharu.
"Karena hanya Azzura yang bisa membuatmu merasakan ketenangan," ucap Genta seraya menepuk pundaknya. "Aku sudah tahu semuanya dari Yoga."
"Maaf jika aku seolah mengambil kesempatan," ujar Close sambil tertunduk.
"Nggak apa-apa, Close, aku memakluminya. Tadinya Azzura yang memintaku berbicara padamu. Tapi aku merasa dia yang lebih pantas. Alhamdulillah, aku melihatmu saat ini sudah jauh lebih baik," kata Genta.
Close kembali menatap kedepan sambil memikirkan ucapan demi ucapan dari ex istrinya itu tadi.
Ada sebuah harapan untuknya menggapai sebuah kebahagiaan lewat kata nasehat dari istri Genta tadi.
"Close ...Hidup ini penuh dengan sandiwara. Setiap orang memiliki cobaan yang berbeda-beda dalam hidup."
"Contohnya dirimu. Di mana perbuatan dan masa lalumu yang kamu perbuat pada Azzura, nggak lain dan nggak bukan adalah untuk merubah kepribadian dirimu. Sehingga kamu bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan jauh akan lebih menghargai pasangan hidupmu kelak," pungkas Genta seraya merangkul erat bahunya.
Lagi ... ucapan kata-kata bijaksana dari Genta semakin membuatnya kagum akan sosoknya. Ia merasa beruntung bisa mengenal suami dari Azzura itu.
Lewat kegagalan dari pernikahannya dengan Azzura, ia merasa menjadi teman sekaligus sahabat bagi keduanya sudah lebih dari cukup.
"Genta, aku ingin belajar banyak darimu. Tetaplah menjadi temanku dan anggaplah aku sebagai adikmu. Aku butuh sosok sepertimu yang selalu bisa mengayomi diriku," ucapnya penuh harap.
"Tentu saja dengan senang hati," sahut Genta dengan seulas senyum.
Setelah beberapa jam lamanya saling sharing, keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
.
.
.
Di kamar, Azzura sedang berdiri di balkon sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Sedih banget melihatnya menangis seperti itu tadi. Ternyata dia bisa serapuh itu. Namun aku juga sangat bersyukur, di balik kegagalan rumah tangga kita, kamu banyak belajar. Semoga Allah mempertemukan jodoh terbaik buatmu," gumam Zu.
Sementara, Genta yang baru saja membuka pintu kamar, langsung mengerutkan kening saat tak mendapati sang istri bersama si kembar.
Ia pun menghampiri Fattah Faatih yang sedang tertidur pulas lalu mengecup keduanya kemudian mengelus kepala keduanya.
"Sayang," panggil Genta sesaat setelah langkah kakinya terhenti di belakang sang istri. "Kenapa kamu masih di sini?"
Azzura perlahan berbalik lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya. Membenamkan wajahnya di dada bidang berotot itu.
Menghirup dalam-dalam aroma maskulin suaminya yang sudah menjadi candu baginya.
Sedangkan Genta hanya membiarkannya saja sembari tersenyum. Mengelus rambut halusnya lalu mendaratkan kecupan di kening dan bibirnya.
"Mas, aku kangen Devan dan Ayya. Rasanya seperti sudah setahun aku meninggalkan mereka," bisik Zu.
Genta sedikit menunduk menatap wajah istrinya dengan hela nafas pelan. Ia sudah menebaknya. Istrinya pasti nggak akan tahan berlama-lama jauh dari kedua anaknya itu.
"Maaas," ucapnya manja.
"Hmm ... apa nggak bisa jika tanpa Ayya dan Devan?" protes Genta.
"Tanpa, Mas apalagi. Aku nggak bisa jauh-jauh dari kalian," bisik Zu sembari mengelus dada Genta.
Genta mengulas senyum lalu semakin merengkuhnya dengan erat. Bahagia seketika menyelimuti dirinya. Rasanya ia enggan melepas pelukan hangat yang sedang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Sayang. Dan rasa cinta ini rasanya begitu sulit untuk dihilangkan. Seperti sudah menyatu dengan dirimu."
...----------------...